← Lima Menit di Lobby

Chapter Twenty Six

Tawaran dari Om Benny

POV: Nadine


“Kamu duluan,” kataku.

“Kamu duluan,” katanya.

Warung Pak Kumis, Senin malam, pukul tujuh lewat dua puluh. Nomor dua belas di daftar: pecel lele setiap Jumat sampai berangkat. Ini hari Senin, tapi Mas Reyhan bilang aturan itu bisa diperluas karena “Senin juga butuh lele”. Aku tidak membantahnya.

Kami duduk berhadapan di meja kayu panjang di bawah terpal oranye, dengan dua piring lele goreng kering, dua gelas es jeruk, dan tempe yang menurut Pak Kumis porsinya “porsi orang yang lagi senang”. Lebih banyak dari porsi orang capek. Aku tidak tahu bahwa Pak Kumis punya ukuran porsi untuk setiap suasana hati.

“Rahasiamu kayaknya lebih kecil,” kata Mas Reyhan. “Jadi kamu duluan.”

“Kok kamu tahu rahasiaku lebih kecil?”

“Karena rahasiaku besar banget.”

“Rahasiaku juga besar.”

“Seberapa besar?”

Aku memikirkan email yang kukirim Sabtu malam. Balasan yang datang tadi siang dari partner HTA Singapura, dengan nada antusias dan tiga tanda seru. Om Benny yang memanggilku ke ruangannya besok pagi.

“Besar,” kataku. “Besar banget.”

Ia menatapku. Aku menatapnya. Lampu bohlam kuning bergoyang pelan di atas kepala kami. Tukang parkir meniup peluit di kejauhan.

“Suit,” kata Mas Reyhan.

“Suit?”

“Suit jari. Yang kalah duluan.”

Aku tertawa. “Kita umur dua puluh delapan dan tiga puluh, Mas.”

“Takut kalah?”

Aku menyipitkan mata. Lalu mengangkat tangan kananku. Ia mengangkat tangan kanannya.

Kami suit. Aku jempol, ia jempol. Seri. Lagi. Aku telunjuk, ia telunjuk. Seri. Lagi. Aku kelingking, ia kelingking.

“Kok seri terus,” katanya.

“Karena kita sama,” kataku, lalu langsung menyesal mengatakannya, karena terdengar terlalu bermakna untuk permainan suit di warung lele.

Sebelum kami sempat suit keempat kalinya, Pak Kumis datang dengan sepiring tempe lagi.

“Gratis,” katanya, menaruhnya di tengah meja. “Saya lihat dari tadi suit terus. Kayak anak SD.” Kumisnya terangkat. “Mau tahu rahasia saya? Saya juga lagi suit sama istri soal siapa yang cuci piring malam ini. Udah tiga puluh tahun, belum ada yang menang.”

Kami menatap Pak Kumis. Pak Kumis kembali ke gerobaknya dengan bahu bergetar.

Mas Reyhan menatap tempe gratis di meja. Lalu menatapku.

“Oke,” katanya. “Gimana kalau kita tukeran rahasia di hari yang tepat?”

“Hari apa?”

Ia berpikir sebentar. “Pesta perpisahanku. Pak Haris bilang kantor mau bikin acara pelepasan dua minggu sebelum aku berangkat. Kita tukeran di sana.”

Aku menatapnya. Dua minggu sebelum ia berangkat. Itu sempurna. Itu persis waktu yang kubutuhkan. Om Benny bilang kontraknya akan selesai diproses dalam sepuluh hari. Pada hari pesta perpisahan, semuanya sudah resmi. Sudah ditandatangani. Tidak ada jalan kembali.

Aku bisa berdiri di depannya di pesta itu dan bilang, Aku ikut, Mas. Kamu nggak perlu milih. Kamu nggak perlu minta aku nunggu. Aku sudah putuskan.

“Oke,” kataku. “Pesta perpisahan.”

Ia tersenyum lebar. Senyum yang tidak terlalu cepat, tidak terlalu hati-hati. Senyum yang sungguh-sungguh, yang sampai ke matanya, yang belum kulihat sejak Rabu malam di basement. Dan aku tidak bertanya kenapa ia tiba-tiba sebahagia itu, karena aku juga sedang tersenyum dengan alasan yang sama: aku pikir rahasiaku akan membuatnya bahagia.

“Deal,” katanya, mengulurkan kelingking.

Aku menautkan kelingkingku di kelingkingnya. “Deal.”

Lalu aku mengambil sepotong tempe, mencocolnya ke sambal terasi, dan menyuapkannya ke mulutnya. Ia membuka mulut tanpa protes. Dua mahasiswa di meja sebelah, yang ternyata sama dengan mahasiswa di kencan pertama kami, bertepuk tangan pelan.


Om Benny memanggilku pukul sembilan pagi hari Selasa.

Kali ini tidak ada kue bolu pandan. Om Benny tidak menyuguhkan kue untuk percakapan yang serius. Ia hanya duduk di belakang mejanya dengan map cokelat di depannya, kacamata baca di ujung hidung, dan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Duduk, Nadine.”

Aku duduk.

Ia mendorong map cokelat itu ke arahku. “Kantor Singapura kirim ini tadi malam. Mereka senang sekali dapat email darimu.”

Aku membuka map itu. Surat penawaran resmi. Kop surat Hartono Tax Advisory, Singapore Office. Posisi: Associate Director, Cross-Border Tax Advisory. Gaji, tunjangan perumahan, asuransi, semua angka yang lebih besar dari yang kuharapkan. Tanggal mulai efektif: 1 bulan depan.

Tanggal satu. Dua minggu setelah tanggal empat belas.

Dua minggu setelah ia berangkat, aku akan menyusul.

“Om sudah baca?” tanyaku.

“Sudah.” Om Benny melepas kacamatanya. “Om juga sudah telepon partner di sana. Mereka mau kamu. Sangat mau. Mereka bilang ini pertama kalinya dalam lima tahun mereka dapat kandidat yang ngerti transaksi Indonesia–Singapura dari dua sisi.”

Aku menatap surat itu. Angka-angka itu. Tanggal itu.

“Nadine,” kata Om Benny pelan. “Om mau tanya satu hal. Dan Om mau kamu jawab jujur.”

“Iya, Om.”

“Kamu ambil ini karena kariermu, atau karena dia?”

Aku tidak langsung menjawab.

Om Benny sudah mengenalku dua setengah tahun. Ia yang menerimaku setelah ditolak Pak Haris. Ia yang mempromosikanku jadi Associate Director termuda. Ia yang pernah memergokiku menangis di ruang arsip waktu Papa masuk rumah sakit, lalu diam-diam meninggalkan sekotak tisu dan sepiring kue di mejaku tanpa bilang apa-apa. Aku tidak bisa berbohong padanya.

“Dua-duanya, Om,” kataku. “Tapi kalau Om tanya mana yang lebih berat...” Aku menatap tanganku di atas map. “Dia.”

Om Benny diam.

“Saya tahu itu kedengarannya nggak profesional,” lanjutku. “Saya tahu Om mungkin kecewa. Tapi posisi ini juga bagus buat karier saya, Om. Saya nggak akan ambil kalau ini posisi yang jelek. Saya...”

“Om nggak kecewa,” kata Om Benny.

Aku mengangkat wajah.

“Om ngelamar istri Om dengan pindah ke Medan,” katanya. “Tahun 1991. Dia dapat kerja di sana, Om masih kerja di Jakarta. Om bilang ke bos Om, Om mau resign. Bos Om bilang Om gila.” Ia tersenyum. “Itu keputusan terbaik dalam hidup Om.”

Aku tidak tahu soal itu.

“Tapi,” kata Om Benny, dan senyumnya memudar sedikit, “ada satu hal yang Om lakukan sebelum resign.”

“Apa, Om?”

“Om bilang ke istri Om dulu.” Ia menatapku dari balik meja. “Om nggak bikin kejutan. Om nggak datang ke Medan tiba-tiba dengan koper. Om duduk sama dia, dan Om tanya, ‘Kamu mau Om ikut?’ Dan dia bilang iya. Baru Om resign.”

Aku diam.

“Kamu sudah bilang dia?” tanya Om Benny.

“Belum, Om.”

“Kenapa?”

Aku menatap surat penawaran itu. Tanggal mulai efektif: 1 bulan depan.

“Karena kalau dia tahu sebelum semuanya resmi,” kataku pelan, “dia akan cari alasan supaya saya nggak ambil. Dia akan bilang karier saya di sini lebih penting. Dia akan bilang dia nggak mau saya berkorban. Dia akan bilang dia nggak pantas. Dan dia akan terus bilang itu sampai saya nyerah.” Aku mengangkat wajah. “Saya kenal dia, Om. Dia selalu mundur duluan supaya orang lain nggak perlu milih. Kalau saya tanya dia dulu, dia akan mundur.”

Om Benny menatapku lama sekali.

“Jadi kamu mau putuskan sendiri,” katanya. “Supaya dia nggak punya kesempatan mundur.”

“Iya, Om.”

“Dan kamu pikir itu bedanya kamu sama dia?”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Om Benny tidak menunggu jawabanku. Ia mengambil pulpen dan meletakkannya di atas map.

“Tanda tangan kalau kamu yakin,” katanya. “Om nggak akan larang. Kamu sudah dewasa. Kamu Associate Director terbaik yang pernah Om punya.” Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap ke luar dengan tangan di belakang punggung. “Tapi Om sudah tua, Nadine. Om sudah lihat banyak orang baik bikin keputusan baik dengan cara yang salah.”

Aku menatap pulpen itu lama.

Lalu aku mengambilnya.

Aku menandatangani surat itu. Di kolom tanda tangan penerima, dengan tulisan tangan yang lebih rapi dari biasanya, seolah kerapian bisa membuat keputusan ini lebih benar.

Om Benny tidak menoleh dari jendela.

“Om akan proses,” katanya. “Sepuluh hari.”

“Terima kasih, Om.”

“Jangan berterima kasih dulu.”


Jess tahu dalam lima menit.

Aku tidak memberitahunya. Ia hanya melihat wajahku ketika aku keluar dari ruangan Om Benny, lalu mengikutiku ke ruanganku, menutup pintu, dan berdiri di depan mejaku dengan tangan di pinggang.

“Kamu tanda tangan.”

“Jess...”

“Kamu tanda tangan. Aku bisa lihat di mukamu. Kamu kelihatan kayak orang yang baru bayar DP rumah.”

Aku duduk di kursiku. “Iya. Aku tanda tangan.”

Jess duduk di kursi tamu dengan bunyi berdebum. Ia menatapku lama, dengan mata yang biasanya penuh tawa tapi sekarang serius.

“Bilang dulu ke dia, Din,” katanya.

“Om Benny juga bilang begitu.”

“Om Benny benar. Om Benny selalu benar kalau soal hal-hal kayak gini. Dia sudah nikah tiga puluh tahun.”

“Aku akan bilang. Di pesta perpisahannya. Dua minggu lagi.”

“Setelah semuanya resmi.”

“Setelah semuanya resmi.”

Jess memijit pelipisnya. “Din. Kamu sadar nggak kamu lagi ngelakuin persis yang kamu takutin dia lakuin?”

Aku menatap sahabatku.

“Kamu takut dia mundur diam-diam,” kata Jess. “Mutusin sendiri apa yang terbaik buat kamu, tanpa nanya kamu. Dan sekarang kamu maju diam-diam. Mutusin sendiri apa yang terbaik buat dia, tanpa nanya dia.”

“Itu beda, Jess.”

“Bedanya di mana?”

“Aku maju. Dia mundur.”

“Dua-duanya sendirian, Din,” kata Jess pelan. “Dua-duanya nggak nanya.”

Aku tidak bisa menjawab.

Jess menatapku sebentar lagi. Lalu ia menghela napas panjang, berdiri, dan berjalan memutari meja. Ia memelukku dari samping, dagunya di puncak kepalaku, wangi sabun bayi yang ia bersumpah bukan sabun bayi.

“Aku dukung kamu,” katanya ke rambutku. “Selalu. Kamu tahu itu.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku takut, Din.”

“Takut apa?”

“Takut kalian berdua terlalu baik,” katanya. “Sampai saling nabrak.”


Malamnya, Papa menelepon.

Papa jarang menelepon. Biasanya Mama yang menelepon, dan Papa berbicara dari latar belakang dengan kalimat-kalimat pendek yang diteruskan Mama. Tapi malam ini, layar ponselku menampilkan nama PAPA, dan ketika aku mengangkatnya, suara Papa yang dalam dan pelan langsung terdengar.

“Nadine.”

“Iya, Pa.”

“Om Benny menelepon Papa tadi sore.”

Aku memejamkan mata. Tentu saja Om Benny menelepon Papa. Mereka teman lama. Papa yang pertama kali merekomendasikan HTA padaku, diam-diam, tanpa aku tahu, dua setengah tahun lalu. Aku baru mengetahuinya tahun lalu.

“Singapura,” kata Papa.

“Iya, Pa.”

“Saudara Reyhan sudah tahu?”

Aku diam.

Di ujung telepon, aku mendengar Papa menghela napas. Napas panjang dan pelan, napas yang sama yang kudengar di ruang sidang waktu kecil, ketika Mama membawaku menonton Papa bertugas dan aku duduk di bangku pengunjung paling belakang.

“Putusan tanpa sidang,” kata Papa.

“Pa...”

“Kamu anak Papa,” katanya. “Papa tahu dari mana kamu belajar itu.” Jeda. “Papa sudah tiga puluh tahun memberi Mama putusan tanpa sidang. Pindah rumah, beli mobil, kirim kamu sekolah ke mana. Papa putuskan sendiri, lalu Papa umumkan. Papa pikir itu cara Papa melindungi keluarga.” Jeda lagi. “Mama tidak pernah marah. Tapi Papa tahu, setiap kali, Mama merasa sendirian di keputusan itu.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Papa tidak akan bilang kamu salah,” kata Papa. “Papa cuma mau bilang, sidang itu ada bukan karena hakimnya tidak tahu jawabannya. Sidang itu ada supaya semua orang yang terdampak didengar.”

“Iya, Pa.”

“Selamat malam, Nadine.”

“Selamat malam, Pa.”

Telepon terputus. Aku duduk sendirian di sofa, dalam lampu ruang tengah yang kekuningan, dengan ponsel di pangkuan.

Lalu aku mengambil buku biru navy dari meja.

Sudah tiga hari aku tidak menulis apa-apa. Sejak Sabtu malam. Sejak email itu terkirim.

Aku membukanya. Di pojok kanan atas, aku menulis 32.

Lalu aku menulis satu baris, dengan tulisan kecil:

Sudah dijawab. Belum diumumkan.

Aku menatap kalimat itu. Lalu, setelah ragu lama, aku menambahkan:

Papa bilang: sidang itu ada supaya semua orang yang terdampak didengar.

Jess bilang: kalian berdua terlalu baik, sampai saling nabrak.

Om Benny bilang: banyak orang baik bikin keputusan baik dengan cara yang salah.

Aku menutup pulpen.

Semua orang memperingatkanku. Aku mendengarkan mereka semua. Aku tahu mereka benar.

Tapi aku juga tahu Mas Reyhan. Aku tahu wajahnya di basement, di kamar kos, di warung Pak Kumis ketika Fikri bilang nol koma satu persen. Aku tahu ia sedang menyiapkan sesuatu. Aku bisa merasakannya, di jeda-jeda panjang dan senyum-senyum yang terlalu cepat. Ia sedang menyiapkan cara untuk melepaskanku dengan sopan.

Dan kalau aku menunggu sidang, ia akan membacakan putusannya duluan.

Aku menutup buku itu dan memeluknya di dada.

Dua minggu lagi. Pesta perpisahan. Aku akan berdiri di depannya dan mengumumkan bahwa aku ikut. Dan ia akan kaget, dan mungkin marah sedikit, dan mungkin menangis, dan lalu ia akan memelukku, karena tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Tidak ada lagi jalan mundur.

Itu rencanaku.

Rencana yang sudah kususun dengan teliti, dengan mitigasi risiko, dengan tanggal yang tepat.

Aku tidak tahu bahwa sepuluh menit dari apartemenku, di kamar kos tiga kali empat meter, di dinding di atas meja kerja, di samping nomor sebelas yang belum dicentang, seseorang sudah menulis kalimat yang sama persis.