← Lima Menit di Lobby

Chapter Twenty Two

Ibu dan Pak RT

POV: Nadine


Aku belum pernah naik KRL.

Aku mengakuinya di Stasiun Sudirman pukul tujuh pagi hari Sabtu, berdiri di depan gerbang tiket dengan kartu yang baru dibelikan Mas Reyhan, dan ia menatapku seperti aku baru saja bilang aku belum pernah melihat hujan.

“Belum pernah sama sekali?”

“Dulu Papa antar jemput. Terus kuliah bawa mobil. Terus kerja naik taksi.”

“Kamu dua puluh delapan tahun, tinggal di Jakarta, dan belum pernah naik KRL.”

“Itu bukan kejahatan, Mas.”

“Itu hampir kejahatan,” katanya, lalu menunjukkan cara menempelkan kartu ke gerbang tiket dengan kesabaran seorang guru TK.

Aku memakai pakaian yang menurutku paling cocok untuk mengunjungi ibu pacar di Bogor: gaun katun berwarna kuning mentega sepanjang betis dengan motif bunga kecil-kecil, kardigan putih tipis, sneakers putih, dan rambut dikepang satu ke samping, diikat pita kecil. Jess membantuku memilih semalam lewat video call, setelah menolak empat pilihan pertamaku karena “terlalu kayak mau audit”.

Di peron, Mas Reyhan menatap kepang rambutku lama.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kamu kelihatan...” Ia mencari kata. “Kayak mau piknik.”

“Itu bagus atau jelek?”

“Itu bikin aku pengen bawa tikar,” katanya, lalu langsung memalingkan wajah dengan telinga merah.

Kereta datang. Penuh. Sabtu pagi ternyata penuh juga, dengan keluarga-keluarga yang membawa anak, anak muda yang mau ke Kebun Raya, dan ibu-ibu dengan tas belanja besar. Kami berdiri di dekat pintu. Ketika kereta berguncang di tikungan pertama, aku hampir terjatuh, dan tangan Mas Reyhan langsung menangkap pinggangku.

Ia tidak melepaskannya.

Sepanjang perjalanan, ia berdiri di belakangku, satu tangan memegang gantungan di atas, satu lengan melingkar pelan di pinggangku, menjadi pagar antara aku dan kerumunan. Setiap kali kereta berhenti dan orang-orang berdesakan masuk, ia bergeser sedikit supaya tidak ada yang menyenggolku. Setiap kali kereta berguncang, lengannya mengencang.

Seorang nenek yang duduk di kursi prioritas di depan kami memperhatikan kami sejak Stasiun Manggarai. Di Stasiun Depok, ia akhirnya bicara.

“Mbak,” katanya padaku. “Mbak artis, ya?”

“Bukan, Nek.”

“Masa? Cantik begitu.” Nenek itu menatap Mas Reyhan. “Masnya pacarnya?”

“Iya, Nek.”

Nenek itu menatap Mas Reyhan dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu kembali menatapku, lalu kembali menatap Mas Reyhan. Lalu ia mengangguk-angguk pelan dengan wajah sangat serius.

“Pinter, Mas,” katanya. “Pinter banget.”

Penumpang di sekitar kami tertawa. Mas Reyhan membenamkan wajahnya di puncak kepalaku, di dekat pita, dan aku merasakan tawanya bergetar di punggungku.


Rumah Ibu ada di gang kecil di daerah Bogor Tengah, rumah sederhana bercat hijau muda dengan teras kecil penuh pot tanaman: lidah mertua, anggrek, cabai rawit, dan sesuatu yang kelihatan seperti tomat yang menyerah. Di pintu pagar tergantung papan kayu kecil bertuliskan Rumah Keluarga Aditama, dicat tangan dengan huruf yang sedikit miring.

Ibu menunggu di teras. Ia perempuan kecil berusia lima puluhan dengan kerudung bermotif bunga, daster batik, dan senyum yang persis seperti senyum Mas Reyhan, sedikit miring ke kiri. Begitu melihat kami di ujung gang, ia berdiri, lalu berlari kecil, lalu memelukku sebelum aku sempat mengucapkan salam.

“Nak Nadine!” katanya ke bahuku. “Ya Allah, aslinya lebih cantik dari di HP!”

“Bu Bos,” kata Mas Reyhan. “Aku juga di sini, lho.”

“Kamu tiap bulan ke sini,” kata Ibu tanpa melepaskanku. “Nak Nadine baru pertama.”

Lalu sesuatu yang besar, oranye, dan berbulu muncul dari balik pot lidah mertua.

Pak RT ternyata lebih besar dari yang kulihat di video call. Seekor kucing kampung oranye yang sangat gendut, dengan pipi bulat, mata kuning yang mengantuk, dan perut yang menyentuh tanah ketika ia berjalan. Ia berjalan pelan, sangat pelan, seperti pejabat yang sedang inspeksi, lalu berhenti di depan kakiku. Mengendus sneakers putihku. Mengendus ujung gaunku.

Lalu ia menggosokkan kepalanya ke betisku dan mendengkur keras.

Ibu melepaskan pelukannya dan menatap kucing itu dengan mulut terbuka.

“Pak RT nggak pernah begitu,” katanya. “Sama tamu nggak pernah. Sama Rey aja jarang.”

Aku berjongkok. Pak RT langsung naik ke pangkuanku dengan berat seluruh badannya, yang sepertinya sekitar tujuh kilo, dan menggulung diri di sana seperti roti sobek raksasa.

Mas Reyhan berjongkok di sebelahku dan mengulurkan tangan untuk mengelus kepala kucingnya sendiri.

Pak RT mendesis padanya.

“PAK RT,” kata Mas Reyhan, terdengar sangat terluka. “Aku yang beliin kamu makanan tiap bulan.”

Pak RT memejamkan mata dan mendengkur lebih keras di pangkuanku.

Ibu tertawa sampai harus berpegangan pada tiang teras.


Rendang Ibu adalah rendang terbaik yang pernah kumakan, dan aku sudah makan rendang di banyak tempat. Dagingnya empuk dan gelap, bumbunya meresap sampai ke serat, dengan rasa pedas yang datang pelan-pelan lalu menetap. Ada juga sayur nangka, perkedel, sambal ijo, dan kerupuk kulit yang Ibu bilang dibeli khusus dari pasar pagi tadi.

Kami makan di ruang tengah yang kecil, duduk lesehan di atas tikar pandan. Pak RT tidur di pangkuanku sepanjang makan, sehingga aku harus makan dengan piring diangkat sedikit. Mas Reyhan menatap kucingnya dengan wajah orang yang dikhianati.

Setelah makan, Ibu mengeluarkan album foto.

“Bu,” kata Mas Reyhan. “Jangan.”

“Nak Nadine harus lihat,” kata Ibu dengan sangat tegas, lalu membukanya di atas tikar.

Mas Reyhan bayi, botak dan gendut, menangis di bak mandi plastik. Mas Reyhan umur tiga tahun memakai kostum Batman yang kebesaran. Mas Reyhan umur tujuh tahun dengan gigi depan ompong, memegang piala lomba mewarnai tingkat RT. Mas Reyhan umur sepuluh tahun, tergantung di pagar besi rumah tetangga dengan celana tersangkut di ujung tombak pagar, wajahnya merah karena menangis, sementara di latar belakang seorang laki-laki dewasa sedang tertawa sambil memegang kamera.

“Itu yang ngejar layangan,” kata Ibu. “Celananya robek. Bapaknya bukannya nolong, malah foto dulu.”

Aku menatap laki-laki di latar belakang foto itu. Laki-laki yang sama dengan yang ada di foto wisuda di dinding kamar kos Mas Reyhan. Tinggi, kurus, dengan senyum lebar yang sedikit miring ke kiri.

“Bapak,” kataku pelan.

“Bapaknya Rey,” kata Ibu, dan suaranya melunak. “Orangnya lucu. Suka foto-foto. Suka bercanda. Rey mirip dia.” Ibu mengusap foto itu dengan ujung jari. “Rey nggak suka foto-foto, sih. Tapi bercandanya mirip. Dan nolong orangnya juga mirip.”

Mas Reyhan berdiri tiba-tiba. “Aku cuci piring.”

“Nggak usah, Rey...”

“Aku cuci piring, Bu.”

Ia membawa tumpukan piring ke dapur di belakang. Tak lama kemudian, terdengar bunyi air keran.

Ibu menatap punggungnya sampai ia menghilang di balik tirai dapur. Lalu ia menutup album itu pelan-pelan, dan menatapku.


“Nak Nadine,” katanya pelan. “Ibu boleh cerita sesuatu?”

“Boleh, Bu.”

Ibu mengusap sampul album itu. Pak RT bergerak di pangkuanku, mengubah posisi, lalu tidur lagi.

“Bapaknya Rey meninggal waktu Rey kelas dua SMA,” kata Ibu. “Mendadak. Serangan jantung di kantor. Pagi masih sarapan, masih bercanda soal timnas, siangnya Ibu dapat telepon.”

Aku diam.

“Rey nggak nangis,” lanjut Ibu. “Di pemakaman nggak nangis. Di rumah nggak nangis. Ibu yang nangis terus, tiap malam, berbulan-bulan. Dan Rey, tiap malam, bikinin Ibu teh. Terus duduk di sebelah Ibu. Nggak ngomong apa-apa. Cuma duduk.” Ibu tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. “Kalau Ibu tanya, ‘Rey nggak apa-apa?’, dia selalu jawab, ‘Rey nggak apa-apa, Bu.’”

Aku memikirkan seorang laki-laki di tangga darurat yang duduk dua anak tangga di atas orang asing yang menangis. Tidak bertanya. Hanya duduk. Kadang orang nggak butuh ditanya, mereka cuma butuh nggak sendirian.

Ia belajar itu dari sini. Dari tikar pandan ini, dari teh yang ia buat setiap malam untuk ibunya.

“Rey diterima di ITB,” kata Ibu. “Teknik Industri. Itu cita-citanya dari SMP. Tapi dia nggak ambil.”

“Kenapa, Bu?”

“Karena Bandung jauh. Karena Ibu sendirian.” Ibu menghela napas. “Dia ambil kuliah di Bogor. Sambil kerja paruh waktu. Ibu nggak tahu sampai pengumumannya lewat. Dia nggak bilang. Dia cuma bilang, ‘Rey lebih suka di Bogor, Bu. Dekat.’”

Di dapur, bunyi air keran masih mengalir. Piring-piring beradu pelan.

“Sejak itu,” kata Ibu, “Rey selalu begitu. Ngalah duluan. Mundur duluan. Kasih jalan ke orang lain duluan. Bukan karena dia nggak mau. Tapi karena dia pikir, kalau dia yang mundur, nggak ada orang lain yang perlu sedih.” Ibu menatapku dengan mata yang sangat mirip mata anaknya. “Dia nggak pernah minta apa-apa, Nak. Seumur hidupnya. Nggak pernah.”

Aku menelan sesuatu yang besar di tenggorokan.

“Singapura itu,” kata Ibu pelan, “dia nggak minta juga. Kantornya yang minta. Dan dia bilang iya, karena dia selalu bilang iya kalau orang lain butuh.”

“Ibu nggak keberatan dia pergi?”

“Ibu bangga,” kata Ibu. “Tapi Ibu takut.”

“Takut apa, Bu?”

Ibu meraih tanganku di atas punggung Pak RT yang gendut. Tangannya kecil, kasar, hangat.

“Ibu takut dia mundur lagi, Nak,” katanya. “Dari kamu.”

Aku tidak bisa bicara.

“Ibu lihat foto kalian di WhatsApp,” lanjut Ibu. “Yang kamu cium pipinya. Rey kelihatan kayak orang kesengat tawon.” Ia tertawa kecil, basah. “Ibu belum pernah lihat anak Ibu begitu. Belum pernah lihat dia bahagia kayak gitu sejak bapaknya meninggal.” Tangannya meremas tanganku. “Tapi Ibu kenal anak Ibu. Kalau dia mulai merasa dia jadi beban, dia akan mundur. Pelan-pelan. Sopan-sopan. Sambil bilang ‘nggak apa-apa’.”

Bunyi air keran berhenti.

Ibu mencondongkan tubuh sedikit, dan berbisik, cepat, sebelum anaknya kembali:

“Kalau dia mundur, Nak, jangan ikut mundur.”

Tirai dapur tersibak. Mas Reyhan muncul dengan tangan basah dan kaus yang terkena cipratan air, lalu berhenti di ambang pintu karena melihat wajah kami berdua.

“Kenapa?” tanyanya. “Kalian nangis?”

“Ibu kelilipan,” kata Ibu.

“Aku juga,” kataku.

Mas Reyhan menatap kami bergantian. Lalu menatap Pak RT yang masih tidur di pangkuanku.

“Gara-gara bulu Pak RT,” katanya, dengan nada menuduh. “Dasar kucing pengkhianat.”

Pak RT membuka satu mata, menatap majikannya, lalu menutupnya lagi.


Kami pulang dengan KRL pukul lima sore, membawa empat kotak rendang, satu toples kerupuk kulit, dan sekantong cabai rawit dari pot di teras yang Ibu paksa kami bawa.

Sebelum kami pergi, Ibu memelukku lama di depan pagar. Lalu ia memeluk Mas Reyhan, lebih lama lagi, dan berbisik sesuatu di telinganya yang membuat telinganya merah. Pak RT mengikuti kami sampai ujung gang, lalu duduk di sana, menatap kami pergi dengan mata kuningnya, seperti penjaga yang mengantar tamu.

Di kereta pulang, kami mendapat tempat duduk. Aku duduk di dekat jendela, Mas Reyhan di sebelahku. Langit di luar mulai berubah warna, oranye pucat di atas sawah-sawah yang tersisa di pinggiran Bogor.

“Tadi Ibu bilang apa?” tanyaku.

“Di pagar?”

“Iya.”

Ia diam sebentar. “Ibu bilang, ‘Jangan bodoh, Rey.’”

“Itu saja?”

“Itu saja.” Ia menatap ke luar jendela. “Ibu sering bilang itu. Aku nggak pernah tahu bodoh soal apa.”

Aku menatap profil wajahnya dari samping. Telinganya masih sedikit merah. Helai rambut di belakang kepalanya berdiri. Dan di matanya, aku melihat bayangan awan itu lagi. Bayangan yang sama dengan yang kulihat di warung Pak Kumis waktu Fikri bilang nol koma satu persen.

Aku tahu Ibu tidak hanya bilang jangan bodoh. Aku tahu apa yang Ibu maksud. Dan aku tahu ia juga tahu. Ia hanya belum siap mengatakannya.

Aku menyandarkan kepala di bahunya. Ia langsung memiringkan kepala sedikit, supaya pipinya bertumpu di puncak kepalaku, di dekat pita.

“Mas.”

“Mm?”

“Nomor dua,” kataku. “Centang.”

Ia tertawa kecil. “Nomor dua centang. Rendang, Pak RT, Ibu.”

“Pak RT suka aku.”

“Pak RT pengkhianat.”

“Pak RT punya selera bagus,” kataku. Lalu, lebih pelan: “Kayak majikannya.”

Ia tidak menjawab. Tapi tangannya menemukan tanganku di atas pangkuanku dan menggenggamnya, dan ia tidak melepaskannya sampai Stasiun Sudirman.


Malam itu, aku duduk di meja makan apartemen dengan buku biru navy terbuka di depanku, dan kotak rendang Ibu di sebelahnya.

Di pojok kanan atas, aku menulis 42.

Ibu cerita soal Bapak. Soal ITB yang nggak diambil. Soal teh tiap malam.

“Rey nggak apa-apa, Bu.”

Dia sudah bilang kalimat itu sejak umur tujuh belas. Dan dia masih bilang kalimat yang sama sampai sekarang, dengan kata-kata yang beda. “Aku nggak sedih.” “Nggak apa-apa.” “Aku masih bisa.”

Ibu bilang: kalau dia mundur, jangan ikut mundur.

Aku menatap kalimat terakhir itu lama.

Lalu aku menulis satu baris lagi, dan menggarisbawahinya dua kali.

Kalau dia mundur, aku maju.

Aku menutup buku itu dan membuka laptop. Draf email untuk kantor Singapura masih tersimpan di sana, satu kalimat, belum terkirim.

Aku menatapnya.

Lalu aku menutup laptop lagi. Belum. Masih ada yang perlu kupastikan. Aku tidak akan membuat keputusan sebesar ini tanpa data lengkap.

Tapi aku tahu, di suatu tempat di dalam diriku yang paling mirip Papa, putusannya sudah mulai ditulis.