← Lima Menit di Lobby

Chapter Twenty Three

Hujan di Basement

POV: Rey


Hujan turun Rabu sore pukul lima, dan pukul enam, Jakarta sudah berubah menjadi danau.

Aku tahu karena grup Tim Sukses Rey-Nadine berubah fungsi menjadi pusat informasi banjir. Mbak Sari mengirim foto Jalan Rasuna Said yang tergenang setinggi betis. Fikri mengirim grafik curah hujan dengan garis merah yang menanjak tajam. Tari mengirim video dirinya yang terjebak di lobby sambil menyanyikan lagu Korea tentang hujan. Pak Darto mengirim satu pesan pendek: Pintu keluar basement B1 tergenang. Jangan keluar dulu.

Aku dan Nadine sudah duduk di Avanza di basement B2 sejak pukul enam lewat sepuluh. Mesin menyala, AC menyala, radio menyala pelan memutar lagu-lagu lama. Di kaca depan, kami bisa melihat jalur menanjak menuju pintu keluar B1, dan air hujan yang mengalir turun dari jalur itu seperti air terjun kecil yang berwarna cokelat.

“Kita terjebak,” kata Nadine.

“Sementara.”

“Berapa lama?”

“Kata Fikri, dua jam.”

“Fikri pernah benar?”

“Delapan puluh tujuh persen.”

Nadine tertawa. Ia melepas heels-nya, menaikkan kaki ke kursi, dan memeluk lututnya. Hari ini ia memakai blazer putih gading dengan celana panjang biru tua, dan rambutnya disanggul tinggi, yang membuat lehernya terlihat panjang dan anggun. Ada anting mutiara kecil di telinganya yang berkilau setiap kali lampu basement yang berkedip itu menyala.

Aku tidak bisa berhenti meliriknya. Sudah hampir dua bulan, dan aku masih belum terbiasa bahwa ia duduk di kursi penumpang mobilku. Bahwa ia melepas heels di mobilku. Bahwa ia memeluk lututnya di Avanza tahun 2014 dengan stiker Ibu Selalu Di Hati, seolah tidak ada tempat lain di dunia yang lebih nyaman.

“Mas,” katanya.

“Hm?”

“Kamu lirik aku terus.”

“Aku lirik spion.”

“Spionnya di sebelah kanan, Mas. Aku di sebelah kiri.”

Aku menatap setir. Ia tertawa lagi, pelan.

Lalu hening. Hanya ada bunyi hujan yang samar dari atas, bunyi air mengalir di jalur menanjak, dan suara penyiar radio yang membacakan kabar lalu lintas: banjir di Kuningan, banjir di Sudirman, banjir di mana-mana.


“Mas,” kata Nadine lagi. Kali ini suaranya berbeda.

Aku tahu sebelum ia melanjutkan. Aku tahu dari nada suaranya, dari caranya menurunkan kaki dari kursi, dari caranya menoleh dan menatapku sepenuhnya.

“Kita gimana nanti?”

Tiga kata. Persis seperti di daftar. Nomor sebelas.

Aku menatap air yang mengalir di jalur menanjak di depan.

“Nanti?” kataku. “Nanti kalau banjirnya surut, kita keluar lewat B1, terus belok kiri, terus...”

“Mas.”

“Atau kalau banjirnya nggak surut, kita bisa nginep di pantry. Ada kulkas. Ada yogurt Dewi yang suka hilang...”

“Mas Reyhan.”

Aku berhenti.

“Bukan nanti malam,” katanya pelan. “Nanti. Setelah tanggal empat belas.”

Aku diam lama. Radio memutar lagu tentang perpisahan di stasiun kereta, dan aku mematikannya dengan cepat, terlalu cepat.

“Nanti aku belajar renang,” kataku. “Ada kolam renang di apartemen. Aku janji kirim video. Nanti aku kirim rendang Ibu juga, kalau boleh dibawa naik pesawat. Kata Pak Haris boleh, asal divakum. Nanti aku...”

“Mas.”

“...aku telepon tiap malam. Pakai video. Kamu bisa lihat aku makan roti di apartemen yang pemandangannya ke taman...”

Aku berhenti, karena aku mendengar suaraku sendiri. Ringan. Bercanda. Penuh tanda seru di tempat yang tepat. Persis seperti pesan yang kukirim tentang bagasi tiga puluh kilo, dua bulan lalu.

Nadine tidak tertawa. Ia hanya menatapku. Dengan sabar. Dengan mata almond yang sedikit sayu, yang di bawah lampu basement yang berkedip, terlihat sedikit berkaca-kaca.

“Kamu bercanda lagi,” katanya.

“Aku nggak bercanda.”

“Kamu selalu bercanda kalau lagi sedih. Jess yang bilang. Jess benar.”

Aku tidak bisa menjawab. Jadi aku melakukan sesuatu yang bodoh. Aku membuka pintu mobil.

“Aku cek airnya,” kataku. “Sebentar.”


Aku berjalan ke kaki jalur menanjak, tempat air cokelat mengalir turun dan berkumpul di saluran drainase yang sudah penuh. Bunyi hujan di atas lebih keras di sini. Udara lembap dan dingin, berbau aspal basah dan bensin. Lampu neon di atas kepalaku berkedip, menyala, berkedip lagi.

Aku berdiri di sana dengan kedua tangan di saku celana, menatap air yang mengalir, dan tidak benar-benar melihat apa-apa.

Kita gimana nanti?

Aku tahu jawabannya. Atau setidaknya aku tahu jawaban yang seharusnya. Jawaban yang dewasa, yang masuk akal, yang sudah kususun di kepalaku selama berminggu-minggu, setiap malam, di kamar kos dengan daftar HVS di dinding.

Ia sudah menunggu dua setengah tahun. Ia membangun hidupnya di sini. Kariernya, keluarganya, Papa yang ditunda putusannya, Mama yang membungkuskan rendang, Jess, Om Benny, kantor di sisi barat lantai 21. Dan aku akan pergi. Dua tahun. Mungkin lebih kalau kontraknya diperpanjang. Aku tidak bisa memintanya menunggu lagi. Tidak setelah semua yang sudah ia tunggu. Itu tidak adil.

Dan aku tidak bisa memintanya ikut. Ia Associate Director. Ia punya klien yang menunggunya, Pak Haris yang sekarang menghormatinya, karier yang sedang naik seperti roket. Aku tidak bisa memintanya meninggalkan semua itu untuk laki-laki yang bahkan tidak ingat padanya selama dua setengah tahun.

Jadi jawabannya hanya satu. Jawaban yang sopan. Jawaban yang baik.

Aku hanya tidak sanggup mengucapkannya.

Di belakangku, aku mendengar pintu mobil dibuka, lalu ditutup. Lalu langkah kaki. Bukan bunyi heels. Langkah kaki telanjang di lantai beton yang basah.

Aku tidak menoleh.

Lalu dua lengan melingkar di pinggangku dari belakang.

Aku membeku.

Ia memelukku dari belakang. Erat. Pipinya menempel di punggungku, di antara tulang belikat. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat menembus kain kemejaku. Kedua tangannya bertaut di depan perutku, di atas gesper ikat pinggang, jari-jarinya saling menggenggam seperti mengunci.

“Kamu nyeker,” kataku. Suaraku serak.

“Heels-ku ketinggalan di mobil.”

“Lantainya basah, Din. Kotor.”

“Biarin.”

Kami berdiri di sana. Di kaki jalur menanjak basement B2, di bawah lampu neon yang berkedip, dengan air cokelat yang mengalir di dekat kaki kami dan bunyi hujan yang menderu di atas. Ia memelukku dari belakang, dan aku berdiri dengan kedua tangan masih di saku, tidak tahu harus berbuat apa.

“Mas,” katanya ke punggungku. Suaranya teredam kain kemeja. “Aku nggak minta jawaban sekarang.”

Aku memejamkan mata.

“Aku nggak minta kamu janji apa-apa. Aku nggak minta kamu batalin Singapura. Aku nggak minta kamu bilang hal-hal yang belum kamu yakin.” Lengannya mengencang sedikit. “Aku cuma minta satu hal.”

“Apa?”

“Jangan pura-pura nggak dengar.”

Aku menarik tangan dari saku. Pelan. Lalu meletakkannya di atas tangannya yang bertaut di depan perutku. Tangannya dingin. Untuk pertama kalinya, tangannya yang dingin, bukan tanganku.

“Aku dengar,” kataku.

“Terus?”

Aku menarik napas panjang. Air mengalir. Lampu berkedip.

“Aku takut,” kataku.

Itu pertama kalinya aku mengatakannya. Pada siapa pun. Mungkin sejak umur tujuh belas.

Ia diam. Tapi aku merasakan ia menempelkan dahinya lebih keras ke punggungku.

“Takut apa?” tanyanya pelan.

“Takut minta kamu nunggu.” Suaraku pecah di tengah kalimat. “Kamu sudah nunggu dua setengah tahun, Din. Buat orang yang bahkan nggak ingat kamu. Dan sekarang aku mau pergi dua tahun lagi. Aku nggak bisa minta kamu nunggu lagi. Itu nggak adil. Kamu pantas dapat orang yang ada di sini. Yang nggak bikin kamu ngitung hari.”

Hening lama. Hanya bunyi hujan.

Lalu, di punggungku, aku merasakan sesuatu yang aneh. Getaran kecil. Seperti tawa yang ditahan.

“Mas,” katanya. “Siapa bilang aku mau nunggu?”

Aku membeku.

Kalimat itu masuk ke telingaku dan langsung jatuh ke perutku, seperti batu yang dijatuhkan ke sumur. Siapa bilang aku mau nunggu. Ia tidak mau menunggu. Tentu saja. Tentu saja ia tidak mau. Ia sudah cukup menunggu. Itu yang kupikirkan juga, bukan? Itu yang baru saja kubilang. Jadi kenapa rasanya seperti ini?

Aku berbalik di dalam pelukannya untuk menatap wajahnya.

Ia tersenyum. Bukan senyum sedih. Senyum kecil, miring, dan sedikit misterius. Senyum orang yang tahu sesuatu yang belum ia katakan. Matanya basah, tapi berbinar.

“Maksudmu...” kataku.

“Nanti kamu tahu,” katanya.

“Din.”

“Nanti, Mas.” Ia mengangkat tangan dan merapikan helai rambut di belakang kepalaku yang selalu berdiri, yang sekarang lembap karena udara basement. “Kamu boleh takut. Aku nggak marah kamu takut. Aku cuma nggak mau kamu takut sendirian, terus diam-diam mutusin sesuatu sendirian.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik. Di bawah lampu neon yang berkedip, kakinya telanjang di lantai beton basah, blazer putih gadingnya kusut karena memelukku, dan anting mutiaranya berkilau setiap kali lampu menyala.

Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi kalimat itu, siapa bilang aku mau nunggu, menempel di kepalaku seperti duri kecil.

Aku memeluknya. Dari depan kali ini. Erat. Dan ia membenamkan wajahnya di dadaku.


Banjir di jalur B1 surut pukul delapan lewat dua puluh. Fikri meleset dua puluh menit, dan ia mengirim permintaan maaf resmi ke grup.

Aku menyalakan mobil, menyalakan lampu, dan memasukkan gigi. Lalu, ketika kami melewati pilar tiga di jalur keluar, aku melihat sesuatu.

Porsche putih itu. Masih terparkir. Dan di sebelahnya, Kenzo Wiradinata berdiri dengan jas biru gelap, menatap jalur menanjak dengan wajah frustrasi, ponsel di telinga.

“...saya nggak bisa keluar, Pak. Mobilnya terlalu rendah. Air di B1 masih sebetis, kalau saya paksa, mesinnya bisa kemasukan air... Iya, saya tahu. Iya. Taksi online nggak ada yang mau masuk basement...”

Aku menginjak rem pelan.

Nadine menoleh padaku. “Mas.”

“Dia nggak bisa keluar.”

“Mas. Jangan.”

“Mobilnya terlalu rendah.”

“Mas Reyhan, jangan berani-berani...”

Aku menurunkan kaca jendela.

Kenzo menoleh. Melihat Avanza abu-abu. Melihatku di kursi pengemudi. Melihat Nadine di kursi penumpang dengan heels di pangkuannya. Wajahnya berubah beberapa kali dalam satu detik: kaget, kesal, malu, lalu sesuatu yang mirip menyerah.

“Pak Kenzo,” kataku. “Mau bareng? Avanza bisa lewat. Bannya tinggi.”

Hening yang sangat panjang. Di kursi penumpang, Nadine memejamkan mata dan menghela napas dengan sangat dramatis.

Kenzo menatap Porsche-nya. Lalu menatap jalur keluar yang masih tergenang. Lalu menatap jam tangannya yang besar dan berkilau.

“...Kebayoran,” katanya akhirnya. Pelan. “Rumah saya di Kebayoran.”

“Searah,” kataku. “Naik, Pak.”


Itu perjalanan paling hening dalam hidupku.

Kenzo Wiradinata duduk di kursi belakang Avanza, dengan jas biru gelap seharga motor, kaki panjangnya terlipat canggung karena jok depan tidak bisa dimundurkan lebih jauh. Nadine duduk di depan, menatap lurus ke jalan, dengan wajah sedingin AC ruang server. Radio mati. Hanya bunyi wiper yang bergerak bolak-balik.

Di lampu merah Mampang, Kenzo bicara.

“Stiker di kaca belakang,” katanya. “Ibu Selalu Di Hati.”

“Ibu saya yang tempel, Pak,” kataku.

Hening.

“Ibu saya juga suka tempel stiker,” kata Kenzo pelan. “Di kulkas. Dulu.”

Aku melirik kaca spion. Kenzo sedang menatap ke luar jendela, ke lampu-lampu yang buram karena hujan. Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti iklan pasta gigi. Ia terlihat seperti laki-laki tiga puluh dua tahun yang lelah dan basah.

“Dulu?” tanyaku.

“Ibu saya meninggal tiga tahun lalu.”

Nadine menoleh sedikit. Hanya sedikit.

“Maaf, Pak,” kataku.

“Nggak apa-apa.” Kenzo diam sebentar. “Kulkasnya masih penuh stiker. Saya nggak pernah cabut.”

Lampu hijau. Aku menginjak gas pelan.

Kami sampai di depan rumah besar di Kebayoran pukul sembilan lewat sepuluh. Kenzo membuka pintu, keluar, lalu menunduk ke jendela yang kubuka.

“Reyhan,” katanya.

“Iya, Pak?”

Ia menatapku lama. Lalu menatap Nadine. Lalu kembali menatapku.

“Terima kasih,” katanya. Kaku. Seperti orang yang tidak terbiasa mengucapkannya. “Kamu... baik juga ternyata.”

“Hati-hati, Pak. Jalannya licin.”

Kenzo menatapku sedetik lagi, lalu menggeleng pelan, seperti orang yang baru saja kalah dalam permainan yang ia tidak tahu sedang dimainkan. Ia berjalan ke pagar rumahnya tanpa menoleh lagi.

Aku menaikkan kaca. Memasukkan gigi.

Nadine masih menatap lurus ke depan. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya terangkat.

“Itu,” katanya, “persis yang aku bilang di rapat.”

“Apa?”

“Orang paling sopan di gedung ini.” Ia menoleh dan menatapku, dan matanya berbinar dengan sesuatu yang hangat dan sedikit jengkel sekaligus. “Kamu kasih tumpangan ke orang yang ngirim seratus satu mawar ke pacarmu.”

“Mobilnya terlalu rendah, Din.”

“Itu bukan alasan.”

“Itu alasan yang sangat masuk akal secara teknis.”

Ia tertawa, lalu bersandar ke jok dan meraih tanganku di atas tuas persneling.

“Aku nggak tahu harus bangga atau kesal,” katanya.

“Boleh dua-duanya?”

“Boleh,” katanya. “Dua-duanya.”

Kami menyetir pulang lewat jalan-jalan yang basah, di bawah lampu-lampu kota yang memantul di genangan. Ia menggenggam tanganku sepanjang jalan. Dan sepanjang jalan, kalimat itu terus berputar di kepalaku, menempel seperti duri yang tidak bisa kucabut.

Siapa bilang aku mau nunggu?

Malam itu, di kamar kos, aku berdiri lama di depan daftar HVS di dinding.

Nomor sebelas masih kosong.

Aku tidak mencentangnya. Kami belum benar-benar bicara. Ia bertanya, aku bilang aku takut, ia bilang ia tidak mau menunggu. Itu bukan pembicaraan. Itu dua orang yang masing-masing meletakkan sesuatu di atas meja, lalu tidak ada yang berani mengambilnya.

Aku menatap nomor sebelas lama sekali.

Lalu aku duduk di meja, membuka laptop, dan membuka folder dokumen Singapura. Kontrak dua tahun. Tanggal keberangkatan. Nama Pak Haris di kolom tanda tangan.

Siapa bilang aku mau nunggu.

Ia tidak mau menunggu. Dan aku tidak bisa memintanya menunggu.

Jadi mungkin, kataku pada diri sendiri, dengan suara yang sangat pelan di dalam kepala, suara yang sangat mirip suaraku waktu umur tujuh belas, mungkin bukan dia yang harus berubah.

Mungkin aku yang harus tinggal.

Aku menutup laptop. Aku tidak memutuskan apa-apa malam itu.

Tapi aku tidak bisa tidur sampai jam tiga pagi.