Chapter Twelve
Giliran Aku Minta Lima Menit
POV: Nadine
Aku hampir ketahuan.
Sepanjang akhir pekan, kalimat itu berputar di kepalaku seperti lagu yang tidak bisa berhenti. Aku lihat. Aku ketawa sampai harus masuk toilet. Di depan lima puluh orang. Di depan Om Benny. Di depan Mas Reyhan, yang memegang mikrofon dan menatapku dengan wajah orang yang baru saja menemukan satu keping puzzle yang tidak cocok dengan gambar di kotaknya.
Enam tahun aku bekerja di dunia di mana satu kalimat yang salah bisa membuat klien lari, dan aku tidak pernah keceplosan sekali pun. Lalu satu cerita tentang pintu kaca dan plester bergambar beruang, dan pertahananku runtuh seperti tembok kardus.
“Kamu nggak keceplosan,” kata Jess di telepon Sabtu pagi. “Kamu sudah capek nyimpen.”
“Aku nggak capek.”
“Din. Kamu nulis di buku itu dua tahun enam bulan. Kamu beli isi ulangnya dua kali. Kamu langganan lele di warung yang kamu bahkan nggak tahu namanya sampai Pak Kumis kasih kartu nama.” Jess menghela napas. “Kamu capek. Dan kamu mau dia tahu. Sebagian dari kamu.”
Aku tidak menjawab. Jess benar, seperti biasa, dan aku tidak suka kalau ia benar di hari Sabtu.
“Terus apa yang mau kamu lakuin?” tanya Jess.
Aku menatap buku biru navy di pangkuanku. Di halaman terakhir, di pojok kanan atas, ada angka 69 yang baru kutulis pagi ini.
“Aku mau minta lima menit,” kataku.
Senin sore, pukul lima lewat empat puluh, aku mengirim pesan.
Nadine: Rooftop. Jam enam. Bawa dirimu saja.
Mas Lift 3: Rooftop gedung ini? Ada rooftop?
Nadine: Lantai 32. Taman penghuni. Kamu kerja di sini lima tahun dan nggak tahu?
Mas Lift 3: Aku takut ketinggian, Din.
Nadine: Aku tahu. Makanya aku pegangin.
Ada jeda.
Mas Lift 3: Oke. Jam enam.
Taman di lantai 32 bukan taman yang besar. Hanya teras beton dengan pagar kaca setinggi dada, beberapa pot tanaman palem yang mulai menguning, empat bangku kayu, dan dua tangki air besar berwarna biru di sudut, yang dikelilingi pipa-pipa. Hampir tidak ada yang pernah naik ke sini. Penghuni gedung terlalu sibuk, dan petugas gedung terlalu malas merawat tanamannya.
Tapi dari sini, pemandangan Jakarta terlihat seperti lukisan. Dan pukul enam sore, ketika matahari tenggelam di balik gedung-gedung Sudirman, langitnya berubah menjadi oranye, merah muda, lalu ungu, dalam urutan yang tidak pernah sama dua kali.
Aku menemukan tempat ini tahun lalu, di malam ketika aku dipromosikan menjadi Associate Director dan tidak punya siapa pun untuk diajak merayakan selain Jess, yang sedang flu. Aku naik ke sini sendirian dan menatap langit, dan aku memikirkan seseorang di sisi timur Lantai 21 yang tidak tahu bahwa aku sedang memikirkannya.
Malam ini aku tidak sendirian.
Pintu tangga berderit, dan Mas Reyhan muncul. Ia berjalan sangat lambat, sangat dekat dengan dinding, seperti orang yang berjalan di tepi jurang, padahal pagar kaca masih tiga meter jauhnya. Wajahnya sedikit pucat. Tangannya meraba dinding.
“Kamu bilang mau pegangin,” katanya.
Aku tertawa dan berjalan menghampirinya, lalu menggenggam tangannya. Dingin, seperti biasa. Aku menariknya pelan-pelan ke bangku kayu di tengah teras, yang cukup jauh dari pagar.
“Duduk.”
Ia duduk. Aku duduk di sebelahnya. Angin sore bertiup cukup kencang di ketinggian ini, dan aku melepas jepit sanggulku, membiarkan rambutku tergerai karena angin akan menariknya lepas juga.
Ketika aku menoleh, ia sedang menatapku.
Bukan menatap pemandangan. Bukan menatap matahari terbenam yang sedang mewarnai langit dengan warna-warna yang biasanya membuat orang mengeluarkan ponsel. Ia menatapku, rambutku yang terbang ditiup angin, wajahku yang disinari cahaya oranye, dengan ekspresi yang sama seperti dua tahun lalu sebelum ia menabrak pintu.
“Mas,” kataku. “Mataharinya di sana.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak lihat.”
“Aku lagi lihat yang lebih bagus,” katanya, lalu langsung memalingkan wajah ke arah matahari dengan telinga yang memerah, seolah baru sadar kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri.
Aku menunduk dan tersenyum ke pangkuanku. Dua tahun lalu, ia bahkan tidak berani menyapaku. Sekarang ia mengatakan hal-hal seperti itu, lalu malu sendiri, lalu tetap mengatakannya lagi lain kali. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Kemajuan, mungkin. Atau keberanian yang tumbuh pelan-pelan, seperti tanaman palem di pot yang belum menyerah meskipun tidak ada yang menyiramnya.
“Mas,” kataku setelah beberapa lama. “Boleh aku minta lima menit?”
Ia menoleh. Ada sesuatu yang melintas di wajahnya. Ia mengenali kalimat itu. Kalimatnya sendiri, dari lobby, tiga minggu lalu.
“Lima menit,” ulangnya.
“Cuma lima menit. Habis itu kamu boleh tanya apa saja, dan aku boleh nggak jawab.”
Ia tertawa kecil. “Itu nggak adil.”
“Aku nggak pernah bilang aku adil.”
Ia mengangguk, lalu duduk sedikit lebih tegak, kedua tangannya di lutut, seperti murid yang siap mendengarkan guru. “Oke. Silakan.”
Aku menarik napas. Semua draft yang kususun sepanjang akhir pekan menguap begitu saja. Ternyata begini rasanya. Ternyata ini yang ia rasakan di lobby malam itu.
“Aku kenal kamu duluan,” kataku.
Ia diam.
“Bukan dua tahun lalu, waktu kamu nabrak pintu,” lanjutku. “Sebelum itu. Jauh sebelum itu.”
Matanya melebar. “Sebelum? Kita pernah ketemu?”
“Pernah. Satu kali.”
“Di mana?”
“Di gedung ini.”
“Kapan?”
“Sebelum kamu ke Surabaya.”
Ia menatapku dengan intens, alisnya berkerut, dan aku hampir bisa melihat roda-roda di dalam kepalanya berputar, membongkar setiap laci ingatannya.
“Kita ngobrol?” tanyanya.
“Sedikit. Kamu yang banyak ngomong.”
“Aku?” Ia terlihat benar-benar kaget. “Aku banyak ngomong ke orang asing?”
“Kamu kasih aku sesuatu.”
Ia terdiam. Lalu wajahnya berubah. Bukan berubah karena ingat. Berubah karena panik, seperti orang yang baru sadar bahwa daftarnya terlalu panjang.
“Kasih apa?” tanyanya. “Aku sering kasih barang ke orang. Charger, aku pernah kasih charger ke ibu-ibu di lift yang HP-nya mati. Payung, aku sudah kasih payung ke orang tiga kali tahun ini, makanya payungku yang kemarin dari minimarket. Pulpen, aku nggak pernah punya pulpen lebih dari seminggu. Jaket, aku pernah kasih jaket ke kurir yang kehujanan, dan itu jaket favoritku, dan dia nggak balikin.”
Aku menatapnya.
“Roti,” lanjutnya, lebih pelan. “Aku kasih roti ke banyak orang.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menatapnya, dan berharap.
Ia menatapku balik dengan wajah sangat serius, berusaha sangat keras. Lalu ia menggeleng pelan, frustrasi. “Din, aku nggak ingat. Maaf. Aku benar-benar nggak...”
“Itu masalahnya, Mas.”
“Apa?”
“Kamu kasih terlalu banyak hal ke terlalu banyak orang,” kataku pelan, “sampai kamu nggak ingat satu pun dari mereka.”
Kalimat itu keluar lebih lembut dari yang kurencanakan. Tidak ada nada menyalahkan. Karena memang tidak ada yang perlu disalahkan. Begitulah ia. Ia menebar kebaikan seperti orang menebar benih di ladang yang sangat luas, lalu berjalan pergi tanpa menoleh untuk melihat mana yang tumbuh.
Dan salah satu benih itu, kebetulan, adalah aku.
“Kasih tahu aku,” katanya. “Tolong. Aku pengin tahu.”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Aku menatap langit, yang sekarang sudah berubah dari oranye ke merah muda.
“Karena kalau aku yang kasih tahu,” kataku, “kamu bakal anggap itu utang.”
“Utang?”
“Kamu bakal mikir, ‘Oh, dia mau sama aku karena aku pernah nolong dia.’ Terus kamu bakal ngerasa semua ini cuma balas budi. Terus kamu bakal merasa nggak pantas, karena kamu memang selalu merasa nggak pantas.” Aku menoleh dan menatapnya. “Aku nggak mau jadi utang, Mas. Aku mau kamu ingat sendiri. Supaya kamu tahu kamu orang yang layak diingat.”
Ia terdiam lama.
“Di lobby,” kataku lebih pelan, “kamu bilang kamu bukan orang yang gampang diingat. Kamu ingat?”
Ia mengangguk perlahan.
“Kamu salah,” kataku. “Aku ingat kamu. Dua tahun enam bulan. Setiap hari.”
Angin bertiup. Rambutku terbang menutupi sebagian wajahku. Ia mengangkat tangannya, ragu, lalu dengan sangat pelan menyelipkan helai-helai rambut itu ke belakang telingaku. Jarinya menyentuh pipiku. Dingin, tapi tidak sedingin tadi.
“Lima menitmu sudah habis,” katanya, suaranya serak.
“Aku tahu.”
“Sekarang giliranku tanya.”
“Silakan. Aku boleh nggak jawab.”
Ia menatapku lama. Lalu ia bertanya sesuatu yang tidak kuduga.
“Selama dua tahun enam bulan itu,” katanya, “kamu kesepian?”
Aku membuka mulut untuk menjawab, lalu menutupnya lagi.
Tidak ada yang pernah menanyakan itu padaku. Tidak Jess, tidak Mama, tidak Om Benny. Mereka bertanya apakah aku bodoh, apakah aku yakin, apakah aku tidak mau mencoba dengan orang lain. Tidak ada yang bertanya apakah aku kesepian.
“Kadang,” kataku akhirnya. Suaraku keluar lebih kecil dari yang kuinginkan.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya merentangkan satu lengannya, ragu-ragu, seperti meminta izin. Aku bergeser mendekat dan menyandarkan kepalaku di dadanya, dan lengannya melingkar di bahuku, dan kami menatap matahari yang sekarang hanya tinggal garis tipis berwarna emas di balik gedung-gedung.
Jantungnya berdetak cepat di bawah telingaku. Seperti biasa.
“Aku bakal ingat,” katanya ke rambutku. “Aku janji. Sebelum aku berangkat.”
“Jangan janji kalau nggak yakin.”
“Aku nggak yakin,” katanya jujur. “Tapi aku bakal usaha sampai yakin.”
Aku memejamkan mata dan tersenyum ke kemejanya.
Lalu terdengar bunyi KLONTANG.
Bunyi logam berat jatuh, berasal dari sudut teras, dari balik dua tangki air biru yang dikelilingi pipa-pipa.
Kami berdua menegakkan tubuh dan menoleh bersamaan.
Hening. Lalu bisikan-bisikan panik yang tidak cukup pelan.
“Siapa yang nendang ember?”
“Bukan gue!”
“Fikri, laptopmu bunyi!”
“Itu notifikasi, Mbak, dari grup...”
“Matiin!”
“Tari, jangan maju-maju, kelihatan!”
“Saya cuma mau lihat Bu Nadine, Kak Jess!”
Aku memejamkan mata. Lalu berdiri, merapikan rambutku, dan berjalan ke arah tangki air dengan langkah Associate Director, heels mengetuk lantai beton dengan ritme yang aku tahu sangat menakutkan untuk tim HTA.
Di balik tangki, lima orang berjongkok berdesakan di antara pipa-pipa. Dodi memegang ember yang penyok. Mbak Sari memegang ponsel dalam posisi merekam. Fikri memeluk laptop. Tari setengah berdiri dengan mata berbinar. Dan Jess, sahabatku, orang yang Sabtu pagi kemarin bilang aku nggak akan ikut-ikutan, berjongkok paling depan dengan wajah merah.
“Selamat sore,” kataku.
“Sore, Bu,” kata kelima orang itu serempak.
“Siapa yang memberi tahu kalian bahwa kami ada di sini?”
Kelima orang itu saling pandang. Lalu, hampir bersamaan, saling menunjuk.
“Dodi!” kata Jess.
“Jess!” kata Dodi.
“Kak Jess yang ngajak saya!” kata Tari.
“Mas Fikri yang nemu pintu tangganya!” kata Mbak Sari.
“Saya cuma bawa laptop, Mbak!” kata Fikri.
“Kamu yang bocorin ke grup!” kata Jess pada Dodi, berbalik dan menatapnya dengan sangat galak.
“Kamu yang injek kakiku dari tadi, Yang...” Dodi berhenti mendadak. Wajahnya memucat. “...Yang... Yanto. Pak Yanto. Tadi Pak Yanto yang injek.”
“Pak Yanto nggak ada di sini, Mas Dodi,” kata Tari polos.
Hening.
Jess menatap tangki air dengan sangat serius, seolah tangki itu adalah benda paling menarik di dunia. Dodi menatap ember penyok di tangannya. Mbak Sari menurunkan ponselnya pelan-pelan, matanya menyipit, berpindah dari Dodi ke Jess, lalu kembali ke Dodi, seperti ahli forensik yang baru menemukan sidik jari.
Aku menatap sahabatku. Sahabatku menolak menatapku.
Yang.
Aku menyimpan itu untuk nanti. Ada hal-hal yang lebih baik diinterogasi tanpa saksi.
“Semua turun,” kataku. “Sekarang. Lewat tangga.”
“Dua puluh lantai, Bu?” Fikri terlihat ngeri.
“Sebelas. Lift ada di lantai 21. Kalian bisa olahraga sedikit.”
Kelima orang itu berbaris keluar dari balik tangki dengan kepala tertunduk, seperti murid yang tertangkap membolos. Saat melewatiku, Jess berbisik cepat, “Aku bisa jelasin.”
“Nanti,” kataku.
“Din...”
“Nanti, Jess. Aku punya buku catatan, ingat? Aku jago mencatat.”
Jess menelan ludah dan bergegas menyusul yang lain.
Pintu tangga tertutup. Teras kembali sunyi, hanya ada angin dan suara lalu lintas yang jauh di bawah.
Aku berbalik. Mas Reyhan masih duduk di bangku kayu, menatapku dengan ekspresi aneh, setengah geli dan setengah takjub.
“Kamu tahu,” katanya, “aku nggak pernah lihat orang lima sekaligus takut sama satu orang.”
“Mereka nggak takut. Mereka menghormati.”
“Fikri gemetar, Din.”
“Fikri memang gampang gemetar.”
Ia tertawa, berdiri, dan berjalan menghampiriku. Ia tidak lagi meraba dinding. Ia berjalan lurus, meskipun pagar kaca hanya dua meter jauhnya, dan meskipun aku bisa melihat ia tidak berani menoleh ke arah pagar.
“Din,” katanya, berhenti di depanku. “Tadi Dodi bilang ‘Yang’ ke Jess, kan?”
Aku tersenyum. “Kamu dengar juga?”
“Semua orang dengar.”
“Kalau begitu,” kataku, menggandeng tangannya dan menariknya ke arah pintu, “sepertinya kita punya penyelidikan baru.”
“Aku sudah punya daftar penyelidikan.”
“Aku tahu,” kataku. “Nomor sembilan, kan?”
Ia berhenti berjalan. Menatapku.
“Kok kamu tahu aku bikin daftar?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum dan menariknya ke tangga, dan ia mengikutiku tanpa bertanya lagi.
Malam itu, di apartemen, aku membuka buku biru navy, mencoret angka 69, menggantinya dengan 67, lalu menulis di bawahnya:
Aku minta lima menit. Aku bilang aku kenal dia duluan.
Dia tanya apa aku kesepian. Nggak ada yang pernah nanya itu.
Dia janji bakal ingat.
Aku menatap kalimat terakhir itu lama. Lalu menambahkan, di bawahnya:
Dodi panggil Jess “Yang”. Interogasi besok.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit reading
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup