← Lima Menit di Lobby

Chapter Twenty Seven

Dua Rahasia, Satu Lift

POV: Rey


Ada dua rahasia di Lantai 21, dan keduanya disimpan oleh orang yang tersenyum terlalu banyak.

Aku tahu rahasiaku sendiri. Formulir pembatalan di meja Pak Haris. Tiket yang akan dibatalkan. Apartemen dekat MRT dengan pemandangan taman yang tidak akan pernah kulihat. Dan kabar baik yang akan kuberikan pada Nadine di pesta perpisahan yang sebenarnya bukan pesta perpisahan.

Aku tidak tahu rahasianya. Aku hanya tahu ada. Aku bisa melihatnya di cara ia menatap ke luar jendela pantry, di cara ia menutup laptop terlalu cepat ketika aku masuk ke ruangannya, di cara ia tersenyum padaku setiap pagi di depan Lift Nomor 3, dengan senyum yang terlalu bahagia untuk seseorang yang pacarnya akan pergi dalam empat minggu.

Tapi aku tidak bertanya. Kami sudah sepakat. Pesta perpisahan. Kelingking sudah ditautkan.

Dan karena kami berdua menyimpan rahasia, kami berdua menjadi sangat, sangat bahagia.

Fikri menyadarinya Jumat pagi.

“Mas,” katanya, berdiri di samping mejaku dengan laptop. “Saya perlu konsultasi.”

“Soal apa?”

“Soal data. Data Mas sama Bu Nadine minggu ini anomali.” Ia membuka grafik. “Frekuensi senyum Mas naik tiga ratus persen. Frekuensi senyum Bu Nadine, menurut laporan Tari, naik dua ratus delapan puluh persen. Frekuensi kunjungan ke pantry naik. Frekuensi...”

“Fik.”

“...frekuensi pegangan tangan di lift naik ke level tertinggi sejak pencatatan dimulai. Ini nggak sesuai model, Mas. Seharusnya makin dekat tanggal keberangkatan, makin turun. Ini malah naik.”

“Mungkin kami bahagia.”

Fikri menatapku dengan mata menyipit di balik kacamata yang melorot. “Mas,” katanya pelan, “bahagia yang kayak gini biasanya ada sebabnya.”

Aku tersenyum dan kembali ke laptopku. Fikri berdiri di sana lama, menatapku, lalu pergi dengan wajah seperti ilmuwan yang baru menemukan hasil eksperimen yang tidak bisa ia jelaskan.


Pukul dua belas, aku dan Nadine makan siang di pantry.

Ia membawa bekal. Bekal sungguhan, dalam kotak makan bersusun dua berwarna biru muda. Telur dadar kecap, nasi, dan tumis kangkung yang menurut pengakuannya sendiri “dibimbing Mama lewat video call dua jam”.

“Kamu masak kangkung,” kataku.

“Mama masak kangkung. Aku pegang wajan.”

“Itu tetap masak.”

“Mama bilang aku pegang wajannya kayak pegang pedang. Lagi.” Ia menyuapkan sesendok nasi dengan telur dadar ke mulutku. “Enak?”

“Enak banget.”

“Telingamu nggak merah.”

“Karena aku nggak bohong.”

Ia tersenyum dan menyuapkan sesendok lagi. Lalu, sambil menuang teh dari termos kecil yang juga ia bawa dari rumah, ia bertanya dengan nada santai:

“Mas. Apartemenmu di Singapura. Dapurnya muat dua orang nggak?”

Aku berhenti mengunyah.

Aku tidak akan ke apartemen itu. Aku tidak akan pernah melihat dapurnya. Dan aku hampir tertawa, karena ia menanyakan sesuatu yang tidak akan pernah penting, dan ia tidak tahu itu.

“Nggak penting, Din,” kataku, sambil tersenyum lebar. “Nanti juga...”

Aku berhenti. Hampir saja.

Nadine menatapku. Senyumnya bertahan, tapi sesuatu di matanya berubah sedikit. Sangat sedikit. Seperti cahaya yang berkedip di lampu basement.

“Nanti juga apa?” tanyanya.

“Nanti juga kamu lihat,” kataku cepat. “Lewat video call.”

Ia diam sebentar. Lalu ia mengangguk dan menyesap tehnya. “Oke.”

Aku tidak menyadarinya saat itu. Aku terlalu sibuk menahan rahasiaku sendiri supaya tidak tumpah. Tapi belakangan, jauh belakangan, aku akan mengingat percakapan ini dan memahami bahwa bagi Nadine, saat itu, nggak penting terdengar seperti kamu nggak akan pernah ke sana.


Kami berbicara seperti itu sepanjang hari. Dua orang yang masing-masing menyimpan rahasia, saling melempar petunjuk, dan saling salah menangkapnya.

Pukul tiga, di depan Lift Nomor 3, aku berkata, “Tahun depan kita ke Bogor tiap bulan, ya. Bawa kamu ke Pak RT. Dia kangen.”

Nadine menatapku dengan alis terangkat. “Tiap bulan? Tiket pesawatnya mahal, Mas.”

Aku tertawa. “KRL, Din. Bukan pesawat. Delapan ribu.”

Ia menatapku dengan ekspresi aneh, lalu tersenyum kecil dan tidak menjawab. Aku mengira ia bercanda. Aku tidak tahu bahwa di kepalanya, tahun depan ia tidak akan berada di Jakarta untuk naik KRL.

Pukul empat, di pantry, ia berkata sambil menatap langit di luar jendela, “Nanti di sana hujannya tiap sore, Mas. Kamu harus beli payung yang bagus. Jangan dikasih ke orang terus.”

“Payungku buat kamu aja,” kataku.

Ia menoleh dengan cepat. “Buat aku?”

“Kamu kan di sini. Musim hujan Jakarta juga parah.” Aku tersenyum. “Aku nggak butuh payung.”

Ia menatapku lama. Lalu tersenyum lagi, senyum yang sedikit lebih hati-hati, dan berbalik ke jendela.

Kalau saja salah satu dari kami berhenti dan bertanya maksudmu apa?, semuanya akan selesai di pantry itu, sore itu, dengan secangkir kopi hitam dan segelas teh. Tapi tidak ada yang bertanya. Kami sudah menautkan kelingking. Kami berdua menunggu pesta perpisahan, masing-masing dengan keyakinan bahwa rahasia kami adalah hadiah.


Pukul tujuh malam, Lift Nomor 3 macet di antara lantai empat belas dan lima belas.

Kami baru keluar dari lantai 21 setelah lembur dokumen Singapura, yang kukerjakan dengan semangat aneh karena aku tahu Dodi yang akan memakainya. Lift itu kosong kecuali kami berdua. Nadine bersandar di dinding lift dengan sepatu heels di tangan, karena ia selalu melepasnya setelah jam tujuh. Aku berdiri di sebelahnya, memegang tas kerjanya dan tasku.

Lalu lift itu tersentak. Berguncang. Lampunya berkedip.

Dan berhenti.

Lampu utama mati. Lampu darurat berwarna kuning pucat menyala di langit-langit, redup, membuat seluruh ruangan terlihat seperti foto lama. Bunyi mesin lift yang biasanya berdengung pelan hilang. Hening total.

Nadine menatapku. Aku menatapnya.

“Mas,” katanya pelan. “Kamu tekan sesuatu?”

“Nggak.”

“Kamu sentuh dindingnya?”

“Aku pegang tas, Din.”

Aku menekan tombol darurat berbentuk lonceng. Bunyi bel nyaring terdengar dari suatu tempat di atas. Lalu, dari speaker kecil di panel tombol, terdengar bunyi gemeresik, lalu suara yang sangat kukenal.

“Lift Tiga, ini pos keamanan. Ada orang di dalam?”

“Pak Darto,” kataku. “Ini Rey. Sama Nadine. Liftnya macet.”

Hening sebentar.

“Lift Tiga,” ulang Pak Darto. Suaranya terdengar datar, seperti biasa, tapi ada sesuatu yang aneh di sana. “Lift favorit, Mas.”

“Pak...”

“Teknisi sudah saya hubungi, Mas. Tiga puluh menit. Mungkin empat puluh. Jangan panik. Udaranya cukup. Lampu daruratnya tahan dua jam.”

“Pak Darto,” kata Nadine, mendekat ke speaker. “Bapak nggak sengaja bikin lift ini macet, kan?”

Hening.

“Saya cuma satpam, Mbak,” kata Pak Darto akhirnya. “Saya nggak bisa bikin lift macet.”

“Bapak sudah sembilan tahun di sini, Pak.”

“Justru karena itu, Mbak. Saya tahu Lift Tiga suka macet kalau Jumat malam. Mesinnya capek.” Jeda. “Sabar, ya, Mbak, Mas. Nikmati aja.”

Speaker berbunyi klik dan diam.


Kami duduk di lantai lift.

Nadine yang duluan. Ia meletakkan heels-nya di sudut, menurunkan diri ke lantai, dan bersandar di dinding dengan kaki diluruskan. Lalu ia menepuk lantai di sebelahnya.

“Duduk, Mas. Tiga puluh menit lama kalau berdiri.”

Aku duduk. Lalu, karena lantai lift dingin dan sempit, dan karena kami berdua tidak benar-benar ingin duduk berjauhan, kami bergeser sampai bahu kami menempel. Lalu ia bergeser lagi, dan aku membuka kaki sedikit, dan ia duduk di antaranya, bersandar ke dadaku, punggungnya menempel di tubuhku. Aku melingkarkan lenganku di depannya, dan ia menggenggam kedua tanganku di atas perutnya.

Lampu darurat kuning pucat membuat rambutnya terlihat cokelat keemasan. Aku menunduk dan mencium puncak kepalanya, menghirup wangi persik yang sudah sangat kukenal.

“Ini nyaman,” katanya pelan.

“Lantainya dingin.”

“Kamu hangat.”

Kami diam lama. Hanya bunyi napas dan sesekali dengung samar dari kabel lift di atas.

“Mas,” katanya.

“Hm?”

“Kamu ingat nomor sepuluh?”

Aku tertawa pelan ke rambutnya. “Cium Mas di Lift Tiga.”

“Kita di Lift Tiga.”

“Lift-nya macet.”

“Itu nggak ada di syarat dan ketentuan,” katanya. “Syaratnya cuma Lift Tiga.”

Ia memutar tubuhnya di dalam pelukanku. Pelan, sampai ia setengah berbalik, sampai ia menatapku dari jarak sangat dekat, dengan wajah yang disinari lampu darurat kuning pucat. Mata almondnya berkilat. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya terlihat lebih gelap dalam cahaya ini. Bibirnya, lipstik yang sudah memudar setelah seharian, sedikit terbuka.

“Boleh?” bisiknya. Mengulang kata yang pernah kuucapkan di tangga darurat.

“Kamu nggak perlu tanya.”

“Aku mau tanya,” katanya. “Aku mau dengar kamu bilang boleh.”

Aku menatapnya. “Boleh, Din.”

Ia menciumku.

Pelan, lalu tidak pelan. Tangannya naik ke pipiku, lalu ke rahangku, lalu ke tengkukku. Aku menariknya lebih dekat, satu lengan di pinggangnya, satu tangan di rambutnya yang setengah lepas dari sanggul. Ciuman itu dalam dan lambat dan sedikit putus asa, seperti dua orang yang sama-sama tahu ada yang belum dikatakan, dan mencoba mengatakannya tanpa kata-kata.

Ketika akhirnya ia menarik diri, dahinya menempel di dahiku. Napas kami bercampur di ruang sempit itu.

“Nomor sepuluh,” bisiknya. “Centang.”


Kami diam lagi, lebih lama kali ini. Ia kembali bersandar di dadaku, dan aku memeluknya dari belakang, daguku bertumpu di bahunya.

“Mas,” katanya setelah beberapa lama. Suaranya berbeda. Lebih pelan. Lebih serius.

“Hm?”

“Soal rahasia kita.”

Aku menegang sedikit. “Kita sudah sepakat. Pesta perpisahan.”

“Aku tahu.” Ia menggenggam tanganku lebih erat. “Tapi aku mikir... kalau kita macet di sini satu jam, dan nggak ada orang lain, dan nggak ada grup WhatsApp, dan nggak ada Fikri...”

“Fikri pasti lagi bikin grafik soal lift macet.”

Ia tertawa, pendek. “Aku cuma mikir, mungkin sekarang waktu yang tepat.”

Aku diam.

Bagian dari diriku ingin mengatakannya sekarang. Di sini. Aku nggak jadi pergi, Din. Aku sudah tanda tangan. Kamu nggak perlu nunggu. Bagian itu ingin melihat wajahnya ketika ia mendengarnya, di lampu darurat kuning ini, dengan tidak ada orang lain di dunia.

Tapi bagian lain dari diriku, bagian yang lebih keras, berkata belum. Pak Haris belum memproses formulirnya. Belum resmi. Kalau aku bilang sekarang, ia akan membujukku. Ia akan bilang karierku lebih penting. Ia akan bilang aku tidak boleh berkorban untuknya. Dan aku tahu aku akan kalah, karena aku selalu kalah melawannya.

“Kamu duluan,” kataku.

Ia menoleh sedikit. “Kamu duluan.”

“Kita suit lagi?”

“Kita hitung sampai tiga,” katanya. “Terus kita bilang bareng.”

Aku menelan ludah. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku yakin ia bisa merasakannya di punggungnya.

“Oke,” kataku. “Bareng.”

“Satu,” katanya.

Aku menarik napas.

“Dua.”

Aku membuka mulut. Kalimat itu sudah ada di ujung lidahku. Aku nggak jadi...

“Ti...”

Lift itu tersentak.

Lampu utama menyala, putih dan terang dan sangat tidak romantis. Mesin lift berdengung. Dan lift itu mulai bergerak naik, perlahan, kembali ke lantai di mana kami masuk tadi.

Kami membeku di lantai lift, saling menatap, mulut sama-sama terbuka.

Lantai lima belas. Enam belas. Tujuh belas.

“Turun,” kataku. “Bukannya kita mau turun?”

“Lift-nya naik, Mas.”

Delapan belas. Sembilan belas. Dua puluh.

Dua puluh satu.

Pintu terbuka.

Dan di sana, di koridor Lantai 21 yang terang benderang, berdiri sebuah kerumunan.

Dodi dan Jess, bergandengan tangan. Mbak Sari dengan ponsel dalam posisi merekam. Fikri dengan laptop terbuka yang menampilkan grafik berjudul ESTIMASI WAKTU EVAKUASI. Tari memegang kotak tisu. Dua teknisi lift berseragam oranye dengan kotak perkakas. Dan di tengah-tengah mereka, dengan termos teh di tangan dan wajah datar seperti biasa, Pak Darto.

Mereka semua menatap kami. Aku dan Nadine, duduk di lantai lift, Nadine di antara kakiku, lenganku masih melingkar di pinggangnya, rambutnya setengah lepas, lipstiknya hilang, kemejaku kusut.

Hening.

Lalu Fikri, dengan suara pelan dan penuh rasa takjub, berkata: “Waktu evakuasi tiga puluh delapan menit. Model saya meleset dua menit.”

Mbak Sari mulai bertepuk tangan. Lalu Dodi. Lalu Jess. Lalu Tari, yang menangis sambil bertepuk tangan. Lalu dua teknisi lift berseragam oranye, yang sepertinya tidak tahu kenapa mereka bertepuk tangan tapi ikut saja.

Nadine menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku menatap Pak Darto. Pak Darto menyesap tehnya.

“Maaf lama, Mas,” katanya datar. “Teknisinya baru datang.”

“Pak,” kataku. “Teknisinya kelihatan udah lama di sini.”

“Mereka istirahat dulu, Mas,” kata Pak Darto. “Capek.”

Salah satu teknisi mengangguk dengan sangat serius. “Iya, Mas. Capek.”


Kami tidak pernah sampai di hitungan tiga.

Malam itu, di kamar kos, aku berdiri di depan daftar HVS dan mencentang nomor sepuluh. Lalu aku menatap nomor sebelas lama sekali, dengan kalimat kecil di sebelahnya: Sudah dijawab. Belum diumumkan.

Ponselku bergetar. Email dari Pak Haris.

Perihal: Acara Pelepasan — Jumat, dua minggu lagi

Rey, kantor akan mengadakan acara pelepasan di Pantry Bersama, pukul 16.00. Akan ada pengumuman resmi soal penugasan Singapura. Harap hadir.

Pengumuman resmi. Aku tersenyum. Itu pasti pengumuman soal Dodi. Soal pengganti. Pak Haris akan mengumumkannya di depan semua orang, dan setelah itu, aku akan berbalik ke Nadine dan memberitahunya rahasiaku. Dan semuanya akan sempurna.

Ponselku bergetar lagi.

Nadine: Tadi hampir, ya.

Aku: Hampir banget.

Nadine: Satu detik lagi.

Aku: Setengah detik.

Nadine: Kamu tadi mau bilang apa?

Aku menatap layar. Lalu mengetik dengan senyum yang tidak bisa kutahan.

Aku: Kamu tadi mau bilang apa?

Ada jeda panjang.

Nadine: Dua minggu lagi, Mas.

Aku: Dua minggu lagi.

Nadine: Aku janji kamu bakal suka.

Aku: Aku juga janji kamu bakal suka.

Aku meletakkan ponsel di meja dan berbaring di kasur dengan senyum di wajah.

Dua rahasia. Dua janji. Dua orang yang sama-sama yakin bahwa yang mereka sembunyikan adalah hadiah.

Dan satu pesta perpisahan, yang akan berakhir dengan sangat berbeda dari yang kami berdua rencanakan.