← Lima Menit di Lobby

Chapter Twenty One

Kenzo Tidak Tahu Diri

POV: Nadine


Bunga itu datang Jumat pagi, pukul sembilan lewat sepuluh, dan butuh dua orang kurir untuk membawanya.

Seratus satu tangkai mawar merah dalam rangkaian berbentuk hati, setinggi pinggang orang dewasa, dibungkus kertas emas dan pita satin merah yang menjuntai sampai lantai. Kurir-kurir itu meletakkannya di depan meja resepsionis HTA dengan napas terengah, lalu menyerahkan papan tanda terima kepada Dewi, resepsionis kami, yang menatap rangkaian itu dengan mulut terbuka.

Di tengah rangkaian, terselip sebuah kartu krem dengan tulisan tangan bertinta emas.

Nadine — Makan malam Jumat ini? Saya sudah reservasi. Kali ini restoran Jepang, chef-nya dari Kyoto. Saya ingat kamu bilang porsi Prancis terlalu kecil. — K.

Aku membaca kartu itu berdiri di depan meja resepsionis, dikelilingi delapan karyawan HTA yang tiba-tiba punya urusan mendesak di area resepsionis, dua karyawan Lintasraya yang tiba-tiba perlu meminjam stapler dari HTA, dan Tari, yang sedang memotret rangkaian bunga itu dari tiga sudut berbeda.

“Tari.”

“Iya, Bu?”

“Itu bukan untuk folder Inspirasi Kerja.”

“Ini untuk dokumentasi, Bu. Arsip sejarah.”

Aku melipat kartu itu dan memasukkannya ke saku blazer. Lalu aku menatap seratus satu mawar merah itu, yang wanginya terlalu tajam dan memenuhi seluruh area resepsionis seperti parfum yang disemprot terlalu banyak.

Kenzo Wiradinata ingat aku bilang porsi Prancis terlalu kecil. Aku mengatakannya pada Mas Reyhan di Pantry Bersama, bukan pada Kenzo. Itu berarti Kenzo masih berdiri di dekat pintu pantry saat itu, mendengarkan.

Aku merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkukku.

“Dewi,” kataku. “Tolong pisah bunganya. Satu tangkai satu orang. Bagikan ke semua karyawan perempuan di lantai ini. HTA dan Lintasraya.”

Dewi mengerjap. “Semua, Bu?”

“Semua. Sisanya untuk petugas kebersihan dan Pak Darto.”

“Pak Darto laki-laki, Bu.”

“Pak Darto punya istri, Dewi.”


Mas Reyhan melihat bunga itu sebelum aku sempat memberitahunya.

Aku tahu karena pukul sembilan dua puluh, ia muncul di pintu kaca HTA dengan sebungkus roti sobek cokelat di tangan, seperti setiap Jumat pagi sejak dua minggu lalu. Lalu ia berhenti di ambang pintu, menatap rangkaian berbentuk hati setinggi pinggang itu, yang sedang dibongkar Dewi tangkai demi tangkai.

Aku melihat wajahnya dari ruanganku, lewat dinding kaca.

Ekspresinya tidak berubah banyak. Ia hanya diam sebentar. Lalu ia menatap roti di tangannya. Roti delapan ribu dalam bungkus plastik dengan gambar beruang kecil yang tersenyum, di sebelah seratus satu mawar merah dalam kertas emas.

Lalu ia tersenyum. Senyum yang terlalu cepat dan terlalu lebar.

Aku berdiri dari kursiku dan berjalan keluar.

“Hai,” katanya ketika aku sampai di depannya. Ia mengangkat roti itu. “Buat jaga-jaga. Tapi kayaknya kamu sudah dapat sarapan yang lebih bagus.”

“Bunga nggak bisa dimakan, Mas.”

“Mawar bisa. Aku pernah baca. Di Prancis...”

“Mas.” Aku mengambil roti itu dari tangannya. “Aku nggak mau mawar. Aku mau roti.”

Ia menatapku. Senyumnya masih di sana, tapi matanya tidak ikut.

“Kenzo?” tanyanya pelan.

“Kenzo.”

“Dia ngajak makan malam lagi?”

“Restoran Jepang. Chef-nya dari Kyoto.”

Mas Reyhan mengangguk pelan. “Kyoto itu bagus. Aku pernah lihat di TV. Ada kuil yang...”

“Mas Reyhan.”

Ia berhenti.

Aku melangkah lebih dekat, di tengah area resepsionis, di depan Dewi, Tari, delapan karyawan HTA, dua karyawan Lintasraya yang masih memegang stapler pinjaman, dan seratus satu mawar yang sedang dibongkar. Aku merapikan kerah kemejanya yang terlipat ke dalam, seperti yang selalu kulakukan, lalu meletakkan tanganku di dadanya, tepat di atas jantungnya.

“Rotinya enak,” kataku pelan. “Makasih.”

Lalu aku berjinjit dan mencium pipinya. Di depan semua orang.

Dewi menjatuhkan tiga tangkai mawar. Tari menjatuhkan ponselnya. Salah satu karyawan Lintasraya menjatuhkan stapler.

Mas Reyhan berdiri mematung dengan telinga yang merah sampai ke leher. Aku kembali ke ruanganku dengan roti di tangan, tidak menoleh, dengan langkah Associate Director yang bergema di lantai.

Di balik pintu ruanganku, aku bersandar dan menghela napas panjang.

Aku tahu senyum terlalu cepat itu. Aku tahu matanya yang tidak ikut tersenyum. Ia tidak marah. Ia tidak cemburu dengan cara yang berisik. Ia hanya diam-diam membandingkan, roti dengan mawar, Avanza dengan Porsche, dan diam-diam menyimpulkan bahwa ia kalah.

Seperti orang yang mengalah sebelum sidang dimulai.


Rapat dengan Wiradinata Land dijadwalkan pukul dua siang. Om Benny ikut, karena kontrak tahunan mereka akan diperpanjang bulan ini, dan Om Benny selalu ikut rapat perpanjangan kontrak.

Kenzo masuk ke ruang rapat HTA pukul dua lewat lima dengan jas biru gelap, dasi sutra, dan CFO-nya, seorang perempuan paruh baya berkacamata bernama Bu Lusi yang selalu terlihat lelah. Kenzo tersenyum lebar padaku. Senyum pasta gigi.

“Nadine. Sudah terima bunganya?”

“Sudah, Pak. Terima kasih. Sudah saya bagikan ke seluruh karyawan perempuan di lantai 21.”

Senyumnya goyah sedikit. “Dibagikan?”

“Seratus satu tangkai itu banyak sekali, Pak. Sayang kalau cuma satu orang yang menikmati.”

Om Benny batuk keras di sebelahku. Batuk yang sangat mirip tawa.

Rapat dimulai. Aku mempresentasikan hasil review laporan pajak tahunan Wiradinata Land. Ada beberapa temuan. Sebagian kecil. Sebagian tidak kecil sama sekali. Bu Lusi mencatat dengan serius. Kenzo tidak mencatat apa-apa. Ia hanya menatapku sepanjang presentasi dengan cara yang membuatku ingin memasang tirai di antara kami.

Di menit keempat puluh, ketika aku sedang menjelaskan koreksi biaya yang tidak bisa dikurangkan, Kenzo memotong.

“Nadine,” katanya. “Soal makan malam.”

Ruangan hening. Bu Lusi berhenti menulis. Om Benny meletakkan pulpennya pelan-pelan.

“Pak Kenzo,” kataku, “kita sedang membahas koreksi biaya di halaman dua belas.”

“Saya tahu. Tapi saya mau tanya langsung. Karena kamu nggak balas kartu saya.” Kenzo bersandar di kursinya, santai, seperti orang yang terbiasa mendapatkan jawaban yang ia inginkan. “Jumat ini. Jam tujuh. Saya jemput.”

Bu Lusi menatap meja dengan wajah orang yang ingin menghilang. Om Benny menatap Kenzo dengan ekspresi yang sangat datar, sangat mirip ekspresi Papa.

Aku meletakkan pointer laser di meja. Menautkan jari-jariku di atas dokumen. Dan menatap Kenzo dengan tenang.

“Pak Kenzo,” kataku, “saya sudah punya pasangan.”

“Saya tahu. Staf operasional Lintasraya. Yang punya Avanza abu-abu.” Kenzo tersenyum, dan kali ini senyumnya tidak lagi ramah. “Yang nabrak spion mobil saya di basement dan kabur.”

“Beliau tidak kabur. Saya yang menyuruhnya masuk mobil.”

“Nadine.” Kenzo mencondongkan tubuh ke depan, suaranya merendah, seolah sedang memberi nasihat yang tulus. “Dia akan berangkat ke Singapura. Bulan depan. Semua orang di gedung ini tahu. Dia akan pergi dua tahun.” Ia membuka kedua tangannya, seperti menawarkan sesuatu yang sangat jelas. “Dia pergi. Saya di sini.”

Kalimat itu mendarat di ruangan seperti batu yang dijatuhkan ke kolam yang tenang.

Dia pergi. Saya di sini.

Aku tidak bergerak. Aku tidak membiarkan satu otot pun di wajahku bergerak. Enam tahun bekerja di dunia ini sudah mengajariku cara menerima pukulan tanpa terlihat dipukul.

Tapi di dalam dadaku, sesuatu bergetar. Karena di balik kesombongannya, di balik senyum pasta giginya, Kenzo baru saja mengucapkan dengan keras sesuatu yang selama ini hanya berani kutulis kecil-kecil di buku biru navy.

Dia pergi.

Aku menarik napas, pelan.

“Pak Kenzo,” kataku, dan suaraku keluar persis seperti yang kuinginkan: rendah, jernih, sedingin AC ruang server. “Saya sudah punya pasangan. Dan dia orang paling sopan di gedung ini.”

Kenzo membuka mulut.

“Dia memberikan payungnya ke orang asing dan lari kehujanan ke parkiran,” lanjutku. “Dia membantu office boy mengangkat galon. Dia minta maaf ke pintu kaca waktu menabraknya. Dia mengganjal pintu tangga darurat dengan makan siangnya sendiri supaya orang yang tidak dia kenal tidak terkunci.” Aku menatap Kenzo tanpa berkedip. “Dan dia tidak pernah, sekali pun, menguping percakapan orang lain di pantry lalu memakainya di kartu ucapan.”

Wajah Kenzo memerah.

“Sekarang,” kataku, mengambil kembali pointer laser, “halaman dua belas. Ada koreksi biaya senilai dua koma empat miliar rupiah yang tidak bisa dikurangkan dari penghasilan kena pajak Bapak. Kita mau bahas itu, atau hidup saya?”

Hening.

Bu Lusi menunduk sangat dalam ke catatannya. Bahunya bergetar sedikit. Aku curiga ia sedang menahan tawa.

Kenzo menatapku lama. Lalu ia bersandar ke kursinya dengan rahang mengeras.

“Mungkin,” katanya pelan, “Wiradinata Land perlu mempertimbangkan firma konsultan lain untuk kontrak tahun depan.”

Om Benny tersenyum. Senyum lebar, jovial, ramah, dan sangat, sangat berbahaya.

“Silakan, Pak Kenzo,” katanya. “Saya bisa rekomendasikan tiga firma yang bagus. Tapi saya harus jujur, tidak ada satu pun dari mereka yang akan menemukan koreksi dua koma empat miliar itu sebelum kantor pajak menemukannya.” Ia menyesap kopinya. “Dan Nadine menemukannya dalam dua hari.”

Kenzo terdiam.

Bu Lusi mengangkat wajah, menatap atasannya, lalu berkata dengan suara lelah yang sangat sopan: “Pak, kita bahas halaman dua belas saja. Tolong.”

Rapat berlanjut sampai pukul empat. Kenzo tidak memotong lagi.


Setelah rapat, Om Benny menahanku di koridor.

“Kamu tahu,” katanya pelan, “kalimat yang dia bilang tadi. Dia pergi, saya di sini.”

“Om nggak perlu bahas itu.”

“Saya cuma mau bilang satu hal.” Om Benny menatapku dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak. “Itu kalimat orang yang tidak tahu apa-apa soal kalian berdua. Jangan biarkan kalimat bodoh dari orang bodoh tinggal terlalu lama di kepalamu.”

Aku mengangguk.

Om Benny berjalan pergi. Lalu ia berhenti dan menoleh.

“Dan email dari Singapura,” katanya. “Mereka tanya lagi. Saya harus jawab akhir bulan ini.”

Ia pergi sebelum aku sempat menjawab.


Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mengunjungi kos Mas Reyhan.

Ia tidak tahu aku akan datang. Aku mengirim pesan dari depan pagarnya: Aku di depan. Keluar. Tiga puluh detik kemudian, ia muncul di pintu dengan kaus oblong abu-abu yang sudah pudar, celana pendek, sandal jepit, dan rambut setengah basah, seperti baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya kaget, lalu bingung, lalu sangat malu ketika menyadari apa yang sedang ia pakai.

“Din! Kamu... aku...” Ia menatap kausnya sendiri. “Aku ganti baju dulu.”

“Nggak usah.”

“Kausnya bolong di ketiak.”

“Aku nggak lihat ketiakmu, Mas.”

Kos itu rumah dua lantai di gang kecil di Setiabudi, dengan pagar hijau dan pot-pot bunga kertas di teras. Ibu kosnya, Bu Endang, perempuan enam puluhan berdaster batik dengan rol rambut di kepala, muncul dari pintu samping begitu mendengar suara perempuan di teras.

Ia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu menatap Mas Reyhan. Lalu menatapku lagi.

“Ini pacarnya Mas Rey?”

“Iya, Bu,” kata Mas Reyhan.

“Yang foto di profil WhatsApp itu?”

“Iya, Bu.”

“Aslinya lebih cantik,” kata Bu Endang dengan nada menuduh, seolah itu kesalahan Mas Reyhan. Lalu padaku: “Mbak, aturan kos. Tamu perempuan sampai jam sembilan. Pintu kamar harus dibuka. Ibu cek tiap lima belas menit.”

“Siap, Bu,” kataku.

Kamar Mas Reyhan di lantai dua, di ujung lorong. Ukurannya mungkin tiga kali empat meter. Satu kasur single dengan sprei biru polos, satu lemari kayu, satu meja kecil dengan laptop dan tumpukan dokumen Singapura, satu rak buku yang isinya lebih banyak komik daripada buku. Di dinding, ditempel dengan selotip, ada foto Ibu memegang Pak RT, foto wisuda Mas Reyhan dengan Ibu dan seorang laki-laki tua yang tersenyum lebar, yang pasti almarhum ayahnya, dan selembar kertas HVS yang sangat kukenal.

Daftar kami. Ditempel di dinding di atas meja, di tempat yang bisa ia lihat setiap kali duduk bekerja. Tiga nomor sudah dicentang sekarang: satu, tujuh, dan delapan, yang ia centang malam setelah makan malam di rumah Papa.

Nomor sebelas masih kosong.

Kami duduk di lantai, di atas karpet kecil bermotif kotak-kotak, bersandar di sisi kasur. Pintu kamar terbuka lebar sesuai aturan Bu Endang. Dari bawah terdengar suara sinetron dari televisi Bu Endang.

“Kamu kenapa ke sini?” tanyanya pelan.

“Kangen.”

“Kita ketemu tadi pagi.”

“Itu tadi pagi.”

Ia tersenyum, tapi senyumnya masih sedikit terlalu hati-hati. Seperti tadi pagi.

“Mas,” kataku. “Soal bunga.”

“Nggak apa-apa.”

“Mas.”

“Beneran, Din. Nggak apa-apa.” Ia menatap kedua tangannya di pangkuan. “Dewi kasih aku satu tangkai juga, tahu nggak. Buat Ibu, katanya. Dewi bilang kamu suruh bagiin ke semua perempuan, terus dia bingung aku perempuan atau bukan, terus akhirnya dia kasih aja.”

Aku tertawa. Ia ikut tertawa sedikit. Lalu diam.

“Dia CEO,” katanya akhirnya. Sangat pelan. “Dia punya Porsche. Dia bisa kirim seratus satu mawar. Dia bisa reservasi restoran dengan chef dari Kyoto.” Ia menelan ludah. “Dan dia di sini, Din. Di Jakarta. Dua tahun ke depan, dia di sini.”

Aku menoleh dan menatapnya.

“Dan aku di Singapura,” lanjutnya. “Aku cuma bisa kirim roti lewat ojek online. Kalau ada ojek online yang mau nyeberang laut.”

Itu kalimat Kenzo. Dia pergi. Saya di sini. Ia tidak mendengarnya. Ia tidak ada di ruang rapat itu. Tapi ia sampai di kesimpulan yang sama, sendirian, di kamar kos tiga kali empat meter.

“Mas,” kataku. “Kamu takut aku dipeluk orang lain waktu kamu nggak ada?”

Ia tidak menjawab. Telinganya merah, tapi kali ini bukan karena malu.

Aku bergeser. Mendekat. Sampai bahuku menempel di bahunya, sampai lututku menyentuh lututnya di atas karpet kotak-kotak itu. Lalu aku menoleh dan menatapnya dari jarak yang sangat dekat.

“Mas Reyhan,” kataku pelan. “Kalau aku mau dipeluk orang lain, aku nggak perlu nunggu dua tahun enam bulan.”

Ia menoleh. Menatapku.

“Ada empat belas orang yang nembak aku waktu SMA. Ada anak direktur bank di lantai tiga puluh. Ada Kenzo dengan seratus satu mawarnya. Aku bisa pilih siapa saja, kapan saja, dengan restoran mana saja.” Aku mengangkat tangan dan menyentuh rahangnya. “Aku pilih orang yang minta maaf ke pintu kaca.”

Matanya berkaca-kaca.

“Jadi berhenti bandingin dirimu sama Porsche,” kataku. “Porsche nggak punya stiker Ibu Selalu Di Hati.”

Ia tertawa. Pecah, basah, tapi tawa yang sungguhan.

“Sekarang,” kataku, lebih pelan, menatap bibirnya lalu kembali ke matanya, “peluk aku.”

“Pintunya kebuka, Din.”

“Biarin.”

“Bu Endang cek tiap lima belas menit.”

“Sudah lewat dua belas menit,” kataku. “Kita masih punya tiga menit.”

Ia menatapku. Lalu ia menarikku ke pelukannya, erat, sangat erat, seperti orang yang takut kalau ia melonggarkan sedikit saja, aku akan hilang. Aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya dan membenamkan wajahku di lekuk bahunya. Ia wangi sabun mandi dan sampo murah dan sedikit wangi rendang dari kotak plastik pemberian Mama yang masih ada di mejanya.

Aku mengangkat wajah sedikit. Ia menunduk. Dan aku menciumnya, pelan, lembut, di bibir, di kamar kos tiga kali empat meter dengan pintu terbuka lebar dan suara sinetron dari lantai bawah.

“EHEM.”

Kami tersentak terpisah.

Bu Endang berdiri di ambang pintu dengan rol rambut dan daster batik, memegang segelas teh manis di masing-masing tangan.

“Ibu bawain teh,” katanya datar. Ia meletakkan dua gelas teh di lantai di dekat pintu, tidak masuk ke kamar sama sekali. Lalu ia menatapku. “Mbak, kurang tiga menit dari jam sembilan.”

“Iya, Bu,” kataku, dengan wajah yang aku tahu sudah merah sampai telinga.

Bu Endang menatap Mas Reyhan. “Mas Rey. Lima tahun di sini, baru kali ini bawa perempuan.”

“Iya, Bu.”

“Bagus,” kata Bu Endang, lalu berbalik dan berjalan turun tangga. Dari bawah, kudengar ia berkata keras ke seseorang, mungkin suaminya: “Pak, Mas Rey akhirnya laku!”

Mas Reyhan menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku tertawa sampai harus berbaring di karpet kotak-kotak itu.


Malam itu, di apartemen, aku membuka laptop.

Email dari Singapura masih di sana. Aku sudah membacanya tiga kali minggu ini. Kali ini, aku membuka kolom balasan.

Aku tidak mengetik apa-apa. Aku hanya menatap kursor yang berkedip.

Dia pergi. Saya di sini.

Kenzo salah soal banyak hal. Tapi soal itu, ia tidak salah. Mas Reyhan akan pergi. Dan setiap kali aku menyentuh nomor sebelas, ia mundur selangkah, mengalihkan, melompati. Karena di kepalanya, aku adalah seseorang yang akan baik-baik saja tanpa dia. Seseorang yang tidak boleh ia minta menunggu lagi.

Ia tidak akan memintaku ikut. Aku tahu itu sepasti aku tahu angka di pojok buku biru navy. Ia akan pergi, dan ia akan mengatakan sesuatu yang sangat baik dan sangat sopan, seperti aku nggak mau kamu nunggu. Lalu ia akan pelan-pelan menghilang, karena ia pikir itu yang terbaik untukku.

Kecuali aku tidak memberinya pilihan untuk mundur.

Aku mengetik satu kalimat di kolom balasan email itu. Terima kasih atas tawarannya. Saya tertarik untuk mendiskusikannya lebih lanjut.

Aku tidak menekan kirim. Aku menyimpannya sebagai draf.

Lalu aku menutup laptop, membuka buku biru navy, dan menulis di bawah angka 43:

Kenzo bilang: dia pergi, saya di sini.

Mas Reyhan bilang hal yang sama, dengan kata-kata lain, di kamar kosnya.

Mungkin ada cara supaya kalimat itu nggak berlaku lagi.