Chapter Thirty Five
H-1 Lantai 21
POV: Rey
Hari terakhirku di Lantai 21 dimulai dengan Lift Nomor 3.
Aku sampai di lobby pukul tujuh lima puluh, seperti biasa. Aku membeli dua roti sobek cokelat di minimarket, seperti biasa. Lalu aku berjalan ke depan Lift Nomor 3, dan ia sudah ada di sana.
Ia memakai blazer krem. Blazer yang menyelimutiku di sofa kantor. Blazer yang kupegang rapi-rapi di kursi penumpang Avanza supaya tidak kusut. Rambutnya disanggul rendah dengan jepit mutiara di satu sisi, beberapa helai sengaja dibiarkan lepas di tengkuk. Anting mutiara. Lipstik nude kemerahan. Ia sedang membaca ponsel, dan ketika ia mendongak dan melihatku, senyum kecil yang miring itu muncul.
“Pagi, Mas.”
“Pagi, Din.”
“Kamu nunggu lift?”
“Aku nunggu kamu.”
Telinganya memerah. Bukan telingaku. Telinganya. Pertama kalinya aku melihat telinganya memerah karena kalimatku.
Ia menunduk cepat ke ponselnya, tapi aku sudah melihatnya. Dan aku tidak bisa berhenti tersenyum sampai pintu lift terbuka.
Kami masuk bersama empat orang lain. Lift itu penuh, seperti pagi pertama ketika ia menyelipkan jarinya ke tanganku. Aku berdiri di dekat pintu. Ia berdiri di sebelahku.
Di lantai tiga, aku yang menyelipkan jariku ke tangannya.
Ia tersentak sedikit. Lalu, tanpa menoleh, dengan wajah datar Associate Director yang menatap angka-angka di atas pintu lift, ia menggenggam balik.
Tangannya dingin. Untuk kedua kalinya, tangannya yang dingin.
Aku menghangatkannya dengan ibu jariku sepanjang dua puluh satu lantai.
Lantai 21 merayakan hari terakhirku dengan cara yang paling Lantai 21.
Tidak ada spanduk. Tidak ada balon. Tidak ada tumpeng. Setelah pesta perpisahan dua minggu lalu yang berakhir dengan lamaran yang bocor dan pengumuman yang salah orang, Mbak Sari memutuskan bahwa perayaan kali ini harus “kecil, tulus, dan tanpa kejutan”. Jadi pukul dua belas, Pantry Bersama hanya berisi meja bundar dengan pecel lele dari Pak Kumis untuk tiga puluh orang, dan tiga puluh orang yang berdiri berdesakan sampai ke lorong.
Lalu, satu per satu, mereka memberiku hadiah.
Mbak Sari memberiku empat kotak kue lapis yang sudah divakum, dan selembar kertas berisi daftar nomor telepon. “Kontak di Singapura,” katanya. “Sepupu Mbak, keponakan Mbak, teman arisan Mbak yang anaknya kerja di sana. Kalau kamu butuh apa-apa, telepon mereka. Kalau Nadine butuh apa-apa, telepon mereka juga. Mereka sudah Mbak brief.”
“Brief soal apa, Mbak?”
“Soal kalian berdua,” kata Mbak Sari. “Mereka sudah tahu semuanya. Dari pot monstera sampai Pak Kumis matiin lampu.”
Tentu saja.
Dodi dan Jess memberiku tas kertas berisi enam botol plastik yang dibungkus rapat dengan isolasi berlapis-lapis. Sambal terasi Pak Kumis. Tiga botol untukku, tiga botol untuk Nadine.
“Pak Kumis bikin khusus,” kata Jess. “Katanya sambal terasi nggak bisa dibeli di Singapura. Katanya dia sudah riset.”
“Pak Kumis riset?”
“Lewat grup,” kata Dodi. “Sepupu Mbak Sari yang di Singapura kirim foto semua sambal terasi di supermarket sana. Pak Kumis lihat satu per satu, terus bilang ‘nggak ada yang benar’.”
Di jari manis Jess, sebuah cincin perak sederhana dengan satu batu kecil berkilau setiap kali ia menggerakkan tangan. Dan ia menggerakkan tangannya sangat sering hari ini.
Tari memberiku sebuah buku album foto bersampul kulit cokelat. Ketika aku membukanya, aku hampir menjatuhkannya.
Isinya foto-foto. Puluhan. Aku dan Nadine. Di Lift Nomor 3, diambil dari sudut yang aneh. Di pantry, dari balik kaca buram. Di lobby, dari balik pot monstera. Di warung Pak Kumis. Di depan pintu kaca. Di rooftop, dari balik tangki air.
“Tari,” kataku pelan. “Kamu ambil semua foto ini?”
“Folder Inspirasi Kerja, Mas,” kata Tari dengan mata berbinar. “Saya sudah dapat izin Bu Nadine. Bu Nadine bilang boleh, asal yang foto di karaoke dihapus.”
“Kenapa yang di karaoke dihapus?”
“Karena Mas nyanyi,” kata Tari polos. “Dan mukanya Mas di foto itu...”
“Oke. Oke, aku ngerti.”
Om Benny tidak memberiku apa-apa. Ia hanya memelukku. Lama, erat, dengan tubuhnya yang besar dan wangi minyak kayu putih. Lalu ia menepuk punggungku tiga kali dan berbisik di telingaku, “Jaga anak saya baik-baik. Kalau kamu bikin dia nangis, Om terbang ke Singapura.”
“Iya, Om.”
“Om serius. Om punya tiket pesawat promo.”
Pak Haris berdiri di pinggir ruangan dengan kemeja yang disetrika rapi dan kacamata berbingkai tebal, wajahnya datar seperti biasa. Ia tidak memelukku. Ia menjabat tanganku sekali, erat, dan memberiku selembar kertas yang dilipat dua.
Daftar alamat. Tukang martabak di Singapura, dua belas tempat, diurutkan dari yang paling mirip martabak Indonesia.
“Saya riset juga,” kata Pak Haris. “Tim di sana suka martabak. Jangan kecewakan mereka.”
“Bapak juga riset lewat grup?”
Pak Haris menatapku dari balik kacamatanya. “Saya bukan anggota grup itu, Rey.”
“Istri saya yang anggota,” tambahnya setelah jeda. “Saya cuma baca dari HP-nya.”
Lalu Fikri maju.
Ia membawa map plastik tebal berwarna biru. Di sampulnya, ditulis dengan spidol hitam, LAPORAN AKHIR — MODEL PREDIKSI HUBUNGAN MAS REY & BU NADINE (2 BULAN 29 HARI).
“Mas,” katanya, menyerahkan map itu dengan dua tangan, seperti menyerahkan skripsi. “Ini semua data saya. Dari hari pertama. Tiga koma dua persen sampai sekarang.”
Aku membukanya. Grafik. Tabel. Diagram lingkaran. Ada model statistik yang tidak kumengerti, catatan kaki yang merujuk ke laporan Tari soal outfit, dan satu halaman penuh berjudul ANALISIS VARIABEL: KENZO WIRADINATA (STATUS: TERNETRALISIR).
Aku membuka halaman terakhir.
Halaman itu hampir kosong. Hanya ada dua baris di tengahnya, ditulis dengan huruf besar.
KESIMPULAN: Peluang tidak bisa dihitung.
REKOMENDASI: Berhenti menghitung.
Aku menatap halaman itu lama. Lalu menatap Fikri.
“Fik.”
“Iya, Mas?”
“Ini laporan terbaik yang pernah kamu bikin.”
Fikri mendorong kacamatanya ke atas hidung. Matanya berkaca-kaca. “Makasih, Mas,” katanya. Lalu, karena ia Fikri: “Saya sudah kirim salinannya ke Pak Hendra juga. Beliau minta.”
Pukul lima sore, ketika semua orang sudah kembali ke meja masing-masing dan Pantry Bersama hanya berisi piring-piring kertas bekas pecel lele, aku turun ke lobby untuk terakhir kalinya sebagai karyawan Lantai 21.
Pak Darto ada di meja keamanannya. Shift malamnya baru dimulai. Termos tehnya masih penuh.
Aku berdiri di depan mejanya.
“Pak.”
“Mas.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Lima tahun. Sembilan tahun untuknya. Plester bergambar beruang. Buku hijau tua. Saya cuma satpam, Mas. Pintu tangga darurat yang ia buka pagi itu, yang ia ganjal malam itu. Roti yang ia beli kemarin sore untuk jaga-jaga.
“Terima kasih, Pak,” kataku. Hanya itu yang keluar.
Pak Darto mengangguk. Lalu ia membungkuk ke rak di bawah mejanya, dan mengeluarkan sesuatu.
Buku hijau tua itu.
Ia meletakkannya di atas meja di depanku.
“Buat Mas,” katanya.
Aku menatap buku itu. Sampulnya lusuh, ujung-ujungnya melengkung, dengan banyak kertas kecil terselip di dalamnya.
“Pak, ini catatan Bapak.”
“Saya sudah beli yang baru,” kata Pak Darto. “Yang ini sudah penuh.”
Aku membukanya. Halaman demi halaman, dua kolom, dengan tulisan tangan yang rapi. R — 21.12. N — 21.05. R — 20.58. N — 20.51. Ratusan baris. Dua tahun. Di beberapa halaman, ada catatan kecil di pinggir. N bungkus lele hari ini. R kasih payung ke ibu-ibu, lari kehujanan. N tunggu Lift 3, telat 7 menit. R nabrak pintu kaca. Saya kasih plester. Kacanya nggak apa-apa.
Itu catatan pertama. Halaman pertama. Dua tahun lalu.
Aku membalik ke halaman terakhir.
Halaman terakhir berisi satu catatan, ditulis tadi pagi, dengan tinta yang masih terlihat baru:
R dan N naik Lift 3 bareng. Pegangan tangan. R duluan yang pegang. Pertama kali.
Dan di bawahnya, dengan tulisan yang sedikit lebih besar:
Mulai besok, R boleh duluan. N menyusul.
Aku menutup buku itu. Tanganku gemetar. Mataku panas.
“Pak,” kataku. Suaraku pecah.
Pak Darto menyesap tehnya dan menatap layar CCTV.
“Saya cuma satpam, Mas,” katanya. Lalu, setelah jeda yang sangat pendek, dengan suara yang sangat pelan: “Tapi saya senang jadi satpam di gedung ini.”
Nadine menemukanku di tangga darurat pukul delapan malam.
Aku tidak memberitahunya aku di sana. Ia hanya tahu. Ia selalu tahu.
Lampu sensor menyala ketika ia masuk. Ia berdiri di bordes, menatapku yang duduk di anak tangga ketiga dengan buku hijau tua di pangkuan dan sebungkus roti di sebelahku. Lalu ia melepas heels-nya, menggantungnya di jari, dan turun.
Ia tidak duduk dua anak tangga di atas. Ia tidak duduk di bawah. Ia duduk di sebelahku. Di anak tangga yang sama. Bahu kami bersentuhan.
“Buku Pak Darto,” katanya, menatap buku hijau di pangkuanku.
“Dia kasih ke aku.”
“Aku tahu. Dia bilang ke aku tadi siang.” Ia tersenyum kecil. “Dia bilang, ‘Mbak sudah punya buku sendiri. Mas belum.’”
Aku menatapnya. “Kamu punya buku sendiri?”
Ia tidak menjawab. Ia hanya mengambil roti di sebelahku, membuka bungkusnya, merobeknya menjadi dua, dan memberikan separuhnya padaku.
Kami makan dalam diam. Roti sobek cokelat yang terlalu manis, di anak tangga ketiga dari bordes, di bawah lampu sensor yang putih dan terang.
“Besok aku berangkat,” kataku akhirnya.
“Aku tahu.”
“Duluan.”
“Aku tahu.”
“Dua minggu lagi kamu nyusul.”
“Tanggal satu,” katanya. “Jam sebelas siang. Changi. Terminal tiga.”
“Kamu sudah beli tiket?”
“Aku beli tiga minggu lalu,” katanya. “Sebelum sidang.”
Aku tertawa. Ia ikut tertawa.
Lalu aku diam. Menatap anak tangga di bawahku. Menatap pintu besi di atas yang sedikit terbuka. Aku sudah mengganjalnya dengan bungkus roti yang kosong, sebelum duduk.
“Din,” kataku. “Aku mau tanya sesuatu.”
Ia menoleh. Matanya berkilat di bawah lampu.
“Pertanyaan yang sama,” kataku. “Yang aku tanya di lobby. Di restoran soto. Di pantry. Di Car Free Day. Di kanopi.”
Ia diam. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak.
“Kamu sudah jawab di kanopi,” kataku. “Jawaban lengkap. Tapi aku masih mau tanya lagi. Suatu hari. Bukan sekarang.”
“Kenapa bukan sekarang?”
“Karena aku mau tanya di tempat yang benar,” kataku. “Di waktu yang benar. Dengan sesuatu di tanganku selain roti.”
Ia menatapku lama sekali. Lalu, pelan-pelan, matanya basah.
“Mas,” bisiknya.
“Hm?”
“Aku juga mau kasih kamu sesuatu,” katanya. “Suatu hari. Bukan sekarang.”
“Apa?”
Ia tersenyum, kecil dan miring, dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Jawaban yang paling lengkap,” katanya. “Yang paling panjang. Yang sudah aku tulis dua setengah tahun.”
Aku menatap puncak kepalanya. Lalu menatap buku hijau tua di pangkuanku. Mbak sudah punya buku sendiri.
Aku tidak bertanya. Aku hanya tersenyum, dan mencium rambutnya, di dekat jepit mutiara.
Lampu sensor mati.
Kami tidak bergerak. Kami membiarkan gelap itu.
Dan dalam gelap, di anak tangga ketiga dari bordes, tempat semuanya dimulai dua setengah tahun lalu, ia mengangkat wajah, dan aku menunduk, dan kami berciuman. Pelan. Lembut. Tanpa terburu-buru. Seperti dua orang yang tahu mereka punya banyak waktu.
Ketika lampu menyala lagi, karena Nadine akhirnya melambaikan tangan ke atas, kami saling menatap dari jarak beberapa senti.
“Tunggu aku di Changi,” katanya.
“Aku jago nunggu.”
“Aku lebih jago,” katanya. “Dua setengah tahun, Mas. Rekorku belum terkalahkan.”
“Dua minggu,” kataku. “Itu rekorku yang baru.”
Ia tertawa. Lalu ia berdiri, mengulurkan tangan padaku, dan menarikku berdiri.
Kami naik ke bordes. Aku mengambil bungkus roti kosong dari celah pintu, dan pintu itu, untuk terakhir kalinya, menutup di belakang kami tanpa terkunci.
Karena Pak Darto sudah berdiri di koridor, dengan termos teh di tangan, menahan pintunya dengan sepatu.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21 reading
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup