← Lima Menit di Lobby

Chapter Twenty

Interogasi Pak Hakim

POV: Rey


Fikri menyerahkan berkas itu padaku Rabu pagi dalam map plastik bening, seperti dokumen tender.

“Profil subjek, Mas,” katanya. “Hendra Valencia. Enam puluh tiga tahun. Pensiunan hakim pengadilan tinggi. Tiga puluh satu tahun mengabdi. Dijuluki ‘Hakim Batu’ oleh pengacara-pengacara di Jakarta karena nggak pernah senyum di ruang sidang.”

“Nggak pernah?”

“Ada satu kali, Mas. Tahun 2009. Terdakwanya bawa ayam ke ruang sidang. Itu pun cuma dua detik.”

Aku menatap map itu. “Kamu dapat ini dari mana?”

“Pak Darto, Mas. Sama sedikit dari arsip berita online.”

“Pak Darto kenal papanya Nadine?”

“Saya nggak nanya, Mas. Saya takut.”

Aku membuka map itu. Halaman pertama berisi foto hitam-putih seorang pria berjas hakim, wajah panjang, kacamata berbingkai tipis, rambut perak yang disisir rapi ke belakang, dan ekspresi orang yang sedang mendengarkan kebohongan dan sudah tahu itu kebohongan.

Halaman kedua berisi daftar yang ditulis Fikri dengan huruf kapital: HAL YANG HARUS DIHINDARI. Nomor satu: Jangan bohong. Beliau tahu. Nomor dua: Jangan bercanda kalau beliau belum ketawa duluan. Nomor tiga: Jangan duduk sebelum dipersilakan. Nomor empat: Jangan bilang “eh” atau “anu”. Beliau benci kata pengisi.

Nomor lima: Semoga beruntung, Mas.


Rumah keluarga Valencia di Menteng adalah rumah tua bergaya kolonial dengan pagar besi hitam, halaman berumput yang dipangkas sangat rapi, dan pohon mangga besar yang dahannya menaungi teras. Lampu-lampu kuning menyala di jendela-jendela tinggi. Pukul tujuh malam tepat, aku berdiri di depan pagar dengan kemeja batik terbaikku, celana bahan yang baru disetrika, dan dua kotak martabak manis dari tempat yang menurut Nadine adalah favorit Papa.

Nadine menungguku di depan pagar.

Ia tidak memakai blazer malam ini. Ia memakai blus putih sederhana berlengan pendek dengan kancing mutiara kecil dan rok midi berwarna hijau sage yang bergerak lembut setiap kali ia melangkah. Rambutnya digerai, bergelombang dan berkilau di bawah lampu teras, diselipkan ke belakang satu telinga. Riasan tipis. Sandal datar. Ia terlihat seperti versi dirinya yang tumbuh besar di rumah ini, lebih lembut, lebih muda, tanpa pelindung apa pun.

Ia melihatku, dan wajahnya langsung melunak.

“Kamu pakai batik,” katanya.

“Fikri bilang Papamu suka batik.”

“Fikri benar.” Ia mengambil satu kotak martabak dari tanganku, lalu menatap tanganku yang lain. “Tanganmu gemetar, Mas.”

“Nggak.”

“Martabaknya goyang.”

Aku menatap kotak martabak di tanganku. Memang goyang.

Nadine tersenyum, lalu melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Ia berjinjit sedikit dan mencium pipiku. Singkat. Di depan pagar rumah orang tuanya.

“Itu buat keberanian,” bisiknya. “Papa nggak gigit, kok.”

“Fikri bilang Papamu dijuluki Hakim Batu.”

“Batu juga nggak gigit, Mas.”


Ruang tamu keluarga Valencia penuh dengan buku. Rak-rak tinggi berisi buku hukum bersampul kulit, foto-foto keluarga berbingkai perak, dan sofa-sofa tua yang empuk dengan sandaran berukir. Di dinding ada foto besar Nadine memakai toga wisuda, tersenyum dengan bunga di tangan, dan di sebelahnya foto seorang anak laki-laki gendut memakai seragam SD sambil menangis.

“Itu Niko,” kata Nadine. “Hari pertama sekolah.”

“Kok fotonya nangis dipajang?”

“Papa bilang itu foto paling jujur Niko.”

Lalu Papa masuk.

Pak Hendra Valencia lebih tinggi dari yang kubayangkan dan lebih kurus. Rambut peraknya disisir rapi ke belakang, persis seperti di foto Fikri. Ia memakai kemeja batik cokelat tua dan kacamata berbingkai tipis yang ia turunkan sedikit di ujung hidung, supaya ia bisa menatapku dari atasnya. Ia berjalan pelan, tanpa terburu-buru, seperti orang yang sudah terbiasa membuat ruangan menunggu.

Ia berhenti di depanku. Menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Satu kali, perlahan, seperti membaca berkas perkara.

Aku berdiri tegak. Nomor tiga di daftar Fikri: jangan duduk sebelum dipersilakan.

“Selamat malam, Om,” kataku. “Saya Reyhan.”

“Saudara Reyhan,” kata Pak Hendra. Suaranya dalam dan pelan, dan setiap suku katanya diucapkan dengan jelas, seperti sedang dibacakan untuk dicatat panitera. “Silakan duduk.”

Aku duduk.

Ia duduk di kursi berukir di seberangku. Nadine duduk di sebelahku di sofa. Dan di detik itu juga, dari arah dapur, muncul seorang perempuan berusia lima puluhan dengan wajah bulat, rambut pendek beruban, dan senyum yang sangat lebar, membawa nampan berisi teh dan kue.

“Ini dia!” katanya, meletakkan nampan dengan bunyi berdenting. “Ini Mas Reyhan! Ya Allah, ganteng! Nadine, kamu bilang biasa aja!”

“Ma.”

“Ganteng begini dibilang biasa aja!” Bu Ratna, mama Nadine, langsung duduk di sebelahku di sisi yang lain, memegang lenganku, dan memandangi wajahku dari dekat. “Mas Reyhan sudah makan? Belum, kan? Mama sudah masak. Ada rendang, ada sayur asem, ada perkedel. Nadine bilang Mas suka perkedel.”

Aku menoleh ke Nadine. Nadine menatap langit-langit.

“Ma,” kata Pak Hendra pelan. Hanya satu kata.

Bu Ratna langsung melepas lenganku, tapi tidak berhenti tersenyum. “Iya, iya. Interogasi dulu. Mama tahu.”


Interogasi dimulai.

“Saudara Reyhan,” kata Pak Hendra, “berapa usia Saudara?”

“Tiga puluh, Om.”

“Pekerjaan?”

“Operations Lead di PT Lintasraya Logistik, Om. Lima tahun.”

“Asal?”

“Bogor, Om. Ibu saya masih di sana.”

“Ayah?”

“Sudah meninggal, Om. Waktu saya SMA.”

Pak Hendra diam sebentar. Wajahnya tidak berubah, tapi ia mengangguk satu kali, pelan.

“Saudara tinggal di mana?”

“Kos, Om. Di Setiabudi. Dekat kantor.”

“Mobil?”

“Avanza, Om. Tahun 2014.”

“Ada stiker Ibu Selalu Di Hati di kaca belakangnya, Pa,” kata Nadine.

Pak Hendra menoleh ke putrinya. Lalu kembali menatapku. “Siapa yang menempelkan stiker itu?”

“Ibu saya, Om.”

“Dan Saudara tidak mencabutnya.”

“Tidak, Om.”

“Kenapa?”

Aku ragu. Nomor satu di daftar Fikri: Jangan bohong. Beliau tahu.

“Karena Ibu yang tempel, Om,” kataku. “Saya nggak tega.”

Pak Hendra menatapku lama sekali. Lalu ia mencatat sesuatu di buku kecil yang entah sejak kapan ada di pangkuannya. Aku tidak tahu apa yang ia tulis. Aku hanya tahu itu ditulis dengan pulpen tinta, dan ia menulis dengan sangat lambat.

Interogasi berlanjut. Pendidikan. Hobi. Apakah aku merokok (tidak). Apakah aku pernah berurusan dengan polisi (tidak, kecuali waktu SMP dimarahi polisi lalu lintas karena naik sepeda melawan arah, dan aku langsung menyesal menceritakannya karena Pak Hendra mencatatnya juga). Apakah aku bisa memasak (bisa, sedikit). Apa yang biasa kumasak (telur dadar kecap).

“Telur dadar kecap,” ulang Pak Hendra.

“Nadine lagi belajar, Pa,” kata Bu Ratna dengan semangat. “Kemarin alarm asap apartemennya bunyi dua kali. Pengelola gedung telepon Mama.”

“MA.”

“Pengelola gedung punya nomor Mama?” tanyaku.

“Mama yang kasih, waktu Nadine pindah,” kata Bu Ratna. “Buat jaga-jaga.”

Pak Hendra mencatat lagi.

Lalu ia meletakkan pulpennya, melepas kacamatanya, dan menatapku tanpa kacamata. Matanya ternyata sama dengan mata Nadine. Bentuk almond, sedikit sayu, cokelat gelap. Tapi tatapannya tajam seperti pisau.

“Saudara akan berangkat ke Singapura,” katanya. “Tanggal empat belas bulan depan.”

Aku menelan ludah. “Iya, Om.”

“Kontrak dua tahun.”

“Iya, Om.”

“Lalu putri saya?”

Ruangan hening. Bu Ratna berhenti tersenyum. Nadine, di sebelahku, menegang sedikit. Aku bisa merasakannya.

Aku membuka mulut. Aku ingin menjawab dengan benar. Aku ingin bilang aku akan pulang setiap bulan, aku akan menelepon setiap malam, aku akan... Tapi tidak ada satu pun kalimat itu yang pernah kuucapkan pada Nadine sendiri. Nomor sebelas di daftar itu masih kosong. Dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya dengan janji yang belum pernah kuberikan padanya.

“Kami...” kataku. “Kami belum bicara soal itu, Om.”

Pak Hendra menatapku. Lalu ia menoleh ke Nadine. Nadine menatap cangkir tehnya.

“Belum,” ulang Pak Hendra pelan.

“Belum, Om.”

Ia mengambil pulpennya lagi dan mencatat sesuatu. Kali ini lebih lama.


Makan malam menyelamatkanku.

Lebih tepatnya, Niko yang menyelamatkanku. Adik Nadine pulang pukul delapan, dua puluh dua tahun, mahasiswa teknik tingkat akhir, dengan rambut gondrong diikat dan kaus band rock yang sudah pudar. Ia melihatku di meja makan, berhenti di pintu, lalu menyeringai sangat lebar.

“Jadi ini Mas Lift Tiga!”

“NIKO.”

“Kak Nadine nyimpen kontak Mas pakai nama itu! Aku lihat HP-nya!”

“Kamu buka HP-ku?”

“HP-mu nggak dikunci, Kak. Kamu yang salah.” Niko duduk di sebelahku, menjabat tanganku dengan semangat, lalu langsung mengambil perkedel. “Mas, Mas harus tahu. Kakakku ini dulu waktu SMA ditembak empat belas kali.”

“Niko, jangan...”

“Empat belas, Mas! Dan semuanya ditolak pakai surat. Surat tulisan tangan. Satu per satu. Dengan alasan masing-masing.” Niko tertawa sampai perkedelnya hampir jatuh. “Ada satu kakak kelas yang ditolak karena ‘kamu menggunakan kata “kamu” dan “lo” bergantian dalam satu kalimat, dan aku tidak bisa bersama orang yang tidak konsisten’.”

Aku menoleh ke Nadine. Wajahnya merah sampai ke leher.

“Itu alasan yang valid,” katanya pelan.

“Terus ada satu lagi,” kata Niko, “yang ditolak karena...”

“NIKO VALENCIA.”

Suara itu bukan suara Nadine. Itu suara Pak Hendra. Niko langsung diam dan memasukkan seluruh perkedel ke mulutnya.

Hening sebentar. Lalu, dari ujung meja, terdengar bunyi yang tidak terduga. Bunyi pendek, tertahan, seperti udara yang lolos dari celah.

Pak Hendra sedang menutup mulutnya dengan serbet. Bahunya bergetar sedikit.

Bu Ratna menatap suaminya dengan mata melebar. Niko berhenti mengunyah. Nadine menatap papanya dengan mulut setengah terbuka.

“Papa ketawa,” bisik Niko.

“Saya batuk,” kata Pak Hendra dari balik serbet.

“Papa ketawa, Kak.”

“Saya. Batuk.”

Aku tidak tahu apa yang lucu. Mungkin Niko. Mungkin surat penolakan Nadine. Mungkin wajahku. Tapi ketika Pak Hendra menurunkan serbetnya, wajahnya kembali datar seperti batu, dan aku hampir yakin aku hanya membayangkannya. Hampir.

Sepanjang makan malam, Nadine berubah menjadi seseorang yang belum pernah kulihat.

Ia mengambilkan lauk untuk papanya tanpa diminta. Ia menyandarkan kepala di bahu papanya waktu Bu Ratna bercerita, dan memanggilnya “Papaaa” dengan nada panjang dan manja ketika papanya menolak tambah nasi. Ia merebut kerupuk dari piring Niko dan menjulurkan lidah waktu Niko protes. Ia tertawa dengan mulut terbuka lebar, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di kantor.

Associate Director termuda di HTA. Orang yang membuat Pak Haris diam tiga kali. Di rumah ini, ia hanya anak perempuan yang manja pada ayahnya.

Dan di bawah meja, sepanjang makan malam, tangannya menggenggam tanganku.

Aku tidak tahu kapan tepatnya ia meraihnya. Di tengah cerita Niko soal surat penolakan, mungkin. Tangannya hangat, dan sesekali ibu jarinya bergerak pelan di punggung tanganku, seperti mengatakan aku di sini.

Lalu Pak Hendra, tanpa mengangkat wajah dari piringnya, berkata dengan tenang:

“Saya bisa melihat tangan di bawah meja, Saudara Reyhan. Saya hakim selama tiga puluh satu tahun.”

Aku langsung menarik tanganku. Nadine langsung meraihnya lagi, lebih erat, dan menatap papanya dengan dagu terangkat.

“Papa nggak bisa menjatuhkan hukuman resmi lagi,” katanya. “Papa sudah pensiun.”

Pak Hendra menatap putrinya. Putrinya menatapnya balik. Dua pasang mata almond yang sama, saling menantang di atas meja makan.

Lalu Pak Hendra kembali ke rendangnya. “Hukuman sosial masih berlaku.”


Pukul sepuluh, Pak Hendra mengantarku sendiri ke pagar.

Nadine ingin ikut, tapi papanya menatapnya sekali, dan ia berhenti di teras. Bu Ratna membungkuskan sisa rendang, perkedel, dan sayur asem untukku dalam tiga kotak plastik, “untuk sarapan, makan siang, sama makan malam besok”. Niko memberiku nomor ponselnya dan berkata, “Kalau Kak Nadine galak, laporan ke aku.”

Kami berjalan menyusuri halaman berumput yang rapi, di bawah pohon mangga, dalam diam. Di pagar, Pak Hendra berhenti.

“Saudara Reyhan.”

“Iya, Om.”

“Putusan saya untuk malam ini,” katanya, menatap jalan Menteng yang sepi di balik pagar besi, “ditunda.”

Aku menghela napas. Ditunda lebih baik dari ditolak.

“Ada dua hal yang perlu Saudara ketahui sebelum sidang berikutnya,” lanjutnya.

“Iya, Om.”

“Pertama.” Ia menoleh dan menatapku. “Nadine mirip saya. Dia akan memutuskan sesuatu sendiri, diam-diam, dengan sangat teliti. Lalu dia akan mengumumkannya seperti membacakan putusan. Lengkap, final, tidak bisa dibantah.” Ia berhenti sebentar. “Ibunya sudah tiga puluh tahun menghadapi itu dari saya. Saya tahu rasanya jadi orang yang diberi putusan tanpa diajak sidang.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Kalau suatu hari dia begitu pada Saudara,” kata Pak Hendra, “jangan diam saja.”

“Iya, Om.”

“Kedua.”

Ia menatapku lebih lama kali ini. Lebih dalam. Seperti menatap terdakwa yang sedang ia nilai, bukan dari apa yang ia katakan, tapi dari apa yang tidak ia katakan.

“Saudara terlihat seperti orang yang mengalah sebelum sidang dimulai.”

Aku membeku.

“Saya sudah melihat ratusan orang seperti Saudara di ruang sidang,” katanya pelan. “Orang-orang baik. Orang-orang yang tidak bersalah. Mereka datang ke sidang dan langsung menunduk, karena mereka sudah memutuskan sendiri bahwa mereka akan kalah. Mereka tidak membela diri. Mereka tidak berjuang. Mereka mengalah, karena mereka pikir itu yang paling sopan.”

Ia membuka pagar.

“Kebanyakan dari mereka,” katanya, “seharusnya menang.”

Aku berdiri di ambang pagar dengan tiga kotak rendang di tangan, tidak bisa bergerak.

“Selamat malam, Saudara Reyhan.”

“Selamat malam, Om.”

Ia berbalik dan berjalan kembali ke rumah dengan langkah pelan yang tidak terburu-buru. Di teras, Nadine menunggu dengan wajah cemas. Pak Hendra berhenti di depannya, mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar, lalu, dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat canggung, mengusap puncak kepala putrinya sekali.

Nadine menatap papanya dengan mata lebar.

Pak Hendra masuk ke rumah tanpa menoleh.

Nadine berlari kecil ke pagar, sandal datarnya berbunyi di jalan setapak. Ia berhenti di depanku, napasnya sedikit terengah.

“Papa bilang apa?” tanyanya.

“Putusannya ditunda.”

“Itu bagus, Mas!” Matanya berbinar. “Itu bagus banget! Pacar sepupuku, Diana, langsung divonis ‘tidak layak’ di makan malam pertama.”

“Terus tadi Papamu bilang apa ke kamu?”

Nadine diam. Lalu senyum kecil yang miring itu muncul.

“Papa bilang,” katanya pelan, “‘Dia jujur soal stiker.’”

Aku menatapnya. “Itu bagus?”

“Itu kalimat terpanjang yang pernah Papa ucapkan soal laki-laki yang aku bawa pulang.” Ia mengambil satu kotak rendang dari tanganku supaya ia bisa menggenggam tanganku yang bebas. “Satu-satunya, juga.”

Aku tidak bilang padanya apa yang dikatakan papanya padaku. Soal putusan tanpa sidang. Soal orang-orang yang mengalah sebelum sidang dimulai.

Aku menyimpannya. Seperti aku menyimpan nomor sebelas di halaman belakang buku agenda.

Tapi malam itu, di Avanza yang akinya baru, dengan tiga kotak rendang di kursi penumpang, aku memutar kalimat Pak Hendra berulang-ulang di kepalaku sepanjang jalan pulang.

Kebanyakan dari mereka seharusnya menang.