Chapter Four
Lift Nomor Tiga
POV: Nadine
Pukul tujuh lima puluh dua, aku berdiri di depan Lift Nomor 3 dan berpura-pura membaca email.
Aku sebenarnya tidak membaca apa-apa. Layar ponselku menampilkan email yang sama sejak empat menit lalu, tentang perubahan tarif PPh Pasal 26 untuk transaksi lintas negara, dan aku sudah membaca kalimat pertamanya sebelas kali tanpa mengerti satu kata pun.
Aku tahu jadwalnya. Tentu saja aku tahu. Mas Reyhan sampai di lobby antara pukul tujuh lima puluh dan delapan kurang lima, membeli dua roti sobek di minimarket, lalu naik Lift Nomor 3. Hampir selalu Lift Nomor 3, kecuali kalau lift itu sedang diperbaiki, dan pada hari-hari itu wajahnya selalu terlihat sedikit kehilangan, seperti orang yang kursi favoritnya di kafe sudah diduduki orang lain.
Selama dua tahun, aku mengatur jadwal pagiku supaya sesekali, tidak setiap hari karena itu akan terlalu kentara, kami berada di lift yang sama. Aku berdiri di sudut, ia berdiri di dekat pintu. Aku tidak pernah menyapanya. Ia tidak pernah menyapaku. Ia hanya diam-diam melirik pantulanku di dinding lift yang mengilap, dan aku diam-diam membiarkannya.
Pukul tujuh lima puluh enam, ia muncul.
Kemeja putih hari ini. Lengan digulung dua lipatan. Satu helai rambut di belakang kepalanya berdiri seperti antena. Dua bungkus roti di tangan kiri. Dan ketika ia melihatku berdiri di depan lift, langkahnya tersandung sedikit, sangat sedikit, sampai hanya orang yang sudah dua tahun memperhatikannya yang akan menyadarinya.
“Pagi,” katanya.
“Pagi, Mas.”
“Kamu nunggu lift?”
“Aku nunggu kamu.”
Telinganya langsung memerah. Aku harus menggigit bagian dalam pipiku supaya tidak tersenyum terlalu lebar di depan tiga karyawan bank yang juga menunggu lift.
Pintu terbuka. Kami masuk bersama orang-orang lain, dan kali ini aku tidak berdiri di sudut. Aku berdiri tepat di sebelahnya. Dan sebelum lift mencapai lantai tiga, aku sudah menyelipkan tanganku ke tangannya.
Ia tersentak kecil. Lalu, setelah satu tarikan napas panjang, ia membalas genggamanku.
Tangannya masih dingin. Mas Reyhan selalu bertangan dingin kalau gugup, dan sepertinya ia gugup setiap kali berada di dekatku. Aku menghangatkannya dengan ibu jariku, pelan, sepanjang perjalanan dua puluh satu lantai.
Kemarin aku berjanji akan menghangatkannya. Aku selalu menepati janji.
Pukul sepuluh, aku memimpin rapat dengan klien.
PT Sentosa Baja Utama, manufaktur pipa baja dari Cilegon, sedang menghadapi pemeriksaan pajak dan ingin tahu seberapa besar masalah mereka. Direktur keuangannya, Pak Gunawan, pria lima puluhan berkumis tebal, datang dengan dua stafnya dan membuka rapat dengan kalimat, “Wah, konsultannya masih muda sekali, ya. Om Benny-nya nggak ikut?”
Aku tersenyum. Senyum yang sopan, tipis, dan tidak sampai ke mata. Senyum yang sudah kupakai sejak umur dua puluh tiga, setiap kali seseorang menganggap umurku lebih penting dari pekerjaanku.
“Pak Benny mempercayakan klien ini kepada saya, Pak,” kataku. “Mari kita mulai dari laporan rekonsiliasi fiskal tahun lalu. Halaman empat.”
Selama empat puluh menit berikutnya, aku membongkar laporan mereka satu baris demi satu baris. Aku tidak meninggikan suara. Aku tidak perlu. Aku hanya menunjuk angka-angka yang tidak cocok, bertanya dengan tenang kenapa biaya promosi mereka naik tiga ratus persen dalam satu tahun sementara penjualan turun, dan kenapa ada transaksi dengan perusahaan afiliasi di Singapura yang tidak didukung dokumen transfer pricing sama sekali.
Kumis Pak Gunawan semakin lama semakin lemas.
Di menit ketiga puluh lima, salah satu stafnya berbisik kepadanya, cukup keras untuk kudengar, “Pak, Ibunya serem.”
“Saya dengar, Mas,” kataku tanpa mengangkat wajah dari dokumen. “Halaman sembilan, tolong.”
Rapat selesai dengan Pak Gunawan menjabat tanganku dengan dua tangan dan berkata, “Bu Nadine, mohon bimbingannya.” Kalimat yang sama sekali berbeda dari kalimat pembukanya.
Aku kembali ke ruanganku, menutup pintu, duduk, dan mengambil ponsel. Ada satu pesan baru.
Mas Lift 3: Kamu lagi apa?
Aku tersenyum ke layar.
Nadine: Barusan bikin direktur keuangan umur 54 tahun hampir menangis.
Mas Lift 3: Kamu serius?
Nadine: Aku nggak pernah bercanda soal rekonsiliasi fiskal, Mas.
Mas Lift 3: Kamu menyeramkan.
Nadine: Takut?
Ada jeda panjang. Titik-titik yang menandakan ia sedang mengetik muncul, hilang, muncul lagi, hilang lagi. Aku bisa membayangkan ia di mejanya, mengetik dan menghapus berkali-kali dengan telinga merah.
Mas Lift 3: Sedikit. Tapi lebih banyak kagum.
Aku menatap pesan itu lama. Lalu mengetik dengan sangat sengaja.
Nadine: Kalau begitu besok pagi di Lift Tiga, kamu boleh kagum dari dekat. Sedekat yang kamu berani.
Kali ini jedanya jauh lebih panjang. Tiga menit penuh. Lalu:
Mas Lift 3: Maaf, tadi HP-ku jatuh.
Aku menutup mulut dengan tangan dan tertawa di kursiku.
Pintu ruanganku diketuk, lalu terbuka sebelum aku sempat menjawab. Tari berdiri di ambang pintu dengan setumpuk map, matanya membulat.
“Bu,” katanya pelan. “Ibu... ketawa?”
Aku langsung menurunkan ponsel dan menegakkan punggung. “Ada apa, Tari?”
“Ibu tadi senyum ke HP.”
“Saya membaca email.”
“Email yang lucu, Bu?”
“Peraturan Menteri Keuangan yang baru, Tari. Ada beberapa pasal yang menggelikan.”
Tari meletakkan map di mejaku dengan gerakan sangat lambat, tidak melepaskan pandangan dari wajahku sedikit pun, seperti peneliti yang sedang mengamati spesies langka. Lalu ia mundur keluar ruangan, menutup pintu, dan beberapa detik kemudian, dari balik dinding kaca yang buram di bagian bawah, aku mendengar ia berbisik keras ke seseorang:
“KAK JESS. BU NADINE KETAWA SAMA PERATURAN MENTERI KEUANGAN.”
Pukul empat sore, aku pergi ke Pantry Bersama untuk membuat kopi kedua. Kopi hitam, tanpa gula. Hari ini aku membutuhkannya.
Pantry Bersama adalah satu-satunya wilayah netral di Lantai 21. Ruangan memanjang dengan jendela besar menghadap Kuningan, dua meja bundar, satu kulkas yang isinya selalu misterius, satu dispenser yang airnya kadang panas kadang tidak, dan papan pengumuman yang penuh brosur katering serta catatan tempel bertuliskan SIAPA YANG AMBIL YOGURT SAYA?? — Dewi, HTA.
Biasanya, jam segini pantry sepi. Hari ini, ada enam orang di dalamnya. Dua dari Lintasraya, empat dari HTA. Semuanya berhenti bicara saat aku masuk.
Aku membuat kopi dengan tenang, pura-pura tidak menyadari bahwa enam pasang mata sedang mengikuti setiap gerakanku. Aku terbiasa diperhatikan. Sejak SMA, orang-orang memperhatikanku di ruangan mana pun yang kumasuki. Dulu itu membuatku tidak nyaman. Sekarang aku sudah belajar mengabaikannya, seperti suara hujan.
Lalu pintu pantry terbuka lagi, dan Mas Reyhan masuk.
Enam pasang mata bergeser dariku ke dia. Lalu kembali ke aku. Lalu ke dia lagi. Seperti penonton pertandingan tenis.
“Hai,” katanya padaku.
“Hai.”
Ia berjalan mendekat, mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, dan meletakkannya di meja di depanku.
Sebungkus roti sobek cokelat. Sedikit penyok karena tersimpan di saku.
“Buat jaga-jaga,” katanya, menggaruk tengkuknya. “Kamu kayaknya belum makan dari siang. Tadi aku lihat kamu rapat sampai jam dua.”
Aku menatap roti itu.
Dan untuk sesaat, sangat singkat, tapi cukup panjang untuk membuat napasku tersangkut, aku tidak berada di Pantry Bersama. Aku berada di tempat yang dingin dan sempit, dengan lampu neon yang berkedip, dan beton yang dingin di bawahku, dan maskara yang perih di mata. Ada seseorang dua anak tangga di atasku. Ada tangan yang mengulurkan roti yang sama, merek yang sama, bungkus plastik yang sama dengan gambar beruang kecil yang tersenyum.
Buat jaga-jaga.
Kalimat yang sama.
“Nadine?”
Aku kembali. Pantry Bersama. Enam penonton. Mas Reyhan di depanku dengan wajah sedikit cemas, satu tangan terangkat setengah, seperti ingin menyentuh bahuku tapi tidak berani.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya. “Kamu nggak suka roti cokelat? Maaf, aku bisa beliin yang lain...”
“Suka,” kataku. Suaraku keluar sedikit serak, jadi aku berdeham. “Aku suka. Banget.”
Aku mengambil roti itu dan memegangnya dengan dua tangan, terlalu hati-hati untuk roti seharga delapan ribu rupiah. Mas Reyhan menatapku dengan alis berkerut, bingung, seperti orang yang merasa ada sesuatu yang penting sedang terjadi tapi tidak tahu apa.
Ia tidak ingat. Ia benar-benar tidak ingat. Baginya, memberikan roti itu sama biasanya dengan bernapas. Ia sudah melakukannya pada begitu banyak orang sampai satu di antaranya tidak meninggalkan bekas apa pun di ingatannya.
Dan entah kenapa, itu tidak membuatku sedih. Itu justru membuatku ingin memeluknya di tengah pantry, di depan enam saksi.
Aku tidak memeluknya. Belum. Tapi aku melangkah sedikit lebih dekat dan merapikan kerah kemejanya yang terlipat ke dalam, dengan pelan dan lama, lebih lama dari yang diperlukan. Jari-jariku menyentuh lehernya. Ia berhenti bernapas.
“Terima kasih, Mas,” kataku pelan, hanya untuknya.
Di belakang kami, seseorang menjatuhkan sendok ke dalam gelas.
Malam itu, di apartemen, aku membuka buku biru navy lagi.
Roti dari pantry masih belum kumakan. Roti itu duduk di meja makan seperti barang berharga. Aku tahu ini konyol. Aku tahu ada sekitar seratus bungkus roti yang sama persis di minimarket lobby dan ribuan lagi di seluruh Jakarta. Tapi yang ini ia berikan padaku, untuk kedua kalinya, tanpa tahu bahwa itu yang kedua.
Aku menulis:
Hari ini dia kasih roti lagi. Di pantry. “Buat jaga-jaga.”
Kalimatnya sama. Persis sama.
Aku hampir nangis di depan Dewi dan Pak Udin.
Tangannya masih dingin waktu pagi. Tapi waktu turun lift sore tadi, sudah hangat.
Aku berhenti, memandangi tulisan itu, lalu menambahkan satu baris lagi.
Aku penasaran berapa lama lagi sampai dia ingat. Dan aku penasaran apakah aku mau dia ingat secepat itu.
Ponselku bergetar di atas meja.
Mas Lift 3: Rotinya sudah dimakan?
Aku melirik roti itu, lalu mengetik.
Nadine: Belum. Sayang dimakan.
Mas Lift 3: Itu roti delapan ribu, Din.
Nadine: Aku tahu harganya. Aku nggak bilang mahal. Aku bilang sayang.
Ada jeda. Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Mas Lift 3: Kamu ngomongnya selalu kayak teka-teki.
Nadine: Kamu nggak suka teka-teki?
Mas Lift 3: Aku suka. Tapi aku jelek banget nebaknya.
Aku tersenyum dan membuka bungkus roti itu akhirnya. Rasanya manis, sedikit terlalu manis, dan sama persis seperti dua setengah tahun lalu.
Nadine: Nggak apa-apa, Mas. Aku sabar.
Nadine: Aku sudah biasa nunggu.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga reading
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup