Chapter Eight
Teka-Teki Nadine
POV: Rey
Di halaman belakang buku agenda kerjaku, di bawah daftar vendor gudang dan nomor telepon Pak Nanang, aku menulis judul dengan huruf kapital:
PENYELIDIKAN: KENAPA DIA MAU?
Lalu aku mendaftar semua petunjuk yang kumiliki.
1. Tahu nama lengkapku. (Aku cuma bilang “Rey”.)
2. Tahu pesanan sotoku, sampai emping dipisah.
3. Simpan kontakku dengan nama “Mas Lift 3”.
4. Langganan bungkus lele di Pak Kumis jam sembilan malam. (Kenapa? Ada lima puluh restoran di gedung.)
5. Tahu aku suka warung Pak Kumis.
6. Bilang: “Kalau kamu sudah ingat.”
Aku menatap nomor enam lama sekali.
Ingat apa?
Aku sudah memeras otakku sampai kering. Aku mencoba mengingat setiap kali kami berpapasan di lobby, di lift, di pantry, selama dua tahun ini. Tidak ada satu pun yang lebih dari sekadar berpapasan. Ia tidak pernah menyapaku. Aku tidak pernah berani menyapanya. Kalau ada momen yang perlu diingat, aku pasti akan mengingatnya. Aku orang yang ingat jam berapa ia biasanya pulang, astaga.
Fikri lewat di belakangku, melirik buku agenda, dan berhenti.
“Mas bikin daftar?”
Aku menutup buku itu cepat-cepat. “Bukan urusanmu.”
“Mas, kalau butuh analisis...”
“Nggak butuh.”
“Saya bisa bikin decision tree.”
“Fik.”
“Oke, Mas.” Ia mundur, lalu berbalik lagi. “Tapi kalau berubah pikiran, saya udah bikin draft-nya.”
Langkah pertama penyelidikan: sumber yang tahu segalanya.
Aku menunggu sampai pukul delapan malam, ketika lobby sudah sepi dan Pak Darto mulai jaga shift malam. Ia duduk di balik meja keamanan dengan termos teh dan layar CCTV yang menampilkan sembilan kotak gambar hitam-putih.
“Malam, Pak.”
“Malam, Mas Rey.” Ia tidak mengangkat wajah. “Mbak Nadine sudah pulang jam tujuh. Ada rapat di luar.”
“Saya nggak nanya itu, Pak.”
“Oh. Maaf, Mas. Saya kira.”
Aku bersandar di meja keamanan dengan gaya yang kuharap terlihat santai. “Pak Darto sudah berapa lama kerja di sini?”
“Sembilan tahun, Mas.”
“Wah. Lama, ya. Pasti tahu banyak tentang orang-orang di gedung ini.”
“Saya cuma satpam, Mas.”
“Iya, tapi maksud saya...” Aku berdeham. “Misalnya, Bapak tahu nggak, kenapa Mbak Nadine bisa tahu nama lengkap saya?”
Pak Darto menyesap tehnya dengan sangat pelan. Uap tipis mengepul dari tutup termos.
“Nama lengkap Mas Rey ada di ID card, Mas.”
“ID card saya selalu saya masukin ke saku.”
“Ada di daftar penghuni gedung juga, Mas.”
“Bapak pernah kasih daftar itu ke dia?”
“Saya cuma satpam, Mas.”
Aku mencoba dari sudut lain. “Kalau gitu, Bapak tahu nggak, dari kapan Mbak Nadine suka beli lele di Pak Kumis?”
“Saya nggak makan lele, Mas. Kolesterol.”
“Itu bukan...”
Lalu aku melihatnya. Di bawah meja keamanan, di rak kecil di samping lutut Pak Darto, ada sebuah buku tebal bersampul hijau tua. Bukan buku tamu resmi gedung, yang bersampul hitam dan tergeletak di atas meja untuk diisi tamu. Ini buku lain. Lusuh, ujung-ujungnya melengkung, dengan banyak kertas kecil terselip di dalamnya. Dan buku itu terbuka sedikit, cukup untuk memperlihatkan halaman yang penuh tulisan tangan dalam dua kolom.
Kolom kiri: R — 21.12. R — 20.58. R — 21.30.
Kolom kanan: N — 21.05. N — 20.51. N — 21.24.
Selalu berdekatan. Selalu N lebih dulu, lalu R beberapa menit kemudian.
Aku memiringkan kepala untuk membaca lebih jelas.
Pak Darto menutup buku itu dengan satu gerakan kaki. Pelan, tenang, tanpa melihat ke bawah, seperti orang yang menggeser sandal.
“Pak,” kataku. “Itu buku apa?”
“Buku catatan, Mas.”
“Catatan apa?”
Pak Darto akhirnya mengangkat wajah dari layar CCTV dan menatapku. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang hampir seperti geli.
“Saya cuma satpam, Mas,” katanya. “Tapi satpam yang baik itu mencatat.”
Lalu ia kembali menatap layar, dan aku tahu penyelidikan malam itu sudah selesai.
Langkah kedua: Mbak Sari. Ini kesalahan besar.
Keesokan harinya, aku membawa dua potong kue lapis kesukaannya ke mejanya saat istirahat siang, sebagai sogokan. Ia menerima kue itu dengan senyum lebar, menyuruhku duduk di kursi sebelahnya, lalu menatapku dengan mata yang sangat tajam.
“Oke,” katanya. “Kamu mau nanya apa?”
“Mbak tahu nggak, Nadine itu kenal aku dari kapan?”
“Mbak juga mau nanya sesuatu dulu.” Ia memotong kue lapis dengan garpu plastik, pelan dan teliti, seperti ahli bedah. “Kamu berangkat tanggal empat belas bulan depannya. Nadine di sini. Terus rencanamu apa?”
“Rencana apa, Mbak?”
“Jangan pura-pura bego, Rey. LDR? Putus? Kamu ajak dia ikut? Kamu mau minta dia nunggu?”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
Aku tidak punya jawaban. Aku belum memikirkannya. Lebih tepatnya, aku sudah memikirkannya setiap malam sejak Senin, tapi setiap kali pikiranku sampai di sana, aku langsung membelokkannya ke hal lain. Ke spreadsheet kencan berikutnya. Ke daftar petunjuk. Ke apa saja selain pertanyaan yang tidak bisa kujawab.
Karena jawabannya, kalau aku jujur, sudah ada sejak awal. Perempuan seperti Nadine tidak akan menunggu laki-laki seperti aku di negara lain selama dua tahun. Itu bukan pesimisme. Itu statistik. Fikri pasti setuju.
“Belum tahu, Mbak,” kataku akhirnya.
Mbak Sari menatapku lama. Lalu ia meletakkan garpunya.
“Rey,” katanya, lebih pelan. “Mbak kenal kamu lima tahun. Kamu itu tipe orang yang kalau antre di kasir, kalau ada ibu-ibu di belakangmu bawa barang lebih sedikit, kamu suruh dia duluan. Terus ada lagi yang lebih sedikit, kamu suruh duluan lagi. Sampai akhirnya kamu bayar paling terakhir dan es krimmu udah cair.”
“Itu pernah terjadi sekali.”
“Tiga kali. Mbak lihat sendiri.” Ia mendorong piring kue lapis ke arahku. “Jangan biarin hal kayak gitu terjadi juga di sini. Yang ini jangan kamu suruh duluan.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku makan kue lapis itu, yang ternyata kubeli untuk Mbak Sari, dan Mbak Sari membiarkanku menghabiskannya.
Penyelidikan hari kedua: tidak ada petunjuk baru. Satu kue lapis hilang.
Minggu pagi, Nadine mengajakku ke Car Free Day di Sudirman.
“Kamu suka olahraga?” tanyaku di telepon Sabtu malam.
“Nggak,” jawabnya. “Tapi aku suka jalan sama kamu. Dan Sudirman tanpa mobil itu cantik.”
Jadi pukul enam pagi aku berdiri di depan Bundaran HI dengan kaus abu-abu dan celana training yang sudah lama tidak kupakai, menguap lebar, dikelilingi ribuan orang yang lari, bersepeda, berjoget senam aerobik, dan menjual cilok.
Lalu ia datang, dan aku berhenti menguap.
Ini pertama kalinya aku melihatnya tanpa pakaian kerja, tanpa gaun, tanpa riasan. Ia memakai kaus putih polos yang sedikit kebesaran, celana training hitam, dan sepatu lari abu-abu yang kelihatan masih baru. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi, bergoyang ke kiri dan ke kanan setiap kali ia melangkah. Wajahnya polos, hanya ada pelembab bibir yang membuat bibirnya sedikit berkilau, dan pipinya kemerahan karena udara pagi.
Tanpa riasan, ia terlihat lebih muda. Dan entah bagaimana, lebih cantik. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya terlihat lebih jelas, dan aku tidak bisa berhenti menatapnya.
Aku bukan satu-satunya. Seorang pelari laki-laki yang melewati kami menoleh ke belakang sampai lehernya hampir terpelintir, lalu menabrak gerobak kerak telor. Dua ibu-ibu peserta senam berhenti bergerak di tengah lagu dan berbisik-bisik sambil menunjuk. Bapak penjual cilok memberi Nadine bonus tiga butir cilok tanpa diminta.
“Kenapa dia kasih bonus?” tanya Nadine bingung, memegang plastik cilok yang lebih penuh dari punyaku.
“Karena kamu kamu,” kataku.
“Itu bukan kalimat yang benar secara tata bahasa, Mas.”
“Itu kalimat yang benar secara fakta.”
Ia tertawa dan menggandeng tanganku.
Kami berjalan pelan dari Bundaran HI ke arah Semanggi, tidak berlari sama sekali, makan cilok, berhenti di setiap pertunjukan jalanan, dan membahas hal-hal yang tidak penting. Film favorit (aku: film kartun lama tentang robot yang membersihkan sampah; dia: film legal drama yang tidak pernah kudengar). Makanan yang dibenci (aku: pare; dia: makanan Prancis porsi kecil). Ketakutan terbesar (aku: ketinggian, padahal kerja di lantai dua puluh satu; dia: berpikir lama, lalu bilang “terlambat”).
“Terlambat ke mana?” tanyaku.
“Terlambat buat sesuatu,” katanya, dan tidak menjelaskan lebih jauh.
Ponselku berdering di dekat Dukuh Atas. Di layar muncul foto ibuku yang sedang memegang panci, dan nama kontak BU BOS.
“Ibu,” kataku. “Video call. Sebentar, ya.”
Nadine mengangguk, tapi aku melihat matanya berbinar penasaran.
Wajah Ibu muncul di layar, terlalu dekat dengan kamera seperti biasa, sehingga yang kelihatan cuma hidung dan sebagian kacamatanya. “Rey! Kamu di mana? Kok rame?”
“Car Free Day, Bu.”
“Kamu olahraga? Tumben. Sama siapa?”
Aku melirik Nadine. Ia mengangguk kecil, merapikan rambut ekor kudanya dengan cepat, lalu mendekat ke sebelahku sampai wajahnya masuk ke layar.
“Pagi, Bu,” katanya, dengan senyum yang sangat manis dan suara yang sangat sopan. “Saya Nadine.”
Ibu terdiam. Kamera di tangannya bergoyang. Lalu wajahnya menjauh dari kamera, dan untuk pertama kalinya aku bisa melihat seluruh wajahnya. Mulutnya terbuka.
“Ya Allah,” kata Ibu. “Rey. Ini beneran?”
“Beneran, Bu.”
“Kamu nggak bayar dia, kan?”
“BU.”
Nadine tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan. Ibu ikut tertawa, lalu langsung bicara tanpa henti, tentang betapa cantiknya Nadine, betapa aku tidak pernah cerita apa-apa, betapa Nadine harus segera datang ke Bogor karena Ibu akan masak rendang, dan betapa aku dulu waktu kecil pernah...
“Bu, nggak usah cerita itu.”
“...pernah nyangkut di pagar tetangga gara-gara ngejar layangan...”
“BU.”
Lalu sesuatu bergerak di belakang Ibu. Sesuatu yang besar, oranye, berbulu, dan gendut, melompat ke atas meja dan menyelinap ke depan kamera, sehingga seluruh layar dipenuhi wajah kucing yang mengantuk.
Nadine langsung mencondongkan tubuh lebih dekat ke layar. Wajahnya berbinar, dan suaranya berubah menjadi lembut dan ceria, seperti menyapa teman lama.
“Halo, Pak RT!”
Aku membeku.
Kucing itu mengedip lambat ke kamera.
“Lho,” kata Ibu dari balik kucing. “Nak Nadine kok tahu namanya?”
Nadine terdiam sepersekian detik. Lalu ia tersenyum lagi, sangat tenang.
“Mas Rey sering cerita, Bu.”
Aku tidak pernah cerita. Aku yakin seratus persen. Aku tidak pernah sekali pun menyebut nama Pak RT di depan Nadine. Kami baru bersama dua minggu, dan aku ingat semua obrolan kami, kata demi kata, karena aku memutarnya ulang setiap malam sebelum tidur.
Ibu menutup telepon dua puluh menit kemudian, setelah membuat Nadine berjanji akan datang ke Bogor dan membuatku berjanji akan membawa Nadine ke Bogor, dua janji yang sama tapi Ibu tetap ingin mendengarnya dua kali.
Kami duduk di tepi trotoar dekat Dukuh Atas. Matahari sudah mulai tinggi, dan keringat tipis berkilau di pelipis Nadine. Plastik ciloknya sudah kosong.
“Din,” kataku.
“Mm?”
“Aku nggak pernah cerita soal Pak RT.”
Ia menatap jalan Sudirman yang dipenuhi orang. Tidak menjawab.
“Kamu tahu nama lengkapku. Pesanan sotoku. Warung lele favoritku. Kucing ibuku.” Aku menelan ludah. “Pak Darto punya buku catatan jam pulang kita berdua. Dua kolom. R dan N.”
Nadine menoleh. Ada sesuatu yang melintas di matanya. Terkejut, mungkin, tapi hanya sebentar.
“Pak Darto memang teliti,” katanya.
“Din.” Aku menatapnya. “Kok mau? Sama aku. Dari awal. Kok bisa mau?”
Ia menatapku lama. Angin pagi meniup beberapa helai rambut yang lepas dari ikat ekor kudanya, dan ia tidak menyingkirkannya. Lalu, perlahan, ia bersandar dan meletakkan kepalanya di bahuku. Tangannya menemukan tanganku di atas trotoar dan menggenggamnya.
“Kasih aku waktu,” katanya pelan.
“Berapa lama?”
“Nggak lama. Sebelum kamu berangkat.” Ibu jarinya bergerak pelan di punggung tanganku. “Nanti aku jawab, Mas. Lengkap. Semuanya.”
“Janji?”
“Aku nggak pernah ingkar janji.”
Aku tidak bertanya lagi. Aku hanya duduk di sana, di tepi trotoar Sudirman, dengan kepalanya di bahuku dan ribuan orang lalu-lalang di depan kami, dan untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, aku tidak terlalu peduli pada jawabannya.
Tapi malamnya, di kamar kos, aku membuka buku agenda dan menambahkan satu baris di daftar petunjuk.
7. Tahu nama kucing Ibu.
Lalu, di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil:
8. Kayaknya dia kenal aku jauh lebih lama dari yang aku kira.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine reading
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup