Chapter Eighteen
Jawaban Lengkap
POV: Nadine
Pukul sembilan pagi, aku tersenyum ke laporan rekonsiliasi fiskal.
Aku tidak menyadarinya sampai Tari masuk ke ruanganku untuk menyerahkan berkas, berhenti di tengah langkah, dan menatapku seperti melihat komet melintas di siang hari.
“Bu,” katanya pelan. “Ibu senyum ke Excel.”
Aku langsung meluruskan wajah. “Saya tidak senyum.”
“Ibu senyum, Bu. Sudah dari tadi. Saya lihat dari luar.” Tari meletakkan berkas di meja dengan sangat lambat. “Terus Ibu nggak pakai maskara hari ini.”
“Saya lupa.”
“Ibu nggak pernah lupa, Bu. Saya sudah catat dua tahun.” Matanya berbinar penuh curiga. “Dan Ibu pakai blazer hitam yang belum pernah Ibu pakai sebelumnya. Yang agak kebesaran itu.”
“Tari.”
“Iya, Bu?”
“Folder outfit itu. Saya tahu soal folder itu.”
Tari memucat seketika. “Folder apa, Bu?”
“Yang di laptopmu. Namanya Inspirasi Kerja. Isinya tiga ratus foto saya.”
“Dua ratus delapan puluh, Bu,” bisik Tari, lalu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena menyadari ia baru saja mengaku. Lalu ia mundur keluar ruangan dengan sangat cepat, menutup pintu, dan kudengar ia berlari ke arah meja Jess.
Aku bersandar di kursi dan menatap langit-langit.
Lalu aku tersenyum lagi. Aku tidak bisa menahannya.
Pagi ini aku mengirim pesan pada diriku sendiri di masa lalu. Bukan pesan sungguhan, tentu saja. Tapi di kepalaku, aku berbicara pada perempuan dua puluh enam tahun di anak tangga ketiga itu, dengan maskara luntur dan blazer seharga setengah gaji.
Dia ingat. Akhirnya dia ingat. Dan dia bilang kamu memegang roti itu dengan dua tangan, seperti takut jatuh.
Aku tidak pernah tahu bahwa ia memperhatikan itu.
Jess menemukanku di toilet lantai 21 pukul sebelas, ketika aku sedang merapikan rambut di depan cermin.
Ia tidak bicara. Ia hanya berdiri di ambang pintu dengan mata merah, dengan wajah orang yang semalaman tidak tidur karena takut sahabatnya marah.
“Din,” katanya akhirnya.
Aku menatapnya dari cermin. Jess dengan rambut cokelat sebahu yang biasanya rapi, sekarang diikat asal. Jess yang wangi sabun bayi. Jess yang sudah menjadi sahabatku sejak hari pertama di HTA, yang memaksaku makan siang ketika aku lupa makan, yang menemaniku menangis waktu Papa masuk rumah sakit tahun lalu.
Jess yang diam-diam membangun operasi intelijen sepuluh bulan, merekrut satpam, tukang lele, anak magang, dan pacarnya sendiri, hanya supaya aku tidak membuang dua setengah tahun dengan satu hari.
Aku berbalik dan memeluknya.
Jess membeku. Lalu, pelan-pelan, ia memelukku balik, dan mulai menangis di bahuku.
“Maaf,” isaknya. “Maaf aku nggak bilang soal Dodi. Maaf aku bikin grup. Maaf aku masukin Pak Kumis.”
“Kenapa Pak Kumis?”
“Dia yang laporan kalau kamu bungkus lele. Itu indikator penting.”
Aku tertawa ke rambutnya.
“Jess,” kataku. “Terima kasih.”
Ia mendongak, wajahnya basah. “Kamu nggak marah?”
“Aku marah kamu bohong soal dua minggu,” kataku. “Tapi aku nggak marah soal yang lain.” Aku menghapus air mata di pipinya dengan ibu jari. “Kalau kamu nggak dorong Dodi, Dodi nggak dorong dia. Kalau dia nggak didorong, aku masih nunggu di sini. Sampai H-1. Terus besoknya dia pergi.”
Jess terisak lagi.
“Kamu kasih aku lima puluh hari, Jess,” kataku pelan. “Bukan satu hari. Lima puluh hari.”
“Lima puluh dua,” kata Jess dengan suara serak.
“Kamu ngitung juga?”
“Semua orang di grup ngitung, Din. Fikri bikin countdown di Excel.”
Kami tertawa bersama di toilet lantai 21, saling memeluk, dengan maskara Jess yang mulai luntur. Seorang karyawan dari kantor notaris lantai 17, yang entah kenapa memakai toilet lantai kami, masuk, melihat kami, lalu keluar lagi tanpa bicara.
Mas Reyhan mengirim pesan dua belas kali sebelum makan siang.
Mas Lift 3: Aku nggak bisa kerja.
Mas Lift 3: Aku baca email yang sama empat kali.
Mas Lift 3: Fikri bilang aku senyum-senyum sendiri.
Mas Lift 3: Fikri bohong. Aku nggak senyum-senyum sendiri.
Mas Lift 3: Oke, mungkin sedikit.
Mas Lift 3: Din, kamu nyimpen bungkus roti itu di mana selama ini?
Aku menatap pertanyaan itu. Lalu menatap laci mejaku, tempat buku biru navy tersimpan di bawah tumpukan formulir pajak lama.
Nadine: Di tempat yang aman.
Mas Lift 3: Itu jawaban teka-teki lagi.
Nadine: Aku masih punya beberapa rahasia, Mas. Perempuan butuh rahasia.
Mas Lift 3: Berapa banyak?
Nadine: Satu. Yang besar.
Ada jeda panjang.
Mas Lift 3: Kamu bakal kasih tahu?
Nadine: Suatu hari.
Mas Lift 3: Kapan?
Aku memutar kursiku sedikit ke kiri. Dari celah antara rak dokumen dan pintu pantry, aku bisa melihat ujung mejanya. Ia sedang menatap ponselnya dengan dahi berkerut, menunggu balasanku. Helai rambut di belakang kepalanya berdiri.
Nadine: Kalau waktunya sudah tepat.
Mas Lift 3: Itu bukan jawaban.
Nadine: Itu jawaban yang paling jujur yang aku punya.
Lalu aku menambahkan satu pesan lagi, karena aku tidak bisa menahan diri.
Nadine: Ngomong-ngomong, kamu nggak perlu putar kursi. Aku bisa lihat kamu dari sini.
Dari celah itu, aku melihatnya mendongak dengan kaget, menoleh ke kanan dan kiri, lalu akhirnya ke arah pantry. Ia tidak bisa melihatku. Sudut pandangnya salah. Tapi ia tetap tersenyum ke arah yang salah, lebar dan malu, dan telinganya memerah bahkan dari sejauh ini.
Malamnya, kedua tim merayakan di warung Pak Kumis.
Tidak ada yang merencanakannya. Atau, lebih tepatnya, semua orang merencanakannya diam-diam dan tidak ada yang mau mengaku. Pukul tujuh, aku dan Mas Reyhan turun bersama dan berjalan ke arah warung untuk makan malam berdua. Pukul tujuh lewat sepuluh, kami sampai, dan menemukan keenam meja kayu panjang sudah terisi.
Dodi. Jess. Mbak Sari dan suaminya. Fikri. Tari. Pak Udin. Bu Tini sekretaris Pak Haris. Pak Yanto dari keuangan HTA. Dua anak magang Lintasraya. Dan, duduk di ujung meja paling dekat gerobak dengan seragam biru tua yang sudah diganti kaus oblong, Pak Darto.
“Kebetulan,” kata Dodi, mengangkat gelas es jeruknya. “Kebetulan banget kita semua lagi pengen lele.”
“Kebetulan,” ulang Mas Reyhan datar.
“Kebetulan, Mas,” kata Fikri. “Peluangnya sebenarnya kecil, tapi...”
“Fik.”
“Iya, Mas. Saya diam.”
Pak Kumis keluar dari balik gerobak dengan dua piring lele goreng kering dan sepiring tempe yang menggunung, lalu meletakkannya di depan kami berdua.
“Gratis malam ini,” katanya, kumisnya terangkat lebar. “Buat yang akhirnya ingat.”
Mas Reyhan menatap Pak Kumis. “Pak Kumis tahu?”
“Saya anggota kehormatan, Mas.”
Seluruh warung tertawa.
Kami makan dengan berisik di bawah terpal oranye yang malam ini, untungnya, tidak bocor. Dodi dan Jess duduk berdampingan, berpegangan tangan di atas meja dengan terang-terangan, dan setiap kali Dodi memanggil Jess “Yang”, seluruh meja bersorak sampai Jess melempar kerupuk ke kepalanya. Mbak Sari mengumumkan bahwa grup Proyek Lantai 21 resmi dibubarkan dan semua anggotanya dipindahkan ke grup Tim Sukses Rey-Nadine, yang sekarang anggotanya empat puluh satu. Fikri mempresentasikan model statistik terakhirnya dengan laptop yang ia letakkan di antara piring-piring.
“Setelah semua data masuk,” katanya serius, “peluang hubungan ini bertahan adalah sembilan puluh sembilan koma sembilan persen.”
“Kenapa nggak seratus?” tanya Tari.
“Karena nol koma satu persennya Mas Rey,” kata Fikri. “Mas Rey itu variabel yang nggak bisa diprediksi. Bisa tiba-tiba ngalah ke orang lain di antrean kasir.”
Semua orang tertawa. Mas Reyhan tertawa juga, tapi aku melihat sesuatu melintas di matanya. Sangat cepat. Seperti bayangan awan yang lewat di atas danau.
Aku menyimpannya. Aku selalu menyimpan hal-hal seperti itu.
Pukul sembilan, kami pamit duluan.
Kami berjalan pelan menyusuri trotoar ke arah gedung, tangan saling menggenggam. Udara malam sedikit lembap, lampu jalan memantul di genangan sisa hujan sore. Di belakang kami, suara tawa dari warung Pak Kumis perlahan memudar.
Kami tidak bicara lama. Ternyata kami tidak perlu.
Lalu, di depan pintu masuk gedung, di bawah kanopi tempat kami pernah berteduh dari hujan di kencan pertama, ia berhenti.
“Din.”
“Mm?”
“Kok mau?”
Aku menoleh. Ia tidak sedang bercanda. Wajahnya serius, bahkan sedikit tegang, seperti seseorang yang sudah menunggu sangat lama untuk menanyakan sesuatu dengan benar.
“Aku sudah tahu soal tangga,” katanya. “Soal roti. Soal Pak Haris. Tapi itu cuma satu hari. Lima menit. Kamu nunggu dua setengah tahun karena lima menit.” Ia menelan ludah. “Aku cuma mau ngerti. Kenapa lima menit itu cukup?”
Aku menatapnya lama.
Aku sudah menyusun jawaban ini berkali-kali. Di buku biru navy, di notes ponsel, di kepalaku setiap malam sebelum tidur. Tapi sekarang, berdiri di sini di bawah kanopi, semua draft itu terasa terlalu panjang.
“Karena kamu satu-satunya orang,” kataku pelan, “yang nolong aku tanpa nanya nama. Tanpa nanya kenapa. Terus pergi, kayak itu hal yang biasa.”
Ia diam.
“Semua orang lain yang pernah baik ke aku,” lanjutku, “mau sesuatu. Klien yang mau diskon. Laki-laki yang mau makan malam. Atasan yang mau aku lembur. Kebaikan mereka selalu ada tagihannya.” Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu kasih roti, kasih lima menit, kasih kalimat yang aku pakai sampai hari ini. Terus kamu ganjal pintu pakai roti keduamu supaya aku nggak kekunci. Dan kamu pergi. Kamu bahkan nggak nunggu aku bilang terima kasih dengan benar.”
“Aku harus balik rapat,” katanya pelan, hampir seperti membela diri.
“Aku tahu,” kataku, dan tersenyum. “Dan itu bagian yang paling aku suka.”
Aku melangkah lebih dekat.
“Lima menit itu bukan alasan aku nunggu dua setengah tahun, Mas,” kataku. “Lima menit itu cuma alasan aku mulai lihat. Alasan aku nunggu adalah semua yang aku lihat setelah itu.”
“Setelah itu?”
“Kamu kasih payungmu ke ibu-ibu di lobby, terus kamu sendiri lari kehujanan ke parkiran. Kamu bantu Pak Udin angkat galon padahal itu bukan tugasmu. Kamu suruh orang duluan di antrean kasir sampai es krimmu cair.” Aku tertawa kecil. “Mbak Sari bilang itu terjadi tiga kali. Aku lihat empat kali.”
Ia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Dua setengah tahun, aku lihat kamu ngelakuin itu ke orang lain,” kataku. “Bukan cuma ke aku. Ke semua orang. Terus-terusan. Tanpa pernah minta apa-apa.” Aku mengangkat tangan dan menyentuh helai rambut di belakang kepalanya yang selalu berdiri. “Dan aku pikir, kalau ada satu orang di dunia ini yang pantas dapat seseorang yang ingat semua kebaikannya, orang itu kamu.”
Ia tidak bisa bicara. Aku melihat jakunnya bergerak.
“Itu jawabanku,” kataku. “Lengkap. Seperti yang aku janji.”
Ia menunduk. Lalu, sangat pelan, ia menarikku ke pelukannya, dan memelukku sangat erat, di bawah kanopi Menara Sentra, di depan pintu kaca yang benar.
“Makasih,” katanya ke rambutku. Suaranya bergetar.
“Buat apa?”
“Sudah ingat aku.”
Aku memejamkan mata di dadanya. Jantungnya berdetak cepat, seperti biasa.
Lalu aku mendongak, menatapnya dari jarak sangat dekat, dan tersenyum.
“Mas,” kataku pelan. “Tadi pagi itu baru satu.”
“Satu apa?”
“Satu ciuman.” Aku menyentuh bibir bawahnya dengan ujung jariku, ringan sekali. “Aku nunggu dua setengah tahun. Menurutku aku masih punya banyak tagihan.”
Telinganya langsung merah. Bahkan di bawah lampu kanopi yang kekuningan, aku bisa melihatnya.
“Di sini?” bisiknya. “Pak Darto lagi di warung. CCTV-nya...”
“CCTV-nya cuma bisa lihat kanopi dari atas, Mas,” kataku. “Aku sudah cek.”
“Kamu sudah cek?”
“Aku selalu cek.”
Ia tertawa, tawa yang pendek dan tidak percaya. Lalu ia menunduk dan menciumku.
Kali ini tidak canggung. Kali ini hidung kami tidak bertabrakan. Kali ini ia tahu harus memiringkan kepala ke mana, dan tangannya tahu harus ke mana, satu di pinggangku dan satu di tengkukku, di bawah sanggul yang mulai lepas. Ciuman yang pelan, lembut, dan sedikit lebih lama dari tadi pagi.
Lalu ia menarik diri, dahi masih menempel di dahiku.
“Tagihan berapa lagi?” bisiknya.
“Banyak,” bisikku. “Aku nggak pakai sistem cicilan.”
Malam itu, aku duduk di meja makan apartemen dan membuka buku biru navy.
Di pojok kanan atas, aku mencoret 53 dan menulis 52.
Dia ingat.
Dia duduk dua anak tangga di atasku, persis seperti waktu itu. Dia bilang aku pegang roti pakai dua tangan, kayak takut jatuh. Aku nggak tahu dia lihat itu.
Ciuman pertama di tangga. Lampunya mati. Kami ketawa di dalam gelap.
Ciuman kedua di kanopi. Lampunya nggak mati.
Aku kasih dia jawaban lengkap. Dia bilang makasih sudah ingat dia.
Aku berhenti menulis. Menatap halaman itu.
Lalu, di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil, aku menulis hal-hal yang tidak kukatakan padanya.
Di taksi minggu lalu, aku bilang “jangan ke mana-mana”. Aku ingat. Aku nggak sepenuhnya tidur.
Dia bilang aku nggak ngomong apa-apa.
Aku tahu kenapa dia bohong. Dia nggak mau aku ingat pernah minta sesuatu yang nggak bisa dia kasih.
Dan tadi di warung, waktu Fikri bilang “nol koma satu persennya Mas Rey”, aku lihat mukanya. Dia sudah mulai mikir untuk mundur. Dia selalu mundur duluan supaya nggak ada yang terluka.
Aku menutup pulpen. Menatap angka 52 di pojok halaman.
Lalu aku membuka laptop, dan membuka email yang sejak Kamis kubiarkan tidak terbaca. Email dari Om Benny, yang diteruskan dari partner HTA di Singapura.
Perihal: Posisi Associate Director — Kantor Singapura
Aku tidak membalasnya. Belum.
Tapi kali ini, aku membacanya sampai selesai.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap reading
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup