← Hik! Itu Bohong

Chapter Nine

Diagnosis Versi Oci

POV: Mika

“Aku suka dia.”

Aku mengucapkannya ke langit-langit kamar, pukul sebelas malam, tiga hari setelah Hik #31.

Tidak ada yang mendengar. Oci sedang mandi, suara air terdengar dari balik dinding. Lampu kamar mati. Hanya ada cahaya dari lampu jalan yang menembus tirai tipis, membuat garis-garis kuning di langit-langit.

Aku mengulanginya, lebih pelan, seperti menguji apakah kalimat itu akan meledak.

“Aku suka dia.”

Tidak meledak. Tidak ada cegukan. Tentu saja tidak ada cegukan. Aku bukan dia. Aku bisa mengucapkan kebohongan atau kebenaran dengan suara yang sama persis, dan tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa membedakannya.

Masalahnya, kali ini aku sendiri yang tahu itu benar.

Bukan sejak semalam. Bukan sejak gudang kerupuk. Lebih lama dari itu. Aku tidak mau menghitung sejak kapan, karena kalau aku menghitung, aku harus mengakui angkanya, dan angkanya memalukan.

Pintu kamar terbuka. Oci masuk dengan handuk di kepala dan masker wajah berwarna ungu.

“Kamu ngomong sama siapa?”

“Sama langit-langit.”

Oci menyalakan lampu. Ia menatapku yang terlentang di kasur dengan kaki menggantung di tepinya, ponsel di dada, wajah yang aku sendiri tidak mau lihat di cermin.

Ia menyipitkan mata. Lalu duduk di tepi kasur dengan gerakan dramatis, seperti dokter yang akan menyampaikan hasil lab.

“Oke. Aku mau diagnosis.”

“Nggak usah.”

“Pertama.” Oci mengacungkan satu jari. “Zodiak. Dia lahir bulan apa?”

“Mana aku tahu.”

“Kamu punya spreadsheet berisi tiga puluh satu cegukan dia tapi nggak tahu ulang tahunnya?”

“Itu bukan data yang relevan.”

“Itu data yang SANGAT relevan.” Oci mengacungkan jari kedua. “Kedua. Tes kepribadian. Kalau dia hewan, dia hewan apa?”

Aku berpikir. “Burung hantu. Diam. Matanya ke mana-mana. Kelihatannya galak padahal cuma mikir.”

Oci mengangguk penuh pengertian. “Dan kamu kucing. Kucing yang suka nyenggol-nyenggol barang dari meja cuma buat lihat reaksinya.”

“Aku nggak—”

“Ketiga.” Oci menarik daguku ke arah lampu. Ia menatap wajahku dari dekat, memiringkan kepalaku ke kiri dan ke kanan dengan keseriusan seorang dermatolog. “Hm.”

“Apa?”

“Pori-porimu kelihatan jatuh cinta.”

Aku melempar bantal ke wajahnya. Oci menangkapnya dengan satu tangan tanpa melepas pegangan di daguku.

“Aku serius, Mik. Kulitmu glowing tanpa skincare tiga hari ini. Itu hormon. Itu ilmiah.”

“Itu bukan ilmiah.”

“Kamu mau bukti?” Oci melepas daguku dan menunjuk ponselku. “Buka galeri. Foto terakhir.”

Aku tidak membuka galeri. Karena aku tahu foto terakhir di galeriku adalah foto punggung Arsa di gudang Cikarang, yang kuambil diam-diam saat ia sedang mencocokkan kartu stok, dengan lengan kemeja digulung dan cahaya sore dari jendela gudang jatuh di bahunya.

Oci melihat wajahku dan tidak perlu melihat galerinya.

“Stadium tiga,” katanya. “Hampir empat.”


Ponselku bergetar. Grup keluarga, Keluarga Sarasvati Sakinah, yang berisi Mama, Papa, Tante Wid, dan tiga sepupu yang hanya aktif saat Lebaran.

Mama mengirim tangkapan layar. Foto tim Hendro dari akun Instagram kantor, diunggah tadi siang dengan caption Tim Audit Wiratama & Partners siap menghadapi busy season!. Aku di tengah, Tiara di sebelahku, Juned membuat tanda damai, Pak Hendro mengacungkan jempol. Dan di ujung kanan, berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung dan wajah seperti sedang difoto untuk paspor, Arsa.

Mama melingkari wajah Arsa dengan coretan merah.

Mama: Iki sopo, rek??? GANTENG!!!

Mama: Kok mukanya kayak lagi diperiksa?

Tante Wid: Wah iya ganteng. Single nggak Mik?

Papa: Fokus kerja dulu Nduk.

Mama: Papamu iri. Mik jawab Mama. Single nggak?

Aku menatap pertanyaan itu. Aku tahu jawabannya. Aku tahu dari sumber yang paling bisa dipercaya di dunia: pria itu sendiri, di hari pertama kontrak, tanpa cegukan.

Iya.

Aku mengetik Fokus kerja, Ma, lalu mematikan layar dan menelungkup ke bantal.

Sepuluh detik kemudian ponselku berdering. Mama. Aku menolak panggilannya. Ponselku langsung bergetar lagi, kali ini voice note, dan aku memutarnya dengan volume paling kecil.

“Ojo ditolak, Nduk! Mama cuma mau tanya satu. Dia doyan rendang ora? Soale nek doyan, kowe kudu latihan maneh. Rendangmu yang kemarin itu, Mama lihat di video, kayak batu bara. Wis yo. Salam buat Mas Ganteng.”

Oci, yang mendengar semuanya, membenamkan wajah ke bantalku dan tertawa sampai kasurnya bergetar.

Yang paling menyebalkan adalah aku tahu jawabannya. Dia memang pernah mencoba rendangku. Ada usahanya. Dan aku memang akan latihan lagi.


Setelah Oci tidur, aku berbaring sendirian lagi dan membiarkan diriku memikirkan hal yang biasanya kuhindari.

Dion.

Tiga tahun pacaran. Tiga tahun mendengar aku otw yang artinya aku baru bangun. Tiga tahun nanti kutransfer balik yang tidak pernah ditransfer. Tiga tahun aku lembur yang ternyata artinya aku makan malam dengan orang lain. Dion tidak pernah kasar. Dion tidak pernah berteriak. Dion hanya selalu punya kalimat yang tepat, di waktu yang tepat, dengan senyum yang tepat. Dan aku percaya semuanya, karena kalimatnya selalu terdengar sangat benar.

Aku tahu tentang perempuan lain itu bukan dari Dion. Dari struk restoran di saku jaketnya. Bukti. Kertas. Angka. Satu-satunya hal yang tidak bisa berbohong.

Sejak itu aku berhenti percaya pada kata-kata. Kata-kata itu murah. Siapa pun bisa mengucapkan apa pun dengan suara yang sama.

Kecuali satu orang.

Aku memeluk bantal.

Arsa tidak bisa bohong. Kalau ia bilang iya, itu iya. Kalau ia bilang saya tahu, ia memang tahu. Kalau ia cegukan, aku tahu kebenarannya sebelum ia sendiri sempat menyembunyikannya.

Itu yang membuatnya aman.

Dan aku memutuskan, malam itu, dengan kejernihan orang yang sudah terlalu lama begadang: aku akan tetap menggoda. Itu menyenangkan, itu aman, itu tidak mempertaruhkan apa-apa. Selama aku yang bertanya dan dia yang menjawab, selama aku yang menggoda dan dia yang tersipu, aku tidak akan pernah salah percaya lagi.

Tapi aku tidak akan bilang.

Tidak aku suka kamu. Tidak aku juga. Tidak apa pun yang serius, yang bisa dipegang, yang bisa dikhianati.

Biar dia yang terbuka. Aku cukup membaca.

Itu keputusan yang masuk akal. Aku auditor. Aku tahu cara meminimalkan risiko.

Aku tidak menyadari bahwa auditor yang hanya membaca dan tidak pernah memberikan opini sebenarnya bukan auditor. Dia cuma penonton.


Pukul sebelas empat puluh, aku membuka chat Arsa.

Percakapan terakhir kami adalah tentang dokumen Sinar Kemas. Sudah saya kirim, Pak. — Terima kasih. Dua baris. Profesional. Membosankan.

Aku mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Lalu aku teringat sesuatu dari Kertas Kerja Cegukanku sendiri, baris keterangan yang kutulis minggu lalu: Cek: apakah cegukan terjadi lewat telepon/voice note?

Aku tersenyum ke layar.

Aku menekan tombol mikrofon dan merekam dengan suara pelan, setengah berbisik, karena Oci tidur di kamar sebelah dan karena suaraku memang selalu turun kalau sedang menggoda.

“Pak Arsa. Belum tidur, kan? Ini masih hari ini, jadi masih jatah pertanyaan saya. Jawab pakai voice note ya. Jangan pakai teks. Pertanyaannya…” Aku berhenti sebentar. “Kamu lagi mikirin aku?”

Kirim.

Centang satu. Centang dua. Biru.

Sedang merekam audio…

Berhenti.

Sedang merekam audio…

Berhenti lagi.

Aku menatap layar dengan jantung berdebar seperti sedang menunggu pengumuman kelulusan.

Sedang merekam audio…

Satu voice note masuk. Dua detik.

Aku menempelkan ponsel ke telinga dan menekan play.

Suara Arsa. Rendah, sedikit serak, suara orang yang sudah berbaring di tempat tidur. Satu kata.

“Nggak.”

Lalu, samar tapi sangat, sangat jelas:

Hik.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Aku memutarnya lagi. “Nggak.” Hik.

Lagi. “Nggak.” Hik.

Lagi.

Pada putaran kesebelas, pintu kamarku terbuka. Oci berdiri di sana dengan rambut berantakan dan masker mata di dahi.

“Mik,” katanya, suaranya serak. “Kamu dengerin apa dari tadi? Kayak suara cowok terus bunyi hik. Sebelas kali.”

“Kamu ngitung?”

“Aku kebangun di yang ketiga.” Oci menyipitkan mata. “Itu voice note atau ASMR?”

Sebelum aku sempat menjawab, ponselku bergetar lagi.

Bukan voice note. Teks. Dari Arsa.

Satu kata.

Iya.

Aku menatap kata itu. Tiga huruf. Teks. Tidak ada cegukan, karena teks tidak memicu cegukan. Ia bisa saja tidak mengirim apa-apa. Voice note tadi sudah cukup menjawab. Ia tidak perlu menambahkan apa pun.

Tapi ia mengirimnya. Lewat teks. Lewat satu-satunya saluran di mana ia sebenarnya bisa berbohong, dan ia memilih untuk tidak berbohong.

Iya.

Aku menelungkupkan wajah ke bantal dan berteriak. Panjang. Teredam. Kakiku menendang-nendang kasur seperti anak SMP.

Oci berdiri di ambang pintu, menatapku lama.

“Stadium empat,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu.


Besok paginya, Arsa sudah ada di lobi gedung saat aku keluar dari taksi. Ia sedang berdiri di depan lift dengan tas kerja dan wajah datar seperti biasa, seolah semalam tidak pernah mengirim voice note dua detik dan teks tiga huruf yang membuatku tidur hanya empat jam.

Telinganya merah begitu melihatku. Dari jauh. Dari jarak sepuluh meter.

Aku berjalan menghampirinya. Berhenti tepat di depannya. Lift belum datang.

“Pagi, Pak Arsa.”

“Pagi.”

Aku mengangkat tangan dan mencolek ujung hidungnya dengan telunjuk. Pelan. Satu kali.

Arsa membeku.

“Hik-nya kedengeran,” bisikku, “sampai Setiabudi.”

Ting. Pintu lift terbuka.

Aku masuk lebih dulu, tersenyum ke pintu lift, dan tidak menoleh ke belakang. Aku tidak perlu menoleh. Aku bisa melihat bayangannya di dinding lift yang mengilap: pria tinggi berkemeja biru, berdiri kaku di pintu, dengan telinga yang warnanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

Aku tidak bilang aku juga.

Aku tidak bilang apa-apa yang serius.

Tapi aku tersenyum sepanjang lima belas lantai, dan di bayangan dinding lift, aku melihat ia juga.