← Hik! Itu Bohong

Chapter Five

Rendang Percobaan Ketiga

POV: Mika

Ternyata, satu pertanyaan sehari itu sangat sedikit.

Aku baru menyadarinya di hari kedua kontrak berlaku, saat aku bangun jam lima pagi dengan sebelas pertanyaan di kepala dan hanya boleh memakai satu.

Jadi aku mulai memilih dengan hati-hati, seperti auditor yang memilih sampel.

Hari Senin. Pantry, pukul tujuh lewat lima puluh. “Pak Arsa pernah bohong soal umur?”

“Nggak pernah bisa.”

Tidak ada cegukan. Aku tertawa sampai menumpahkan sedikit kopi. Arsa menatapku seperti aku baru saja menertawakan laporan keuangan.

Hari Selasa. Di depan printer. “Bapak lebih suka kucing atau anjing?”

“Kucing.”

“Kenapa?”

“Itu pertanyaan kedua.”

Aku cemberut. Ia mengambil kertas dari printer dan pergi. Tapi di sudut bibirnya, untuk seperempat detik, aku bersumpah aku melihat sesuatu yang hampir mirip senyum.

Hari Rabu. Ini yang aku persiapkan sejak Senin malam.

Aku menunggu sampai pantry sepi. Arsa datang untuk mengisi botol minumnya. Aku bersandar di meja bar, menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga, dan bertanya dengan suara paling santai yang bisa kuproduksi.

“Pak. Tipe Bapak yang rambut panjang?”

Ia berhenti mengisi botol.

“Pass.”

Aku tersenyum. Pass itu data. Pass berarti ada jawaban yang ia tidak mau ucapkan.

Aku memiringkan kepala sedikit, membiarkan rambutku jatuh ke satu sisi bahu. “Saya rambut panjang lho, Pak.”

Arsa menutup tutup botolnya. Ia menatapku. Bukan sekilas, bukan seperti menatap rekening koran. Ia menatapku lama, langsung, dan tenang.

“Saya tahu.”

Lalu ia pergi.

Aku berdiri di pantry. Menghitung dalam hati. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Sepuluh detik.

Tidak ada cegukan.

Saya tahu. Bukan terus kenapa, bukan oh ya?, bukan pass. Saya tahu. Seolah ia sudah memperhatikan rambutku cukup lama untuk memasukkannya ke kategori fakta yang terverifikasi.

Aku menyentuh pipiku. Panas.

Itu pertama kalinya, sejak aku menginjak lantai 15, wajahku yang memerah dan bukan telinganya.

Aku membuka KKC di ponsel dan menulis di kolom keterangan dengan jari yang sedikit gemetar: Hari 3 kontrak. Pihak Pertama kalah.


Masalahnya, Arsa juga punya jatah.

Dan berbeda denganku, ia tidak memakai jatahnya untuk menggoda. Ia memakainya untuk hal-hal yang membuatku ingin bersembunyi di bawah meja.

Hari Kamis, saat aku menyerahkan kertas kerja, ia bertanya tanpa mengangkat kepala.

“Kenapa kamu pindah ke Jakarta?”

Pertanyaan biasa. Pertanyaan yang ditanyakan semua orang di minggu pertamaku. Aku sudah menjawabnya sepuluh kali: mutasi, peluang karier, kantor pusat, pengalaman baru. Semua benar. Semua permukaan.

Tapi Arsa bukan semua orang. Ia akan tahu itu jawaban permukaan, karena ia sendiri tidak pernah bisa memberikan jawaban permukaan.

Jadi aku melakukan yang selalu kulakukan.

Aku mencondongkan badan ke mejanya, menumpukan dua tangan di tepinya, dan tersenyum.

“Nyari atasan yang nggak bisa bohong, Pak.”

Arsa mengangkat wajah. Kami hanya berjarak tiga puluh senti. Ia menatapku beberapa detik, dan untuk pertama kalinya aku merasa tidak yakin siapa yang sedang mengaudit siapa.

Lalu ia membuka laci, mengeluarkan buku catatan kecil bersampul hitam, dan menulis sesuatu. Satu baris pendek. Lalu menutup buku itu dan memasukkannya kembali ke laci.

“Itu apa?” tanyaku.

“Itu pertanyaan kamu hari ini?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Bukan,” kataku.

“Kalau gitu, pass,” katanya, dan kembali ke kertas kerjanya.

Aku kembali ke mejaku dengan perasaan aneh, seperti auditor yang baru sadar ada dokumen yang tidak diberikan kepadanya. Buku hitam itu. Satu baris. Apa yang ia tulis?

Aku punya firasat aku tidak akan suka jawabannya. Dan firasat yang lebih buruk lagi bahwa ia benar.


Malam itu, di dapur apartemen Setiabudi yang ukurannya lebih kecil dari pantry kantor, aku berperang dengan rendang.

Ini percobaan ketiga. Percobaan pertama, dagingnya keras seperti sandal. Percobaan kedua, bumbunya pahit karena aku lupa menyangrai kelapa. Malam ini aku memutuskan tidak mau kalah lagi. Aku menyandarkan ponsel ke toples gula dan menelepon satu-satunya ahli yang kupercaya.

Wajah Mama memenuhi layar, terlalu dekat, seperti biasa. Di belakangnya terlihat dapur rumah kami di Surabaya, dengan panci-panci yang sudah menghitam karena dua puluh tahun dipakai masak rendang.

“Nduk! Wis mulai?”

“Udah, Ma. Dagingnya udah masuk. Terus bumbunya berapa banyak?”

“Secukupnya.”

Aku menarik napas. “Ma. Secukupnya itu berapa gram?”

“Lho, yo secukupnya! Pokoke sampe ambune pas!”

“Ambune pas itu gimana, Ma? Nggak ada satuannya.”

“Kowe iku auditor opo tukang masak?” Mama memukul udara dengan sendok kayu. “Masak itu pake perasaan, rek! Ndak pake kalkulator!”

“Aku nggak punya perasaan, Ma. Aku punya timbangan digital.”

“Lha iku masalahe!”

Oci, yang sedang lewat menuju kamar mandi dengan handuk di kepala, berhenti dan menonton dengan ekspresi orang yang menonton sinetron favoritnya. “Tante, bilang aja dua sendok makan.”

“Oci! Ojo diajari! Biar dia ngrasakno dewe!”

Satu jam kemudian, rendang ketiga selesai.

Warnanya cokelat tua, hampir hitam di beberapa bagian. Wanginya… wangi. Dengan catatan. Ada sesuatu yang gosong di dasar panci, dan aku tidak berani mengecek seberapa banyak.

Aku mencicipinya. Mengunyah. Mengunyah lagi.

Mama, yang masih di layar, menatapku dengan harap. “Piye?”

“Ma,” kataku dengan mulut penuh. “Aku rasa ini bukan rendang. Aku rasa ini arang yang punya mimpi.”

Mama tertawa sampai layarnya bergoyang. Oci tertawa dari kamar mandi.

Aku menatap panci itu lama. Lalu mengambil kotak bekal dari lemari.


Besok paginya, aku membawa kotak bekal itu ke pantry.

Arsa sedang membuat teh. Ia melirik kotak di tanganku dengan kecurigaan yang wajar.

“Pak Arsa,” kataku, membuka tutupnya. “Bapak mau nyobain?”

Ia menatap isinya. Gumpalan cokelat-kehitaman yang semalam kusebut rendang. Ia diam cukup lama untuk aku bisa menghitung sampai lima.

“Pass.”

“Pass nggak berlaku buat ini. Ini bukan pertanyaan harian. Ini tawaran.”

“Itu bukan di pasal mana pun.”

“Pasal enam.” Aku mengambil sendok, menyendok sepotong daging yang paling tidak gosong, dan mengangkatnya ke depan wajahnya. “Aaa.”

Arsa menatap sendok itu. Lalu menatapku.

“Mika.”

“Jujur ya, Pak. Bapak kan nggak bisa bohong.” Aku tidak menurunkan sendok. “Aaa.”

Ada satu momen, setengah detik, saat ia jelas menimbang semua pilihan hidupnya.

Lalu ia membuka mulut.

Aku menyuapkan rendang itu langsung dari sendokku. Ia mengunyah. Pelan. Sangat pelan. Rahangnya bergerak dengan ritme orang yang sedang mengunyah keputusan sulit. Telinganya mulai memerah, dan aku tidak tahu apakah karena aku menyuapinya atau karena rendangnya.

Aku menunggu, jantung berdebar dengan cara yang sangat tidak profesional.

Ia menelan.

“…Ada usahanya,” katanya.

Tidak ada cegukan.

Karena itu benar. Ada usahanya. Ada satu jam perang dengan Mama, ada timbangan digital yang tidak berguna, ada arang yang punya mimpi. Itu semua usaha. Ia tidak bilang enak. Ia tidak bilang tidak enak. Ia memilih kalimat yang benar, dan kalimat yang benar itu ternyata yang paling baik.

Aku tertawa. Tertawa sampai aku harus bersandar, dan yang paling dekat untuk disandari adalah lengan Arsa. Lengan bawahnya keras dan hangat di bawah kemeja yang digulung, dan ia tidak bergerak menjauh. Ia hanya berdiri di situ, menjadi sandaran, sementara aku menertawakan rendangku sendiri sampai mataku berair.

“Ada usahanya,” ulangku, masih tertawa. “Pak, itu kalimat paling sopan yang pernah saya dengar buat masakan yang gagal.”

“Itu kalimat yang benar.”

“Iya. Itu masalahnya.” Aku mengusap mataku dan akhirnya menegakkan badan. “Bapak terlalu jujur buat jadi kritikus kuliner.”

Arsa mengambil cangkir tehnya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal kaca. Ia meletakkannya di meja bar di depanku.

Di dalamnya ada sayur asem. Kuahnya jernih kemerahan, ada jagung manis, kacang panjang, labu siam, melinjo, dan potongan nangka muda. Wanginya asam, segar, dan membuat perutku langsung berbunyi cukup keras sampai aku malu.

Aku menatap kotak itu. Lalu menatapnya.

“Ini apa?”

“Sayur asem.”

“Saya tahu, Pak. Maksud saya, kenapa?”

“Saya kebanyakan masak.”

Aku menunggu. Satu detik. Dua detik.

Tidak ada cegukan.

Jadi itu benar. Ia memang kebanyakan masak. Tapi ada cara memasak kebanyakan yang tidak disengaja, dan ada cara memasak kebanyakan yang dimulai dengan memutuskan untuk memasak dua porsi sejak awal.

Aku tidak bertanya yang mana. Aku sudah memakai jatahku hari ini untuk rendang.

“Makasih, Pak,” kataku pelan.

Arsa mengangguk sekali, lalu keluar dari pantry. Di pintu ia berhenti.

“Mika.”

“Ya, Pak?”

“Rendangnya. Kurangi api di setengah jam terakhir.”

Lalu ia pergi.

Aku duduk di pantry dan makan sayur asem itu sampai tetes terakhir. Rasanya persis seperti masakan rumah, yang dimasak oleh seseorang yang tahu takaran tanpa timbangan dan tanpa kata secukupnya.

Di tengah suapan terakhir, Juned masuk mengisi kopi. Ia berhenti. Ia menatap kotak bekal kaca di tanganku dengan ekspresi detektif yang baru menemukan sidik jari.

“Mbak. Itu kotak bekal Pak Arsa.”

“Kok tahu?”

“Saya kenal tutupnya. Tutup biru, ada goresan di pojok.” Juned menunjuk dengan gelas kopinya, suaranya bergetar oleh rasa dikhianati. “Tiga tahun, Mbak. Tiga tahun saya minta sayur asem Pak Arsa. Tiap Senin. Nggak pernah dikasih. Katanya ‘pas porsinya’.”

Aku menelan kuah terakhir pelan-pelan. “Hari ini kebanyakan, katanya.”

Juned menatapku lama. Lalu menatap pintu pantry, ke arah meja Arsa. Lalu kembali menatapku.

“Saya mau ngecek sesuatu,” katanya, dan keluar tanpa mengisi kopinya.

Aku punya firasat Juned baru saja membuka kertas kerjanya sendiri.

Di KKC aku tidak mencatat apa-apa hari itu. Tidak ada cegukan untuk dicatat.

Tapi di aplikasi catatan ponselku, di file yang tidak ada hubungannya dengan audit, aku menulis satu baris:

Dia sengaja masak dua porsi.

Lalu, di bawahnya, setelah ragu cukup lama:

Aku juga sengaja bawa rendang cuma buat lihat dia nyobain.

Aku menghapus baris kedua. Lalu menulisnya lagi. Lalu menutup aplikasinya sebelum aku sempat menghapusnya lagi.