← Hik! Itu Bohong

Chapter One

Pria yang Cegukan di Saat Aneh

POV: Mika

Orang biasanya datang lebih awal di hari pertama kerja karena dua alasan: rajin, atau takut nyasar. Aku punya alasan ketiga. Aku ingin melihat kantor baruku sebelum kantor baruku melihatku.

Rencana itu gagal di detik pintu lift lantai 15 terbuka.

“Mbak Mika, ya? Yang mutasi dari Surabaya?”

Seorang pria muda berkemeja biru muda sudah berdiri di depan pintu kaca bertuliskan Wiratama & Partners dengan huruf perak yang terlalu mengilap untuk jam tujuh lewat lima belas. Ia memegang dua gelas kopi dan senyum yang terlalu lebar untuk orang yang belum sarapan.

“Iya. Kok tahu?”

“Saya Juned. Associate. Dan saya tahu semua hal di kantor ini sebelum hal itu terjadi.” Ia menyodorkan satu gelas kopi. “Ini kopi selamat datang. Sama paket orientasi.”

“Paket orientasi?”

“Gosip,” jelasnya, serius sekali, seolah sedang menyebutkan standar akuntansi. “Siapa naksir siapa, siapa yang jangan diajak rapat sebelum makan siang, printer mana yang suka makan kertas, dan kenapa Mbak jangan pernah ambil gorengan di meja HR.”

Aku tertawa. Juned berhenti bicara di tengah kalimat dan menatapku sedikit terlalu lama, lalu buru-buru menunduk ke gelas kopinya sendiri.

Aku sudah terbiasa dengan reaksi itu. Bukan sombong. Hanya data. Sejak SMA, orang sering lupa kalimatnya sendiri kalau aku tertawa terlalu dekat. Satpam di bawah tadi sampai salah tempel kartu akses dua kali. Mama bilang itu karena lesung pipi kiriku, “warisan Mama, rek, jaga baik-baik.” Oci, sahabatku, bilang itu karena aku tidak pernah sadar sedang menatap orang terlalu lama.

Aku sadar, kok. Aku cuma tidak berhenti.


Pukul delapan, kantor penuh. Seorang perempuan muda dengan poni rata dan tumbler bergambar kucing menghampiriku dengan mata berbinar.

“Kak Mika? Aku Tiara, junior associate. Kak, sumpah, Kakak cantik banget. Skincare-nya apa?”

“Tidur cukup.”

“Itu bohong, kan?”

“Iya.”

Tiara tertawa sampai tumblernya hampir jatuh. Aku langsung suka dia.

Lalu datang seorang pria paruh baya berperut sedikit buncit, kacamata di ujung hidung, dan suara yang sepertinya dirancang untuk rapat di ruangan tanpa mikrofon.

“Ini dia, Senior Associate kebanggaan kantor Surabaya!” Ia menjabat tanganku dengan dua tangan. “Saya Hendro, Audit Manager. Mbak tahu kenapa auditor nggak pernah tersesat?”

“Kenapa, Pak?”

“Karena selalu ada jejak audit!”

Juned dan Tiara tertawa dengan kekompakan orang yang sudah mendengar lelucon itu empat puluh kali. Aku ikut tertawa, karena jujur, aku suka atasan yang punya dad joke. Biasanya mereka tidak galak.

“Di tim saya, prinsipnya cuma satu,” lanjut Pak Hendro, mengacungkan telunjuk. “Tick and tie! Semua angka harus dicek, semua dokumen harus nyambung. Nah, untuk sehari-hari, kamu langsung di bawah supervisor kita.” Ia memutar badan dan memanggil ke arah meja paling ujung. “Sa! Arsa! Ini anak barumu!”

Pria di meja paling ujung tidak langsung menoleh. Ia sedang menulis sesuatu dengan pena merah, dan baru mengangkat kepala setelah menyelesaikan satu goresan kecil di kertas.

Lalu ia berdiri, dan aku harus sedikit mendongak.

Tinggi. Bahu lebar yang membuat kemeja putihnya kelihatan seperti baru keluar dari setrikaan tiga menit lalu. Rambut rapi tanpa satu helai pun yang membangkang. Alis tebal, rahang tegas, dan wajah yang… diam. Bukan dingin persisnya. Lebih seperti wajah orang yang sudah memutuskan untuk tidak menunjukkan apa pun sebelum ada bukti yang cukup.

Tampan. Dengan cara yang menyebalkan, karena ia jelas tidak peduli.

“Arsa,” katanya, menjabat tanganku sekali, singkat, kering, tepat. “Supervisor kamu.”

“Mikaela. Panggil Mika.”

“Mika.” Ia mengulang namaku seolah mencatatnya di kolom yang benar. Lalu ia melepaskan tanganku dan kembali duduk.

Begitu saja.

Tidak ada tatapan yang tertahan. Tidak ada kalimat yang tersendat. Ia melihat wajahku persis selama ia akan melihat rekening koran: cukup lama untuk memastikan semuanya ada, tidak lebih.

Juned mendekat dan berbisik, “Itu Pak Arsa. Nggak usah tersinggung. Dia begitu ke semua orang. Ke ibu kantin juga.”

“Ke ibu kantin juga?”

“Ibu kantin pernah ngasih dia tempe gratis. Dia bilang ‘terima kasih’ terus bayar tempenya.”

Aku menatap punggung Arsa yang sudah kembali membungkuk ke kertas kerjanya.

Satu-satunya orang di lantai ini yang tidak bereaksi apa-apa.

Oke, pikirku. Tantangan diterima.


Pekerjaan pertamaku adalah membaca kertas kerja interim audit sebuah perusahaan distribusi. Membosankan, tapi aku suka membosankan. Angka tidak pernah pura-pura.

Yang menarik justru tanda-tanda di pinggir kertas. Tick mark merah kecil di setiap angka yang sudah dicocokkan. Bukan coretan asal seperti punya senior-seniorku di Surabaya. Setiap tanda centang punya sudut yang sama, panjang yang sama, ketebalan yang sama. Seperti dicetak mesin.

Aku melirik ke meja ujung. Arsa sedang menulis, dan aku melihat tangannya. Tenang, presisi, tidak terburu-buru. Tangan orang yang belum pernah salah centang seumur hidupnya.

Menjelang pukul sebelas, aku menemukan satu referensi silang yang tidak ketemu. Aku membawa map ke mejanya.

“Pak, maaf. Saya ganggu, Pak?”

“Nggak.”

Lalu, satu atau dua detik kemudian, pelan tapi jelas:

Hik.

Arsa berdeham. Wajahnya tidak bergerak sedikit pun. Ia mengambil map dari tanganku seolah tidak ada yang terjadi.

Aku berdiri di situ, mengedip.

Cegukan. Tepat setelah ia bilang nggak. Padahal ia jelas sedang berkonsentrasi penuh pada sesuatu dan aku jelas sedang mengganggunya.

Kebetulan, kataku pada diri sendiri. Orang cegukan itu biasa.

Ia menjelaskan referensi silang itu dalam tiga kalimat yang sangat jelas, lalu menyerahkan map kembali. Saat itulah aku melihatnya. Ada noda tinta merah kecil di rahangnya, tepat di bawah telinga kiri. Mungkin dari pena yang ia gigit sambil berpikir. Garis merah tipis, seperti tick mark yang meleset dari kertas.

Aku tidak berpikir dua kali. Aku memang jarang berpikir dua kali untuk hal-hal seperti ini.

Aku mengulurkan tangan dan menghapus noda itu dengan ibu jariku.

Kulitnya hangat. Rahangnya keras di bawah jariku. Ia tidak mundur, tidak berkedip, tidak bertanya.

“Bukti audit Bapak tercecer,” kataku, menunjukkan ibu jariku yang sekarang bernoda merah.

Wajah Arsa tetap datar seperti kertas HVS.

Tapi telinganya merah.

Bukan merah muda samar. Merah. Dari ujung atas sampai ke daun telinga, seperti ada seseorang yang diam-diam menyalakan lampu di dalamnya.

“Terima kasih,” katanya. Suaranya sama sekali tidak berubah.

Aku kembali ke mejaku dengan senyum yang tidak bisa kutahan dan noda tinta merah di ibu jari yang tidak ingin kucuci.


Pukul tiga sore, aku ke pantry. Arsa ada di sana, berdiri di depan dispenser dengan cangkir berisi air panas dan kantong teh yang belum dicelup.

Aku mengambil dua sachet kopi dari rak. “Pak Arsa mau sekalian? Saya bikinin.”

Ia ragu satu detik. Lalu mengangguk.

Aku membuat dua gelas kopi sachet kantor, menyerahkan satu, dan menunggu. Arsa menyesapnya. Wajahnya tidak berubah.

“Gimana, Pak?”

“Kopinya enak.”

Hik.

Aku menatapnya. Ia menatap gelasnya.

Aku menyesap kopiku sendiri, dan aku harus berusaha sangat keras untuk tidak memuntahkannya kembali ke gelas. Rasanya seperti air rendaman kaus kaki yang diberi gula sebagai permintaan maaf.

“Enak, ya,” kataku pelan.

Arsa meminum kopi itu sampai habis. Tanpa ekspresi. Lalu mencuci gelasnya, meletakkannya di rak, dan pergi.

Di pintu pantry, cegukannya terdengar sekali lagi, sangat pelan, seperti ia baru saja kalah dalam pertarungan yang tidak kuketahui aturannya.


Yang ketiga terjadi saat aku hampir pulang.

“Mbak Mika, itu meja Mbak,” kata Juned pagi tadi, menunjuk meja di dekat jendela besar yang menghadap ke deretan gedung Kuningan. Meja terbaik di lantai ini. Cahaya bagus, colokan dua, dan tidak menghadap ke toilet.

“Kok saya dapat meja sebagus ini? Saya kan anak baru.”

Juned mengangkat bahu. “Tanya Pak Arsa. Kemarin masih ada printer di situ.”

Jadi sore itu, saat Arsa lewat membawa tumpukan map, aku bertanya.

“Pak, makasih ya mejanya. Kenapa saya dapat yang dekat jendela?”

Arsa berhenti. “Karena tempat itu kosong.”

Tidak ada cegukan.

Juned, yang entah sejak kapan berdiri di belakang Arsa, menyeletuk dengan suara tidak cukup pelan: “Kosong karena Bapak pindahin printernya sendiri jam tujuh pagi.”

Arsa menoleh ke Juned. Juned langsung menemukan sesuatu yang sangat menarik di layar ponselnya.

Arsa menoleh kembali padaku. “Tempat itu kosong,” ulangnya, seolah itu menjawab semuanya.

Dan secara teknis, itu memang benar.


Malamnya, di apartemen Setiabudi, Oci menemukanku duduk bersila di sofa dengan laptop terbuka dan ekspresi yang ia sebut “muka auditor nemu selisih”.

“Kenapa? Bosmu galak?”

“Nggak galak. Datar.”

“Terus?”

“Dia cegukan tiga kali hari ini.”

Oci menatapku. “Dan itu… menarik?”

“Dia cegukan setelah bilang aku nggak ganggu. Padahal aku ganggu. Dia cegukan setelah bilang kopi kantor enak. Padahal kopinya kayak air rendaman kaus kaki.”

“Mungkin dia cuma masuk angin.”

“Mungkin.” Aku menatap layar. “Tapi waktu dia bilang meja itu kosong, yang secara teknis benar, dia nggak cegukan.”

Oci duduk di sebelahku dan mengintip layar laptop. Aku sedang membuka spreadsheet kosong.

“Mika. Kamu mau bikin apa?”

Aku mengetik judul di sel paling atas, lalu menekan bold.

“Kertas kerja,” jawabku.

Di ibu jariku masih tersisa bayangan samar tinta merah. Dan entah kenapa, yang paling kuingat dari hari pertamaku bukan meja dekat jendela atau dad joke Pak Hendro, tapi warna telinga seorang pria yang wajahnya tidak bergerak sama sekali.

Besok, pikirku, aku akan cari tahu.