← Hik! Itu Bohong

Chapter Twenty Five

Detektor Baru

POV: Mika

Aku tertawa waktu ia memberitahuku.

Itu yang kuingat paling jelas dari malam itu. Warung tenda. Lampu bohlam kuning. Sambal di sudut bibirku yang baru kusadari waktu sampai di rumah. Arsa bilang aku bisa bohong sekarang, lalu bilang saya suka durian, dan tidak ada apa-apa, dan aku tertawa.

Aku bilang ya udah, nggak apa-apa.

Aku bilang kamu kan memang nggak suka bohong.

Semuanya benar. Aku masih percaya semuanya benar, saat aku masuk lift apartemen, saat aku mengucapkan selamat malam pada satpam, saat aku membuka pintu dan Oci menyapaku dari sofa dengan masker wajah berwarna kuning.

“Gimana hari pertama Mas Ganteng?”

“Baik,” kataku. “Cegukannya hilang.”

Oci menurunkan ponselnya. “Hilang?”

“Hilang. Dua puluh dua tahun, terus hilang gitu aja.”

“Terus?”

“Terus nggak apa-apa.” Aku melepas sepatu. “Bagus malah. Dia nggak perlu repot.”

Oci menatapku lama di balik maskernya. Aku berjalan ke kamar sebelum ia sempat bertanya apa-apa lagi.


Pukul dua belas, aku belum tidur.

Pukul satu, aku masih belum tidur.

Pukul satu lewat dua puluh, aku menyerah dan membuka laptop.

Aku tidak tahu kenapa aku membukanya. Aku tidak berencana menulis apa-apa. Tapi jari-jariku bergerak sendiri, membuka folder, membuka file, dan spreadsheet itu muncul di layar dengan judul tebal yang sudah lama tidak kulihat.

KKC – Kertas Kerja Cegukan.

Aku menggulir. Baris satu: ‘Nggak.’ (re: ganggu). Baris dua: ‘Kopinya enak.’ Baris tujuh: lift, ‘…Lift.’ Baris tiga puluh satu: ‘Nggak.’ — re: suka aku. Aku berhenti di sana sebentar. Lalu terus menggulir.

Martabak. Rapat jam tujuh. Abang bakso. Bukunya licin. Durian, dua kali. Cemburu, dua kali.

Baris terakhir. Baris paling bawah.

‘Aku nggak apa-apa. Kamu pulang aja.’ — 1 hik (lemah). Keterangan: Demam 37,8. Dia nggak mau aku pulang.

Aku menatap baris itu.

Lalu aku menatap baris kosong di bawahnya. Baris yang sekarang tidak akan pernah terisi lagi.

Aku tidak tahu berapa lama aku menatap baris kosong itu. Cukup lama sampai layar laptop meredup sendiri. Cukup lama sampai aku sadar tanganku dingin.

Aku menutup laptop.

Aku berbaring dan menatap langit-langit dan mengulang kalimat yang kukatakan padanya di warung tenda, pelan, ke kegelapan kamar.

“Kamu kan memang nggak suka bohong.”

Itu benar. Ia tidak suka bohong. Aku tahu itu. Aku sudah mengenalnya lima bulan. Aku sudah melihatnya memilih pass daripada kalimat manis, memilih ada usahanya daripada enak, memilih konflik kepentingan daripada pamer di depan Dion. Ia tidak suka bohong.

Tapi tidak suka bukan tidak bisa.

Dan aku baru menyadari, di kamar yang gelap pukul satu lewat empat puluh pagi, bahwa selama lima bulan ini aku tidak pernah benar-benar perlu memikirkan perbedaan antara keduanya.


Paginya, Arsa sudah menungguku di lobi apartemen.

Itu tidak biasa. Biasanya kami bertemu di kantor. Tapi pagi itu, saat aku keluar dari lift pukul tujuh lewat lima belas, ia sudah berdiri di depan pintu kaca lobi dengan kemeja biru muda dan dua kantong plastik.

“Pagi,” katanya.

“Pagi. Kok di sini?”

Ia mengangkat dua kantong itu. “Nasi uduk. Dari depan gang rumah. Yang kamu bilang enak waktu ke Rawamangun.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik, dengan wajah datar seperti biasa, telinga sedikit merah seperti biasa, berdiri tegak di lobi apartemenku pukul tujuh pagi dengan dua bungkus nasi uduk yang ia bawa dari Rawamangun. Satu jam perjalanan di jam sibuk.

Aku tersenyum.

Ia tersenyum balik. Sedikit. Senyum yang baru-baru ini mulai sering muncul, sejak kami pacaran, sejak ia belajar bahwa wajahnya boleh bergerak.

Dan untuk satu detik, sepersekian detik yang terasa sangat panjang, aku tidak yakin apa arti senyum itu.

Dulu aku selalu yakin. Dulu kalau ia tersenyum, aku tahu ia senang. Kalau ia bilang iya, aku tahu iya. Kalau ia bilang sesuatu yang manis, aku tahu itu benar, karena kalau tidak, aku akan mendengarnya.

Sekarang ia tersenyum, dan aku menatap senyum itu, dan sebagian kecil dari diriku, sebagian yang tidak kusukai, bertanya: itu beneran?

Aku langsung membenci diriku karena bertanya.

“Makasih,” kataku, mengambil satu kantong. Aku berjinjit dan mencium pipinya. “Kamu yang terbaik.”

“Nggak,” katanya.

Aku menunggu.

Tidak ada cegukan.

Ia hanya merendah. Seperti orang biasa. Seperti semua orang yang bilang ah, nggak juga waktu dipuji.

Aku tertawa, dan tawaku terdengar normal, dan ia tidak menyadari apa-apa.


Di lift kantor, pukul delapan kurang sepuluh, kami berdua saja.

Lantai 1. Lantai 2. Lantai 3.

Aku menatap pintu lift. Bayangan kami di dinding yang mengilap. Ia berdiri tegak di sudut, tas kerja di tangan kiri, seperti hari pertama aku memegang pergelangan tangannya dan menghitung nadinya sampai sepuluh.

Nadi.

Aku tidak berpikir. Aku memang jarang berpikir di saat-saat seperti ini.

Aku melangkah ke arahnya, melingkarkan tanganku di pinggangnya, dan menempelkan telingaku di dadanya.

Ia menegang sesaat. Lalu tangannya yang bebas melingkar di punggungku. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia sudah terbiasa aku memeluknya tiba-tiba di lift.

Di bawah telingaku, di balik kemeja biru muda, jantungnya berdetak.

Cepat. Keras. Seperti stock opname yang menghitung terus.

“Arsa,” kataku, masih dengan telinga di dadanya.

“Hm.”

“Kamu kangen aku? Sembilan hari kamu sakit, kita cuma ketemu di kamarmu.”

“Iya.”

Jantungnya tidak berubah. Masih cepat. Masih keras. Sama seperti sebelum aku bertanya.

Aku mendengarkan lebih lama. Menunggu sesuatu. Sebuah perubahan. Sebuah lonjakan. Sesuatu yang bisa kubaca.

Tidak ada. Hanya detak yang cepat dan keras dan konstan.

“Jantungmu cepat,” kataku.

“Hm.”

“Selalu cepat?”

“Kalau kamu nempel, iya.”

Aku mengangkat wajah dari dadanya. Menatapnya.

“Jantungmu selalu cepat,” kataku, mencoba tertawa. “Nggak bisa dipakai.”

“Dipakai buat apa?”

Aku diam satu detik terlalu lama.

“Buat detektor,” kataku. Ringan. Bercanda. Dengan senyum. “Detektor baru. Pengganti cegukan.”

Arsa menatapku.

“Itu karena kamu nempel,” katanya pelan. “Kalau kamu nempel, jantungku cepat. Bohong atau nggak bohong, sama aja. Nggak akan pernah bisa dipakai.”

Ia mengatakannya dengan wajah datar. Tapi sudut bibirnya terangkat. Ia sedang menggoda. Untuk pertama kalinya, Arsa sedang menggodaku balik.

Dan itu lucu. Itu manis. Aku seharusnya tertawa dan memukul lengannya dan menciumnya di lift sebelum pintunya terbuka.

Aku tertawa. Aku memukul lengannya. Aku mencium pipinya.

Tapi di dalam kepalaku, sebuah suara kecil yang dingin berkata: Kamu baru saja mencoba mengaudit jantungnya.

Ting. Lantai 15.

Pintu terbuka. Ia keluar lebih dulu. Aku mengikutinya, satu langkah di belakang, dan menatap punggungnya, dan merasakan sesuatu yang berat dan tidak nyaman mengendap di dasar perutku.

Aku baru saja menempelkan telinga di dada pacarku untuk mencari tahu apakah ia berbohong saat bilang kangen.

Siapa yang melakukan itu?


Malam itu, Oci duduk bersila di lantai kamarku dengan setumpuk kartu tarot yang ia beli dari toko daring seharga empat puluh sembilan ribu rupiah.

“Aku baca, ya,” katanya. “Biar kamu tenang.”

“Aku tenang.”

“Kamu dari tadi nyuci piring yang sama tiga kali.”

Aku tidak membantah. Aku duduk di kasur dan memeluk bantal.

Oci mengocok kartunya dengan gerakan dramatis yang ia pelajari dari video TikTok. Lalu membuka tiga kartu.

Kartu pertama. Gambar seorang pria di atas kuda dengan pedang.

“Ini Ksatria Pedang,” kata Oci. “Artinya ada pria yang berani dan jujur di hidupmu.”

“Oke.”

Kartu kedua. Gambar dua orang berpegangan tangan di bawah malaikat.

“Ini The Lovers. Artinya cinta sejati.”

“Oke.”

Kartu ketiga. Oci membaliknya. Menatapnya. Mengerutkan kening. Membaliknya lagi.

“Ini… apa ini?”

Aku mencondongkan badan. Kartu itu bergambar seorang wanita memegang dua cangkir. Tapi di bawah gambar, tulisannya bukan nama kartu tarot. Tulisannya:

KEMBALIAN ANDA: Rp 0. TERIMA KASIH TELAH BERBELANJA.

Oci menatap kartu itu. Aku menatap kartu itu.

Oci membalik kartu-kartu lain di tumpukan. Satu bergambar matahari dengan tulisan NOMOR ANTREAN 47. Satu bergambar menara terbakar dengan tulisan PROMO BELI 2 GRATIS 1.

“Ini,” kata Oci perlahan, “salah cetak.”

Aku tertawa. Pertama kalinya hari itu aku tertawa tanpa harus memaksa. Aku tertawa sampai menjatuhkan bantal, dan Oci ikut tertawa, dan kami berdua tertawa di lantai kamar dengan kartu-kartu tarot palsu berserakan di sekeliling kami.

Lalu Oci berhenti tertawa. Ia mengumpulkan kartunya, meletakkannya di samping, dan menatapku.

“Mik. Serius. Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa.”

“Kamu bisa bohong ke dia sekarang, terus dia juga bisa bohong ke kamu. Sama aja kayak semua pasangan lain di dunia.” Oci memiringkan kepala. “Itu bukan masalah, kan?”

“Bukan.”

“Terus kenapa kamu kayak gini?”

Aku tidak menjawab.

Oci menatapku lama. Lalu, dengan nada orang yang baru mendapat ide brilian: “Cek telinganya.”

“Apa?”

“Telinganya. Kamu bilang dulu telinganya merah tiap kamu deket. Itu kan juga detektor. Cek, masih merah nggak.”

Aku memikirkan pagi tadi. Lobi. Nasi uduk. Kamu yang terbaik. Nggak. Telinganya merah. Lift. Itu karena kamu nempel. Telinganya merah sampai leher.

“Masih,” kataku.

“Tuh, kan!” Oci menepuk lututku. “Masih ada detektornya!”

Aku tersenyum. Mengangguk.

Tapi aku auditor. Dan auditor tahu bahwa bukti harus relevan dengan asersi yang diuji.

Telinga merah membuktikan ia malu. Ia salah tingkah. Ia berdebar.

Telinga merah tidak membuktikan ia jujur.

Seseorang bisa berdebar dan berbohong pada saat yang sama. Dion selalu berdebar. Dion selalu tersenyum. Dion selalu terlihat sangat tulus.

Aku tidak mengatakan itu pada Oci. Aku hanya tersenyum dan berkata, “Iya. Kamu benar.”


Sebelum tidur, Oci berdiri di pintu kamarku.

“Mik.”

“Hm?”

“Kamu beneran nggak apa-apa?”

“Aku fine, kok,” kataku. Tersenyum. Dengan suara yang sama persis seperti setiap kali aku mengatakan hal yang benar.

Oci mengangguk dan menutup pintu.

Aku berbaring dalam gelap.

Aku fine, kok.

Aku tidak fine. Aku tahu aku tidak fine. Dan aku baru saja mengatakannya dengan lancar, tanpa ragu, tanpa jeda, tanpa apa pun yang bisa dideteksi oleh siapa pun.

Semudah bernapas.

Aku menatap langit-langit dan merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman merayap naik di dadaku.

Selama lima bulan, aku menuntut pria itu jujur setiap hari. Satu pertanyaan sehari. Dengan cegukan sebagai penjamin. Aku tidak pernah perlu percaya padanya, karena tubuhnya sendiri yang memberitahuku kebenaran.

Dan selama lima bulan itu, aku sendiri berbohong padanya entah berapa kali. Kecil-kecil. Manis-manis. Empat puluh tujuh jawaban yang bukan jawaban. Ia mencatat semuanya di buku hitam. Ia tidak pernah punya detektor untukku.

Ia hanya… percaya.

Aku menarik selimut sampai ke dagu.

Di ponselku, satu pesan masuk. Dari Arsa.

Selamat tidur. Besok aku bawa nasi uduk lagi. Yang tadi kamu cuma makan setengah.

Ia memperhatikan aku hanya makan setengah. Tentu saja ia memperhatikan. Ia selalu memperhatikan.

Aku menatap pesan itu lama. Teks. Saluran di mana ia selalu bisa berbohong, dan selalu memilih tidak.

Aku tahu itu.

Aku tahu ia tidak akan berbohong.

Aku hanya tidak bisa lagi mendengar bahwa ia tidak berbohong.

Dan aku tidak tahu, sampai malam itu, betapa banyak dari diriku yang selama ini bergantung pada suara itu.