Chapter Ten
Kamu Nggak Pernah Jawab
POV: Arsa
Juned menghampiri mejaku hari Senin pagi dengan wajah orang yang akan mengaku dosa.
“Pak Arsa.”
“Ya.”
“Soal malam itu. Di pantry.” Ia menelan ludah. “Saya mau bilang, saya nggak lihat apa-apa. Saya cuma cari charger. Charger-nya ketemu di toilet. Saya nggak tahu kenapa ada di toilet. Itu nggak penting. Yang penting, saya nggak lihat apa-apa.”
“Saya tahu.”
Juned mengangguk lega. Lalu berhenti mengangguk. Lalu menyipitkan mata.
“Bapak tahu saya nggak lihat apa-apa,” katanya pelan, “atau Bapak tahu saya bohong?”
Aku menatap layar. “Pass.”
Juned mundur dua langkah, seperti di pantry waktu itu, dan kembali ke mejanya. Tapi aku melihatnya mengeluarkan buku catatan kecil dari saku dan menulis sesuatu. Juned tidak pernah menulis apa pun. Juned bahkan tidak menulis notulen rapat.
Temuan: jumlah orang di lantai 15 yang memiliki catatan tentang aku bertambah menjadi tiga. Mika, Tiara, Juned. Tren: naik.
Seminggu setelah voice note itu, tidak ada yang berubah, dan semuanya berubah.
Mika tetap memakai jatah pertanyaannya setiap hari. Tapi pertanyaannya bergeser. Lebih sedikit soal kopi dan rapat jam tujuh, lebih banyak soal hal-hal yang membuatku harus memilih antara pass dan kebenaran.
“Kamu suka aku pakai baju warna apa?”
Pass.
“Kamu pernah sengaja lewat mejaku padahal nggak perlu?”
Pass.
“Kalau aku pindah lagi ke Surabaya, kamu sedih?”
Yang itu aku tidak bisa bilang pass. Aku hanya menatapnya, dan ia menatapku balik, dan setelah lima detik ia tersenyum dan bilang oke, nggak usah dijawab, dan pergi.
Ia tetap menggoda. Ia mencolek lenganku di rapat. Ia mencuri pena keempat dan kelima. Ia menyuapiku sepotong kue lapis yang dibawa Tiara di depan seluruh tim, dan Pak Hendro bersiul sangat panjang.
Tapi setiap kali aku memakai jatahku, ia mengelak.
Kenapa kamu nggak pernah pakai gula kalau malam? — “Biar manisnya dari kamu aja.” Ia mengedip. Satu ruangan mendengar. Juned tersedak kopi.
Kamu kangen Surabaya? — “Kangen rawon. Nanti aku traktir kamu rawon. Eh, kamu suka rawon?”
Kenapa kamu putus sama pacarmu yang terakhir? Aku menanyakan itu hari Jumat, setelah Tiara tanpa sengaja menyebut “mantan Kak Mika yang di Surabaya” di makan siang. — Mika tertawa dan bilang, “Siapa bilang aku pernah pacaran? Aku nunggu yang nggak bisa bohong.”
Semuanya manis. Semuanya membuat telingaku panas. Semuanya bukan jawaban.
Daftar di buku hitamku sekarang punya sembilan baris.
Kamis malam, kami lembur lagi. Kali ini bukan karena laporan, tapi karena data dari klien terlambat datang dan Pak Hendro tidak mau kami pulang sebelum memastikan semuanya lengkap.
Pukul sembilan malam, data akhirnya masuk. Kami memeriksanya sampai pukul sepuluh. Lalu, tanpa ada yang mengajak, kami berdua berjalan ke pantry.
Pantry yang sama. Lampu kuning yang sama. Kulkas dengan dengung yang sama. Toples OBAT JUJUR sekarang tinggal setengah.
Aku mengambil dua cangkir. Mika bersandar di meja bar dengan tangan terlipat, menatap lantai. Tidak ada senyum iseng. Tidak ada rambut yang sengaja dijatuhkan ke satu bahu.
“Pak Arsa,” katanya, lalu menggeleng. “Arsa.”
Aku menoleh. Itu pertama kalinya ia memanggil namaku tanpa Pak.
“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya. “Bukan pertanyaan. Pernyataan.”
Aku meletakkan cangkir.
“Juned mulai nyatet-nyatet. Tiara udah punya grup taruhan. Pak Hendro siul-siul tiap aku lewat mejamu.” Ia menarik napas. “Aku nggak mau kamu repot. Kamu supervisorku. Kalau orang mulai ngomong, kamu yang kena.”
“Terus?”
“Jadi…” Ia mengangkat wajah, dan senyumnya kembali, tapi senyum yang dipaksakan, senyum yang lebih tipis dari biasanya. “Anggap aja yang di pantry waktu itu nggak ada. Yang voice note juga. Kita tetap kayak biasa. Aku tetap tanya-tanya, kamu tetap pass-pass. Nggak ada yang berubah.”
Aku menatapnya.
Sembilan baris di buku hitam. Sembilan jawaban yang bukan jawaban. Dan sekarang ini: anggap aja nggak ada.
Seumur hidup aku memilih diam. Dua puluh dua tahun aku memilih kalimat yang aman. Aku tidak pernah bicara lebih dulu, tidak pernah mengatakan hal penting tanpa ditanya, karena setiap kata yang kuucapkan tidak bisa ditarik kembali.
Tapi malam itu, entah kenapa, aku tidak mau diam.
“Kamu bisa bilang begitu,” kataku pelan.
Mika berkedip.
“Kamu bisa bilang ‘anggap aja nggak ada’. Kamu bisa bilang ‘nggak ada yang berubah’. Kamu bisa bilang apa aja.” Suaraku tetap datar, tapi aku bisa mendengarnya bergetar sedikit di bawah permukaan. “Kamu bisa bohong. Aku nggak.”
Ia membuka mulut. Menutupnya.
Aku tidak tahu kapan aku berganti dari saya menjadi aku. Rasanya tidak seperti keputusan. Rasanya seperti seseorang membuka jendela di ruangan yang sudah terlalu lama tertutup.
“Aku nggak bisa anggap nggak ada,” lanjutku. “Kalau kamu tanya besok, aku masih suka kamu. Kalau kamu tanya lusa, aku masih. Kalau aku coba bilang nggak, kamu tahu sendiri apa yang terjadi.”
Mika menatapku. Matanya membesar sedikit. Pipinya mulai memerah, pelan, dari tulang pipi ke arah telinga.
“Tapi itu bukan masalahnya,” kataku.
“…Terus masalahnya apa?”
Aku menarik napas.
“Kamu selalu nanya, Mika.” Aku menatapnya langsung. “Kamu nggak pernah jawab.”
Hening.
Mika menatapku seperti seseorang yang baru menemukan selisih di kertas kerjanya sendiri, selisih yang sudah ada sejak lama dan tidak pernah ia lihat.
“Aku jawab, kok,” katanya pelan.
“Kenapa kamu pindah ke Jakarta?”
“Nyari atasan yang—”
“Kenapa kamu nggak pakai gula kalau malam?”
“Biar manisnya—”
“Kamu sendiri gimana?” Aku tidak menaikkan suara. Aku hanya tidak berhenti. “Di mobil. Waktu macet. Kamu pegang tanganku empat belas kilometer. Aku tanya kamu sendiri gimana. Kamu jawab bakso.”
Mika menunduk.
“Sembilan,” kataku. “Aku nyatet. Sembilan pertanyaan. Nggak ada satu pun yang kamu jawab beneran.”
“Kamu nyatet?” Suaranya kecil.
“Aku nyatet semuanya.” Aku hampir tersenyum. “Kamu bikin spreadsheet cegukanku. Aku bikin daftar jawabanmu yang kabur. Kita sama-sama auditor.”
Mika tertawa. Pendek. Basah. Ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
“Aku nggak minta kamu jawab sekarang,” kataku. “Aku cuma nggak mau kamu bilang ‘anggap aja nggak ada’. Karena itu nggak adil. Aku nggak bisa pura-pura. Kamu bisa.”
Ia diam lama.
Lalu ia mengulurkan tangan ke rak, ke kotak sachet teh, pada saat yang sama aku mengulurkan tanganku untuk mengambilkannya untuknya.
Jari-jari kami bertemu di sachet teh yang sama.
Biasanya, di saat seperti ini, salah satu dari kami akan menarik tangan. Biasanya aku. Aku sudah menarik tanganku dari banyak hal selama dua puluh dua tahun.
Aku tidak menarik tanganku.
Mika juga tidak.
Sachet teh itu terjepit di antara jari-jari kami, kertasnya berkerut. Lalu Mika melepaskan sachet itu, membiarkannya jatuh ke meja bar, dan jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku.
Pelan. Satu per satu. Bukan seperti di tuas persneling, yang terburu-buru dan iseng. Kali ini hati-hati. Seperti seseorang yang meletakkan sesuatu yang rapuh.
Tangannya bertaut dengan tanganku. Penuh. Telapak menempel telapak.
Aku menatap tangan kami. Lalu menatapnya.
Mika tidak bicara. Ia mengangkat tangan kami yang bertaut, perlahan, dan menempelkan punggung tanganku ke pipinya.
Pipinya panas. Lembut. Ia memejamkan mata sebentar, satu detik, dua detik, dengan wajah yang belum pernah kulihat: tanpa senyum, tanpa godaan, tanpa perisai. Hanya Mika.
Lalu ia membuka mata dan menatapku.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak aku juga. Tidak aku suka kamu. Mulutnya tetap tertutup.
Tapi tangannya menjawab.
Dan untuk malam itu, aku memutuskan, itu cukup. Itu bukan keyakinan mutlak. Tapi itu bukti. Bukti kecil, hangat, di punggung tanganku.
Temuan: pegangan tangan pertama. Pukul 22.17. Pantry lantai 15. Saksi: tidak ada.
Pintu pantry terbuka.
Pak Hendro berdiri di ambang pintu dengan jaket di satu tangan dan kunci mobil di tangan lain. Ia jelas sedang dalam perjalanan pulang dan mampir untuk mengambil sesuatu dari kulkas.
Ia berhenti.
Ia menatap kami. Menatap tangan kami yang bertaut di depan pipi Mika. Menatap sachet teh yang tergeletak di meja bar dengan kertas yang berkerut.
Pak Hendro tidak berteriak. Pak Hendro tidak bersiul. Pak Hendro hanya mengangkat alis, sangat tinggi, sampai hampir menyentuh garis rambutnya yang mulai mundur.
“Tick and tie?” tanyanya.
Lalu, tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi. Tanpa mengambil apa pun dari kulkas.
Pintu tertutup.
Dari koridor, samar, terdengar suaranya berbicara di telepon. “Halo, Ma? Iya, Papa pulang sekarang. Ma, inget taruhan yang Papa bilang? Papa kayaknya kalah. Februari kelamaan.”
Mika menurunkan tangan kami dari pipinya. Ia menatapku. Lalu menatap pintu. Lalu menatapku lagi.
Dan kemudian kami berdua tertawa. Tertawa sampai Mika harus bersandar di bahuku, sampai aku harus memegang tepi meja bar supaya tidak ikut jatuh, sampai dengung kulkas tenggelam oleh suara kami.
Tangannya tidak lepas dari tanganku sepanjang tawa itu.
Bahkan saat kami berjalan ke lift. Bahkan saat lift turun dari lantai 15 ke lobi. Ia baru melepaskannya di depan pintu putar gedung, pelan, jari demi jari, seperti tidak rela.
“Sampai besok, Arsa.”
“Sampai besok.”
Ia berjalan ke taksi yang menunggu. Di pintu taksi, ia berbalik dan melambai.
Aku melambai balik. Di lobi kosong, pukul sepuluh lewat tiga puluh malam, dengan satpam yang menatapku seperti menatap pria yang baru menang undian.
Malam itu aku menulis baris kesepuluh di buku hitam.
10. Apa artinya ini? — Dijawab: tangan di pipi.
Aku menatap baris itu lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku memulai daftar itu, aku memberi tick mark kecil di sebelahnya.
Bukan jawaban penuh. Belum.
Tapi cukup untuk dicentang.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab reading
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus