Chapter Twenty Nine
Keasinan
POV: Mika
Itu hari paling bahagia yang kurasakan dalam tiga minggu.
Aku ingin mengingatnya seperti itu. Aku ingin mengingat Geng Ungu dengan kaus seragam mereka, Bu Ratmi yang split di ruang tamu, Bu Wati yang bilang rendangku punya pendirian. Aku ingin mengingat cara Eyang menatapku waktu aku membawa panci itu masuk, dan cara Arsa menghabiskan dua piring, dan cara aku menyandarkan kepalaku di bahunya dan bilang Arsa nggak bohong di depan delapan nenek.
Aku ingin mengingat bahwa untuk satu siang yang hangat di hari Minggu, aku memutuskan untuk percaya tanpa mendengarkan.
Dan aku ingin mengingat bahwa rasanya ringan. Seperti meletakkan tas berat yang sudah terlalu lama kubawa.
Pukul lima sore, Geng Ungu sudah pulang. Arsa sedang mencuci panci di dapur. Eyang duduk di kursi goyang di teras dengan secangkir teh. Aku dan Ninis duduk di lantai ruang tengah, membereskan sisa piring dan menonton ulang video Bu Ratmi split di ponsel Ninis.
“Bu Ratmi itu delapan puluh dua, Mbak,” kata Ninis, terkagum-kagum. “Delapan puluh dua! Aku dua puluh tiga nggak bisa nyentuh jari kaki.”
“Kamu harus ikut senam Selasa.”
“Mbak juga diajak!”
“Aku mau ikut.”
Ninis tertawa. Lalu ia melihat panci-panci kecil di meja. Sisa makanan. Ia mengambil sepotong perkedel. Lalu sepotong ayam kremes. Lalu, tanpa berpikir, sepotong kecil rendangku yang tersisa di mangkuk saji.
Ia memasukkannya ke mulut.
Mengunyah.
Wajahnya berubah.
Bukan perubahan kecil. Seluruh wajahnya mengerut, matanya menyipit, hidungnya berkerut, seperti seseorang yang baru saja menggigit lemon yang dicelupkan ke dalam garam.
“Ya Allah,” katanya dengan mulut penuh. Ia meraih gelas air di meja. “Ya Allah, Mbak, ini kok—”
Ia menelan. Minum. Menatap mangkuk rendang dengan mata berair.
“Mas kok bilang enak?” katanya. Polos. Bingung. Dengan suara keras yang sama seperti saat ia berteriak pass artinya iya ke satu RT. “Ini asin banget lho—”
Ia berhenti.
Di tengah kalimat. Seolah seseorang menekan tombol jeda.
Matanya membesar. Ia menatapku. Lalu menatap mangkuk rendang. Lalu menatap ke arah dapur, di mana suara air dan spons terdengar berhenti.
Lalu ke arah teras.
Eyang sudah berdiri dari kursi goyangnya. Eyang sudah setengah jalan ke ruang tengah, satu tangan terulur ke arah Ninis, seolah ingin menyikutnya. Tapi Eyang tujuh puluh tujuh tahun dan Eyang berjalan pelan, dan kalimat Ninis sudah keluar.
Eyang berhenti di ambang pintu. Tangannya masih terulur. Terlambat.
Ruang tengah sangat sunyi.
Dari dapur, tidak ada suara air lagi. Tidak ada suara spons.
Ninis menatapku dengan wajah yang perlahan memucat. “Mbak, maksudku… maksudku bukan… ini cuma, mungkin lidahku…”
Aku tertawa.
Itu yang kulakukan. Itu yang selalu kulakukan. Aku tertawa, keras, ringan, seperti seseorang yang baru mendengar lelucon paling lucu.
“Ya ampun, Nis!” kataku, masih tertawa. “Beneran? Keasinan?”
“Mbak—”
Aku mengambil sepotong rendang dari mangkuk. Memasukkannya ke mulutku.
Garam.
Garam yang begitu banyak sampai lidahku terasa terbakar. Daging yang begitu keras sampai rahangku sakit. Aku tidak mencicipinya tadi siang. Aku terlalu gugup. Aku mencicipi bumbunya saja tadi pagi di apartemen, sebelum aku menambah garam lagi untuk menutupi rasa gosong yang muncul saat aku lupa mengecilkan api di setengah jam terakhir.
Kurangi api di setengah jam terakhir.
Arsa yang bilang itu. Berbulan-bulan lalu. Di pantry. Setelah rendang ketiga.
Aku mengunyah. Menelan. Tersenyum.
“Iya ya,” kataku. “Keasinan banget. Ya ampun. Kok tadi nggak ada yang bilang?”
Aku tertawa lagi.
Tidak ada yang ikut tertawa.
Eyang masih berdiri di ambang pintu. Ninis masih duduk di lantai, wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. Dan di pintu dapur, Arsa berdiri dengan tangan basah dan spons yang masih ia pegang, menatapku.
Wajahnya datar. Seperti biasa.
Tapi aku sudah enam bulan mengenalnya. Aku tahu wajah itu. Itu bukan wajah datar biasa. Itu wajah seseorang yang sedang menahan sesuatu dengan seluruh tenaganya.
Aku tersenyum padanya.
“Nggak apa-apa,” kataku. “Lucu, kok.”
Aku pamit pukul setengah enam.
Aku mencium tangan Eyang. Eyang menggenggam tanganku lebih lama dari biasanya, menatapku dengan mata yang ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak mengatakannya. Aku memeluk Ninis, yang memelukku balik terlalu erat dan berbisik maaf, Mbak, maaf di bahuku berkali-kali.
“Nggak apa-apa, Nis,” kataku. “Beneran.”
Aku bisa bohong. Aku selalu bisa bohong.
Arsa mengantarku. Seperti biasa.
Di mobil, aku duduk di kursi penumpang dengan panci rendang yang sudah bersih di pangkuanku. Bersih sekali. Mengilap. Tidak ada sedikit pun bekas gosong di dasarnya. Ia pasti menggosoknya lama.
Ia menyetir. Aku menatap ke luar jendela.
Kami tidak bicara.
Rawamangun. Pramuka. Matraman. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Langit sore berubah jingga, lalu ungu, lalu kelabu.
Aku tidak menangis. Aku tidak marah. Aku tidak merasakan apa-apa, sebenarnya, untuk dua puluh menit pertama. Hanya kosong. Seperti kardus yang diangkat dan ternyata ringan.
Lalu, di lampu merah Manggarai, aku mulai berpikir.
Enak.
Ia bilang enak. Ia menatap mataku dan bilang enak. Dua kali. Beneran. Ia menghabiskan dua piring. Ia membiarkanku menyuapinya. Ia tersenyum.
Dan tidak ada apa-apa.
Tidak ada satu detik, dua detik, suara. Tidak ada telinga yang lebih merah dari biasanya. Tidak ada jantung yang berdetak berbeda. Tidak ada apa pun yang bisa memberitahuku.
Ia berbohong padaku, dengan wajah yang sama persis seperti saat ia bilang kamu cantik. Seperti saat ia bilang aku sayang kamu. Seperti saat ia bilang kangen.
Dan aku tidak bisa membedakannya.
Di Jalan Sudirman, aku bicara.
“Arsa.”
“Hm.”
Suaraku tenang. Terlalu tenang. Seperti suara orang yang sedang membacakan temuan audit yang tidak ingin ia sampaikan.
“Kamu sayang aku?”
Ia menoleh padaku. Sepersekian detik. Lalu kembali ke jalan.
“Iya,” katanya.
Langsung. Tanpa pass. Tanpa ragu. Tanpa jeda.
Aku menatap profil wajahnya, diterangi lampu jalan yang lewat satu per satu. Rahangnya yang tegas. Telinganya yang sedikit merah. Bibirnya yang baru saja mengucapkan iya.
Aku menunggu.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Tentu saja tidak ada apa-apa.
“Aku nggak tahu,” kataku pelan, “itu benar atau nggak.”
Arsa memarkir mobil di bahu jalan. Di depan sebuah gedung perkantoran yang sudah gelap. Ia mematikan mesin.
Mobil sunyi.
Aku menatap panci di pangkuanku. Mengilap. Bersih. Tanganku memegang pegangannya erat-erat.
Dan kemudian, tanpa izin, tanpa aba-aba, mataku basah.
Aku tidak menangis keras. Aku tidak terisak. Air mata hanya keluar, satu, lalu satu lagi, jatuh ke tutup panci baja yang mengilap dan meninggalkan bekas bulat kecil.
“Bukan karena rendangnya,” kataku. Suaraku bergetar. “Aku nggak peduli rendangnya keasinan. Aku tahu aku nggak bisa masak. Aku tahu itu mungkin nggak enak.”
Arsa tidak bicara. Ia menatapku.
“Aku nggak marah kamu bohong,” lanjutku. Air mata terus jatuh. Aku tidak menghapusnya. “Aku ngerti kenapa. Kamu nggak mau aku sedih. Kamu baik. Kamu selalu baik.”
Aku menarik napas. Napas yang bergetar.
“Tapi sekarang,” bisikku, “tiap kali kamu bilang sesuatu, aku nggak tahu. Kamu bilang aku cantik, aku nggak tahu. Kamu bilang kangen, aku nggak tahu. Kamu bilang sayang…”
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
“Dulu aku nggak perlu percaya sama kamu,” kataku. “Aku cuma perlu dengerin. Sekarang aku harus percaya. Dan aku nggak tahu caranya.”
Aku menutup wajahku dengan satu tangan.
“Aku nggak takut kamu bohong, Arsa. Aku takut aku nggak akan pernah bisa percaya lagi sama apa pun yang kamu bilang. Dan itu bukan salah kamu. Itu salahku.”
Aku mendengar bunyi klik. Sabuk pengamannya dilepas.
Lalu tangannya. Melewati konsol tengah. Melingkar di bahuku. Menarikku ke arahnya, pelan, hati-hati, dengan panci masih di pangkuanku.
Ia memelukku. Melewati konsol, dengan posisi yang canggung, dengan rusuknya pasti tertekan seperti malam kaca berembun. Tangannya di punggungku. Dagunya di puncak kepalaku.
Ia tidak bicara. Ia tidak bilang aku nggak bohong. Ia tidak bilang percaya sama aku. Ia tidak bilang apa pun.
Karena apa pun yang ia katakan sekarang, aku tidak akan bisa membedakannya.
Dan ia tahu itu.
Aku membiarkannya memelukku.
Aku tidak memeluknya balik.
Tanganku tetap di pegangan panci. Aku ingin mengangkatnya. Aku ingin melingkarkan tanganku di punggungnya seperti di lobi apartemen, sebelas menit, seperti di ruang arsip, empat menit dua puluh detik. Aku ingin menempelkan wajahku di dadanya.
Tapi aku takut, kalau aku menempelkan wajahku di dadanya, aku akan mulai mendengarkan lagi.
Jadi aku diam. Membiarkannya memelukku dengan tangan yang tidak membalas, di mobil yang diparkir di depan gedung yang gelap, dengan air mata yang jatuh ke kemejanya dan ke tutup panci yang mengilap.
Ia mengantarku sampai lobi. Tidak masuk. Berdiri di depan pintu kaca.
“Mika,” katanya.
Aku berbalik.
Ia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang sama seperti malam ia bilang pass dua kali dan aku yang memutuskan untuk kami. Sesuatu yang terkunci di belakang lidahnya.
Lalu ia menutup mulutnya.
“Selamat malam,” katanya.
“Selamat malam.”
Aku masuk lift. Pintu tertutup.
Aku tidak menekan tombol lantai sembilan. Aku berdiri di lift yang diam di lantai dasar, memeluk panci yang mengilap, dan menangis tanpa suara sampai seseorang di lantai lima memanggil lift dan pintunya terbuka dan aku harus pura-pura sedang membetulkan maskara.
Malam itu, Oci tidak bertanya apa-apa. Ia hanya membuatkanku teh, duduk di sebelahku di sofa, dan membiarkanku menyandarkan kepala di bahunya.
Pukul sebelas, ponselku bergetar.
Pesan dari Arsa.
Maaf.
Satu kata. Teks.
Aku menatapnya.
Aku tahu itu tulus. Aku tahu Arsa tidak akan mengirim kata maaf kalau ia tidak bersungguh-sungguh. Aku tahu, aku tahu, ia tidak berbohong tentang ini.
Tapi aku juga tahu tadi siang ia bilang enak.
Dan aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membedakan dua hal itu.
Aku tidak membalas.
Aku memeluk lututku di sofa, di sebelah Oci yang tertidur dengan masker wajah setengah lepas, dan menatap kata maaf di layar ponselku sampai layarnya mati.
Dan di kegelapan itu, aku akhirnya mengerti sesuatu yang tidak ingin kumengerti.
Selama enam bulan, aku tidak pernah benar-benar percaya pada Arsa.
Aku hanya percaya pada suara itu.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan reading
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus