← Hik! Itu Bohong

Chapter Twenty Eight

Enak

POV: Arsa

Eyang Uti berulang tahun ke-77 di hari Minggu ketiga bulan April, dan Mika memutuskan untuk memasak rendang.

“Percobaan kesembilan,” katanya di telepon hari Jumat malam. Suaranya, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, terdengar benar-benar bersemangat. “Aku udah latihan tiap malam sama Mama. Video call. Mama bilang yang terakhir lumayan, rek. Mama nggak pernah bilang lumayan.”

“Kamu nggak perlu masak. Eyang nggak minta apa-apa.”

“Aku mau.” Jeda. “Aku mau kasih sesuatu buat Eyang. Eyang udah baik banget sama aku.”

Aku mendengar sesuatu di suaranya. Bukan keraguan. Sesuatu yang lain. Seperti seseorang yang sudah dua minggu tidak yakin harus berdiri di mana, dan akhirnya menemukan satu tempat yang ia tahu pasti.

“Oke,” kataku.

“Kamu jangan bilang Eyang. Kejutan.”

“Oke.”

“Arsa.”

“Hm.”

“Kamu… seneng aku masak?”

Aku menatap langit-langit kamarku. Ia bertanya pelan, hati-hati, seperti seseorang yang mengangkat tutup kardus untuk melihat apakah isinya masih ada.

“Iya,” kataku.

Jeda. Lama. Aku bisa mendengar napasnya di telepon. Aku tahu ia sedang menunggu sesuatu. Satu detik. Dua detik. Suara yang tidak akan datang.

“Oke,” katanya akhirnya. Ringan. “Sampai Minggu.”


Minggu siang, rumah Rawamangun penuh.

Eyang mengundang teman-teman senam lansianya. Delapan nenek berusia antara enam puluh delapan sampai delapan puluh dua tahun, semuanya memakai kaus seragam ungu bertuliskan SENAM SEHAT RW 04 — JUARA 1 TINGKAT KECAMATAN, semuanya datang membawa makanan, semuanya bicara pada saat yang sama.

Ninis menyebut mereka “Geng Ungu”. Mereka menyebut Ninis “si cucu yang suka rekam-rekam”.

Mika datang pukul sebelas, membawa panci besar yang ia pegang dengan dua tangan seperti membawa bayi. Ia memakai blus kuning, yang sama seperti hari pertama ia datang ke rumah ini. Rambutnya digelung rapi. Ia tersenyum lebar saat Eyang membuka pintu.

“Selamat ulang tahun, Eyang!”

Eyang menatap panci itu. “Apa itu, Nduk?”

“Rendang. Buatan Mika. Percobaan kesembilan.”

Eyang menatap Mika. Lalu tersenyum, dengan senyum yang membuatku tahu Eyang sudah mendengar tentang delapan percobaan sebelumnya. Ninis pasti bercerita. Ninis selalu bercerita.

“Masuk, Nduk. Taruh di meja tengah.”

Geng Ungu langsung mengerumuni Mika. Dalam lima menit, Mika sudah tahu nama kedelapan nenek, sudah dipuji cantik oleh semuanya, sudah ditanya kapan menikah oleh tiga di antaranya, dan sudah diajak ikut senam hari Selasa oleh Bu Ratmi, nenek paling tua yang ternyata masih bisa split.

Aku berdiri di pintu dapur dan menatapnya tertawa di tengah delapan nenek berkaus ungu.

Dua minggu ini ia tertawa lebih sedikit. Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Hari ini, ia tertawa seperti dulu.


Pukul satu, makan siang.

Meja makan jati dipenuhi makanan dari Geng Ungu: sayur lodeh, ayam goreng kremes, perkedel, sambal goreng ati, kerupuk udang, pepes ikan, dan tumpeng kecil dengan nasi kuning yang dibuat Eyang sendiri. Di tengah meja, di tempat paling terhormat, panci rendang Mika.

“Ayo, Eyang duluan,” kata Mika. Ia berdiri di samping meja, tangan meremas tepi blusnya. “Eyang yang ulang tahun.”

Eyang menyendok rendang ke piringnya. Satu potong daging, sedikit bumbu.

Lalu Mika menyendok untukku. Dua potong. Bumbu banyak. Ia meletakkan piring di depanku dengan sangat hati-hati.

Geng Ungu mengambil sendiri-sendiri. Ninis mengambil paling akhir, satu potong kecil.

Semua orang mulai makan.

Aku memasukkan sepotong daging ke mulutku.

Aku mengunyah.

Garam.

Itu kata pertama yang muncul di kepalaku. Bukan rasa rendang. Bukan rempah. Garam. Begitu banyak garam sampai lidahku terasa mengerut. Dan dagingnya keras, sangat keras, seperti seseorang memasaknya dengan api terlalu besar terlalu lama, lalu mencoba memperbaikinya dengan menambah garam, lalu menambah lagi.

Aku terus mengunyah.

Di seberang meja, Eyang mengunyah dengan sangat pelan. Sangat, sangat pelan. Wajahnya tenang. Diplomatis. Wajah seorang perempuan yang sudah tujuh puluh tujuh tahun hidup dan sudah makan ribuan masakan yang gagal dan tahu persis bagaimana menelannya dengan anggun.

Di sebelah Eyang, Ninis menunduk. Matanya berair. Tangannya meraba-raba meja, mencari gelas air. Gelasnya kosong. Ia meraih gelas Bu Ratmi tanpa izin.

Geng Ungu mengunyah dalam keheningan yang tidak wajar untuk delapan nenek yang biasanya tidak pernah berhenti bicara.

Lalu Mika menatapku.


Ia berdiri di samping kursiku. Tidak duduk. Tangan masih meremas tepi blus kuningnya. Matanya besar, berbinar, penuh harap. Pipinya merah, mungkin karena dapur yang panas, mungkin karena gugup.

“Gimana?” tanyanya.

Pelan. Hanya untukku. Seperti pertanyaan di pantry berbulan-bulan lalu. Gimana, Pak? Kopi kantor. Kopinya enak. Hik.

Aku menatapnya.

Aku menatap matanya yang berbinar. Pertama kalinya dalam dua minggu matanya berbinar seperti itu. Tidak ada pencarian. Tidak ada satu detik di mana matanya memeriksa telingaku. Hanya harap. Hanya Mika, yang sudah latihan sembilan kali, yang video call dengan Mama Yuyun setiap malam, yang membawa panci ini dari Setiabudi dengan dua tangan seperti membawa sesuatu yang berharga.

Untuk Eyang. Untuk keluargaku. Untukku.

Aku tahu jawaban yang benar.

Jawaban yang benar adalah keasinan. Atau dagingnya keras. Atau, kalau aku ingin memilih kata dengan hati-hati seperti biasa, ada usahanya. Itu benar. Itu yang akan kukatakan tiga minggu lalu. Itu yang terpaksa kukatakan dua puluh dua tahun ini, setiap kali seseorang bertanya pendapatku tentang sesuatu yang tidak kusukai.

Ada usahanya. Mika akan tertawa. Mungkin. Seperti dulu, di pantry, dengan rendang ketiga yang gosong.

Tapi dua minggu ini ia tidak tertawa seperti dulu.

Dua minggu ini ia menatapku dengan mata yang mencari. Ia memelukku dengan telinga yang mendengarkan. Ia bertanya pertanyaan-pertanyaan kecil yang aman. Ia berhenti mengucapkan satu pertanyaan hari ini. Ia berhenti menarikku ke ruang arsip.

Dan hari ini, untuk pertama kalinya, ia berdiri di sampingku dengan wajah yang tidak takut.

Kalau aku bilang keasinan, aku tahu apa yang akan terjadi. Wajahnya akan jatuh. Sedikit saja. Ia akan tersenyum dan bilang oh, iya ya, kebanyakan garam, dan tertawa, dan semua orang akan tertawa. Dan sinar di matanya, yang baru kembali hari ini, akan padam lagi.

Aku tidak mau melihat itu.

Aku menimbang. Sepersekian detik yang terasa seperti satu jam. Di satu sisi, dua puluh dua tahun. Kalimat yang benar. Pass. Ada usahanya. Di sisi lain, satu wajah. Satu senyum. Satu sinar yang baru kembali.

Dan aku memilih.

“Enak,” kataku.


Satu detik.

Dua detik.

Tidak ada apa-apa.

Tentu saja tidak ada apa-apa. Sudah tiga minggu tidak ada apa-apa. Tapi aku tetap menunggu. Kebiasaan dua puluh dua tahun. Seluruh tubuhku menunggu suara yang tidak datang, seperti seseorang yang melangkah ke anak tangga yang ternyata tidak ada.

Aku baru saja berbohong.

Bukan karena terpeleset. Bukan karena refleks, seperti nggak di pantry lima bulan lalu. Bukan karena basa-basi tanpa pikir, seperti saya sudah fit, Pak.

Aku menimbangnya. Aku memilihnya. Dengan sadar. Dengan sengaja.

Kebohongan pertama yang kupilih seumur hidupku.

Mika tersenyum.

Bukan tersenyum. Berseri-seri. Seluruh wajahnya menyala, seperti seseorang menyalakan semua lampu di rumah sekaligus. Matanya berkaca-kaca. Lesung di pipi kirinya muncul begitu dalam. Ia menutup mulutnya dengan dua tangan.

“Beneran?”

“Beneran,” kataku.

Dua kali.

Ia tertawa, kecil, basah, lega. Lalu ia duduk di kursi sebelahku, sangat dekat, lututnya menempel di lututku, dan mengambil sendok dari piringku.

“Aaa,” katanya, menyendok sepotong daging lagi, mengangkatnya ke depan mulutku.

Aku membuka mulut. Ia menyuapiku.

Garam. Keras. Aku mengunyah dan menelan dan tersenyum.

Lalu Mika mencondongkan badan dan mencium pipiku.

Di depan Eyang. Di depan Ninis. Di depan delapan nenek berkaus ungu bertuliskan JUARA 1 TINGKAT KECAMATAN.


Geng Ungu meledak.

“Wooo!” Bu Ratmi bertepuk tangan. “Romantis! Kayak sinetron!”

“Dulu suami saya juga gitu!” kata Bu Sri. “Tapi dia nyium pipi saya di pasar, terus saya tampar karena malu!”

“Kapan nikah?” tanya Bu Endang, untuk keempat kalinya hari itu.

Mika tertawa dan menyembunyikan wajahnya di bahuku. Aku merasakan pipinya panas di kemejaku.

Lalu, karena Geng Ungu adalah Geng Ungu, mereka mulai memberikan pendapat tentang rendangnya.

“Rendangnya…” Bu Ratmi mengunyah dengan ekspresi seorang juri lomba masak, “…menantang.”

“Berkarakter,” tambah Bu Sri, mengangguk-angguk sambil diam-diam meraih gelas air.

“Rasanya… berani,” kata Bu Endang. “Saya suka perempuan yang masakannya berani.”

“Ini rendang yang tegas,” kata Bu Wati, nenek yang paling pendiam, yang ternyata pensiunan guru bahasa Indonesia. “Rendang yang punya pendirian.”

Ninis tersedak air dari gelas Bu Ratmi.

Mika mengangkat wajah dari bahuku. Ia menatap Geng Ungu dengan mata menyipit. “Ibu-ibu. Itu artinya keasinan, ya?”

Hening sejenak di meja.

“Nggak, Nduk,” kata Eyang cepat, sebelum siapa pun sempat bicara. Ia masih mengunyah potongan pertamanya, yang sudah lima menit di mulutnya. “Ibu-ibu ini cuma… puitis.”

Mika menatap Eyang. Lalu menatapku.

“Arsa bilang enak,” katanya, dengan senyum percaya diri. Ia menyandarkan bahunya di bahuku. “Arsa nggak bohong.”

Ia tidak bilang nggak bisa bohong. Ia bilang nggak bohong.

Seolah ia sedang memutuskan untuk percaya.

Aku tersenyum. Dan mengambil sendok, dan mengambil potongan rendang ketiga, dan memakannya.


Aku menghabiskan dua piring.

Dua piring penuh rendang keasinan dengan daging sekeras sandal, sementara Mika duduk di sebelahku, menempel, sesekali menyuapiku, sesekali mencium bahuku, tertawa dengan Geng Ungu, berseri-seri seperti matahari pagi.

Di seberang meja, Eyang menatapku. Lama. Dengan tatapan yang sama seperti malam aku pulang setelah kaca mobil berembun. Tatapan seseorang yang pernah melihat wajah yang sama, lima puluh tahun lalu, di wajah orang lain.

Eyang tidak berkata apa-apa.

Tapi saat Mika pergi ke dapur untuk mengambil kerupuk, Eyang menyodorkan gelas air penuh ke arahku, melewati meja. Diam-diam. Tanpa menatapku.

Aku meminumnya sampai habis.


Sore itu, setelah Geng Ungu pulang dengan kantong-kantong plastik berisi sisa makanan, setelah Ninis selesai merekam Bu Ratmi mendemonstrasikan split di ruang tamu, aku berdiri di dapur, mencuci panci rendang Mika.

Di dasar panci, ada lapisan hitam. Gosong. Ia pasti menggaruknya, lalu menambah garam untuk menutupi rasa gosongnya, lalu menambah lagi.

Aku menggosok lapisan hitam itu dengan spons. Pelan. Lama.

Enak.

Aku baru saja berbohong pada satu-satunya orang di dunia yang paling kuinginkan untuk tidak pernah kubohongi.

Dan ia tersenyum. Dan ia berseri-seri. Dan ia bilang Arsa nggak bohong dengan kepala bersandar di bahuku, di depan delapan nenek, seolah ia sedang memutuskan untuk percaya padaku.

Bukan pada cegukanku. Padaku.

Dan aku baru saja membuktikan bahwa ia seharusnya tidak percaya.

Aku menggosok panci itu sampai lapisan hitamnya hilang. Sampai permukaan bajanya mengilap. Sampai tanganku merah karena air panas.

Di ruang tengah, aku mendengar Mika tertawa bersama Ninis. Suara yang sudah dua minggu tidak terdengar seperti itu.

Aku tidak menyesal membuatnya tertawa.

Aku hanya tidak tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, apakah aku orang baik karena memilih kebohongan itu, atau orang yang baru saja kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya bisa dipercaya.