← Hik! Itu Bohong

Chapter Twenty

Lembur Paling Manis Se-Kuningan

POV: Arsa

Busy season datang di bulan Februari seperti banjir yang sudah diramalkan semua orang tapi tetap tidak ada yang siap.

Lantai 15 berubah. Lampu-lampu menyala sampai jam tiga pagi. Kardus makanan pesan antar menumpuk di pantry. Juned tidur di sofa ruang rapat dengan kacamata hitam dan bantal leher berbentuk donat. Tiara menangis di toilet dua kali dalam seminggu, lalu keluar dan bekerja lagi dengan mata merah dan semangat yang menakutkan. Pak Hendro memakai kemeja yang sama tiga hari berturut-turut dan bersumpah itu tiga kemeja berbeda dengan warna yang sama.

Dan Mika bekerja seperti mesin.

Aku tidak lagi me-review pekerjaannya. Mbak Ratna dari tim dua yang melakukannya, sesuai formulir. Mbak Ratna bilang kertas kerja Mika adalah yang paling rapi yang pernah ia terima dari senior associate. Aku sudah tahu itu. Aku hanya tidak boleh mengatakannya di dokumen resmi lagi.

Jadi aku menemukan cara lain.


Botol minum Mika berwarna biru tosca dengan stiker kucing yang diberikan Tiara. Kapasitas tujuh ratus lima puluh mililiter. Ia mengisinya pukul delapan pagi dan, kalau tidak ada yang mengingatkan, lupa mengisinya lagi sampai pukul tujuh malam.

Aku tahu ini karena aku memperhatikannya selama tiga minggu.

Jadi aku mulai mengisinya. Setiap dua jam. Pukul sepuluh, dua belas, dua, empat, enam, delapan, sepuluh malam. Aku mengambil botol itu dari mejanya saat ia sedang ke toilet atau ke ruang rapat, mengisinya dengan air hangat dari dispenser, dan meletakkannya kembali di tempat yang sama persis, dengan stiker kucing menghadap ke arah yang sama.

Hari ketiga, ia memergokiku.

Aku sedang meletakkan botolnya kembali. Ia berdiri di belakangku dengan map di tangan.

“Kamu yang ngisi botolku?”

“Iya.”

“Tiap dua jam?”

“Iya.”

“Kok aku nggak pernah lihat?”

“Kamu selalu lagi sibuk.”

Ia menatapku. Lalu menatap botolnya. Lalu menatapku lagi.

“Kenapa tiap dua jam?”

“Rekomendasi asupan cairan untuk orang dewasa yang bekerja di ruangan ber-AC adalah dua ratus lima puluh sampai tiga ratus mililiter setiap dua jam.”

Mika tidak menjawab. Ia hanya terus menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Lalu, tiba-tiba, ia memelukku. Di tengah kantor. Di depan Tiara yang langsung menjatuhkan stapler.

“Kamu tuh,” bisiknya di dadaku, “nyebelin banget.”

“Kenapa nyebelin?”

“Karena aku nggak bisa marah sama kamu.”


Hari keempat, aku mulai menempel sticky note.

Kuning. Ukuran standar. Ditempel di sudut kanan atas monitor Mika setiap pukul dua belas siang.

Makan.

Satu kata. Dengan tick mark merah kecil di sebelahnya. Presisi. Sudut yang sama, panjang yang sama, ketebalan yang sama.

Hari kelima, sticky note kedua: Makan. (Bukan kopi.) ✓

Hari keenam: Makan. Nasi. Bukan biskuit. ✓

Hari ketujuh, aku menemukan semua sticky note itu ditempel berjajar di dinding kubikel Mika, rapi, berurutan sesuai tanggal. Dan di bawahnya, sticky note baru dengan tulisan tangannya yang sedikit miring:

Sudah. Bawel. ✓ (tick mark-nya miring, seperti biasa)


Lalu ia mulai menarikku ke ruang arsip.

Ruang arsip ada di ujung koridor lantai 15. Kecil, tanpa jendela, penuh rak besi berisi kardus-kardus dokumen klien dari sepuluh tahun terakhir. Berbau kertas tua dan debu. Satu lampu neon yang berkedip setiap tiga puluh detik. Tidak ada CCTV di dalamnya. Aku tahu karena aku yang menulis laporan pengendalian internal kantor tahun lalu, dan aku merekomendasikan pemasangan CCTV di sana, dan rekomendasi itu belum ditindaklanjuti.

Untuk pertama kalinya dalam karierku, aku bersyukur rekomendasiku diabaikan.

Hari Selasa, pukul empat sore, Mika menarikku ke sana. Tidak ada penjelasan. Ia hanya meraih pergelangan tanganku di koridor, membuka pintu ruang arsip, menarikku masuk, dan menutup pintunya.

Lampu neon berkedip.

“Ada apa?” tanyaku.

“Recharge,” katanya.

“Recharge?”

Ia melingkarkan dua tangannya di pinggangku dan menempelkan wajahnya di dadaku.

“Sepuluh detik,” gumamnya di kemejaku. “Jangan ngitung pakai suara, nanti aku malu.”

Aku berdiri diam. Lalu, perlahan, memeluknya balik.

Aku menghitung dalam hati. Seperti ia menghitung nadiku di lift, berbulan-bulan yang lalu, dengan dua jari di pergelangan tanganku.

Satu. Dua. Tiga.

Rambutnya berbau sampo melati dan sedikit kopi dari pantry.

Empat. Lima. Enam.

Bahunya, yang sejak pagi tegang karena tenggat laporan, pelan-pelan turun.

Tujuh. Delapan. Sembilan.

Ia menghela napas panjang di dadaku. Seperti baterai yang baru dicolokkan.

Sepuluh.

Ia mundur. Menatapku. Tersenyum kecil. “Udah.”

“Udah?”

“Udah penuh.” Ia merapikan kemejaku di bagian yang kusut karena wajahnya. Lalu berjinjit dan mencium rahangku cepat, di tempat yang dulu bernoda tinta. “Makasih, Pak Supervisor.”

Lalu ia membuka pintu dan keluar, meninggalkanku sendirian di ruang arsip dengan lampu neon yang berkedip.

Aku membuka buku hitam. Membuat halaman baru.

Recharge.
Selasa, 16.02. Durasi: 10 detik. Lokasi: ruang arsip.

Hari Rabu, dua kali. Hari Kamis, tiga kali, termasuk sekali pukul sebelas malam saat ia baru menyelesaikan laporan yang direvisi empat kali. Hari Jumat, Mika memelukku di ruang arsip dan tidak melepaskan di hitungan sepuluh. Aku terus menghitung dalam hati sampai dua puluh tujuh.

Aku mencatat semuanya.

Rata-rata durasi: 13,4 detik. Tren: naik.


Pukul dua pagi hari Kamis minggu kedua, lantai 15 tinggal empat orang. Juned di sofa, tidur. Tiara di mejanya, mengetik dengan mata setengah terpejam. Aku. Dan Mika.

Aku sedang memeriksa ulang konsolidasi laporan klien grup manufaktur, angka-angka mulai berenang di layar, ketika seseorang duduk di tepi mejaku.

Mika. Duduk di tepi mejaku. Pinggulnya di atas tumpukan map yang sudah kuperiksa, satu kaki menjuntai, satu kaki menapak lantai. Ia sudah melepas blazernya. Blus putihnya kusut, rambutnya digelung asal dengan pena merahku yang kesembilan, beberapa helai jatuh di sekitar wajahnya. Ada bayangan tipis di bawah matanya.

Ia tetap cantik. Itu temuan yang tidak berubah meskipun sudah pukul dua pagi.

Ia mengulurkan tangan dan meraih dasiku. Menariknya pelan, ke arahnya, sampai wajahku terangkat dari layar dan aku harus menatapnya.

“Kamu kelihatan capek,” katanya. Suaranya rendah. Serak karena kurang tidur. “Itu seksi.”

Aku berhenti bernapas.

“Tapi aku nggak suka,” lanjutnya, dan melepaskan dasiku.

Temuan baru: tidak ada prosedur dalam standar audit mana pun untuk menanggapi kalimat itu.

Aku membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

Mika tersenyum. Ia jelas menikmati ini.

“Pulang,” katanya. “Kamu udah di sini dari jam tujuh pagi. Konsolidasinya bisa besok.”

“Kamu juga dari jam tujuh.”

“Aku dari jam delapan.” Ia mengangkat bahu. “Aku lebih muda dua tahun. Aku punya cadangan energi.”

“Itu bukan logika medis.”

“Itu logika pacar.” Ia menyentuh pipiku dengan punggung jarinya. “Pulang, Arsa.”

Di meja seberang, Tiara mengangkat wajah dari layar, menatap kami dengan mata setengah tertutup, dan berbisik ke ponselnya: “Konten untuk @ArMi.”

Mika menoleh. “Tiara.”

“Nggak pakai foto, Kak! Teks aja! ‘Malam ini, pukul 02.04, di sebuah kantor di Kuningan, seseorang bilang capek itu seksi.’”

“Tiara!”


Akun @ArMi.official ketahuan seminggu kemudian.

Bukan oleh kami. Oleh Juned, yang sedang menggulir Instagram saat makan siang dan tiba-tiba berhenti, menatap layar, lalu berdiri dan berteriak ke seluruh lantai:

“TIARA! INI AKUN KAMU?!”

Tiara tersedak nasi.

Juned memutar ponselnya ke arah semua orang. Akun @ArMi.official. Pengikut: 340. Postingan terakhir: “Hari ini dia lewat mejanya sebelas kali. Sebelas. Saya hitung. Alasannya selalu ‘kebetulan’. Kebetulan kok sebelas kali, Pak.”

Seluruh lantai menoleh ke arahku.

Aku menatap layar komputer.

“Pak Arsa,” kata Juned, “Bapak beneran lewat meja Mbak Mika sebelas kali?”

“Secara teknis,” kataku, “aku cuma kebetulan lewat mejanya.”

Tidak ada cegukan. Karena itu benar. Meja Mika ada di jalur antara mejaku dan printer, dan antara mejaku dan pantry, dan antara mejaku dan toilet, dan antara mejaku dan ruang arsip. Secara teknis, semua lewat itu kebetulan.

Bahwa aku pergi ke printer delapan kali padahal hanya mencetak dua dokumen, itu informasi yang tidak ditanyakan.

“Tiga ratus empat puluh follower,” bisik Juned, menggulir. “Setengahnya anak magang kantor lain. Ada anak magang KAP sebelah. Ada anak magang Big Four.”

“Kapal kalian go international, Pak,” kata Tiara pelan, bangga dan malu sekaligus.

Mika, di mejanya, menutup wajahnya dengan map.


Malam itu aku memakai jatahku.

Kami berdua di pantry, pukul sebelas malam, minum teh tawar. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Matanya terpejam.

“Kamu capek?” tanyaku.

Ia membuka satu mata. Tersenyum.

“Kamu yang capek,” katanya.

Aku menunggu. Ia tidak menambahkan apa-apa. Matanya terpejam lagi.

Bukan jawaban. Seperti biasa. Aku bertanya tentang dirinya, dan ia mengembalikannya padaku.

Malam itu, di kamar, aku membuka buku hitam dan menulis baris keempat puluh tujuh.

47. Kamu capek? — Dijawab: “Kamu yang capek.”

Empat puluh tujuh pertanyaan. Aku membaca daftar itu dari atas. Kenapa pindah ke Jakarta. Kenapa nggak pakai gula. Kamu sendiri gimana. Kenapa pura-pura tidur. Kenapa ikut stock opname. Kenapa kamu nggak pernah cerita soal Surabaya. Kenapa kamu selalu ganti topik kalau aku tanya soal mantanmu.

Ia sudah memelukku seratus kali. Menciumku. Membelaku di depan dua puluh orang. Menjawab iya di depan enam puluh orang.

Tapi ia belum pernah menjawab satu pun pertanyaan tentang dirinya sendiri.

Aku menutup buku itu. Tidak marah. Hanya… mencatat. Seperti auditor yang mencatat temuan yang belum bisa disimpulkan.


Pukul dua belas lewat sepuluh, ponselku bergetar. Video call. Mika.

Aku mengangkatnya. Wajahnya memenuhi layar, berbaring di kasur, rambut tergerai di bantal, lampu kamar sudah redup.

“Belum tidur?” tanyanya.

“Belum.”

“Aku juga belum. Ngobrol bentar, ya.”

Kami mengobrol. Tentang laporan besok. Tentang Juned yang tertidur di sofa dengan mulut terbuka dan seseorang memasukkan permen jahe dari toples OBAT JUJUR ke mulutnya. Tentang Pak Hendro yang ternyata memakai satu kemeja yang sama tiga hari. Tentang Ninis yang mengirimi Mika foto masa kecilku memakai baju Power Rangers.

Suaranya semakin pelan. Kalimatnya semakin pendek. Matanya semakin lama terpejam di antara kedipan.

“Arsa,” gumamnya.

“Hm.”

“Kamu… jangan tutup dulu, ya.”

“Iya.”

“Bentar lagi aku tidur.”

“Iya.”

Lalu ia tertidur. Di tengah kalimat. Wajahnya di layar, tenang, bibir sedikit terbuka, napasnya pelan dan teratur. Satu helai rambut jatuh di pipinya.

Aku tidak menutup telepon.

Aku meletakkan ponsel di bantal di sebelahku, layar menghadap ke arahku, dan berbaring miring menatapnya. Napasnya terdengar samar dari speaker. Seperti ia ada di sana. Di sebelahku. Seperti jarak Rawamangun ke Setiabudi tidak pernah ada.

Pukul satu, aku masih belum menutupnya.

Pukul dua, baterai ponselku tinggal dua puluh persen. Aku mencolokkannya ke charger tanpa memutus panggilan.

Aku tertidur sekitar pukul dua lewat tiga puluh, dengan suara napasnya di telingaku.

Paginya, aku terbangun karena suara alarm dari ponselku. Panggilan itu masih tersambung. Enam jam empat belas menit. Di layar, Mika sudah bangun, duduk di kasurnya dengan rambut berantakan, menatap ponselnya dengan mata membesar.

“Kamu nggak nutup,” katanya. Suaranya serak pagi.

“Kamu bilang jangan.”

Ia menatapku lama melalui layar. Lalu menutup wajahnya dengan dua tangan dan aku mendengar suara teredam, seperti seseorang berteriak ke telapak tangannya sendiri.

“Arsa,” katanya di balik tangan.

“Hm.”

“Recharge. Nanti. Di arsip. Jangan sepuluh detik.”

“Berapa?”

Ia menurunkan tangannya. Pipinya merah. Matanya berkaca-kaca, dan aku tidak tahu kenapa.

“Sampai aku bilang udah,” katanya.

Hari itu, di ruang arsip, pukul sembilan pagi, ia memelukku selama empat menit dua puluh detik.

Aku mencatatnya.

Rekor baru.