← Hik! Itu Bohong

Chapter Thirty Three

Semua Jawaban yang Kutahan

POV: Mika

Jumat pagi, pukul enam, aku membuka laptop untuk terakhir kalinya.

KKC – Kertas Kerja Cegukan.

Aku menggulir dari baris pertama. Pelan. Membaca semuanya. ‘Nggak.’ (re: ganggu). Kopi kantor. Martabak. Lift, dua jariku di pergelangan tangannya, ‘…Lift.’ Baris tiga puluh satu. Bakso. Buku licin. Durian. Cemburu, dua kali. Demam, satu kali, lemah.

Tujuh puluh empat baris.

Tujuh puluh empat kali tubuhnya memberitahuku kebenaran yang tidak berani ia ucapkan.

Dan nol kali aku memberitahunya kebenaran yang tidak berani kuucapkan.

Aku menggulir ke bawah, ke bagian kesimpulan. Di bawah garis tebal. Tempat aku menulis, berbulan-bulan lalu:

Hipotesis: Subjek cegukan setiap kali berbohong.
Keyakinan: memadai.

Aku menambahkan satu baris di bawahnya.

Kesimpulan akhir: Tidak diperlukan.

Aku menekan simpan.

Lalu menutup file itu, dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku tidak merasa kehilangan apa pun.


Pukul tujuh, aku mengirim pesan ke Ninis.

Nis. Aku butuh bantuan. Rahasia. Jangan bilang Mas-mu.

Balasan masuk dalam sebelas detik. Ninis tidak pernah tidur.

APAPUN MBAK. APAPUN.

Buku hitam Mas-mu. Yang kecil. Sampul kulit. Dia simpan di mana?

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Laci meja kamarnya. Mas nggak pernah bawa ke kantor hari Jumat soalnya Jumat dia selalu beresin meja kantor. Kenapa Mbak??

Aku butuh pinjam. Malam ini. Aku mau ke rumah.

Tiga titik. Lama.

Mbak mau ngapain sama buku itu?

Aku menatap pertanyaan itu. Ninis, yang dulu memintaku jangan sakitin Masku. Ninis, yang menangis di bahuku waktu rendang keasinan.

Aku mengetik jawaban yang benar.

Aku mau bayar utang.

Ninis tidak membalas selama satu menit. Lalu:

Mbak dateng jam 7. Mas pulang jam 7.30, dia lembur. Bukunya aku taruh di bawah bantal sofa ruang tengah. Eyang udah tahu. Eyang bilang “akhirnya”.


Rumah Rawamangun pukul tujuh malam berbau gudeg.

Eyang membukakan pintu. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menatapku, tersenyum, menepuk pipiku dua kali, dan berkata: “Duduk di ruang tengah, Nduk. Eyang di dapur.”

Ninis keluar dari kamarnya dengan wajah yang sangat serius dan sangat bersemangat sekaligus. Ia menunjuk sofa. Aku mengangkat bantalnya.

Buku hitam. Kecil. Sampul kulit yang sudah lusuh di sudut-sudutnya.

Aku duduk dan membukanya.

Halaman pertama. Pena hilang: 1. Lalu 2, 3, sampai 12. Dan di bawahnya, terlipat simetris, sebuah tisu. Aku membukanya. Tick mark merah yang miring, yang kugambar dengan penanya di hari kedua, dan tulisan tanganku: Cocok dengan bukti. — M.

Ia menyimpannya. Enam bulan.

Halaman berikutnya. Recharge. Puluhan baris. Tanggal, jam, durasi. Rekor baru: 4 menit 20 detik. Lalu, tiga minggu terakhir: 0. 0. 0. 0.

Aku menelan.

Halaman berikutnya. Bukti kecil. Dua baris. #1: dia lupa mengecek telingaku waktu aku bilang hal yang benar. #2: dia merapikan kerahku. Tanpa kata. Tanpa godaan. Tanpa ditanya.

Aku harus berhenti membaca sebentar.

Lalu halaman yang kucari.

Pertanyaan yang belum dijawab.

Empat puluh tujuh baris. Tulisan tangannya yang rapi, dengan pena hitam. Setiap pertanyaan, dan di sebelahnya, jawaban yang kuberikan. Yang bukan jawaban.

1. Kenapa pindah ke Jakarta? — “Nyari atasan yang nggak bisa bohong.”

2. Kenapa nggak pakai gula kalau malam? — “Biar bisa tidur.” (Tidak jujur. Ia minum kopi jam 10 malam dua hari lalu.)

4. Kamu sendiri gimana? — Bakso.

23. Kenapa pura-pura tidur 10 menit pertama? — “Siapa yang pura-pura?”

24. Kenapa ikut stock opname malam tahun baru? — “Aku suka kerupuk.”

25. “Aku mau.” — Dijawab: “Aku tahu.”

47. Kamu capek? — “Kamu yang capek.”

Aku membaca semuanya. Empat puluh tujuh. Aku mengingat setiap momen. Setiap senyum yang kupakai untuk mengelak. Setiap lelucon. Setiap pelukan yang kuberikan supaya aku tidak perlu bicara.

Lalu aku mengambil pena merah dari tasku.

Pena merahnya. Yang kedua belas. Yang kucuri hari Senin dari mejanya, saat ia sedang di toilet, karena aku sudah tahu malam ini akan datang.

Dan aku mulai menulis.


Pukul tujuh lewat tiga puluh dua, pintu depan terbuka.

Arsa masuk dengan tas kerja dan wajah lelah. Ia melepas sepatu di teras. Ia masuk ke ruang tengah.

Ia berhenti.

Aku duduk di sofa ruang tengah dengan buku hitamnya di pangkuan, pena merahnya di tangan.

Ia menatapku. Menatap buku itu. Menatap pena itu.

“Mika,” katanya pelan.

“Duduk,” kataku.

Ia duduk. Di sofa. Di sebelahku. Tidak terlalu dekat. Menunggu.

Aku membuka buku itu di halaman Pertanyaan yang belum dijawab. Aku memutarnya sedikit, supaya ia bisa melihat. Di setiap baris, di sebelah jawaban lamaku yang ia tulis dengan pena hitam, sekarang ada tulisan baru. Pena merah. Tulisan tanganku yang miring.

“Aku mau bayar utang,” kataku. “Empat puluh tujuh.”

Arsa menatapku. Tidak bicara.

Aku menarik napas. Lalu mulai membaca. Cepat. Karena kalau aku membaca pelan, aku tidak akan sanggup menyelesaikannya.

“Nomor satu. Kenapa pindah ke Jakarta. Karena kantor Surabaya penuh sama Dion. Tiap sudut kota. Tiap warung rawon. Aku mau mulai dari nol, di tempat yang nggak ada siapa-siapa yang kenal aku.”

Arsa diam.

“Nomor dua. Kenapa nggak pakai gula kalau malam. Karena kamu minum teh tawar. Minggu pertama aku lihat kamu bikin teh tawar tiap malam, terus aku pengen tahu rasanya kayak apa. Jadi aku coba. Terus aku jadi kebiasaan. Biar kalau aku minum teh malam-malam, aku inget kamu.”

Telinganya mulai memerah.

“Nomor tiga. Kenapa selalu tanya, nggak pernah jawab. Karena kalau aku yang tanya, aku yang pegang kendali. Kalau aku jawab, kamu yang pegang. Dan terakhir kali aku kasih orang kendali, dia bohong tiga tahun.”

Aku membalik halaman.

“Nomor empat. Kamu sendiri gimana. Di mobil, waktu macet, waktu aku pegang tanganmu empat belas kilometer.” Aku menatapnya. “Aku juga. Dari awal. Aku nggak jawab karena kalau aku bilang aku juga, itu nyata. Dan kalau nyata, itu bisa hilang.”


Aku terus membaca.

“Nomor tujuh. Aku nggak pernah pacaran sama orang Jakarta sebelumnya. Nomor sembilan. Aku nggak tahu rawon di Kombes Pol masih buka atau nggak. Nomor sebelas. Iya, aku sengaja jatuhin rambut ke bahumu waktu nunjuk selisih di hari kedua. Nomor tiga belas. Aku curi pena kamu karena itu satu-satunya alasan aku bisa nyentuh saku kemejamu.”

Arsa menutup mulutnya dengan tangan.

Ninis, entah sejak kapan, sudah tidak di kamarnya. Aku tidak melihatnya. Tapi aku punya firasat.

“Nomor dua puluh tiga. Kenapa pura-pura tidur sepuluh menit pertama.” Suaraku mulai bergetar. “Karena aku pengen tahu kamu ngapain kalau kamu pikir nggak ada yang lihat. Dan kamu benerin rambutku. Satu jari. Kayak rambutku dari kaca. Aku nggak pernah bilang aku ngerasain itu.”

“Nomor dua puluh empat. Kenapa ikut stock opname malam tahun baru.” Aku tertawa, basah. “Bukan karena kerupuk. Aku benci kerupuk balado keju. Aku ikut karena kamu di sana. Aku nggak mau tahun baru tanpa kamu.”

“Nomor dua puluh lima. Kamu kirim aku mau. Aku bales aku tahu.” Aku menatapnya. “Seharusnya aku bales aku juga mau. Aku nulis itu. Terus aku hapus. Terus aku tulis aku tahu.”

Aku membalik halaman lagi. Tanganku gemetar.

“Nomor tiga puluh delapan. Kenapa aku nggak pernah cerita soal Surabaya. Karena aku malu. Tiga tahun dibohongin, dan aku nggak sadar. Aku auditor. Aku nemu selisih satu juta dua ratus lima puluh ribu yang lolos dari tiga senior. Tapi aku nggak bisa nemu pacarku sendiri makan malam sama perempuan lain tiap Kamis.”

“Nomor empat puluh tujuh.” Aku menarik napas. “Kamu capek.”

Aku menatap tulisan merahku di sebelah “Kamu yang capek.”

“Iya,” bacaku. “Aku capek. Aku capek pura-pura berani.”


Aku tidak berhenti di empat puluh tujuh.

Aku membalik ke halaman berikutnya. Halaman kosong. Yang tadi kuisi sendiri dengan pena merahnya, satu jam sebelum ia pulang.

“Ini,” kataku, “pertanyaan yang kamu nggak pernah tanya. Tapi aku tahu kamu mau tanya.”

Arsa menatap halaman itu. Empat belas baris. Tulisan tanganku.

“Empat puluh delapan. Aku pernah bohong ke kamu? Iya. Banyak. Empat puluh tujuh di atas. Dan aku fine tiga minggu ini, tiap hari.”

“Empat puluh sembilan. Kenapa tiga minggu ini aku jauh. Karena aku takut kalau aku meluk kamu, aku bakal dengerin jantungmu lagi. Aku nggak mau meluk kamu cuma buat meriksa.”

“Lima puluh dua. Aku nyimpan semua sticky note-mu? Iya. Semua. Dari Makan yang pertama. Aku laminating yang dari Februari.”

“Lima puluh lima. Aku pernah nangis gara-gara kamu? Iya. Waktu rendang. Waktu voice note nomor enam. Waktu kertas kuning. Waktu kamu cium tanganku di pantry dan aku harus pura-pura nyari sendok selama lima menit supaya Juned nggak lihat.”

Arsa tertawa. Pendek. Basah. Matanya merah.

“Enam puluh.”

Aku berhenti.

Aku menatap baris enam puluh. Lalu baris enam puluh satu. Yang terakhir. Yang paling sulit kutulis.

“Enam puluh. Kapan aku mulai suka kamu.”

Aku mengangkat wajah. Menatapnya.

“Hari pertama,” kataku. “Waktu kamu bilang kopi kantor enak, terus cegukan. Kamu minum kopi itu sampai habis. Kopi rasa air rendaman kaus kaki. Sampai habis. Tanpa ekspresi. Cuma karena aku yang bikinin.”

Arsa menatapku. Wajahnya tidak bergerak. Tapi matanya basah, dan rahangnya mengencang, dan aku melihat sesuatu runtuh di dalam dirinya, pelan-pelan, seperti air pasang yang akhirnya mencapai pantai.

“Kamu duluan,” bisiknya. “Kamu suka aku duluan. Sehari sebelum aku.”

“Iya,” kataku. “Aku menang.”


Lalu baris enam puluh satu.

Aku tidak membacanya dari buku. Aku menutup buku itu dan meletakkannya di pangkuanku.

Aku menatapnya. Arsa Dirgantara. Supervisor paling kaku se-Wiratama & Partners. Pria yang dulu cegukan setiap kali berbohong. Pria yang sekarang bisa berbohong kapan saja, pada siapa saja, dan memilih tidak. Pria yang menulis tujuh kebenaran tanpa ditanya, satu per satu, di depan satu kantor.

“Enam puluh satu,” kataku.

Suaraku tidak bergetar lagi. Tenang. Jelas.

“Aku sayang kamu.”

Ia menatapku.

“Aku nggak nanya balik,” kataku. “Aku nggak nunggu kamu bilang duluan. Aku nggak minta kamu buktiin apa-apa.”

Aku mengulurkan tangan dan mengambil tangannya. Membaliknya. Telapak tangannya menghadap ke atas.

Aku membuka tutup pena merah.

“Aku nggak butuh bukti,” kataku.

Dan aku menggambar tick mark di telapak tangannya.

Miring. Tidak presisi. Sudutnya salah, panjangnya kurang, ketebalannya tidak konsisten. Seperti semua tick mark yang pernah kugambar.

“Keyakinan memadai,” bisikku.


Arsa menatap telapak tangannya.

Lama. Sangat lama. Tick mark merah yang miring itu di tengah telapak tangannya, di antara garis-garis tangannya.

Lalu ia menutup tangannya. Pelan. Menggenggam tick mark itu seperti menggenggam sesuatu yang bisa terbang.

“Nggak ada pass lagi?” tanyanya. Suaranya serak.

“Nggak ada pass lagi,” kataku. “Dari dua-duanya.”

Ia menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya, ia yang bertanya. Bukan tentang diriku. Bukan pertanyaan nomor empat puluh delapan. Sesuatu yang lain.

“Recharge?”

Aku tertawa. Basah. Lalu menangis. Lalu tertawa lagi.

“Iya.”

Ia menarikku ke dadanya.

Aku memeluknya. Melingkarkan dua tanganku di pinggangnya. Menempelkan wajahku di dadanya. Wajahku. Bukan telingaku. Aku tidak mendengarkan apa pun. Aku tidak menghitung apa pun.

Tapi aku merasakan ia menghitung. Bibirnya di rambutku, bergerak pelan, tanpa suara.

Satu. Dua. Tiga.

Aku memejamkan mata.

Delapan. Sembilan. Sepuluh.

Ia tidak berhenti.

Sebelas. Dua belas.

Aku merasakan napasnya bergetar di rambutku.

Dua puluh. Tiga puluh.

Aku berhenti merasakan hitungannya. Aku hanya merasakan tangannya di punggungku, dadanya yang hangat, jantungnya yang berdetak cepat di bawah pipiku. Dan aku tidak peduli kenapa jantungnya cepat. Karena aku menempel. Karena ia bahagia. Karena ia gugup. Karena ia sayang aku.

Semuanya benar. Aku memutuskan semuanya benar.

Lalu ia mengangkat wajahku dengan dua tangan, dan menciumku.


Bukan seperti di pantry dulu, saat aku yang memulai dan ia membeku. Bukan seperti di taman villa, saat ia pertama kali berani. Bukan seperti di mobil yang kacanya berembun, saat ia cemburu dan menahan sesuatu yang dingin di dasar perutnya.

Ini berbeda.

Ini adalah dua orang yang akhirnya berhenti bertanya. Yang akhirnya berhenti menahan. Yang akhirnya memberikan semuanya tanpa menunggu yang lain duluan.

Ia menciumku dalam. Lama. Tangannya di wajahku, lalu di rambutku, lalu di punggungku, menarikku lebih dekat seolah tiga minggu itu adalah tiga tahun. Aku mencengkeram kemejanya, menariknya turun, menciumnya balik dengan semua yang kutahan. Enam puluh satu jawaban. Tujuh puluh empat cegukan. Satu hari pertama dan satu kopi rasa kaus kaki.

Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya, kami berdua tidak menghitung apa pun.


Ketika akhirnya kami berpisah, napas kami sama-sama terengah. Dahinya di dahiku. Bibirnya merah. Matanya basah.

“Mika,” bisiknya.

“Hm?”

“Ada yang nguping.”

Aku mengedip. Lalu menoleh perlahan ke arah jendela ruang tengah. Ke arah gorden batik yang menutup pintu ke teras samping.

Gorden itu terlalu pendek. Lima belas senti terlalu pendek dari lantai. Dan di bawahnya, terlihat jelas, dua pasang kaki. Satu pasang memakai sandal kulit dan kaus kaki putih. Satu pasang memakai sandal jepit bergambar kucing.

Gorden itu bergoyang sedikit. Seperti seseorang di baliknya sedang menahan napas.

“Eyang,” kata Arsa dengan suara datar. “Ninis.”

Hening.

Lalu, dari balik gorden, suara Ninis, berbisik panik ke arah yang salah: “Eyang, kakinya kelihatan!”

“Kamu yang kelihatan,” bisik Eyang balik. “Eyang sudah tujuh puluh tujuh tahun. Eyang nggak bisa jinjit.”

Aku menutup wajah di dada Arsa dan tertawa sampai perutku sakit.

Gorden tersibak. Ninis keluar dengan wajah merah dan ponsel di tangan. Di belakangnya, Eyang keluar dengan anggun, seperti tidak terjadi apa-apa, merapikan kebayanya.

Ninis menatap layar ponselnya. Wajahnya memucat.

“Mas,” katanya pelan. “Mbak. Aku… aku nggak sengaja tadi kepencet tombol live.”

Arsa menatap adiknya. “Live.”

“Di YouTube. Channel-ku.” Ninis memutar ponselnya. Layar menunjukkan siaran langsung yang baru berakhir. Durasi: 14 menit. Yang menonton: 47.

“Empat puluh tujuh,” kata Ninis lemah. “Semua subscriber-ku nonton.”

Eyang menepuk bahu Ninis. “Empat puluh tujuh orang lihat Masmu bahagia, Nis. Itu konten terbaikmu.”

Lalu Eyang menatap kami berdua. Aku masih di pelukan Arsa. Tick mark merah masih di telapak tangannya, yang sekarang ada di punggungku. Wajah kami masih basah.

Eyang tersenyum. Senyum yang sama seperti di teras belakang, saat ia bilang percaya itu keputusan.

“Gudegnya sudah matang,” kata Eyang. “Ayo makan. Kalian berdua kelihatan lapar.”

Ia berjalan ke dapur. Di pintu, ia berhenti, dan berkata tanpa menoleh:

“Akhirnya.”


Malam itu, di dinding kubikelku di kantor, tujuh sticky note kuning masih berjajar. Tanpa tick mark miring dariku.

Senin pagi, aku datang pukul tujuh lewat tiga puluh. Lima belas menit lebih awal dari Arsa. Lantai 15 masih kosong.

Aku mengambil pena merahnya, yang kedua belas, dari tasku.

Dan satu per satu, di sudut kanan bawah setiap sticky note, di sebelah tick mark-nya yang presisi, atau di sudut kosong sticky note yang kusalin sendiri dari kata-katanya, aku menggambar tick mark-ku sendiri.

Miring. Tidak presisi. Sudut yang salah, panjang yang kurang.

Tujuh.

Cocok dengan bukti.