Chapter Thirty
Keyakinan Memadai
POV: Arsa
Mika tidak pergi.
Itu yang pertama kusadari, Senin pagi, saat aku tiba di kantor pukul tujuh lewat empat puluh lima dan meja dekat jendela sudah terisi.
Ia ada di sana. Blazer abu-abu. Rambut digelung. Laptop menyala. Ia mengangkat wajah saat aku lewat.
“Pagi, Arsa.”
“Pagi.”
Ia tersenyum. Sopan. Lalu kembali ke laptopnya.
Tidak ada Pak Supervisor. Tidak ada pena merah yang dicuri. Tidak ada sticky note di monitorku. Tidak ada tangan yang menarik pergelangan tanganku di koridor.
Ia tidak marah. Ia tidak menghindar. Ia tidak menangis di toilet atau membanting pintu atau mengirim pesan panjang.
Ia hanya… sopan.
Hari Senin, kami makan siang bersama. Seperti biasa. Warung soto di belakang gedung.
Ia duduk di seberangku. Bercerita tentang klien. Tentang Juned. Tentang Mama Yuyun yang mengirim foto kucing tetangga. Ia tertawa di tempat-tempat yang tepat. Ia menatapku saat bicara.
Saat kuahnya habis, aku mengulurkan tangan dan meraih tangannya di atas meja. Kebiasaan. Seperti yang kulakukan setiap hari selama tiga bulan.
Ia membiarkannya.
Satu detik.
Lalu ia menarik tangannya, pelan, untuk memegang sendok. Untuk menyendok sisa nasi di mangkuk yang sebenarnya sudah ia tinggalkan.
Ia tidak melakukannya dengan kasar. Ia tidak menatapku dengan marah. Ia melakukannya dengan sangat halus, sangat sopan, sampai siapa pun yang melihat akan mengira itu kebetulan.
Aku melihatnya. Aku selalu melihat.
Hari Selasa, tidak ada pertanyaan.
Satu pertanyaan sehari. Pasal 2. Lima bulan, tidak pernah sekali pun terlewat. Bahkan saat aku sakit tipes, ia bertanya lewat chat: Kamu masih suka bubur ayam atau udah eneg?
Hari Selasa, tidak ada.
Hari Rabu, tidak ada.
Aku menunggu. Di pantry pukul tujuh lewat lima puluh. Di depan printer. Di lift pukul enam sore. Tidak ada satu pertanyaan hari ini. Tidak ada senyum iseng sebelum pertanyaan. Tidak ada jebakan manis.
Tidak ada ruang arsip. Tidak ada recharge. Aku membuka buku hitam di halaman itu.
Recharge.
Kamis lalu: 0. Senin: 0. Selasa: 0. Rabu: 0.
Ia masih bilang selamat pagi. Masih makan siang bersamaku. Masih mengucapkan hati-hati di jalan di lobi.
Tapi ia tidak menyentuhku. Tidak menggodaku. Tidak bertanya.
Temuan: yang paling sunyi ternyata bukan Mika marah.
Yang paling sunyi adalah Mika sopan.
Rabu malam, aku mengirim pesan.
Kamu masih mau ke Rawamangun hari Minggu? Eyang masak gudeg.
Lima menit. Sepuluh menit.
Balasan masuk.
Pass.
Aku menatap kata itu.
Empat huruf. Kata yang kuucapkan ratusan kali. Kata yang ia tertawakan di pantry, di mobil, di teras Rawamangun. Kata yang Ninis teriakkan ke satu RT.
Sekarang ia mengirimkannya padaku.
Dan aku akhirnya mengerti. Rasanya. Bagaimana rasanya bertanya sesuatu dan menerima pass sebagai jawaban. Bukan iya. Bukan tidak. Hanya pintu yang ditutup pelan-pelan, dengan sopan, tanpa memberitahumu apa yang ada di baliknya.
Lima bulan aku memberinya ini. Setiap hari. Pass, pass, pass. Dan ia tertawa, karena dulu ia tahu apa artinya.
Aku tidak tahu apa artinya.
Aku membuka toples OBAT JUJUR di mejaku. Isinya tinggal beberapa butir. Aku mengambil satu, membuka bungkusnya, dan memasukkannya ke mulut.
Aku ingin meneleponnya. Aku ingin mendengar suaranya. Aku memakan permen jahe itu sampai habis supaya tanganku punya sesuatu untuk dilakukan selain menekan tombol hijau.
Lalu aku mengambil satu lagi.
Satu kantor menyadarinya di hari Kamis.
Bukan karena kami bertengkar. Kami tidak bertengkar. Karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih jelas dari pertengkaran.
“Mbak Mika belum godain Pak Arsa,” kata Juned di pantry, kepada Tiara, dengan suara yang ia kira berbisik. “Dua hari. Dua hari, Ti.”
“Tiga,” koreksi Tiara. “Senin juga nggak.”
“Tiga hari.” Juned memegang kepalanya dengan dua tangan. “Nggak ada pena dicuri. Nggak ada tarik dasi. Nggak ada Pak Supervisor. Nggak ada ke arsip. Ini lebih serem dari pemeriksaan BPK.”
Aku berdiri di balik pintu pantry yang setengah terbuka, memegang cangkir teh, dan tidak masuk.
“Aku harus bikin pengumuman,” kata Tiara pelan. Suaranya sedih. “Di @ArMi.”
“Pengumuman apa?”
“Hiatus.”
Pukul dua siang, akun @ArMi.official mengunggah satu postingan. Latar hitam. Teks putih.
Kapal sedang menghadapi badai. Admin memutuskan untuk hiatus sampai cuaca membaik. Mohon doanya. 🚢💔
Tiga ribu pengikut panik.
Komentar membanjir dalam satu jam. KENAPA?! Admin please jangan! Kapal ini satu-satunya alasan saya percaya pada cinta di dunia akuntansi. Saya anak magang Big Four, saya baru dapet surat peringatan, dan sekarang ini??
Juned membacakan semua komentar itu ke seluruh lantai dengan suara bergetar.
Pukul tiga, Juned dan Ninis membentuk tim penyelamat. Aku tahu karena Ninis mengirimiku tangkapan layar grup WhatsApp baru mereka. Nama grupnya OPERASI SELAMATKAN ARMI 🚨. Anggotanya: Juned, Ninis, Tiara, Oci (yang ternyata ditambahkan Ninis lewat Instagram), dan Pak Hendro.
Ide-ide mereka:
Juned: Flashmob di lobi. Lagu Tulus. Saya bisa koordinir anak magang.
Tiara: Spanduk di rooftop. “MAAFKAN DIA, KAK MIKA.”
Oci: Aku bisa makeup Mas Arsa biar keliatan lebih menyedihkan.
Ninis: Kita sewa alat poligraf beneran?? Biar Mbak Mika bisa cek Mas Arsa jujur!!
Pak Hendro: Saya bisa nyanyi.
Aku membaca semuanya. Lalu mengetik satu balasan ke Ninis.
Jangan lakukan apa pun.
Ninis membalas: Tapi Mas—
Apa pun.
Pukul empat, Bu Lastri lewat mejaku.
Bu Lastri tidak pernah lewat mejaku. Ruang HR ada di lantai 3. Tidak ada alasan baginya untuk naik ke lantai 15, kecuali untuk urusan formal.
Ia berhenti di samping mejaku. Tidak berkata apa-apa. Ia meletakkan sepotong bakwan di atas tisu di sebelah keyboard-ku.
Lalu pergi.
Aku menatap bakwan itu. Masih hangat.
Aku tidak tahu apa artinya. Aku tidak pernah tahu apa yang dipikirkan Bu Lastri. Tapi aku mengerti, entah bagaimana, bahwa itu adalah caranya mengucapkan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata.
Aku memakannya.
Pukul tujuh malam, lantai 15 hampir kosong. Mika sudah pulang pukul enam. Tidak lembur. Ia mengucapkan hati-hati di jalan dari pintu lift tanpa menatapku.
Aku ke pantry untuk membuat teh. Pak Hendro ada di sana, sedang memanaskan sisa nasi goreng di microwave.
Ia melihatku. Ia tidak tersenyum. Ia tidak membuat dad joke.
Microwave berdenting. Ia tidak mengambil nasi gorengnya. Ia menarik kursi tinggi dan duduk. Menepuk kursi di sebelahnya.
“Duduk, Sa.”
Aku duduk.
Pak Hendro diam lama. Menatap jendela pantry, yang menghadap ke deretan lampu gedung-gedung Kuningan. Lalu ia bicara. Pelan. Dengan suara yang belum pernah kudengar di rapat mana pun, kuliah lima menit mana pun, pembekalan mental mana pun.
“Kamu tahu kenapa opini audit itu bunyinya ‘keyakinan memadai’, bukan ‘keyakinan mutlak’?”
Aku sudah mendengar pertanyaan ini puluhan kali. Hari kedua Mika di kantor ini, Pak Hendro menanyakannya ke Juned dan Tiara, dan aku mendengarnya dari mejaku sambil memikirkan rambut seseorang di bahuku.
“Karena auditor tidak bisa memeriksa semuanya,” kataku.
“Itu jawaban buku.” Pak Hendro menggeleng. “Jawaban yang sebenarnya: karena keyakinan mutlak itu nggak ada, Sa. Nggak ada di audit. Nggak ada di mana-mana.”
Ia memutar cangkir kosong di meja bar.
“Kita nggak pernah dapat satu bukti besar yang ajaib, yang bikin kita langsung yakin seratus persen. Nggak pernah. Yang kita dapat cuma bukti kecil. Banyak. Konsisten. Satu faktur. Satu konfirmasi. Satu stock opname. Satu demi satu. Sampai di satu titik, kita bilang: ini cukup. Kita percaya.”
Ia menatapku.
“Kamu sama Mika itu dulu punya satu bukti besar. Cegukan kamu. Satu bukti yang ajaib. Dia nggak perlu ngumpulin apa-apa, karena satu bukti itu udah jawab semuanya.” Ia berhenti. “Sekarang bukti itu hilang. Dan dia nggak pernah belajar caranya ngumpulin yang kecil-kecil.”
Aku tidak bicara.
“Dan kamu, Sa,” lanjut Pak Hendro, lebih pelan, “kamu juga nggak pernah belajar caranya ngasih yang kecil-kecil.”
Aku mengangkat wajah.
“Saya nggak nyalahin kamu,” katanya cepat. “Saya kenal kamu tujuh tahun. Kamu orang paling jujur yang pernah saya kenal. Tapi jujur itu bukan cuma nggak bohong, Sa. Jujur itu juga bilang hal yang benar, waktu nggak ada yang nanya.”
Ia berdiri. Mengambil nasi goreng dari microwave yang sudah dingin lagi.
“Istri saya,” katanya di pintu pantry, “nggak pernah tanya saya sayang dia atau nggak. Dua puluh tiga tahun. Nggak pernah. Karena saya bilang tiap hari. Tanpa ditanya. Dari wartel pakai koin sampai sekarang.”
Ia menatapku.
“Keyakinan memadai, Sa. Bukan dari satu bukti besar. Dari bukti kecil yang konsisten.”
Lalu ia pergi.
Aku duduk di pantry sendirian sampai pukul sembilan.
Aku membuka buku hitam. Aku membaca semuanya, dari halaman pertama.
Pena hilang: 1. Tisu martabak. Cocok dengan bukti.
Pertanyaan yang belum dijawab. Empat puluh tujuh baris. Empat puluh tujuh kali aku bertanya tentang dirinya dan ia mengelak.
Recharge. Puluhan baris. Rekor empat menit dua puluh detik.
Hal yang belum kuucapkan.
- Mika. Aku mau jadi pacarmu. (Kertas kuning. Belum dibuka.)
- Aku takut kamu lebih sayang cegukanku daripada aku.
Aku menatap halaman itu sangat lama.
Lalu aku mengerti.
Selama enam bulan, setiap kebenaran yang pernah Mika dapat dariku, aku tidak pernah memberikannya.
Ia menariknya keluar. Dengan pertanyaan. Satu pertanyaan sehari. Kamu suka aku, ya? Kamu pernah mimpiin aku? Kamu cemburu? Kamu sayang aku?
Atau cegukanku yang menariknya keluar. Nggak. Hik. Tanpa izinku. Tanpa keputusanku.
Satu-satunya kebenaran yang pernah kuberikan dengan sukarela, tanpa ditanya, adalah aku bisa bohong sekarang. Di warung tenda. Dan bahkan itu, aku memberikannya karena aku takut ia tahu dari orang lain.
Aku tidak pernah bilang aku suka kamu tanpa ditanya. Aku tidak pernah bilang kamu cantik kecuali saat ia menunggu di depanku dengan sundress hijau. Aku tidak pernah bilang aku sayang kamu sampai ia memintanya, dan saat aku mengucapkannya, kedengarannya seperti dokumen yang diserahkan karena diminta.
Kertas kuning itu masih terlipat. Enam kata. Tujuh kali kutulis. Tidak pernah kuucapkan.
Mika butuh bukti. Dan aku tidak pernah memberinya bukti apa pun yang tidak ditarik paksa dariku.
Ia selalu bertanya, dan tidak pernah menjawab.
Aku tidak pernah bertanya tentang hal yang penting, dan tidak pernah memberitahu.
Kami berdua auditor. Kami berdua menunggu yang lain menyerahkan dokumen lebih dulu.
Pukul sebelas malam, aku masih di kantor. Lantai 15 gelap kecuali lampu di atas mejaku.
Aku mengambil blok sticky note kuning dari laci. Ukuran standar. Sama seperti yang kutempel di monitornya setiap pukul dua belas siang di bulan Februari. Makan. ✓
Aku mengambil pena merah. Pena baru. Kedua belas.
Aku menatap kertas kuning kosong itu lama.
Lalu aku menulis.
Tidak di blok memo, seperti kertas kuning di bulan Januari yang kutulis tujuh kali dan tidak pernah kuucapkan. Di sticky note. Yang akan kutempel. Yang akan ia baca. Tanpa ia minta.
Aku menulisnya sekali. Tidak kurevisi. Tidak kutulis ulang tujuh kali.
Lalu aku menggambar tick mark di sudut kanan bawahnya. Presisi. Sudut yang sama, panjang yang sama, ketebalan yang sama.
Aku berjalan melewati lantai yang gelap, ke meja dekat jendela. Meja yang kusisakan untuknya di hari pertama, karena tempat itu kosong. Meja dengan sticky note-sticky note Februari yang masih tertempel berjajar di dinding kubikelnya. Makan. ✓ — Sudah. Bawel. ✓
Aku menempelkan sticky note baru itu di monitornya. Di sudut kanan atas. Tempat yang sama.
Lalu aku pulang.
Di mobil, sebelum menyalakan mesin, aku membuka buku hitam dan menulis satu baris di bawah Hal yang belum kuucapkan.
Mulai besok, nggak ada lagi yang belum kuucapkan.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai reading
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus