← Hik! Itu Bohong

Chapter Seven

Nggak. Hik.

POV: Mika

Hari itu aku belum memakai jatah pertanyaanku.

Bukan karena lupa. Aku tidak pernah lupa. Pagi tadi, saat Arsa membuat teh di pantry, aku sudah membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Siang, saat ia lewat mejaku, aku sudah memanggil “Pak,” lalu pura-pura menanyakan nomor referensi dokumen. Sore, saat kami berdua menunggu lift, aku menatap angka di panel turun dari 15 ke lobi dan tidak bertanya apa-apa.

Arsa menyadarinya. Aku tahu ia menyadarinya karena saat jam enam sore satu per satu orang pulang, ia melirik ke mejaku dua kali, dengan ekspresi orang yang menunggu sesuatu jatuh dari langit-langit.

“Lembur, Mbak?” tanya Tiara sambil memakai tas.

“Laporan interim Renyah Abadi. Pak Hendro minta besok pagi.”

“Pak Arsa juga lembur?” Tiara melirik ke meja ujung dengan mata berbinar.

“Dia supervisornya.”

“Oh.” Tiara mengangguk terlalu banyak kali. “Oke. Semangat, Kak. Semangat.” Ia mengucapkan kata kedua dengan penekanan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan laporan interim.

Pukul delapan, lantai 15 tinggal kami berdua. Lampu-lampu di sisi lain sudah dimatikan otomatis, jadi hanya ada dua pulau cahaya: mejaku di dekat jendela, dan mejanya di ujung. Di luar, Kuningan berkilau seperti seseorang menumpahkan lampu-lampu kecil di atas aspal.

Pukul sembilan lewat sepuluh, aku menyerahkan draf terakhir. Arsa membacanya di layar, mencentang dengan pena merah di versi cetak, mengangguk sekali.

“Selesai,” katanya.

“Selesai,” ulangku.

Kami saling menatap. Tidak ada lagi alasan untuk tetap di kantor.

“Teh?” tanyanya.

Itu pertama kalinya ia yang menawarkan.


Pantry di malam hari terasa berbeda. Lebih kecil. Lebih sunyi. Satu-satunya suara adalah dengung kulkas dan air panas yang mendidih di dispenser. Lampu di atas meja bar berwarna kuning hangat, dan sisanya remang.

Arsa membuat dua cangkir teh tawar. Ia menyodorkan satu padaku tanpa bertanya apakah aku mau gula, karena ia tahu aku tidak pakai gula kalau malam. Aku tidak pernah memberitahunya itu.

Kami berdiri bersebelahan, bersandar di meja bar, memegang cangkir masing-masing. Toples OBAT JUJUR ada di meja di antara kami. Isinya sudah berkurang sepertiga. Ia memakannya. Setiap hari. Aku tahu karena aku menghitungnya.

“Kamu belum nanya,” kata Arsa tiba-tiba.

Aku menoleh. Ia menatap cangkirnya, bukan aku.

“Hari ini,” lanjutnya. “Kamu belum pakai jatahmu.”

“Bapak ngitung?”

“Saya ngitung semuanya.”

Aku tertawa pelan. Lalu berhenti, karena tiba-tiba aku sadar aku tidak tahu harus bertanya apa.

Itu bohong. Aku tahu persis harus bertanya apa. Pertanyaan itu sudah ada di kepalaku sejak kaleng-kaleng kosong berjatuhan di gudang Cikarang, sejak ia bilang saya tahu dan tidak melepaskanku dua detik lebih lama dari yang seharusnya. Pertanyaan itu sudah ada sejak sayur asem dua porsi. Sejak meja dekat jendela.

Aku hanya tidak tahu apakah aku siap mendengar jawabannya.

Lalu aku memutuskan, seperti biasa, bahwa lebih baik bercanda.

Aku meletakkan cangkir. Aku memutar badan menghadapnya, bersandar ke meja dengan satu siku, dan memasang senyum paling iseng yang kupunya. Senyum yang biasa kupakai untuk menggoda satpam, Juned, dan seluruh lantai 14. Senyum yang tidak pernah serius.

Aku mengira ia akan bilang pass. Aku mengira kami akan tertawa. Aku mengira akan pulang dengan satu baris baru di KKC dan perasaan menang kecil yang menyenangkan.

“Satu pertanyaan hari ini,” kataku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak memanggilnya Bapak.

“Kamu suka aku, ya?”

Arsa mengangkat wajah dari cangkirnya.

Ia menatapku. Matanya gelap di bawah lampu kuning. Rahangnya mengencang. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya yang biasanya tidak pernah bergerak, sesuatu yang cepat dan panik, seperti seseorang yang baru menyadari pintu di belakangnya sudah terkunci.

Ia bisa bilang pass.

Ia tidak bilang pass.

Mungkin karena terkejut. Mungkin karena refleks dua puluh dua tahun untuk melindungi diri. Mungkin karena untuk satu detik, ia lupa siapa dirinya.

“Nggak.”

Satu detik.

Dua detik.

Hik.


Hening.

Bukan hening biasa. Hening yang punya berat. Hening yang memenuhi pantry sampai ke sudut-sudutnya dan menekan dengung kulkas sampai tidak terdengar.

Aku menatapnya.

Ia menatap toples OBAT JUJUR.

Telinganya merah. Lalu lehernya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, pipinya. Merah pelan-pelan naik seperti air pasang, dan wajahnya yang datar itu tidak berdaya menahannya.

Senyum isengku hilang. Aku tidak tahu ke mana perginya. Rasanya seperti seseorang mencabut kabel dari dalam diriku.

Aku sudah menggoda puluhan orang. Aku tahu semua jawaban: yang malu, yang balik menggoda, yang pura-pura tidak dengar, yang bilang ah, kamu bisa aja. Aku punya kalimat siap pakai untuk semuanya.

Aku tidak punya kalimat untuk ini.

Untuk seseorang yang mencoba bilang tidak, dan tubuhnya sendiri berkata iya.

Aku melangkah mendekat. Aku tidak merencanakannya. Kakiku hanya bergerak, satu langkah, sampai jarak kami tinggal sejengkal. Arsa tidak mundur. Ia tetap menatap toples itu seperti toples itu satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya.

Aku mengangkat tangan. Dua jariku menyentuh lehernya, pelan, di sisi kanan, tepat di bawah rahang, tempat denyut nadi berdetak. Kulitnya panas. Denyutnya berlari.

Ia menelan. Aku merasakannya di ujung jariku.

“Kamu nggak deg-degan, kan?” bisikku.

Suaraku tidak terdengar seperti suaraku. Terlalu pelan. Terlalu gemetar. Bukan suara orang yang sedang menggoda. Suara orang yang sedang memastikan sesuatu yang terlalu besar untuk dipercaya.

Arsa akhirnya menatapku.

“Nggak.”

Hik.

Hik.

Dua kali. Beruntun. Di bawah jariku, aku bisa merasakan cegukan itu naik dari dadanya ke tenggorokannya.

Aku tertawa. Atau mencoba tertawa. Yang keluar adalah suara kecil yang setengah tawa, setengah napas yang tertahan terlalu lama.


Pintu pantry terbuka.

Juned berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang sudah keluar dari celana dan wajah orang yang baru bangun dari tidur di sofa ruang rapat.

“Mbak Mika, Pak Arsa, maaf, ada yang lihat charger saya? Yang kabelnya putih, ujungnya agak—”

Ia berhenti.

Ia menatap kami. Aku dengan dua jari di leher Arsa. Arsa dengan wajah semerah saus sambal. Jarak kami yang tinggal sejengkal. Toples OBAT JUJUR. Dua cangkir teh yang sudah dingin.

Juned tidak berkata apa-apa.

Ia mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tanpa membalikkan badan, seperti orang yang mundur pelan-pelan dari beruang di hutan. Tangannya meraba-raba gagang pintu di belakangnya. Matanya tidak lepas dari kami.

Pintu tertutup dengan bunyi klik yang sangat, sangat pelan.

Dari balik pintu, samar, terdengar suara Juned berbisik pada dirinya sendiri: “Charger-nya nanti aja.”


Aku menurunkan tanganku dari leher Arsa.

Aku mundur satu langkah. Lalu dua. Punggungku menabrak tepi meja bar.

Arsa tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak bicara. Ia tidak perlu bicara. Kami berdua tahu apa yang baru saja terjadi.

Aku harus mengatakan sesuatu. Sesuatu yang cerdas. Sesuatu yang membuat semuanya kembali ringan. Aku Mika. Aku selalu tahu harus berkata apa.

“Ya ampun,” kataku akhirnya, terlalu keras, terlalu ceria, “kayaknya cegukan Bapak kambuh. Minum air terbalik, Pak. Katanya manjur.”

Aku kembali memanggilnya Bapak.

Arsa menatapku. Lama. Dan di matanya ada sesuatu yang membuat dadaku terasa sempit. Bukan malu. Bukan marah. Sesuatu yang lebih mirip kecewa, yang ditutupi dengan sangat rapi.

“Iya,” katanya pelan. “Mungkin.”

Tidak ada cegukan. Karena mungkin bukan kebohongan. Mungkin adalah pintu yang ia biarkan terbuka untukku, supaya aku bisa keluar tanpa harus menjawab apa-apa.

Dan aku keluar lewat pintu itu.

“Saya pulang dulu ya, Pak. Makasih tehnya.”

Aku mengambil tasku dari meja dan berjalan ke lift dengan langkah yang terlalu cepat untuk orang yang tidak sedang kabur.


Di taksi, aku tidak bisa berhenti menatap dua jariku sendiri.

Di apartemen, Oci sudah tidur. Aku masuk ke kamar tanpa menyalakan lampu, duduk di tepi kasur, dan membuka laptop. Cahaya layar memenuhi kamar yang gelap.

KKC terbuka di tab terakhir. Tiga puluh baris. Tiga puluh cegukan dalam dua minggu. Kopi kantor. Martabak. Rapat jam tujuh. Lift. Parfum. Semuanya lucu. Semuanya data. Semuanya permainan.

Aku menggulir ke baris tiga puluh satu dan mengetik pelan-pelan, satu kata per satu kata, seolah setiap huruf bisa pecah.

Kolom A: tanggal. Hari ini.

Kolom B: jam. 21.24.

Kolom C: kalimat terakhir sebelum cegukan. “Nggak.”

Kolom D: jumlah hik. 1.

Kolom E: benar? Aku menatap kolom itu lama sekali. Lalu mengetik: TIDAK.

Kolom G: telinga merah. Y. Lalu aku menambahkan: + leher + pipi.

Kolom keterangan masih kosong.

Biasanya aku menulis konteks di situ. Re: kopi. Re: martabak. Re: lift. Hal-hal kecil yang lucu.

Aku mengetik: Re: suka aku.

Lalu aku berhenti.

Aku menatap tiga kata itu di layar. Hik #31 — “Nggak.” — re: suka aku.

Tiga puluh baris lelucon, dan satu baris yang bukan lelucon.

Aku menatapnya sampai layar laptop meredup sendiri karena terlalu lama tidak disentuh. Di kegelapan, aku masih bisa melihat bayangan kata-kata itu di mataku.

Aku memasang semua jebakan itu untuk bersenang-senang. Untuk menang. Untuk membuat seorang pria kaku tersipu, karena itu menyenangkan dan tidak berbahaya.

Aku tidak pernah memikirkan apa yang akan kulakukan kalau jebakannya berhasil.

Aku menyentuh trackpad. Layar menyala lagi. Tiga kata itu masih di sana, tidak bergerak, tidak bisa dihapus tanpa menghapus kebenarannya.

Re: suka aku.

Dia suka aku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku, yang selalu punya kalimat untuk segalanya, tidak tahu harus menjawab apa.