← Hik! Itu Bohong

Chapter Thirty Seven

Epilog: Rendang Percobaan Keseratus

POV: Mika

Kami menikah di bulan September, di rumah Rawamangun, di bawah pohon mangga.

Akadnya sederhana. Seperti yang Arsa mau. Seperti yang Eyang mau. Bukan seperti yang Mama mau, karena Mama mau gedung, lima ratus tamu, dan pelaminan dengan air mancur. Mama kalah suara tiga lawan satu. Papa abstain. Mama menangis dua hari, lalu menerima kekalahan dengan syarat: semua makanan dari Surabaya.

Jadi pagi itu, halaman rumah Rawamangun penuh dengan tenda putih, kursi-kursi lipat, dan aroma rawon, lontong balap, dan rujak cingur yang memenuhi gang sampai ke jalan besar.

Aku memakai kebaya putih dan sanggul dengan ronce melati yang dirangkai Tante Wid semalaman. Arsa memakai beskap putih. Ia berdiri di depan penghulu dengan wajah datar dan telinga merah sampai ke leher, dan saat ia mengucapkan ijab kabul, suaranya tidak bergetar sedikit pun.

Satu kali. Lancar. Tanpa jeda.

Aku menunggu.

Tentu saja tidak ada cegukan. Semua yang ia ucapkan benar.


Pak Darto datang membawa empat puluh kaleng kerupuk.

Empat puluh. Diangkut dengan mobil bak terbuka dari Cikarang, dengan pita merah dan putih di setiap kaleng. Ia menurunkannya sendiri di depan pagar, dibantu tiga staf gudang, dan menyusunnya menjadi menara di sebelah meja prasmanan.

“Varian khusus!” katanya, menjabat tangan Arsa dengan dua tangan. “Rasa pengantin! Saya bikin sendiri, Pak! Resep rahasia!”

Ia membuka satu kaleng dan menyodorkan sepotong kerupuk berwarna merah muda kepada Arsa.

Arsa mengambilnya. Menggigitnya. Mengunyah.

Seluruh keluarga dan setengah kantor Wiratama & Partners menatapnya.

“Enak, Pak?” tanya Pak Darto penuh harap.

Arsa menelan. Menatap Pak Darto. Lalu, dengan wajah paling serius yang pernah kulihat:

“Kerupuk ini,” katanya, “sangat renyah.”

Tidak ada cegukan. Karena Pak Darto bukan aku.

Dan karena kerupuk itu memang sangat renyah.

Juned tertawa sampai jatuh dari kursi lipat. Tiara merekam. Pak Hendro menepuk punggung Pak Darto dan berkata “ini kerupuk terbaik Bapak”, dan Pak Darto menangis terharu, dan aku harus bersembunyi di balik bahu Arsa supaya tidak ada yang melihatku tertawa di hari pernikahanku sendiri.


Sore hari, setelah tamu-tamu mulai berkurang, Eyang memanggilku ke teras belakang.

Hanya aku. Arsa sedang difoto bersama keluarga dari Semarang.

Eyang duduk di kursi goyangnya. Kebaya ungu. Sanggul rapi. Cincin di jari manisnya sudah tidak ada, karena sekarang ada di jariku, di sebelah cincin kawin yang Arsa pasangkan tadi pagi.

“Duduk, Nduk,” kata Eyang. “Eyang janji cerita bagian tiga.”

Aku duduk di bangku kayu di sebelahnya. Jantungku berdebar.

“Kamu sudah tahu bagian satu,” kata Eyang. “Toko kain. Tidak. Hik. Bagian dua. Kakung sakit. Cegukannya hilang. Eyang memutuskan percaya.”

“Iya, Eyang.”

“Bagian tiga,” kata Eyang, tersenyum ke arah pohon mangga, “hari pernikahan kami.”

Aku menunggu.

“Tahun tujuh puluh. Bulan Oktober. Di rumah orang tua Eyang di Kwitang. Akadnya pagi, sama kayak kamu.” Eyang menatapku. “Eyang pakai kebaya putih. Kebaya terbaik yang bisa dibeli dengan gaji penjual kain. Eyang dandan dua jam. Eyang ngerasa cantik banget.”

Ia tertawa kecil.

“Terus Kakung lihat Eyang. Dan Kakung, pegawai bank yang kaku itu, yang mukanya kayak difoto paspor, yang sudah satu bulan bisa bohong ke siapa aja, bilang ke Eyang…”

Eyang berhenti. Menatapku dengan mata berbinar.

“Dik, kamu nggak cantik pakai kebaya itu.”

Aku menatap Eyang.

“Kakung bercanda,” kata Eyang. “Iseng. Mau bikin Eyang kesal. Karena dia pikir dia sudah bisa bohong, jadi dia mau coba.”

“Terus?”

Eyang tersenyum. Lebar. Seperti gadis penjual kain di Pasar Baru, lima puluh enam tahun yang lalu.

“Hik,” katanya.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Kembali,” kata Eyang. “Persis kayak Arsa. Di depan semua tamu. Di depan penghulu. Kakung langsung pegang tenggorokannya. Eyang tertawa sampai kebayanya robek di bagian ketiak.”

“Eyang—”

“Dan sejak hari itu sampai hari Kakung meninggal,” kata Eyang, suaranya lebih pelan sekarang, “cegukannya cuma muncul kalau dia bohong ke Eyang. Ke orang lain, nggak pernah. Ke bos-nya, nggak. Ke teman-temannya, nggak. Ke anak-anaknya, nggak. Cuma ke Eyang. Empat puluh delapan tahun.”

Ia menggenggam tanganku.

“Kakung bilang itu hadiah. Karena Eyang sudah memutuskan untuk percaya tanpa bukti, jadi Tuhan kasih buktinya lagi. Sebagai bonus.” Eyang tertawa. “Eyang bilang itu kutukan. Karena Eyang nggak pernah bisa dapat kejutan ulang tahun yang beneran kejutan.”

Aku tertawa. Dan menangis. Lagi.

“Nduk,” kata Eyang, menghapus air mataku dengan ibu jarinya. “Kamu sudah memutuskan percaya. Di koridor itu. Ninis cerita. Sebelum cegukannya balik.”

“Iya, Eyang.”

“Itu yang penting. Bukan cegukannya.” Eyang menepuk pipiku. “Cegukannya cuma bonus. Kamu sudah menang sebelum bonusnya datang.”


Di mobil, pulang dari resepsi kecil di restoran di Matraman, aku menyandarkan kepala di bahu Arsa.

Ia menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam tanganku di tuas persneling. Seperti di tol dulu. Seperti empat belas kilometer yang tidak ia ingat satu pun ramburnya.

Aku masih memakai kebaya. Sanggul sudah setengah lepas, tapi melati masih di rambutku. Lipstik sudah setengah hilang.

“Arsa.”

“Hm.”

“Eyang cerita bagian tiga.”

Ia diam sebentar. “Kakung?”

“Kakung bilang Eyang nggak cantik pakai kebaya. Terus cegukan.”

Arsa menoleh padaku di lampu merah. Lama. Dengan tatapan yang sangat, sangat mencurigakan.

Lalu ia tersenyum.

“Mika,” katanya.

“Hm?”

“Kamu nggak cantik pakai kebaya.”

HIK.

Aku tertawa sampai menangis. Di mobil. Di lampu merah Matraman. Dengan melati jatuh dari rambutku ke pangkuan. Arsa tertawa juga, memegang tenggorokannya, matanya basah, dan pengemudi di sebelah kami menurunkan kaca jendela untuk melihat apa yang terjadi.

“Turunan,” kataku di sela tawa. “Ini turunan, Arsa. Kakungmu iseng. Kamu iseng.”

“Aku belajar dari kamu,” katanya. “Iseng itu nular.”


Malam itu, di kamar kami. Kamar Arsa di Rawamangun, yang sekarang jadi kamar kami sampai rumah di Cibubur selesai direnovasi. Lemari kayu tua. Meja kerja yang sangat rapi. Foto Kakung dan Arsa kecil di dinding, dua wajah datar yang difoto seperti untuk paspor.

Melati di atas kasur. Ninis yang menaburnya, dengan pesan JANGAN BUKA PINTU SAMPAI BESOK, AKU DAN EYANG UDAH PAKAI EARPLUG yang ditempel di cermin.

Aku duduk di tepi kasur. Masih memakai kebaya. Tanganku meremas tepi kain.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku gugup.

Bukan gugup karena menggoda. Bukan gugup karena menunggu satu atau dua detik. Gugup yang lain. Gugup yang membuatku tidak tahu harus menaruh tangan di mana.

Arsa menutup pintu. Berdiri di sana. Masih memakai beskap putih. Ia menatapku. Telinganya merah. Lehernya merah.

Aku tertawa kecil. Gugup. “Arsa.”

“Hm.”

“Kamu takut?”

Ia menatapku. Lama.

“Nggak,” katanya.

Satu detik.

Hik.

Aku tertawa. Ia tertawa. Kami berdua tertawa, gugup dan bahagia dan konyol, dengan melati di kasur dan foto Kakung di dinding yang seolah ikut menonton.

Lalu ia berjalan ke arahku. Duduk di sebelahku di tepi kasur. Mengambil tanganku yang meremas kain kebaya. Membuka jari-jariku pelan-pelan. Menautkannya dengan jari-jarinya.

“Aku takut,” katanya. Jujur. Tanpa cegukan. “Sedikit.”

“Aku juga,” kataku. “Banyak.”

“Kamu nggak pernah takut.”

“Aku selalu takut. Aku cuma jago pura-pura berani.” Aku tersenyum. “Sekarang aku nggak mau pura-pura lagi.”

Ia menatapku. Lalu mengangkat tangannya ke wajahku. Menyentuh rahangku. Ibu jarinya di tulang pipiku. Di tempat yang sama. Selalu di tempat yang sama.

Dan ia menciumku.

Pelan. Dalam. Lama. Seperti seseorang yang tahu ia punya waktu seumur hidup dan tidak perlu terburu-buru. Seperti ciuman di taman villa, dan di mobil yang kacanya berembun, dan di ruang arsip dengan kertas kerja tahun 2019, dan di rooftop dengan cincin Eyang, semuanya sekaligus, dan lebih.

Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Menariknya lebih dekat.

Di luar, angin malam menggoyangkan daun-daun pohon mangga.

Lampu kamar padam.


Video pernikahan yang diunggah Ninis berjudul Kakakku Nikah, Rendangnya Asin.

Ninis tidak memasukkan adegan rendang di video itu. Tidak ada rendang di pernikahan kami. Ia hanya memakai judul itu karena, katanya, orang suka judul yang aneh.

Video itu berisi Pak Darto dengan empat puluh kaleng kerupuk. Arsa bilang sangat renyah. Mama Yuyun menangis sambil menyuapi Papa rujak cingur. Eyang menari dengan Bu Ratmi dari Geng Ungu. Pak Hendro berpidato empat puluh detik dan menangis di detik tiga puluh. Juned menangkap buket bunga, padahal buket itu dilempar ke arah Tiara. Bu Lastri, di sudut, dengan sepotong pisang goreng, tersenyum lagi. Dua kali. Ninis berhasil merekam keduanya.

Video itu ditonton satu juta dua ratus lima puluh ribu kali dalam dua minggu.

Satu juta dua ratus lima puluh ribu.

Arsa menatap angka itu di layar ponsel Ninis dengan wajah datar. Lalu menoleh padaku.

“Selisih,” katanya pelan.

Aku tertawa sampai Ninis harus menepuk punggungku.

Ninis akhirnya punya seratus delapan puluh ribu subscriber. @ArMi.official berganti nama menjadi @ArMi.selamanya, dengan bio baru: Kapal sudah berlabuh. Sekarang kita nonton mereka membangun rumah. 🏠✓


Satu tahun kemudian.

Dapur rumah kami di Cibubur. Kecil, terang, dengan jendela yang menghadap halaman belakang dan sebatang pohon mangga muda yang kami tanam dari biji mangga Rawamangun. Belum berbuah. Eyang bilang lima tahun lagi.

Di rak dapur, di sebelah toples gula dan toples garam, ada sebuah toples kaca dengan label kertas yang ditulis tangan dengan spidol hitam.

OBAT JUJUR (STOK PERMANEN).

Dan di sebelahnya, toples kaca lain. Lebih besar. Berisi empat puluh tujuh pena merah.

Semuanya milik Arsa. Semuanya kucuri, satu per satu, selama hampir tiga tahun. Ia menghitungnya di buku hitamnya. Ia tidak pernah memintanya kembali.

Aku berdiri di depan kompor, mengaduk wajan besar berisi daging dan bumbu yang mulai mengental dan menghitam.

Rendang. Percobaan keseratus.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Di meja dapur, di sebelah kompor, ada sendok takar. Satu set. Stainless steel. Hadiah pernikahan dari Eyang, dibungkus kertas kado bermotif batik, dengan kartu kecil bertuliskan tangan rapi: Garamnya jangan pakai perasaan. — Eyang.

Aku memakai sendok takar itu untuk garam. Satu setengah sendok teh. Persis. Tidak lebih.

Aku mengecilkan api di setengah jam terakhir.


Sepasang tangan melingkar di pinggangku dari belakang.

Dagu bersandar di bahuku. Pipi menempel di pipiku. Wangi sabun dan teh.

“Sudah?” tanya Arsa.

“Hampir.”

“Boleh nyicip?”

Aku mengambil sendok, menyendok sepotong daging, meniupnya, dan mengangkatnya ke belakang, ke arah mulutnya, tanpa menoleh.

“Aaa,” kataku.

Ia membuka mulut. Aku menyuapinya. Ia mengunyah. Pelan. Rahangnya bergerak di bahuku.

Aku menunggu.

Tapi bukan menunggu satu atau dua detik.

Aku menunggu jawabannya. Hanya jawabannya. Tanpa telinga yang dipasang untuk menangkap suara. Tanpa menghitung.

Ia menelan.

“Enak,” katanya.

Aku tidak menunggu satu detik itu.

Aku tidak mendengarkan apakah ada suara yang datang atau tidak. Aku tidak peduli. Aku sudah mendengar jawabannya, dari mulutnya, dari pria yang sudah satu tahun setiap pagi menempel sticky note di cermin kamar mandi dengan satu kebenaran baru, tanpa kuminta.

Kebenaran #312: Kamu ngorok sedikit kalau tidur miring ke kiri. Aku suka. ✓

Kebenaran #313: Aku masih nggak suka durian. ✓

Kebenaran #314: Aku jatuh cinta lagi sama kamu tadi pagi waktu kamu nyanyi lagu dangdut sambil gosok gigi. ✓

Aku percaya.

Bukan karena aku tidak mendengar cegukan. Karena aku sudah memutuskan, satu tahun lalu di koridor ruang arsip, dan setiap hari sejak itu ia memberiku satu bukti kecil lagi untuk tetap memutuskan hal yang sama.

Keyakinan memadai.


Aku mematikan kompor. Membalikkan badan di dalam pelukannya. Menghadapnya.

Ia menatapku. Wajahnya masih datar seperti biasa. Telinganya masih merah seperti biasa. Hampir tiga tahun, dan telinganya tidak pernah berhenti merah setiap kali aku terlalu dekat.

Aku tersenyum. Senyum iseng. Senyum yang tidak akan pernah hilang.

“Arsa.”

“Hm.”

“Satu pertanyaan hari ini.”

Ia menghela napas. Pasrah. Seperti seseorang yang sudah hampir tiga tahun dikerjai oleh perempuan yang sama dan tidak pernah sekali pun ingin berhenti.

“Tanya.”

Aku memiringkan kepala. Menatap matanya.

Pertanyaan ini, aku tahu, adalah pertanyaan yang dulu pernah ditanyakan seorang perempuan bernama Anggita, di kampus, bertahun-tahun lalu. Ninis yang cerita. Pertanyaan yang ia jawab dengan pass. Pertanyaan yang membuat Anggita pergi. Pertanyaan yang membuatnya percaya, selama bertahun-tahun, bahwa diam lebih aman daripada jujur.

“Kamu bahagia?”

Arsa menatapku.

Lalu, dengan wajah paling datar yang pernah kulihat, dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, dengan telinga yang merah sampai ke leher:

“Pass.”

Aku tertawa.

“Itu iya,” kataku.

Dan aku sudah siap memeluknya, sudah siap menciumnya, sudah siap menulis sticky note-ku sendiri untuk ditempel di cermin besok pagi.

Tapi ia belum selesai.

Ia mengangkat tangannya ke wajahku. Ibu jarinya di tulang pipiku. Di tempat yang sama. Selalu di tempat yang sama.

“Iya,” katanya. Tanpa ditanya lagi. Tanpa pass. Tanpa menunggu. “Banget.”

Satu detik.

Dua detik.

Tidak ada apa-apa.

Tentu saja tidak ada apa-apa.

Aku menatapnya. Mataku basah. Lagi. Selalu begini dengan pria ini.

Dan kemudian, tanpa ditanya, tanpa bertanya balik, tanpa candaan dan tanpa perisai, aku menjawab pertanyaan yang tidak pernah ia ajukan.

“Aku juga.”

Ia tersenyum.

Di belakangku, rendang percobaan keseratus mengepul di atas kompor. Garamnya pas. Dagingnya empuk. Untuk pertama kalinya, benar-benar enak.

Tapi kami tidak memakannya sampai satu jam kemudian.

Karena ada hal lain yang lebih penting.

Recharge.

Tanpa hitungan.


TAMAT