← Hik! Itu Bohong

Chapter Thirty Six

Cuma Satu Orang

POV: Arsa

Pagi setelah rooftop, aku bangun pukul lima dan langsung berbicara pada langit-langit kamarku.

“Saya suka durian.”

Satu detik. Dua detik. Lima detik.

Tidak ada apa-apa.

Aku duduk di tepi kasur. Menatap dinding. Mengulang semalam di kepalaku seperti rekaman CCTV. Aku nggak cinta kamu. HIK. Empat kali. Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Tapi pagi ini, durian tidak memicu apa pun.

Temuan: kondisi tidak konsisten. Perlu pengujian lebih lanjut. Metodologi: sampel acak.


Pukul tujuh lewat empat puluh lima, lantai 15 sudah penuh. Lima belas menit sebelum jam masuk. Itu belum pernah terjadi dalam sejarah Wiratama & Partners.

Semua orang menatapku saat aku keluar dari lift. Tiga puluh orang. Tim audit, tim pajak, tim konsultan, dua anak magang Big Four yang entah bagaimana masuk ke gedung kami.

Juned berdiri di depan mejaku dengan buku catatan baru. Sampulnya ditempeli selotip dengan tulisan PROYEK DETEKTOR 3.0 (FINAL).

“Pak,” katanya serius. “Demi ilmu pengetahuan.”

Aku meletakkan tas. “Tanya.”

“Bukan. Bapak yang ngomong. Bohong ke saya.”

Aku menatapnya. Tiga puluh orang menahan napas.

“Saya nggak baca chat grup TARUHAN ARMI,” kataku.

Aku membacanya. Setiap hari. Mereka sekarang bertaruh soal tanggal pernikahan. Juned pasang Desember. Bu Lastri belum pasang, dan semua orang takut karena itu.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Tidak ada apa-apa.

Juned menatapku. Lalu menulis di buku catatannya. Juned: NEGATIF.

“Pak Hendro,” panggil Juned. “Giliran Bapak.”

Pak Hendro maju. Ia masih memakai kemeja yang sama seperti semalam. Matanya masih sedikit merah.

Aku menatapnya. “Pidato Bapak semalam bagus.”

Pak Hendro tidak berpidato semalam. Ninis memveto. Pak Hendro hanya membagikan nasi dari magic com.

Satu detik. Dua detik.

Tidak ada apa-apa.

“Hendro: NEGATIF,” tulis Juned.

Lalu ia menoleh ke meja dekat jendela.

Mika duduk di sana. Rambut digerai. Cincin Eyang di jari manisnya. Ia sedang menopang dagu dengan satu tangan, menatapku dengan senyum yang sudah ia pakai sejak pukul tujuh pagi saat aku menjemputnya di lobi dan ia tidak berhenti tersenyum sepanjang perjalanan.

“Mbak Mika,” kata Juned. “Giliran Mbak.”

Mika tidak bergerak. Ia hanya menatapku. Menunggu.

Aku berjalan ke mejanya. Berdiri di depannya. Tiga puluh orang di belakangku. Dua anak magang Big Four merekam dengan ponsel.

“Aku nggak kangen kamu,” kataku.

Aku sudah menjemputnya satu jam lalu. Aku sudah bersamanya sepanjang perjalanan dari Setiabudi. Aku baru melepas tangannya di depan lift lima menit lalu.

Satu detik.

Hik.


Lantai 15 meledak.

Juned melempar buku catatannya ke udara. Tiara memeluk anak magang Big Four yang tidak ia kenal. Tim pajak bertepuk tangan. Seseorang dari tim IT berteriak itu melanggar semua hukum biologi! dan seseorang lain berteriak balik itu hukum cinta, Dimas!

Mika menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berbinar. Bahunya bergetar.

Aku berdiri di depan mejanya dengan tangan di tenggorokan.

Temuan: kondisi bersifat selektif.

Ke Juned: tidak ada cegukan.

Ke Pak Hendro: tidak ada cegukan.

Ke diriku sendiri, soal durian: tidak ada cegukan.

Ke Mika: cegukan.

Kesimpulan: aku hanya tidak bisa berbohong kepada satu orang.

Mika berdiri dari kursinya. Ia berjinjit. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, cukup dekat sehingga hanya aku yang bisa mendengar.

“Coba bilang kamu nggak mau nikah sama aku.”

Aku menatapnya. “Tiga puluh orang lagi lihat.”

“Aku tahu. Bilang aja.”

Aku menghela napas.

“Aku nggak mau nikah sama kamu.”

Hik. Hik.

Dua kali. Beruntun. Lebih keras.

Mika tertawa sampai harus memegang bahuku. Tiga puluh orang bersorak lagi. Dari ruangannya, Pak Hendro menelepon istrinya untuk kedua kalinya dalam dua belas jam.


Lamaran keluarga diadakan dua minggu kemudian, hari Minggu, di rumah Rawamangun.

Bapak dan Ibu datang dari Semarang dua hari sebelumnya. Ibu langsung mengambil alih dapur bersama Eyang, dan dalam satu jam, mereka berdua sudah bertengkar soal takaran bumbu opor dengan kerukunan yang hanya bisa dicapai oleh mertua dan menantu yang sudah tiga puluh tahun saling mengenal.

Bapak duduk di teras dengan koran dan menatapku dari atas kacamata.

“Kamu cegukan lagi?”

“Cuma ke Mika, Pak.”

Bapak menurunkan korannya. Menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum yang sangat mirip senyum Eyang.

“Kakungmu dulu juga begitu,” katanya. “Eyangmu nggak pernah cerita ke kamu?”

“Belum, Pak. Eyang bilang nanti. Di hari pernikahan.”

Bapak mengangguk. Mengangkat korannya lagi. “Eyangmu itu suka bikin orang penasaran. Dari dulu.”


Keluarga Mika datang pukul sepuluh.

Mama Yuyun keluar dari mobil sewaan lebih dulu, sebelum mobilnya benar-benar berhenti. Ia memakai kebaya hijau zamrud dan kerudung senada, dan membawa tiga kotak besar yang ia peluk di dada.

“Bandeng asap!” teriaknya dari pagar. “Bandeng asap Sidoarjo! Mama bawa tiga! Satu buat keluarga, satu buat Eyang, satu buat Mas Ganteng!”

Papa Mika keluar dari mobil dengan langkah yang jauh lebih tenang. Di belakangnya, Tante Wid, dua sepupu Mika, dan seorang nenek kecil yang ternyata nenek Mika dari pihak ibu.

Dan Mika.

Kebaya putih gading. Rambut disanggul dengan hiasan melati. Cincin Eyang di jari manisnya. Ia keluar dari mobil terakhir, berdiri di depan pagar, menatap rumah tua kami dengan jendela-jendela kayunya dan pohon mangga di halaman.

Seperti hari pertama ia datang ke sini. Dengan blus kuning dan kotak kue di dua tangan.

Ia cantik. Itu temuan yang tidak pernah berubah. Tapi hari ini, dengan kebaya putih gading dan melati di rambutnya, ia cantik dengan cara yang membuatku lupa sedang berdiri di mana.

Ninis menyikutku. “Mas. Mas. Napas.”

Aku bernapas.


Eyang dan Mama Yuyun bertemu di teras.

Dua perempuan. Satu kecil, tujuh puluh tujuh tahun, kebaya ungu, sanggul rapi. Satu sedang, lima puluhan, kebaya hijau zamrud, suara yang bisa didengar dari ujung gang.

Mereka saling menatap.

Lalu, dalam tiga detik, mereka sudah berpelukan, sudah saling memuji kebaya masing-masing, sudah membicarakan cara terbaik menggoreng bandeng asap, sudah sepakat bahwa Mika dan aku terlalu lama pacaran, dan sudah mulai merencanakan tanggal pernikahan tanpa bertanya pada kami.

“Bulan sepuluh,” kata Eyang.

“Kesuwen, Eyang! Bulan delapan!” kata Mama Yuyun.

“Bulan delapan musim hujan belum selesai.”

“Nggak apa-apa! Hujan itu berkah!”

“Bulan sembilan?”

“Sepakat!”

Mereka berjabat tangan.

Aku dan Mika saling menatap. Mika mengangkat bahu. “Kayaknya kita nikah bulan sembilan.”

“Kayaknya,” kataku.

Ninis berdiri di sebelah kami dengan ponsel teracung. “Konten. Judulnya: Dua Nenek Menentukan Nasib Kakakku dalam Sepuluh Detik.”


Acara lamaran dimulai pukul sebelas, di ruang tengah. Dua keluarga duduk berhadapan di atas karpet. Bapak berbicara mewakili keluargaku. Papa Mika menjawab mewakili keluarganya. Semua sesuai adat. Semua khidmat. Semua orang menahan napas.

Lalu Ninis, sebagai pembawa acara tidak resmi, mengumumkan sambutan dari “perwakilan kantor, atasan langsung calon mempelai pria.”

Pak Hendro berdiri.

Ia memakai batik terbaiknya. Rambutnya disisir dengan pomade yang terlalu banyak. Di tangannya, tiga lembar kertas yang sudah lusuh karena dua minggu dilipat dan dibuka dan dilipat lagi.

Ia menatap kertas-kertas itu. Lalu menatap Bu Lastri, yang duduk di barisan belakang dengan kebaya hitam dan wajah tanpa ekspresi.

Bu Lastri mengangkat satu jari. Lalu empat jari. Lalu nol.

Empat puluh detik.

Pak Hendro menarik napas. Lalu melipat tiga lembar kertas itu dan memasukkannya ke saku batiknya.

“Saya kenal Arsa tujuh tahun,” katanya. “Tujuh tahun, dia nggak pernah bohong ke saya. Bukan karena nggak bisa. Karena dia orang baik.”

Ia menatapku.

“Saya kenal Mika delapan bulan. Delapan bulan, dia bikin Arsa jadi orang yang lebih baik lagi. Yang bukan cuma nggak bohong, tapi juga berani bilang yang benar.”

Ia menatap Mika.

“Di audit, kami punya prinsip. Setiap angka harus dicek. Setiap dokumen harus nyambung. Kalau sudah cocok semua, kami bilang…”

Ia berhenti. Matanya berkaca-kaca. Ia menatap kami berdua.

“Kalian berdua,” katanya, suaranya bergetar, “sudah tick and tie.”

Ia duduk.

Tiga puluh delapan detik. Bu Lastri, di belakang, mengangguk sekali.

Hening sejenak di ruang tengah. Lalu Mama Yuyun menangis keras, dan Ibu menangis pelan, dan Eyang tersenyum ke arah foto Kakung di dinding, dan seluruh ruangan tertawa sambil menghapus air mata.

Lalu aku melihat Bu Lastri.

Di barisan belakang, dengan kebaya hitam dan tangan terlipat di pangkuan.

Bu Lastri tersenyum.

Bukan sudut bibir yang terangkat sepersekian detik seperti di rooftop. Senyum. Penuh. Lebar. Sampai matanya berkerut. Sampai giginya terlihat.

Juned, yang duduk di sebelahnya, menatapnya dengan mulut terbuka. Lalu Tiara. Lalu Pak Hendro, yang menoleh ke belakang dan langsung menjatuhkan tisu.

Satu ruangan terkesiap. Pelan. Bersamaan.

Bu Lastri berhenti tersenyum. Wajahnya kembali datar. Ia menatap semua orang yang menatapnya.

“Apa,” katanya.

Tidak ada yang berani menjawab.


Makan siang setelah lamaran. Meja makan jati penuh: opor ayam Ibu, sayur lodeh Eyang, bandeng asap Mama Yuyun, sambal goreng ati, kerupuk udang dari Pak Darto yang dikirim dua kaleng besar dengan kartu SELAMAT ATAS LAMARANNYA! RASA SPESIAL: LAMARAN! — DARTO.

Mika duduk di sebelahku. Kebaya putih gading. Melati di rambutnya. Lututnya menempel di lututku di bawah meja.

Aku tidak bisa berhenti menggenggam tangannya.

Di bawah meja. Diam-diam. Jari-jari bertaut. Ibu jariku mengusap punggung tangannya, tepat di sebelah cincin Eyang. Ia menatapku dari samping dan tersenyum, dan aku menggenggam lebih erat.

Lalu sebuah tangan menepuk tangan kami. Keras. Dari atas.

Tangan kami terlepas.

Mama Yuyun berdiri di belakang kursi kami. Tangannya masih terangkat. Matanya menyipit.

“Durung sah!” katanya. Belum sah.

Satu meja tertawa.

Mika menutup wajahnya dengan dua tangan. Aku menatap piringku. Telingaku terbakar.

Mama Yuyun kembali ke kursinya, puas. Lalu, tiga menit kemudian, saat semua orang sibuk dengan bandeng asap, aku merasakan sesuatu di bawah meja.

Kelingking Mika. Mengait kelingkingku.

Seperti di pantry, enam bulan lalu. Deal? Kelingking teracung. Kamu umur berapa? Dua puluh tujuh. Itu pertanyaan Bapak hari ini?

Aku tidak menarik kelingkingku.

Mama Yuyun tidak melihat. Atau mungkin melihat, dan memutuskan bahwa kelingking masih dalam batas yang sah.


Malam itu, setelah semua tamu pulang, setelah Mama Yuyun dan Papa Mika kembali ke hotel, setelah Eyang dan Ibu selesai bertengkar soal sisa opor, aku duduk di teras belakang.

Pohon mangga. Bulan penuh. Kursi goyang Eyang yang kosong.

Aku membuka buku hitam. Halaman baru.

Aku menulis.

Temuan akhir.

Subjek: Arsa Dirgantara.

Kondisi: cegukan setiap kali berbohong. Durasi: 22 tahun. Hilang: 1 bulan. Kembali: selektif.

Cakupan saat ini: hanya terhadap satu orang. Mikaela Sarasvati.

Penyebab: tidak diketahui. Dokter menyebutnya idiopatik. Eyang menyebutnya “turunan”. Juned menyebutnya “hukum cinta”. Mika menyebutnya “keunggulan kompetitif”.

Aku menatap halaman itu. Lalu menulis satu baris lagi di bawahnya, di tempat auditor biasa menulis opini.

Opini akhir: wajar tanpa pengecualian.

Aku berhenti. Lalu menambahkan dua kata.

Seumur hidup.

Aku menutup buku itu.


Ponselku bergetar. Pesan dari Mika.

Mama bilang kamu ganteng pakai batik. Papa bilang kamu jujur banget, agak serem. Nenek bilang kamu mirip suaminya. Tante Wid bilang mau dikenalin sama sepupu kamu. Aku bilang semua sepupumu udah nikah.

Pesan kedua.

Mereka semua sayang kamu. Aku juga.

Pesan ketiga.

Bukan balasan. Aku cuma mau bilang. ✓

Aku menatap tiga pesan itu di bawah bulan penuh.

Lalu aku menekan tombol mikrofon dan merekam voice note. Karena voice note masih memicu cegukan. Karena aku ingin ia mendengar.

“Mika. Aku nggak sayang kamu.”

Satu detik.

Hik.

Aku mengirimnya.

Tiga puluh detik kemudian, balasannya masuk. Voice note. Tiga detik.

Suaranya. Tertawa. Lalu:

“Aku tahu.”

Kali ini, aku tahu bukan jawaban yang bukan jawaban.

Kali ini, aku tahu berarti ia benar-benar tahu.


Aku duduk di teras sampai larut, menatap pohon mangga dan bulan, dan memikirkan semua yang sudah terjadi sejak seorang perempuan dari Surabaya menghapus tinta dari rahangku di hari pertamanya.

Dulu aku tidak bisa berbohong kepada siapa pun. Aku membangun seluruh hidupku di sekitar kenyataan itu. Diam. Pass. Kalimat yang secara teknis benar.

Lalu aku bisa berbohong kepada siapa pun. Dan aku belajar bahwa tidak berbohong ternyata berbeda dengan jujur. Bahwa jujur adalah memilih. Setiap hari. Tanpa ditanya.

Sekarang aku bisa berbohong kepada semua orang di dunia, kecuali satu.

Kebetulan, itu satu-satunya orang yang memang tidak ingin kubohongi.