← Hik! Itu Bohong

Chapter Twenty Six

Kursus Mikro-Ekspresi Juned

POV: Arsa

Kantor tahu dalam dua hari.

Bukan dariku. Bukan dari Mika. Dari Juned, yang memergokiku di toilet mengucapkan saya bisa joget tanpa cegukan, lalu memikirkannya selama dua puluh empat jam, lalu tidak tahan lagi.

Hari Rabu pagi, ia berdiri di depan mejaku dengan wajah orang yang akan menyampaikan berita duka.

“Pak,” bisiknya. “Pak, saya harus tanya. Demi ilmu pengetahuan.”

“Tanya.”

“Bapak suka durian?”

Aku menatapnya. Lalu, karena aku sudah lelah menyembunyikannya, dan karena aku tahu Juned akan terus bertanya sampai ia mendapat jawaban:

“Suka.”

Satu detik. Dua detik. Lima detik.

Juned menatapku. Wajahnya perlahan berubah. Dari curiga, ke tidak percaya, ke duka yang tulus.

“Ya Allah,” bisiknya. “Hilang.”

Lalu ia berbalik ke seluruh lantai dan berteriak:

“DETEKTORNYA HILANG!”


Pak Hendro keluar dari ruangannya dalam tiga detik.

Ia mendengarkan penjelasan Juned dengan wajah semakin pucat. Lalu menarikku ke ruangannya dan menutup pintu.

“Sa,” katanya pelan, duduk di kursinya dengan bahu yang merosot. “Beneran?”

“Beneran, Pak.”

“Total? Nggak ada sisa sama sekali?”

“Nggak ada, Pak.”

Pak Hendro menatap langit-langit. Lama. Lalu menghela napas sangat panjang, seperti pria yang baru kehilangan sesuatu yang berharga.

“Saya sudah nulis draf paper-nya,” katanya. “Judulnya ‘Pendekatan Fisiologis dalam Deteksi Salah Saji: Studi Kasus Tunggal.’ Sudah empat halaman.”

“Pak, saya sudah bilang itu tidak akan berhasil—”

“Saya tahu. Saya tahu.” Ia mengusap wajahnya. “Saya cuma… sedih aja. Itu kayak… kayak bagian dari kamu, Sa. Kayak tick mark-mu. Kayak teh tawarmu. Sekarang hilang.”

Aku diam.

Pak Hendro menatapku. Matanya sedikit berkaca-kaca. Aku tidak tahu harus merespons bagaimana.

“Kamu sendiri gimana?” tanyanya. “Sedih?”

Aku membuka mulut untuk bilang nggak. Itu yang biasa dikatakan orang. Nggak, Pak. Biasa aja. Malah enak.

Aku bisa mengatakannya sekarang. Tidak ada yang akan terjadi.

“Iya, Pak,” kataku. “Sedikit.”

Pak Hendro mengangguk pelan. Lalu berdiri, berjalan memutari meja, dan menepuk bahuku dua kali.

“Kamu masih Arsa,” katanya. “Cegukan atau nggak.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak yakin itu benar.


Juned tidak menerima kehilangan dengan baik.

Hari Kamis, ia datang ke kantor dengan headset menempel di satu telinga dan buku catatan baru. Sampulnya ditempeli selotip bertuliskan PROYEK DETEKTOR 2.0.

“Saya ikut kursus,” umumnya di pantry. “Membaca Kebohongan dalam 7 Hari. YouTube. Gratis. Udah sampai episode tiga.”

“Kursus apa?” tanya Tiara.

“Mikro-ekspresi! Ekspresi wajah sepersekian detik yang muncul waktu orang bohong. Nggak bisa dikontrol. Kalau saya bisa baca, kita punya detektor baru!”

Ia menatap Tiara. Menyipitkan mata. “Kamu bilang tadi pagi kamu udah sarapan.”

“Iya, udah.”

“Bohong. Alis kirimu naik dua milimeter.”

“Juned, aku udah sarapan. Lontong sayur.”

“Episode dua bilang alis kiri naik itu tanda—”

“Itu karena kamu nyorot mukaku pakai senter HP!”

Hari Jumat, Juned menuduh Pak Hendro berbohong soal rapat yang dibatalkan (tidak bohong, rapatnya memang dibatalkan), menuduh satpam berbohong soal lift yang rusak (tidak bohong, liftnya memang rusak), dan menuduh dirinya sendiri berbohong saat melihat pantulannya di jendela kaca (episode lima: bahkan pembohong terbaik tidak bisa berbohong pada cermin).

Tiara tidak mau kalah. Ia mengunduh aplikasi bernama Poligraf Pro yang mengklaim bisa mendeteksi kebohongan lewat getaran jari di layar ponsel.

“Taruh jempol Bapak di sini, Pak Arsa,” katanya, menyodorkan ponselnya. “Terus bilang sesuatu yang bohong.”

Aku menaruh jempol. “Saya tinggi seratus lima puluh senti.”

Ponsel bergetar.

“BOHONG!” teriak Tiara.

Lalu ponsel bergetar lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Tiara menatap layar. Notifikasi grup WhatsApp keluarganya. Tiga belas pesan baru dari tantenya tentang resep kue nastar.

“…Getarnya dari WhatsApp,” kata Tiara pelan.

“Iya,” kataku.


Tapi tes paling berkesan terjadi hari Senin, saat Juned memutuskan bahwa ia butuh “subjek kontrol dengan ekspresi wajah paling netral di seluruh gedung”.

Ia mengajak Bu Lastri.

Bu Lastri duduk di kursi di pantry, memegang sepotong tahu isi, menatap Juned tanpa ekspresi. Juned duduk di seberangnya dengan buku catatan, senter ponsel, dan wajah ilmuwan yang akan menemukan sesuatu yang besar.

“Bu Lastri, saya tanya beberapa hal. Ibu jawab aja, terserah jujur atau bohong.”

Bu Lastri menggigit tahu isinya.

“Bu Lastri suka kerja di HR?”

“Suka.”

Juned menyorot wajah Bu Lastri dengan senter. Menatap. Menyipitkan mata. Mencatat.

“Bu Lastri pernah marah sama Pak Hendro?”

“Tidak.”

Senter. Tatapan. Catatan.

“Bu Lastri punya kucing?”

“Tiga.”

Senter. Tatapan. Juned berhenti mencatat. Ia menatap Bu Lastri lebih lama. Lebih dekat. Mendekatkan senter. Bu Lastri mengunyah tahu isinya dengan ritme yang sama persis seperti sebelumnya. Wajahnya tidak bergerak satu milimeter pun. Tidak ada alis yang naik. Tidak ada bibir yang bergetar. Tidak ada mata yang berkedip lebih cepat.

Juned membuka episode enam di ponselnya. Menonton dua menit. Menatap Bu Lastri lagi.

Lalu menutup buku catatannya pelan-pelan.

“Sistem error,” bisiknya.

Bu Lastri menghabiskan tahu isinya, berdiri, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh:

“Kucingnya empat.”

Lalu pergi.

Juned menatap pintu yang tertutup dengan wajah seorang ilmuwan yang baru saja menyaksikan teorinya runtuh.


Semua itu lucu. Aku tahu itu lucu. Aku melihat Tiara tertawa sampai menangis, melihat Juned menulis BU LASTRI = ANOMALI di buku catatannya dengan huruf kapital.

Tapi aku juga melihat hal lain.

Aku melihat Mika.

Ia tidak pernah bertanya terang-terangan. Ia tidak pernah bilang kamu bohong nggak? Ia tidak membuat spreadsheet baru. Ia tetap memelukku di ruang arsip. Tetap mencuri pena merahku. Tetap menyandarkan kepala di bahuku di lift.

Tapi ia mulai bertanya hal-hal kecil.

“Kamu tadi beneran makan siang?” Hari Selasa, saat aku kembali dari bawah.

“Beneran. Soto.”

Ia menatapku. Matanya bergerak ke wajahku, ke mataku, ke telingaku. Mencari sesuatu. Lalu tersenyum. “Oke.”

“Kamu beneran nggak capek?” Hari Rabu, saat aku menolak pulang lebih awal.

“Beneran.”

Matanya mencari lagi. Lalu tersenyum lagi. “Oke.”

“Kamu beneran suka kardigan baruku?” Hari Kamis.

“Beneran. Warnanya bagus.”

Ia menatapku sedikit lebih lama kali ini. Matanya berhenti di telingaku. Lalu tersenyum. Lalu mengalihkan pandangan sedikit terlalu cepat.

Setiap kali, ia tersenyum. Setiap kali, ia bilang oke.

Tapi setiap kali, sebelum ia tersenyum, ada satu detik di mana matanya mencari. Seperti auditor yang memeriksa dokumen yang tidak bisa diverifikasi, dan memutuskan untuk menerimanya, tapi tidak sepenuhnya yakin.

Aku tidak menyalahkannya. Aku mengerti. Aku sendiri masih mengecek diriku sendiri setiap kali bicara, menunggu satu atau dua detik untuk suara yang tidak akan pernah datang.

Tapi aku melihatnya. Dan setiap kali, sesuatu di dadaku terasa sedikit lebih berat.


Malam Kamis, aku melakukan sesuatu yang bodoh.

“Ninis,” kataku di ruang tengah, setelah Eyang tidur. “Ajari aku gombal.”

Ninis menurunkan laptopnya. Menatapku. Lalu tertawa sampai jatuh dari sofa.

“Mas? Mas mau gombal?”

“Sekarang aku bisa.”

Ninis berhenti tertawa. Duduk lagi di sofa. Menatapku dengan wajah yang tiba-tiba lebih serius.

“Mas,” katanya. “Mbak Mika kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

Aku menunggu. Kebiasaan.

Ninis juga menunggu. Kebiasaan dua puluh tiga tahun.

Tidak ada apa-apa.

Ninis menatapku lama. “Mas bohong, ya?”

“…Pass.”

Ninis menghela napas. Lalu membuka laptopnya, mengetik sesuatu, dan memutarnya ke arahku. Sebuah video TikTok berjudul 50 Gombalan Paling Ampuh untuk Pacar.

“Mulai dari nomor satu,” katanya. “Tapi Mas, jangan yang nomor tujuh belas. Itu cringe banget.”


Jumat siang, di pantry, Mika sedang membuat teh. Kami berdua saja.

Aku sudah menghafal tiga gombalan. Aku sudah berlatih di depan cermin toilet, memastikan Juned tidak ada di dalam bilik mana pun.

Aku berdiri di sebelahnya. Ia menoleh dan tersenyum.

“Mika.”

“Hm?”

Aku menarik napas. “Kamu pasti capek.”

Ia mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena seharian,” aku menelan, “lari-lari di pikiranku.”

Hening.

Mika menatapku. Cangkir teh di tangannya berhenti di tengah jalan ke bibirnya.

Lalu ia tersedak.

Bukan karena teh. Ia belum minum tehnya. Ia tersedak udara. Tersedak tawa yang keluar begitu tiba-tiba sampai ia harus meletakkan cangkir dan membungkuk dan memegangi meja bar.

“Ar… Arsa…” Ia tertawa sampai air mata keluar. “Kamu… kamu belajar dari mana?”

“Ninis.”

“Ninis?” Mika tertawa lebih keras. “Ya Allah. Ya Allah. Itu gombalan dari tahun berapa?”

“Nomor tiga dari lima puluh. Katanya ampuh.”

“Ampuh buat bikin orang keselek!”

Aku berdiri di sana dengan telinga terbakar, menatapnya tertawa sampai terduduk di kursi tinggi, sampai pena merah di rambutnya jatuh ke lantai.

Dan aku merasakan sesuatu yang sangat konyol: kelegaan. Karena untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ia tertawa tanpa ada satu detik di mana matanya mencari sesuatu.

Aku memungut pena merahku dari lantai. Memberikannya kembali padanya. Ia mengambilnya, masih tertawa, mengusap matanya dengan punggung tangan.

“Kenapa,” katanya, terengah, “kenapa kamu tiba-tiba belajar gombal?”

Aku memikirkannya. Aku bisa bilang karena iseng. Aku bisa bilang karena Ninis maksa.

“Karena sekarang aku bisa,” kataku. “Aku pikir… kalau aku bisa bohong, berarti aku juga bisa gombal. Bisa bilang hal-hal manis yang nggak sepenuhnya benar, kayak orang lain. Kayak yang kamu suka.”

Mika berhenti tertawa.

“Tapi ternyata,” lanjutku, menatap pena merah di tangannya, “nggak perlu.”

“…Nggak perlu?”

“Aku coba cari gombalan yang paling bagus. Lima puluh. Aku baca semuanya.” Aku menatapnya. “Terus aku sadar, semua yang mau kubilang ke kamu itu udah benar. Nggak ada yang perlu dilebih-lebihin. Kamu memang cantik. Kamu memang pintar. Aku memang mikirin kamu seharian. Itu bukan gombal. Itu fakta.”

Aku mengangkat bahu.

“Jadi ternyata aku nggak butuh gombal. Aku cuma butuh ngomong yang benar.”


Mika menatapku.

Senyumnya hilang. Bukan karena sedih. Karena sesuatu yang lain. Matanya membesar, berkaca-kaca, dan bibirnya sedikit terbuka, seperti seseorang yang baru saja menerima sesuatu yang tidak ia duga.

Untuk satu detik, aku melihatnya. Tidak ada pencarian. Tidak ada detik di mana matanya memeriksa telingaku. Hanya Mika, menatapku, seperti di pantry dulu waktu ia menempelkan punggung tanganku di pipinya.

Lalu ia berdiri dari kursi tinggi, melangkah ke arahku, mengangkat dua tangannya ke wajahku, dan menciumku.

Di pantry. Siang hari. Pintu tidak dikunci. Siapa pun bisa masuk.

Ringan. Cepat. Tapi sungguh-sungguh. Bibirnya hangat dan sedikit asin dari air mata tawanya.

Ia mundur. Masih memegang wajahku.

“Itu,” bisiknya, “gombalan paling bagus yang pernah aku dengar.”

“Itu bukan gombalan.”

“Aku tahu.” Ia tersenyum. Matanya basah. “Makanya paling bagus.”

Pintu pantry terbuka.

Juned berdiri di ambang pintu dengan headset di telinga dan ponsel di tangan, menonton episode tujuh Membaca Kebohongan dalam 7 Hari. Ia mengangkat wajah. Melihat kami. Melihat tangan Mika di wajahku.

Ia menyipitkan mata, menganalisis wajah kami dengan teknik yang baru ia pelajari selama seminggu.

“Mikro-ekspresi terdeteksi,” katanya serius. “Kalian berdua… bahagia.”

“Itu bukan mikro-ekspresi, Ned,” kata Mika. “Itu ekspresi biasa.”

Juned menatap layar ponselnya. Lalu menatap kami. Lalu menutup videonya.

“Kursus ini nggak berguna,” katanya, dan keluar.


Malam itu, di kamarku, aku membuka buku hitam.

Halaman Hal yang belum kuucapkan.

Aku tidak menulis apa-apa yang baru. Aku hanya membaca baris kedua, lagi dan lagi.

Aku takut kamu lebih sayang cegukanku daripada aku.

Hari ini, di pantry, untuk satu detik, ia menatapku tanpa mencari apa pun.

Satu detik.

Aku tidak tahu apakah satu detik itu cukup sebagai bukti.

Tapi aku mencatatnya. Seperti semua hal tentang dia, aku mencatatnya.

Bukti kecil #1: dia lupa mengecek telingaku waktu aku bilang hal yang benar.