Chapter Twenty Three
Gantian Aku yang Jaga
POV: Mika
Busy season berakhir di minggu terakhir bulan Maret, dan Arsa tumbang di hari yang sama.
Ia sudah batuk-batuk sejak dua minggu sebelumnya. Wajahnya pucat sejak seminggu sebelumnya. Aku menyuruhnya ke dokter tiga kali. Tiga kali ia bilang nanti setelah laporan selesai. Tiga kali aku mengisi botol minumnya diam-diam, seperti yang biasa ia lakukan untukku, dan menempel sticky note di monitornya: Istirahat. ✓ (miring).
Jumat sore, pukul empat, setelah laporan klien terakhir ditandatangani partner, Arsa berdiri dari kursinya, mengambil tas, berjalan tiga langkah, dan berhenti.
Ia memegang tepi meja Juned.
“Pak?” Juned menoleh. “Pak Arsa?”
Arsa tidak menjawab. Ia berdiri di sana, satu tangan di meja Juned, mata terpejam, napas pendek-pendek.
Aku sudah di sebelahnya sebelum aku sadar aku berdiri. Tanganku di dahinya.
Panas. Sangat panas.
“Kamu demam,” kataku.
“Nggak.”
Hik.
Bahkan cegukannya terdengar lemah.
Dokter di klinik dekat kantor mengambil darahnya, lalu menelepon satu jam kemudian. Gejala tipes. Harus bed rest total. Minimal seminggu. Makan lunak. Tidak boleh bekerja. Tidak boleh membuka laptop. Tidak boleh membalas email.
Arsa menatap dokter itu dengan ekspresi pria yang baru divonis penjara seumur hidup.
“Satu minggu, Dok?”
“Minimal.”
“Laptop—”
“Tidak boleh.”
“Email saja—”
“Mas,” kata dokter itu, perempuan paruh baya dengan kacamata tebal dan nada suara seorang ibu dengan empat anak, “kalau Mas buka laptop, saya rawat inap. Pilih.”
Arsa diam. Lalu menoleh padaku dengan mata minta tolong.
Aku tersenyum dan menggandeng lengannya. “Ayo pulang, Pak Supervisor.”
Rumah Rawamangun berubah menjadi markas komando.
Eyang Uti, yang ternyata pernah menjadi relawan PMI selama dua puluh tahun, mengambil alih dengan efisiensi seorang jenderal perang. Ninis ditunjuk sebagai ajudan. Dan dalam waktu dua jam, sebuah kertas karton ditempel di pintu kamar Arsa, ditulis tangan dengan spidol hitam besar oleh Ninis.
SOP JENGUK MAS ARSA
(Disusun oleh: Eyang & Ninis. Disetujui oleh: Eyang.)
- Jam jenguk: 10.00–12.00 & 16.00–20.00.
- Maksimal 2 orang sekaligus.
- Dilarang bawa laptop, berkas, atau hal-hal yang berbau kantor.
- Dilarang tanya soal kerjaan.
- Dilarang bikin Mas Arsa ketawa terlalu keras (perutnya sakit).
- Dilarang bikin Mas Arsa bohong (cegukan bikin perutnya tambah sakit).
- Pengecualian jam jenguk: Mbak Mika. (Disetujui Eyang.)
Aku membaca poin tujuh tiga kali.
Ninis berdiri di sebelahku, tangan terlipat di dada, sangat bangga. “Aku yang usul poin tujuh. Eyang langsung setuju.”
“Ninis…”
“Mbak jagain Masku, ya.” Ninis menatapku dengan wajah serius yang jarang kulihat. “Dia nggak pernah sakit. Nggak pernah. Terakhir dia sakit itu waktu SMA. Dan waktu itu dia masih ke sekolah.”
Aku datang setiap hari.
Pagi sebelum ke kantor. Sore sepulang kantor. Hari Sabtu dan Minggu dari pagi sampai malam.
Tim kantor tidak bisa datang semuanya, karena SOP poin dua. Jadi mereka mengirim perwakilan. Hari Senin, Juned dan Tiara datang membawa parsel buah yang sangat besar, dengan kartu yang ditulis Tiara dengan tulisan tangan bulat-bulat:
Cepat sembuh, Detektor kami!
— Tim Hendro & 2.000 pengikut @ArMi.official
“Dua ribu?” tanyaku.
“Naik pas Kak Mika tangan-di-saku,” bisik Tiara. “Viral di grup anak magang se-Kuningan.”
Arsa membaca kartu itu dari kasurnya, wajahnya pucat dan berkeringat. “Hapus akunnya.”
“Nggak, Pak,” kata Tiara dengan senyum polos. “Itu warisan budaya.”
Hari Selasa, Pak Hendro tidak bisa datang karena rapat dengan klien. Tapi ia mengirim voice note ke ponsel Arsa. Durasinya tiga menit empat puluh detik. Arsa memutarnya di speaker, karena terlalu lemas untuk memegang ponsel di telinga.
Itu Pak Hendro. Bernyanyi. Lagu berjudul Cepat Sembuh, Supervisorku yang ia karang sendiri dengan nada lagu ulang tahun, dengan gitar yang fals, suara yang lebih fals, dan di bagian reff, terdengar suara istrinya ikut bernyanyi di latar belakang.
Arsa mendengarkan sampai habis dengan mata terpejam.
“Dia nyanyi buat aku,” gumamnya.
“Iya.”
“Fals.”
“Iya.”
“Aku suka.”
Tidak ada cegukan. Aku tersenyum dan merapikan selimutnya.
Hari Rabu, demamnya naik lagi. Tiga puluh sembilan koma dua.
Eyang memberikan obat penurun panas dan kompres, lalu menyuruhku menyuapinya bubur. “Eyang mau ke pasar, Nduk. Kamu yang jaga. Kalau demamnya nggak turun dalam dua jam, telepon Eyang.”
Aku duduk di tepi kasurnya dengan mangkuk bubur ayam yang masih mengepul. Kamarnya sederhana: lemari kayu tua, meja kerja yang sangat rapi, rak buku penuh buku akuntansi dan beberapa novel detektif. Di dinding, sebuah foto lama: anak laki-laki berumur sekitar tujuh tahun, berdiri di samping seorang pria tua berkemeja putih. Kakung. Dua wajah datar yang identik, menatap kamera seperti difoto untuk paspor.
Arsa setengah duduk, bersandar di bantal. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat dengan pipi yang merah karena demam. Kaus abu-abunya sudah basah keringat.
Ia terlihat sangat muda. Dan sangat rapuh. Dan aku belum pernah melihatnya seperti ini.
“Aaa,” kataku, mengangkat sendok.
Ia menatap sendok itu. Lalu menatapku. Ada déjà vu di matanya.
“Kamu dulu nyuapin aku rendang gosong,” katanya. Suaranya serak.
“Dan kamu bilang ada usahanya.”
“Itu benar.”
“Aku tahu. Makanya aku kesel.” Aku mendekatkan sendok. “Aaa. Ini bukan gosong. Eyang yang masak.”
Ia membuka mulut. Aku menyuapinya. Pelan. Satu sendok. Dua sendok. Ia mengunyah dengan susah payah, menelan, lalu menatapku dengan mata yang setengah berkabut karena demam.
“Mika.”
“Hm?”
“Kamu cantik banget.”
Aku berhenti dengan sendok di udara.
Ia mengatakannya begitu saja. Tanpa ditanya. Tanpa konteks. Matanya tidak fokus, dan suaranya pelan dan berat, seperti suara seseorang yang setengah tertidur.
“Kamu cantik banget,” ulangnya. “Aku capek pura-pura kalem.”
“…Pura-pura kalem?”
“Tiap hari.” Ia memejamkan mata. “Tiap kamu lewat. Tiap kamu duduk di mejaku. Tiap kamu narik dasiku. Aku harus pura-pura kalem. Padahal jantungku…” Ia mengangkat tangan dengan lemah dan meletakkannya di dadanya. “…kayak lagi stock opname. Ngitung terus. Nggak berhenti-berhenti.”
Aku meletakkan mangkuk bubur di meja samping. Tanganku gemetar.
Itu demam. Aku tahu itu demam. Orang yang demam tinggi meracau. Mengatakan hal-hal yang tidak akan mereka katakan saat sadar.
Tapi Arsa tidak bisa meracau bohong.
Semua yang ia katakan sekarang, dalam keadaan setengah sadar, dengan suhu tiga puluh sembilan koma dua, adalah benar.
“Arsa,” bisikku.
Ia membuka mata sedikit. Mencari wajahku. Tangannya bergerak di atas selimut, meraba-raba, sampai menemukan tanganku. Menggenggamnya.
“Jangan pulang dulu,” katanya.
Aku tidak pulang.
Ia tertidur sepuluh menit kemudian, masih menggenggam tanganku. Genggamannya tidak kuat. Tapi setiap kali aku mencoba menarik tanganku dengan sangat pelan, jari-jarinya mengencang, dan keningnya berkerut dalam tidur.
Jadi aku tidak menarik tanganku.
Aku turun dari tepi kasur dan duduk di lantai, bersandar di sisi kasur, dengan tangan kananku terangkat ke atas kasur, masih di genggamannya. Posisinya tidak nyaman. Lenganku mulai pegal setelah setengah jam. Kakiku kesemutan setelah satu jam.
Aku tidak bergerak.
Aku teringat foto yang dikirim Ninis, empat bulan yang lalu. Empat puluh menit di bahu kiri. Mas Arsa nggak gerak 40 menit. Tangannya kesemutan sampai nyetir pakai siku.
Gantian aku yang jaga, pikirku.
Satu jam. Satu setengah jam. Napasnya mulai teratur. Keringat di dahinya mulai berkurang.
Pintu kamar terbuka pelan. Eyang masuk dengan kantong belanja. Ia berhenti di ambang pintu, menatapku yang duduk di lantai dengan satu tangan terangkat ke kasur, menatap cucunya yang tertidur dengan tangan menggenggam tanganku.
Eyang tidak berkata apa-apa.
Ia meletakkan kantong belanja. Mengambil selimut tipis dari lemari. Lalu berjalan ke arahku dan menyelimutkannya di bahuku, pelan, seperti menyelimuti cucunya sendiri. Ia menepuk kepalaku dua kali.
Lalu ia keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Aku menunduk dan menempelkan dahiku di tepi kasur, dan untuk satu menit, aku membiarkan mataku basah tanpa alasan yang jelas.
Dua jam kemudian, demamnya turun. Tiga puluh tujuh koma delapan.
Aku berdiri dengan kaki yang kesemutan dan lengan yang mati rasa. Tangannya akhirnya melepaskan tanganku dalam tidur, jari-jarinya rileks di atas selimut.
Aku membungkuk di atasnya. Menyingkirkan rambut yang menempel di dahinya karena keringat.
Lalu aku mencium keningnya.
Pelan. Lama. Di tempat yang sama di mana ia mencium keningku di depan pagar setelah kencan pertama kami. Membalas tanda tangan dengan tanda tangan.
Ia bergerak sedikit. Matanya terbuka setengah. Berkabut. Menatapku.
“Mika,” gumamnya.
“Ssst. Tidur lagi.”
“Kamu masih di sini.”
“Masih.”
“Kamu capek.”
“Nggak.” Aku tersenyum. “Aku bisa bohong, ingat?”
Ia menatapku dengan mata yang setengah terpejam. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti hembusan napas:
“Aku nggak apa-apa. Kamu pulang aja.”
Satu detik.
Dua detik.
Hik.
Sangat lemah. Hampir tidak terdengar. Seperti gema dari ruangan yang jauh. Seperti suara terakhir dari radio yang baterainya hampir habis.
Aku tertawa pelan. “Tuh, kan. Bohong.”
Ia tidak menjawab. Matanya sudah terpejam lagi. Napasnya kembali teratur.
Aku duduk di tepi kasur dan menatapnya tidur sampai Ninis datang menggantikanku pukul delapan malam.
Malam itu, di apartemen, aku membuka laptop dan membuka KKC. Sudah dua minggu aku tidak membukanya. Tidak ada yang perlu dicatat selama ia sakit.
Aku menggulir ke baris terakhir dan mengetik.
Kolom A: tanggal. Rabu, minggu terakhir Maret.
Kolom B: jam. 18.42.
Kolom C: kalimat terakhir sebelum cegukan. “Aku nggak apa-apa. Kamu pulang aja.”
Kolom D: jumlah hik. 1 (lemah).
Kolom E: benar? TIDAK.
Keterangan: Demam 37,8. Dia nggak mau aku pulang.
Aku menatap baris itu. Lalu menekan simpan dan menutup laptop.
Aku tidak tahu, malam itu, bahwa itu akan menjadi baris terakhir di Kertas Kerja Cegukan.
Aku tidak tahu bahwa hik yang lemah itu, yang hampir tidak terdengar, yang membuatku tertawa di tepi kasurnya, adalah yang terakhir.
Kalau aku tahu, mungkin aku akan mendengarkannya lebih baik.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga reading
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus