Chapter Six
Secara Teknis, Itu Benar
POV: Arsa
Pak Hendro mengumumkannya di rapat ayam berkokok hari Senin dengan nada seseorang yang memberi hadiah.
“Interim audit PT Renyah Abadi, Cikarang. Hari Rabu. Arsa sama Mika.”
Juned langsung menoleh padaku dengan alis terangkat. Tiara menulis sesuatu di buku catatannya dengan kecepatan yang mencurigakan.
“Berdua, Pak?” tanyaku.
“Berdua. Juned saya butuhkan di Sinar Kemas, Tiara masih training.” Pak Hendro tersenyum lebar. “Lagi pula, Mika paling jago persediaan. Kamu paling jago… semuanya. Kombinasi yang pas!”
Aku melirik ke seberang meja. Mika sedang menatap laptopnya dengan wajah sangat serius, terlalu serius, seperti orang yang sedang menahan senyum dengan seluruh otot wajahnya.
Di pertanyaan harian hari itu, Mika bertanya, “Bapak senang ke Cikarang bareng saya?”
Aku bilang, “Pass.”
Mika menulis sesuatu di ponselnya dan tidak bertanya apa-apa lagi sampai sore. Itu lebih menakutkan daripada kalau ia terus bertanya.
PT Renyah Abadi adalah pabrik kerupuk. Klien lama Wiratama & Partners, sudah sembilan tahun. Pabriknya di kawasan industri Cikarang, satu jam lebih dari Kuningan kalau tol sedang baik hati, dua jam kalau tol sedang menguji kesabaran manusia.
Rabu pagi, tol sedang menguji kesabaran manusia.
Mika duduk di kursi penumpang mobilku dengan laptop di pangkuan, sesekali mengetik, sesekali melihat ke luar jendela, sesekali melihatku. Aku tahu ia melihatku karena aku juga sesekali melihatnya, dan setiap kali aku melihatnya, ia sudah melihatku lebih dulu.
Temuan: dalam satu jam perjalanan, kontak mata tak sengaja terjadi sebelas kali. Probabilitas kebetulan: rendah.
Yang kuketahui tentang Mika setelah dua minggu:
Ia bernyanyi pelan kalau lagu di radio ia suka, tapi berhenti begitu sadar aku mendengarkan. Ia menggigit bibir bawah kalau sedang menghitung. Ia mengikat rambutnya dengan pena merahku, yang sekarang sudah tiga buah. Dan ia menatap jalan tol yang macet dengan ekspresi yang sama seperti saat menatap selisih di kertas kerja: tertarik, sabar, siap menemukan sesuatu.
“Pak,” katanya tiba-tiba. “Bapak pernah ke pabrik kerupuk?”
“Setiap tahun. Ini klien saya sejak saya associate.”
“Kerupuknya enak?”
Aku menatap jalan di depanku. “Kamu akan tahu.”
Mika menatapku dengan mata menyipit. Aku tidak menambahkan apa-apa.
Kepala gudang PT Renyah Abadi bernama Pak Darto. Pria berusia lima puluhan dengan kumis tebal, kaus polo bergaris logo perusahaan, dan senyum yang selalu muncul bersama satu kantong plastik kerupuk.
“Pak Arsa! Sehat? Sehat!” Ia menjabat tanganku dengan dua tangan, lalu langsung menyodorkan kantong plastik. “Ini varian baru. Kerupuk udang rasa balado keju. Coba!”
Lalu ia melihat Mika, dan berhenti. Kumisnya bergerak sedikit, seperti kumis orang yang baru lupa kalimatnya.
“Ini…?”
“Mika, Pak. Senior Associate. Baru pindah dari Surabaya.”
“Waduh, Pak Arsa. Kantor Bapak sekarang rekrut artis?”
Mika tertawa dan menjabat tangan Pak Darto. Pak Darto langsung menyodorkan dua kantong kerupuk padanya, dua, bukan satu, dan aku mencatat bahwa bahkan kepala gudang pabrik kerupuk tidak kebal.
Kami bekerja sampai siang. Mika memang paling jago persediaan. Ia membaca kartu stok seperti orang membaca novel, menemukan pola pergerakan barang yang aneh dalam dua puluh menit, dan menanyai staf gudang dengan cara yang membuat mereka merasa sedang mengobrol, bukan diperiksa.
Aku melihatnya dari ujung meja dan merasakan sesuatu yang tidak ada di standar audit mana pun.
Pukul satu, Pak Darto kembali dengan nampan. Di atasnya ada enam piring kecil, masing-masing berisi kerupuk varian berbeda.
“Makan siang dulu, Pak, Mbak! Ini semua produk baru. Saya minta pendapat jujur!”
Pendapat jujur. Dua kata yang selama dua puluh dua tahun selalu membuatku waspada.
Aku mengambil kerupuk pertama. Kerupuk udang rasa balado keju. Aku menggigitnya.
Rasanya seperti seseorang mencoba mendamaikan dua negara yang sedang berperang, di dalam mulutku, dan gagal.
Pak Darto menatapku dengan mata berbinar penuh harap. “Enak, Pak?”
Aku mengunyah. Di seberang meja, Mika berhenti mengunyah juga. Ia menatapku, dan aku tahu ia sedang menunggu. Menunggu hik.
Aku menelan.
“Kerupuk ini…” Aku memilih kata dengan hati-hati, seperti memilih sampel dari populasi yang berbahaya. “…sangat renyah.”
Tidak ada cegukan.
Karena itu benar. Kerupuk itu memang sangat renyah. Mungkin kerupuk paling renyah yang pernah kumakan. Rasanya bencana, tapi renyahnya tidak bisa dibantah.
Pak Darto tersenyum lebar, puas. “Iya kan, Pak! Teknologi penggorengan baru!”
Di seberang meja, Mika tiba-tiba terbatuk. Keras. Ia menutup mulut dengan tisu, bahunya bergetar, wajahnya merah, dan ia terus terbatuk dengan cara yang sama sekali tidak meyakinkan.
“Mbak? Mbak nggak apa-apa?” Pak Darto menyodorkan gelas air.
“Nggak apa-apa, Pak,” kata Mika di balik tisu, suaranya tercekik. “Keselek… renyahnya.”
Aku menatap kertas kerjaku dan berusaha keras tidak melihatnya.
Saat Pak Darto pergi mengambil dokumen, Mika menyeret kursinya mendekat ke kursiku. Masih ada sisa air mata tawa di sudut matanya.
“Sangat renyah,” bisiknya.
“Itu benar.”
“Saya tahu itu benar. Itu yang bikin saya hampir mati.” Ia menyeka matanya. “Bapak nggak bohong. Tapi Bapak juga nggak jujur.”
“Saya jujur. Kerupuknya renyah.”
“Secara teknis,” katanya, mengacungkan telunjuk, “itu benar.”
Aku menatapnya. Ia tersenyum, sangat puas dengan dirinya sendiri, seperti baru saja menemukan nama untuk spesies baru.
“Itu nama jurus Bapak,” lanjutnya. “Secara teknis, itu benar. Saya catat.”
“Itu bukan jurus.”
“Meja dekat jendela? Karena tempat itu kosong. Secara teknis benar. Sayur asem? Saya kebanyakan masak. Secara teknis benar.” Ia menghitung dengan jari. “Bapak punya pola, Pak Arsa.”
Aku tidak menjawab. Karena itu juga benar.
Sore itu, Pak Darto mengajak kami melihat gudang barang jadi untuk dokumentasi stok.
Gudang itu tinggi dan panjang, penuh rak-rak besi yang ditumpuki kaleng kerupuk berwarna kuning dan merah sampai hampir menyentuh langit-langit. Wangi kerupuk mentah dan minyak goreng memenuhi udara.
Mika berjalan di depanku, memotret label-label stok dengan ponselnya. Ia berhenti di depan satu rak, berjinjit untuk melihat kode produksi di kaleng paling atas, dan menarik satu kaleng di tumpukan tengah supaya bisa membaca labelnya lebih jelas.
Aku melihat tumpukan itu bergoyang.
Aku tidak berpikir. Itu jarang terjadi padaku. Biasanya aku berpikir terlalu banyak. Tapi saat itu tubuhku bergerak sebelum otakku sempat menyusun prosedur.
Aku meraih pergelangan tangan Mika dan menariknya ke arahku.
Ia menabrak dadaku tepat saat lima kaleng kerupuk berjatuhan dari rak, satu per satu, berdentang di lantai beton seperti simbal orkestra yang kehilangan konduktor. Satu kaleng menggelinding sampai ke kaki Pak Darto di ujung lorong.
Lalu hening.
Mika ada di dadaku. Kepalanya di bawah daguku, kedua tangannya mencengkeram kemejaku. Aku bisa merasakan napasnya yang cepat menembus kain. Rambutnya berbau melati dan sedikit minyak goreng dari gudang. Tanganku masih memegang pergelangan tangannya, dan tangan yang lain, entah sejak kapan, ada di punggungnya.
Kami diam.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Kaleng terakhir berhenti menggelinding.
“Pak,” kata Mika pelan, masih menempel di dadaku. Suaranya teredam kain kemejaku. “Kalengnya udah berhenti jatuh.”
“Saya tahu.”
Tidak ada cegukan.
Aku memang tahu. Aku bisa melihat semua kaleng sudah diam di lantai. Aku tahu tidak ada lagi bahaya. Aku tahu sudah tidak ada alasan untuk tetap memeluknya.
Aku cuma belum mau melepaskan.
Dua detik lagi.
Lalu aku melepaskannya, perlahan, dan mundur satu langkah. Mika menatapku. Wajahnya merah. Bukan merah tawa seperti tadi siang. Merah yang lain.
Dari ujung lorong, Pak Darto mengangkat kaleng yang menggelinding ke kakinya. “Aman, Pak? Mbak? Wah, untung nggak kena kepala! Kalengnya kosong, kok. Itu stok display.”
Mika menoleh ke arah Pak Darto. Lalu ke arahku. Lalu ke kaleng-kaleng kosong di lantai.
“Kosong,” ulangnya pelan.
“Saya nggak tahu itu kosong,” kataku.
Tidak ada cegukan. Mika menatapku lama, lalu tersenyum, pelan, dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Perjalanan pulang lebih lancar. Langit Cikarang berwarna jingga, lalu ungu, lalu gelap. Lampu-lampu tol menyala satu per satu.
Mika diam lebih lama dari biasanya. Lalu, di tengah tol, ia bertanya dengan suara pelan, tanpa nada menggoda.
“Pak. Sejak kapan cegukannya?”
Itu pertanyaan kedua hari ini. Aku tidak mengingatkannya.
“Umur tujuh,” kataku. “Eyang tanya saya sudah gosok gigi atau belum. Saya bilang sudah. Belum.”
“Terus?”
“Terus cegukan. Eyang langsung tahu. Disuruh gosok gigi dua kali.” Aku menatap jalan. “Sejak itu setiap kali bohong, cegukan. Dokter bilang idiopatik. Artinya mereka nggak tahu.”
“Nggak pernah hilang?”
“Nggak pernah.”
Mika diam. Aku bisa merasakan ia menatapku dari samping.
“Jadi selama dua puluh dua tahun,” katanya pelan, “setiap Bapak ngomong, Bapak harus mikir dulu. Ini benar atau nggak. Boleh diucapin atau nggak.”
Aku tidak menjawab.
“Pantesan Bapak irit ngomong,” lanjutnya, lebih pelan lagi. “Saya kira Bapak sombong. Ternyata Bapak… hati-hati.”
Aku menggenggam setir sedikit lebih erat.
“Capek ya, Pak,” katanya, “jadi Bapak?”
Ada banyak jawaban untuk pertanyaan itu. Sebagian besar benar. Semua terlalu panjang untuk diucapkan di jalan tol pukul tujuh malam kepada perempuan yang baru dua minggu kukenal dan sudah tahu lebih banyak tentangku daripada siapa pun di kantor.
“Pass,” kataku.
Mika tidak tertawa. Tidak menulis apa-apa di ponselnya.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan toples OBAT JUJUR, yang ternyata ia bawa dari mejaku tanpa aku sadari, membuka tutupnya, dan membuka bungkus satu permen jahe.
Lalu ia mengulurkannya ke arah mulutku.
Aku melirik permen itu. Lalu melirik Mika. Ia tidak tersenyum menggoda. Ia hanya menunggu, dengan wajah yang lembut dan sedikit sedih, wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku membuka mulut. Ia menyuapkan permen itu. Jari-jarinya menyentuh bibirku sepersekian detik, lalu menjauh.
“Buat yang capek,” katanya pelan, lalu menatap ke luar jendela.
Kami tidak bicara lagi sampai Kuningan.
Permen jahe itu manis dan sedikit pedas, dan tetap tidak berguna sama sekali untuk cegukan.
Tapi untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, aku tidak sedang memikirkan cegukan sama sekali.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar reading
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus