← Hik! Itu Bohong

Chapter Thirty Four

Izin dari Surabaya

POV: Arsa

Toples OBAT JUJUR kosong.

Aku menyadarinya hari Senin pertama bulan Mei, pukul tujuh lewat empat puluh lima, saat aku membuka tutupnya untuk mengambil satu permen jahe sebelum rapat ayam berkokok.

Kosong. Tidak ada satu butir pun. Hanya bungkus kuning terakhir yang terselip di dasar kaca.

Aku menghabiskannya. Enam bulan. Sebutir demi sebutir. Setiap kali cegukan. Setiap kali gugup. Setiap kali ingin menelepon seseorang yang membalas pesanku dengan pass.

Aku menatap toples kosong itu lama. Lalu meletakkannya kembali di sudut mejaku, di tempat yang sama, dengan label OBAT JUJUR menghadap ke arahku.

Hari Selasa pagi, toples itu penuh lagi.

Permen jahe berbungkus kuning. Sampai ke tutup. Dan di bawah toples, sebuah sticky note kuning dengan tulisan tangan miring dan tick mark yang tidak presisi.

Stok baru. Biar mulutnya tetap manis. (Kebenaran #1 dari aku: aku yang ngisi. Aku nggak pura-pura nggak tahu.) ✓

Aku melihat ke meja dekat jendela. Mika sedang mengetik. Ia tidak menoleh. Tapi sudut bibirnya terangkat.

Aku membuka buku hitam dan membuat halaman baru.

Hal yang mau kulakukan.

1. Melamar Mika.


Aku memberi tahu Eyang hari Rabu malam.

Eyang sedang duduk di kursi goyang di teras dengan secangkir teh. Aku duduk di bangku kayu di sebelahnya. Pohon mangga bergoyang. Bulan setengah penuh.

“Eyang.”

“Hm.”

“Arsa mau melamar Mika.”

Eyang tidak menoleh. Ia menyesap tehnya. Meletakkan cangkir di meja kecil. Menatap bulan.

“Kapan?”

“Bulan ini.”

“Sudah izin orang tuanya?”

“Belum.”

“Sudah izin bapak-ibumu di Semarang?”

“Sudah. Tadi siang. Ibu nangis. Bapak bilang akhirnya.”

Eyang tersenyum. Lalu berdiri dari kursi goyangnya, pelan, dengan tangan di sandaran. Ia masuk ke dalam rumah tanpa bicara.

Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit.

Eyang kembali dengan sebuah kotak kecil. Kotak beludru merah tua yang sudah pudar warnanya di sudut-sudut. Ia duduk lagi di kursi goyang. Membuka kotak itu.

Di dalamnya, sebuah cincin. Emas, sederhana, dengan satu batu kecil berwarna bening di tengahnya. Ada goresan halus di sisinya, bekas dipakai bertahun-tahun.

Aku mengenali cincin itu. Eyang memakainya setiap hari sampai Kakung meninggal delapan tahun lalu. Setelah itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.

“Ini cincin dari Kakung,” kata Eyang. “Tahun tujuh puluh. Sebulan setelah cegukannya hilang. Sebulan setelah Eyang bilang Mas, aku percaya di depan toko kain.”

Ia mengambil tanganku. Meletakkan kotak itu di telapak tanganku. Menutup jari-jariku di sekelilingnya.

“Eyang sudah percaya Kakungmu lima puluh tahun,” katanya. “Cincin ini sudah selesai tugasnya, Le.”

Aku menatap kotak di tanganku.

“Eyang—”

“Kasih ke Mika.” Eyang menepuk tanganku dua kali. “Dia perempuan yang berani. Sama kayak Eyang. Dia juga sudah memutuskan untuk percaya. Cincin ini tahu caranya.”

Aku tidak bisa bicara.

Eyang mengambil cangkir tehnya lagi. Menyesapnya. Menatap bulan.

“Jangan nangis di teras, Le,” katanya. “Nanti tetangga lihat. Kakungmu dulu nangis di depan toko kain, sampai sekarang tukang kerak telor masih cerita.”


Izin dari Surabaya kuminta hari Jumat, lewat video call.

Aku meminta Ninis membantuku mengatur waktu. Ninis menghubungi Oci lewat Instagram. Oci, yang ternyata punya nomor Mama Yuyun sejak dua tahun lalu karena pernah menginap di Surabaya, menghubungi Mama Yuyun dengan pesan: Tante, ada yang mau ngomong penting. Jangan bilang Mika.

Mama Yuyun membalas dalam empat detik: MAS GANTENG???

Jumat pukul tujuh malam, aku duduk di meja kerja kamarku. Kemeja batik. Rambut disisir. Ninis berdiri di belakang laptop memberi aba-aba seperti sutradara. Eyang duduk di kasurku, ingin mendengar.

Panggilan tersambung.

Wajah Mama Yuyun memenuhi layar. Terlalu dekat, seperti biasa. Kerudung batik. Di belakangnya, dapur yang penuh panci. Di sebelahnya, seorang pria berkacamata dengan kumis tipis dan wajah yang sangat serius: Papa Mika.

“Selamat malam, Bu. Selamat malam, Pak.”

“MAS GANTENG!” Mama Yuyun langsung mendekatkan wajah ke kamera. “Ya Allah, aslinya lebih ganteng lagi! Pa, Pa, lihat! Pakai batik!”

“Iya, Ma, Papa lihat,” kata Papa Mika dengan suara datar. “Papa duduk di sebelahmu.”

Aku menarik napas.

“Bu. Pak. Saya Arsa. Arsa Dirgantara. Saya… saya pacarnya Mika. Sudah empat bulan. Kami kenal sejak November.”

“Mama tahu, Mas! Mama tahu semuanya! Mika nggak cerita, tapi Mama punya Instagram! Mama follow akun kapal itu!”

Aku mengedip. “@ArMi.official?”

“Mama yang komen kapal ini lebih jujur dari mantan saya!” Mama Yuyun tertawa. Papa Mika menatap istrinya dengan alis terangkat.

Aku menunggu tawanya reda. Lalu bicara. Pelan. Hati-hati. Seperti memilih sampel dari populasi yang sangat penting.

“Bu, Pak. Saya mau minta izin. Saya mau melamar Mika.”


Dapur di Surabaya sunyi.

Mama Yuyun berhenti tertawa. Papa Mika melepas kacamatanya, membersihkannya dengan ujung kaus, lalu memakainya lagi.

“Mas Arsa,” kata Papa Mika akhirnya. Suaranya tenang. Berat. Suara seorang ayah yang sudah lama menunggu pertanyaan ini dan sudah lama menyiapkan jawabannya. “Kenapa Mika?”

Aku memikirkan semua jawaban yang mungkin. Jawaban yang manis. Jawaban yang puitis. Jawaban seperti draf-draf Juned yang tidak benar.

“Karena dia senang nemu selisih,” kataku. “Di hari kedua dia di kantor, dia nemu satu juta dua ratus lima puluh ribu yang lolos dari tiga senior. Termasuk saya. Dan dia nggak pamer. Dia senang. Saya belum pernah ketemu orang yang segitu senangnya nemu kesalahan, dan segitu baiknya waktu nyampein ke orang yang bikin kesalahan itu.”

Papa Mika diam.

“Dan karena dia berani,” lanjutku. “Lebih berani dari saya. Dia yang tanya duluan. Dia yang cium duluan. Dia yang bilang iya di depan enam puluh orang waktu saya cuma bisa bilang pass. Dan dia yang akhirnya ngajarin saya kalau berani itu bukan cuma soal nanya, tapi soal bilang.”

Aku menatap kamera. Menatap dua wajah di layar.

“Pak, Bu. Saya nggak bisa janji Mika nggak akan pernah sedih.”

Mama Yuyun menutup mulutnya.

“Saya pernah bikin dia sedih. Sekali. Soal rendang. Saya bilang enak, padahal keasinan. Dan dia nangis di mobil.” Aku menelan. “Saya nggak bisa janji itu nggak akan terjadi lagi. Saya manusia. Mungkin suatu hari saya salah lagi.”

Aku menarik napas.

“Tapi saya bisa janji satu hal. Saya nggak akan bohong sama dia. Bukan karena saya nggak bisa. Saya bisa. Karena saya nggak mau. Dan setiap hari, saya akan bilang yang benar, tanpa nunggu dia nanya.”

Hening.

Di belakangku, aku mendengar Ninis menarik napas dengan suara bergetar. Di kasur, Eyang tidak bersuara sama sekali.


Mama Yuyun menatapku lewat layar.

Lalu, pelan-pelan, wajahnya berubah. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Tangannya menekan dada.

“Lho,” katanya pelan. Suaranya pecah. “Lho, kok jujur banget, rek.”

Dan Mama Yuyun menangis.

Bukan menangis pelan. Menangis seperti seorang ibu dari Surabaya. Keras. Sesenggukan. Dengan tangan menutup wajah dan bahu bergetar dan suara yang memenuhi speaker laptopku.

“Pa,” isaknya. “Pa, dia bilang nggak mau bohong, Pa. Bukan nggak bisa. Nggak mau. Mika dulu dibohongin tiga tahun, Pa—”

“Iya, Ma. Papa dengar.”

Papa Mika merangkul istrinya. Lalu menatapku. Matanya juga merah di balik kacamata.

“Mas Arsa,” katanya. “Izin diberikan.”

Aku menundukkan kepala. “Terima kasih, Pak.”

“Satu syarat.”

Aku mengangkat wajah.

Papa Mika menatap istrinya, yang masih menangis di bahunya. Mama Yuyun mengangkat wajah, mengusap matanya dengan ujung kerudung, dan menatap kamera dengan tatapan yang tiba-tiba sangat serius.

“Mas,” kata Mama Yuyun, suaranya masih serak. “Resep sayur asemmu.”

“…Resep sayur asem, Bu?”

“Mika cerita! Dulu! Waktu awal-awal!” Mama Yuyun mengambil pena dan buku catatan dari meja dapur di belakangnya. “Katanya Mas masak sayur asem kebanyakan, terus dikasih ke dia. Katanya rasanya kayak masakan rumah. Mama mau tahu resepnya. Biar Mama bisa bikin pas dia pulang Lebaran. Biar dia nggak kangen Mas terus.”

Aku menatap layar.

Di belakangku, Ninis tertawa sambil menangis.

“Asam jawa dua sendok makan, Bu,” kataku. “Bukan secukupnya. Dua sendok makan.”

Mama Yuyun menulis dengan serius. “Nah! Gitu dong! Takaran jelas! Anak Mama itu auditor, Mas, dia nggak ngerti secukupnya!”

“Saya tahu, Bu.”


Rapat rahasia tim lamaran diadakan hari Senin, pukul lima sore, di ruang arsip lantai 15.

Ruangan tanpa jendela, penuh rak besi dan kardus dokumen sepuluh tahun terakhir. Lampu neon yang berkedip setiap tiga puluh detik. Tidak ada CCTV, karena rekomendasiku tahun lalu masih belum ditindaklanjuti.

Tujuh orang berdesakan di antara rak-rak.

Juned memegang buku catatan dengan selotip baru: PROYEK LAMARAN. Tiara memegang dua ponsel, satu untuk merekam, satu untuk mengecek akun @ArMi.official yang sekarang punya delapan ribu pengikut. Oci, yang izin pulang cepat dari kantornya sendiri di Senayan, membawa tas kosmetik sebesar koper. Ninis memegang papan klip dengan jadwal yang ditulis tangan. Pak Hendro memegang tiga lembar kertas berisi teks pidato.

Bu Lastri berdiri di sudut, memegang sepotong pisang goreng. Tidak ada yang mengundangnya. Tidak ada yang tahu bagaimana ia tahu.

“Oke,” kata Ninis, membaca papan klipnya. “Tanggal. Kamis depan. Lokasi. Rooftop. Jam. Tujuh malam, pas langit udah gelap tapi lampu gedung belum semua nyala.”

“Rooftop dikunci,” kata Juned. “Kuncinya di building management. Butuh izin tertulis tiga hari kerja.”

Bu Lastri, dari sudut, merogoh saku blazernya. Mengeluarkan seikat kunci. Mengangkatnya tanpa bicara.

Semua orang menatapnya.

“Bu Lastri punya kunci rooftop?” tanya Tiara.

“Sejak 2017,” kata Bu Lastri. “Untuk evakuasi darurat.”

“Kenapa Bu Lastri mau bantu?” tanya Juned, dengan rasa ingin tahu seorang peneliti mikro-ekspresi yang belum sembuh.

Bu Lastri menggigit pisang gorengnya. Mengunyah. Menelan.

“Saya sudah tahu dari November,” katanya.

Hening.

“November?” ulang Ninis. “Mereka baru jadian Januari.”

“November,” ulang Bu Lastri. “Lift. Lantai 3. Dia pegang pergelangan tangan dia.” Ia menunjukku dengan pisang gorengnya. “Telinganya merah sampai leher.”

Ia kembali makan pisang goreng.

Juned menulis di buku catatannya dengan huruf kapital: BU LASTRI = SAKSI PERTAMA.


Pembagian tugas berlanjut.

Juned: lampu. “Saya pinjam lampu tumblr dari kos. Lima puluh meter. Saya lilitin di pagar rooftop.”

Tiara: kamera dan siaran langsung untuk @ArMi.official. “Tapi wajah Kak Mika di-blur kalau dia nggak setuju. Aku janji.”

Oci: makeup. “Bukan buat Mika. Dia udah cantik. Buat Mas Arsa.” Oci menatap wajahku dengan mata menyipit. “Kantung matamu, Mas. Kamu kurang tidur seminggu. Aku bisa tutup.”

Ninis: koordinator. “Aku yang pastiin Mbak Mika ke rooftop jam tujuh tanpa curiga.”

Pak Darto, lewat video call di ponsel Juned, karena ia tidak bisa datang dari Cikarang: “Saya kirim kerupuk! Lima kaleng! Varian baru! Rasa lamaran!”

“Rasa lamaran itu rasa apa, Pak?” tanya Tiara.

“Rahasia perusahaan!”

Pak Hendro mengangkat tiga lembar kertasnya. “Saya pidato.”

“Nggak,” kata Ninis, Juned, Tiara, dan Oci bersamaan.

“Tapi saya sudah nulis tiga halaman—”

“Pak,” kata Ninis dengan sangat sopan, “pidato itu di lamaran keluarga. Bukan di rooftop. Di rooftop yang ngomong cuma Mas Arsa.”

Pak Hendro menatap tiga lembar kertasnya dengan wajah sedih. Lalu melipatnya dan memasukkannya ke saku kemeja. “Nanti di lamaran keluarga.”

“Maksimal satu menit, Pak.”

“Tiga.”

“Satu.”

“Dua.”

“Empat puluh detik,” kata Bu Lastri dari sudut.

Pak Hendro menatap Bu Lastri. Bu Lastri menatap Pak Hendro. Pak Hendro menyerah.


Kami keluar dari ruang arsip pukul lima lewat empat puluh. Satu per satu, dengan jeda satu menit, supaya tidak mencurigakan. Ninis keluar duluan. Lalu Oci. Lalu Juned dan Tiara, yang langsung berpura-pura sedang berdebat soal lontong sayur.

Aku keluar terakhir. Setelah Pak Hendro dan Bu Lastri.

Mika berdiri di koridor.

Tepat di depan pintu ruang arsip. Tangan terlipat di dada. Kepala sedikit miring. Rambut digelung dengan pena merahku yang ketiga belas. Matanya menyipit, persis seperti saat ia pertama kali menyadari aku cegukan di hari pertamanya.

Ia sudah melihat semuanya. Ninis, yang tidak bekerja di sini. Oci, yang tidak bekerja di sini. Pak Hendro dan Bu Lastri, yang tidak pernah masuk ruang arsip bersama.

“Arsa,” katanya pelan.

“Hm.”

“Kalian ngapain di arsip bertujuh?”

Aku menatapnya.

Aku bisa jujur. Aku selalu memilih jujur padanya, sejak warung tenda, sejak rendang, sejak tujuh kebenaran. Aku sudah berjanji pada Mama Yuyun.

Tapi kalau aku jujur sekarang, Kamis depan tidak akan ada artinya.

Aku menimbang. Sepersekian detik. Seperti di meja makan Rawamangun, di depan rendang yang keasinan dan wajah yang penuh harap.

“Stock opname dokumen,” kataku.

Satu detik.

Dua detik.

Tidak ada apa-apa.

Kebohongan kedua yang kupilih seumur hidupku.


Mika menatapku.

Lama.

Matanya bergerak ke wajahku. Ke mataku. Ke telingaku, yang aku tahu sedang merah sampai ke ujung. Ke pintu ruang arsip di belakangku. Ke papan klip yang Ninis lupa bawa dan masih terselip di bawah lenganku.

Ia tahu. Aku bisa melihat ia tahu. Ia auditor. Ia menemukan satu juta dua ratus lima puluh ribu yang lolos dari tiga senior.

Lalu ia tersenyum.

“Oke,” katanya. “Aku percaya.”

Aku membeku.

Ia tidak menempelkan telinganya di dadaku. Ia tidak bertanya pertanyaan kedua. Ia tidak menunggu satu atau dua detik.

Ia memutuskan.

Lalu ia melangkah maju, meraih dasiku, dan menarikku kembali ke ruang arsip.

Pintu tertutup di belakang kami. Lampu neon berkedip. Rak-rak besi menjulang di kiri dan kanan.

Ia mendorongku pelan ke rak. Berjinjit. Dan menciumku.

Bukan ciuman singkat. Bukan ciuman di pipi. Ia menciumku seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk percaya dan ingin merayakannya. Tangannya di dasiku, lalu di rahangku, lalu di rambutku. Aku memeluk pinggangnya, menariknya lebih dekat, dan punggungku menabrak rak, dan kardus-kardus di atas rak bergoyang.

Satu map jatuh. Lalu dua. Lalu satu kardus berisi kertas kerja audit tahun 2019 meluncur dari rak paling atas dan menumpahkan isinya ke lantai seperti hujan kertas.

Kami tidak berhenti.

Ketika akhirnya ia mundur, napas kami sama-sama terengah. Kertas-kertas berserakan di sekeliling kaki kami. Lampu neon berkedip.

Mika menatapku. Pipinya merah. Bibirnya merah. Matanya berbinar dengan sesuatu yang tidak lagi mencari apa-apa.

“Stock opname dokumen,” bisiknya.

“…Iya.”

“Kamu bohong.”

Aku tidak menjawab.

Ia tersenyum lebih lebar. Menyentuh bibirku dengan ujung jarinya.

“Dan aku tetap percaya,” katanya. “Itu namanya keyakinan memadai, Pak Supervisor.”

Lalu ia keluar dari ruang arsip, meninggalkanku sendirian di antara kertas kerja tahun 2019 yang berserakan.


Aku berdiri di sana lama.

Temuan: untuk pertama kalinya dalam hidup, aku senang bisa berbohong.

Temuan kedua: untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia memilih percaya pada sesuatu yang dia tahu bisa saja tidak benar.

Aku membungkuk dan mulai memunguti kertas kerja yang berserakan. Satu per satu. Merapikannya. Memasukkannya kembali ke kardus.

Di antara kertas-kertas itu, aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di kardus audit tahun 2019.

Sebuah sticky note kuning. Baru. Tulisan tangan miring. Tick mark miring.

Ia pasti menyelipkannya di saku kemejaku saat menciumku, dan sticky note itu jatuh bersama kertas-kertas.

Kebenaran #2 dari aku: aku tahu kalian ngerencanain sesuatu. Ninis nggak bisa bohong juga, ternyata. Turunan. Aku nggak akan tanya apa. Aku cuma mau bilang: apa pun jawabannya, jawabanku iya. ✓

Aku membaca sticky note itu tiga kali.

Lalu aku duduk di lantai ruang arsip, di antara kardus-kardus dan kertas kerja yang berserakan dan lampu neon yang berkedip, dan menutup wajahku dengan dua tangan.

Pak Hendro membuka pintu lima menit kemudian, karena ia lupa mengambil tiga lembar teks pidatonya yang jatuh di bawah rak.

Ia melihatku duduk di lantai. Melihat kertas-kertas yang berserakan. Melihat sticky note di tanganku.

Ia tidak bertanya apa-apa.

Ia hanya mengambil teks pidatonya, menepuk kepalaku dua kali, dan berkata:

“Kamis, Sa. Jangan lupa pakai makeup dari Oci.”