← Hik! Itu Bohong

Chapter Twenty Seven

Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa

POV: Mika

Aku masih memakai jatahku setiap hari.

Satu pertanyaan sehari. Pasal 2. Dulu itu permainan. Dulu itu jebakan manis. Dulu setiap pertanyaan adalah cara untuk membuatnya tersipu, dan setiap jawabannya, atau setiap cegukannya, adalah hadiah kecil yang kusimpan di spreadsheet.

Sekarang aku masih bertanya, karena berhenti bertanya akan terasa seperti mengakui bahwa ada sesuatu yang berubah.

“Kamu suka nasi uduk atau lontong sayur?” Senin.

“Nasi uduk.”

“Kamu pernah nonton drakor?” Selasa.

“Pernah. Satu. Ninis maksa.”

Pertanyaan-pertanyaan kecil. Aman. Tidak ada yang perlu dicek. Aku sengaja memilih pertanyaan yang jawabannya tidak penting, supaya aku tidak perlu menatap wajahnya dan mencari sesuatu.

Tapi hari Kamis, aku tidak tahan.


Pantry. Pukul empat sore. Hujan di luar, membuat jendela-jendela lantai 15 buram dan kelabu. Kami berdua di meja bar dengan dua cangkir teh tawar. Toples OBAT JUJUR di antara kami, tinggal sepertiga.

Sudah tiga minggu sejak warung tenda. Tiga minggu tanpa cegukan.

Tiga minggu aku memeluknya dan menempelkan telingaku di dadanya, tidak sengaja, setiap kali ia bilang sesuatu yang manis.

Tiga minggu aku menatap telinganya setiap kali ia bilang iya.

Tiga minggu aku membenci diriku sendiri karena melakukan keduanya.

“Arsa.”

“Hm.”

“Satu pertanyaan hari ini.”

Ia meletakkan cangkirnya. Menoleh padaku. Menunggu.

Aku sudah memikirkan pertanyaan ini sejak pagi. Sejak kemarin. Sejak tiga minggu lalu. Pertanyaan yang tidak pernah kuucapkan selama tiga bulan pacaran, karena aku tidak pernah perlu. Karena jawabannya sudah jelas dari setiap pass dan setiap telinga merah dan setiap cegukan.

“Kamu sayang aku?”

Hujan di luar.

Arsa menatapku. Wajahnya tenang. Ia membuka mulut, lalu menutupnya. Dan aku melihat sesuatu yang sangat familier di wajahnya: kebiasaan dua puluh dua tahun. Kebiasaan memilih kata yang aman ketika pertanyaannya terlalu besar.

“Pass,” katanya.


Aku menunggu.

Satu detik. Dua detik.

Biasanya, aku akan tersenyum. Biasanya, aku akan bilang pass artinya iya. Biasanya, aku akan tertawa dan menciumnya dan menulis di KKC. Karena pass dari Arsa selalu berarti iya. Itu yang diteriakkan Ninis ke satu RT. Itu yang diucapkan Tiara di depan enam puluh orang. Itu kebenaran yang semua orang tahu.

Pass berarti iya, karena Arsa tidak bisa bilang tidak.

Kalau jawabannya tidak, ia bisa saja bilang nggak, dan tidak akan ada cegukan, dan aku akan tahu. Kalau jawabannya iya tapi ia malu, ia bilang pass, dan aku tahu itu iya, karena alternatifnya, nggak, akan diikuti suara yang tidak bisa disembunyikan.

Tapi sekarang tidak ada suara.

Sekarang ia bisa bilang nggak, dan tidak akan ada yang terjadi. Ia bisa bilang iya, dan tidak akan ada yang terjadi. Ia bisa bilang apa saja.

Jadi kenapa ia bilang pass?

Kalau jawabannya iya, kenapa tidak bilang iya? Ia bisa. Tidak ada risiko apa pun lagi.

Kalau jawabannya tidak, kenapa tidak bilang tidak? Ia juga bisa.

Aku menatap kata itu, yang masih menggantung di udara pantry di antara kami, dan untuk pertama kalinya, kata itu terasa kosong. Seperti kardus yang dulu penuh, dan sekarang aku mengangkatnya dan ternyata ringan, dan aku tidak tahu apa yang dulu ada di dalamnya, atau apakah dulu ada sesuatu sama sekali.

Pass tidak lagi berarti iya.

Pass tidak lagi berarti apa-apa.


“Arsa,” kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Aku… aku butuh dengar katanya.”

Arsa menatapku.

Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Sesuatu yang cepat dan panik, seperti malam di pantry ini, lima bulan lalu, saat aku bertanya kamu suka aku, ya? dan ia lupa siapa dirinya.

Lalu ia menarik napas.

“Aku sayang kamu,” katanya.

Itu pertama kalinya ia mengucapkannya.

Pertama kali, dalam tiga bulan pacaran. Dalam lima bulan sejak hari pertama aku menghapus tinta dari rahangnya. Pertama kali ia mengucapkan tiga kata itu, dengan suara, ke arahku.

Dan aku menunggu sesuatu terjadi.

Aku menunggu dadaku menghangat. Aku menunggu mataku berkaca-kaca. Aku menunggu perasaan yang sama seperti saat aku membaca iya di teks tengah malam, saat aku mendengar nggak, hik di voice note dua detik, saat ia bilang aku nggak suka dia lihat kamu begitu di mobil.

Aku tersenyum.

“Aku juga,” kataku.

Tapi tidak ada yang terjadi.

Tiga kata itu jatuh di antara kami di meja bar pantry, dan aku menatapnya, dan aku tidak bisa merasakannya. Bukan karena aku tidak percaya. Aku percaya. Aku mau percaya. Tapi kata-kata itu terasa seperti kata-kata. Hanya kata-kata. Seperti yang diucapkan siapa saja, kapan saja, dengan suara yang sama.

Seperti aku otw.

Aku langsung membenci diriku karena memikirkan itu.


Arsa menatapku. Lama.

Dan aku melihat, di wajahnya, bahwa ia juga mendengarnya.

Kekakuannya. Cara kalimat itu keluar setelah aku memintanya. Cara ia mengucapkannya seperti seseorang yang menyerahkan dokumen yang diminta auditor, bukan seperti seseorang yang memberikan hadiah. Tiga kata yang benar, yang selama ini ia simpan, yang mungkin ia rencanakan untuk diucapkan suatu hari dengan caranya sendiri, di waktunya sendiri.

Dan aku merampasnya dengan aku butuh dengar katanya.

Ia menatap cangkir tehnya. Rahangnya mengencang sedikit.

“Itu benar,” katanya pelan. Ke cangkir tehnya. Bukan ke aku. “Aku nggak tahu cara buktiinnya. Tapi itu benar.”

“Aku tahu,” kataku. “Aku tahu itu benar.”

Aku tahu. Aku bisa mengatakannya dengan lancar, tanpa ragu.

Tapi aku tidak tahu apakah aku sedang berbohong.


Pintu pantry terbuka.

Pak Hendro masuk dengan selembar kertas di tangan dan senyum lebar yang sama sekali tidak cocok dengan suasana di ruangan itu.

“Nah, kalian di sini! Pas!” Ia mengibaskan kertasnya. “Pengumuman penting! Lomba tujuhbelasan tahun ini, Wiratama ikut lomba antar kantor se-gedung!”

Aku menatapnya. Arsa menatapnya.

“Pak,” kata Arsa pelan, “ini bulan April.”

“Persiapan, Sa! Persiapan itu kunci!” Pak Hendro menunjuk kertasnya. “Ada lomba makan kerupuk, sponsornya Pak Darto dari Renyah Abadi! Dia nyumbang lima puluh kaleng! Varian baru! Rasa kemerdekaan!”

“Rasa kemerdekaan itu rasa apa, Pak?” tanyaku, karena aku tidak bisa menahannya.

“Rahasia perusahaan.” Pak Hendro tersenyum puas. “Saya mau tim kita latihan dari sekarang. Kamu, Mika, sama Juned. Arsa, kamu jadi pelatih. Kamu kan pernah makan kerupuk balado keju tanpa ekspresi.”

“Itu bukan prestasi, Pak.”

“Itu prestasi besar, Sa! Pak Darto masih cerita sampai sekarang!”

Pak Hendro menempelkan kertas pengumuman di pintu kulkas dengan magnet berbentuk nanas. Lalu menatap kami. Menatap dua cangkir teh di meja bar. Menatap jarak di antara kami di kursi tinggi, yang hari ini sedikit lebih lebar dari biasanya.

Senyumnya memudar sedikit. Ia membuka mulut, lalu menutupnya, seperti pria yang baru sadar masuk ke ruangan yang salah di waktu yang salah.

“Ya udah,” katanya. “Saya… saya keluar dulu. Lanjutkan.”

Ia keluar. Pintu tertutup.

Arsa dan aku diam.

Lalu aku tertawa. Pendek. Ringan. “Rasa kemerdekaan.”

Arsa tersenyum sedikit. “Pasti rasanya kayak terompet.”

Kami tertawa bersama. Itu terasa normal. Itu terasa seperti kami.

Tapi tawanya berhenti terlalu cepat, dan tawaku juga.


Sore itu, sebelum pulang, aku memeluknya di lift.

Itu kebiasaan kami. Lift pukul enam sore, turun dari lantai 15, kosong, dan aku memeluknya dan menempelkan wajahku di dadanya sampai lantai dasar.

Hari ini, aku memeluknya dan menempelkan telingaku di dadanya.

Bukan wajahku. Telingaku.

Aku tidak merencanakannya. Aku menyadarinya saat sudah terjadi. Kepalaku miring dengan sudut yang tepat. Telingaku di tempat yang tepat. Mendengarkan.

Detak jantungnya. Cepat. Keras. Seperti biasa.

Aku sedang mendengarkan. Aku sedang mengukur. Aku sedang mencari perbedaan antara detak jantungnya sekarang dan detak jantungnya saat ia bilang aku sayang kamu di pantry tadi.

Aku memeluknya bukan untuk dipeluk. Aku memeluknya untuk memeriksa.

Aku langsung menarik kepalaku.

Arsa menatapku. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” kataku.

Aku bisa bohong. Aku selalu bisa bohong.

Lantai 8. Lantai 7. Lantai 6.

Aku berdiri di sebelahnya. Tidak memeluknya lagi. Menatap pintu lift.

Dan aku baru menyadari sesuatu. Hari ini, sejak pagi, aku tidak menariknya ke ruang arsip. Tidak sekali pun. Tidak ada recharge. Tidak ada sepuluh detik. Tidak ada empat menit dua puluh detik.

Untuk pertama kalinya sejak Februari, aku tidak memintanya.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku takut, kalau aku memeluknya terlalu lama, aku akan mulai mendengarkan lagi.

Ting. Lobi.

Kami keluar. Di depan pintu putar, ia berhenti dan menatapku.

“Mika.”

“Hm?”

Ia diam lama. Aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang ingin ia katakan. Sesuatu yang terkunci di belakang lidahnya, seperti malam ia bilang pass dua kali di pantry dan aku yang akhirnya memutuskan untuk kami.

“Hati-hati di jalan,” katanya.

“Kamu juga.”

Ia pergi ke parkiran. Aku berjalan ke taksi.

Di taksi, aku melihat ke belakang. Ia berdiri di pintu parkiran basement, mengeluarkan buku hitam dari saku kemejanya, menulis sesuatu.

Aku tidak tahu apa yang ia tulis.

Tapi aku punya firasat aku tahu. Dan firasat itu membuatku memeluk tasku sendiri sepanjang perjalanan ke Setiabudi.


Malam itu, aku tidak bertanya apa-apa lewat chat.

Ia mengirim pesan pukul sepuluh: Sudah sampai?

Aku membalas: Sudah.

Ia mengirim: Selamat tidur.

Aku membalas: Selamat tidur.

Tidak ada emoji. Tidak ada Pak Supervisor. Tidak ada Pak Cemburu. Tidak ada pertanyaan kedua yang curang.

Aku menatap percakapan itu. Lima baris. Datar. Seperti percakapan pertama kami di aplikasi kantor, berbulan-bulan lalu. Sudah saya kirim, Pak. — Terima kasih.

Aku menelungkup ke bantal.

Besok, pikirku, aku tidak akan bilang satu pertanyaan hari ini.

Bukan karena aku tidak punya pertanyaan. Aku punya terlalu banyak. Kamu beneran sayang aku? Kamu pernah bohong ke aku sejak cegukannya hilang? Waktu kamu bilang aku cantik pagi ini, itu beneran? Waktu kamu bilang kangen?

Aku tidak akan bertanya, karena aku sudah tahu: apa pun jawabannya, aku tidak akan bisa mendengarnya.

Dan bertanya tanpa bisa mendengar jawabannya rasanya seperti mengaudit tanpa bukti. Hanya formalitas. Hanya ritual kosong yang membuat semua orang merasa aman padahal tidak ada yang benar-benar diperiksa.

Pass tidak lagi berarti apa-apa.

Dan mungkin, pikirku di kegelapan, satu pertanyaan sehari juga tidak.