← Hik! Itu Bohong

Chapter Two

Saya Nggak Lapar

POV: Arsa

Aku tidak bisa berbohong.

Bukan dalam arti moral, seperti orang yang bilang “aku nggak bisa bohong sama kamu” sambil menatap mata pasangannya di film. Dalam arti harfiah. Setiap kali aku mengucapkan sesuatu yang kutahu tidak benar, satu atau dua detik kemudian tubuhku mengkhianatiku.

Hik.

Sudah dua puluh dua tahun begini. Sejak umur tujuh, sejak aku bilang ke Eyang Uti sudah gosok gigi padahal belum. Dokter menyebutnya cegukan idiopatik, lalu menyerah. Sejak itu aku belajar hidup dengan aturan sederhana: kalau tidak bisa jujur, diam. Kalau tidak bisa diam, pilih kalimat yang benar.

Hidupku tenang karena aturan itu. Rapi. Terkendali.

Sampai kemarin pagi, saat seorang perempuan dari Surabaya menghapus tinta di rahangku dengan ibu jarinya.

Temuan: rekan baru menyentuh rahangku tanpa pemberitahuan. Materialitas: sangat tinggi. Tindak lanjut: tidak tahu.


“Mas, kok senyum-senyum sendiri?”

Ninis, adikku, mengucapkan itu dengan mulut penuh nasi goreng, pukul enam pagi, di meja makan rumah Rawamangun. Rambutnya masih berantakan dan ia sedang merekam sarapan kami untuk kanal YouTube-nya yang punya empat puluh tujuh subscriber.

“Nggak senyum.”

Hik.

Ninis langsung mengarahkan kamera ponselnya ke wajahku. “HIK! Mas bohong! Eyang, Mas bohong!”

Eyang Uti, yang sedang menuang teh dengan ketenangan seorang ratu, bahkan tidak menoleh. “Le. Kamu ketemu siapa kemarin?”

“Rekan kerja baru.”

Tidak ada cegukan. Itu benar.

“Perempuan?” tanya Eyang.

“Pass,” kataku, lalu berdiri dan mengambil tas.

Itu kata yang biasa kupakai di rumah kalau aku tidak mau menjawab dan tidak bisa bohong. Ninis bilang itu kata paling mencurigakan di kamus keluargaku. Eyang hanya tersenyum ke cangkir tehnya, senyum seseorang yang sudah melihat hal ini sebelumnya, lima puluh tahun lalu, dan tahu persis bagaimana akhirnya.

“Bawa bekal, Le,” katanya. “Hari ini kamu bakal lapar.”

Aku tidak membawa bekal. Itu kesalahan pertamaku hari itu.


Aku tiba di kantor pukul tujuh lewat empat puluh lima, seperti biasa. Lima belas menit lebih awal dari jam masuk, cukup untuk menyalakan komputer, membuat teh tawar, dan memeriksa ulang daftar pekerjaan hari ini.

Meja dekat jendela sudah terisi.

Mika duduk di sana dengan blazer krem dan rambut panjang bergelombang yang jatuh sampai punggung. Cahaya pagi dari jendela membuat sebagian rambutnya kelihatan cokelat madu. Ia sedang mengetik cepat sambil menggigit bibir bawah, dan aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa aku datang ke pantry untuk membuat teh.

Juned sudah memberitahuku kemarin sore, dengan ekspresi orang yang menemukan harta karun: “Pak, satu lantai lagi ngomongin Mbak Mika. Anak-anak tax di lantai 14 aja sampai turun pura-pura nyari stapler.”

Aku tidak menanggapi. Tidak ada yang perlu ditanggapi. Itu fakta yang sudah kuketahui sejak ia berdiri di depan mejaku dan menyebut namanya. Mikaela. Mika.

Ia cantik. Itu bukan pendapat. Itu temuan yang bisa diverifikasi oleh semua orang di lantai 15, termasuk satpam yang salah tempel kartu akses dua kali kemarin pagi.

Yang tidak bisa kuverifikasi adalah kenapa dia menatapku seperti itu waktu aku cegukan di pantry.


Pukul sepuluh, aku menerima pesan dari Mika di aplikasi kantor.

Pak, boleh saya ke meja Bapak? Ada yang mau saya tunjukkan.

Silakan.

Ia datang membawa laptop dan senyum yang membuatku ingin memeriksa apakah aku sudah menutup semua file pribadi.

“Ini kertas kerja piutang yang Bapak review minggu lalu,” katanya, meletakkan laptop di mejaku. “Saya cocokkan ke konfirmasi pelanggan, dan ada yang kabur.”

“Kabur?”

“Satu juta dua ratus lima puluh ribu, Pak.” Ia mengucapkannya dengan nada riang, seperti mengumumkan menang undian. “Kecil sih, nggak material. Tapi kabur.”

Ia tidak duduk. Ia berdiri di belakang kursiku dan mencondongkan badan untuk menunjuk angka di layar, dan saat itu rambutnya jatuh dan menyentuh bahuku.

Aku berhenti bernapas.

Bukan kiasan. Paru-paruku benar-benar berhenti bekerja, seperti sistem yang menunggu otorisasi.

“Lihat, Pak. Di sini saldonya empat puluh tujuh juta tiga ratus. Di konfirmasi, empat puluh enam juta lima puluh. Selisihnya ternyata dari satu nota kredit yang dicatat dua kali.” Jarinya mengetuk layar. Wanginya seperti melati dan sesuatu yang manis, mungkin vanila. “Kertas kerja ini sudah di-review tiga senior, termasuk Bapak. Tapi semua lolos.”

Aku menatap angka itu.

Ia benar. Selisih satu juta dua ratus lima puluh ribu, terselip di antara ratusan baris, dicentang oleh tiga orang termasuk aku. Tiga orang yang seharusnya lebih teliti dari anak baru yang baru sehari di sini.

Dan ia menemukannya. Lalu datang ke mejaku bukan untuk pamer, tapi dengan senyum seolah menemukan selisih itu adalah hal paling menyenangkan di dunia.

Aku menoleh sedikit. Wajahnya sangat dekat. Matanya besar dan sedang menahan tawa, seperti biasanya, sepertinya memang begitulah matanya.

“Bagus,” kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari rencanaku. “Kamu teliti.”

“Saya tahu,” katanya, dan tersenyum lebih lebar sehingga lesung di pipi kirinya muncul.

Paru-paruku masih menunggu otorisasi.

Ia menegakkan badan, dan sebelum aku sempat bernapas lagi, tangannya meraih saku kemejaku. Ia mengambil pena merahku. Lalu, dengan gerakan yang terlalu lancar untuk pertama kali, ia menggelung rambut panjangnya ke atas dan menusukkan penaku di gelungannya.

“Pinjam ya, Pak. Gerah.”

Lalu ia pergi, membawa laptopnya, rambutnya, dan penaku.

Aku menatap layar komputerku lama sekali.

Selisih satu juta dua ratus lima puluh ribu.

Aku sudah jadi auditor tujuh tahun. Aku sudah melihat selisih miliaran, penipuan stok, faktur fiktif. Tidak ada satu pun yang membuat jantungku berdetak seperti barusan.

Aku membuka buku catatan kecil di laci dan menulis satu baris dengan pena hitam, karena pena merahku sekarang ada di kepala seseorang.

Pena hilang: 1.


Siang itu Pak Hendro mengumpulkan Juned dan Tiara di ruang rapat kecil untuk “kuliah lima menit” yang selalu berlangsung empat puluh menit. Pintu ruang rapat terbuka, jadi suaranya terdengar sampai mejaku.

“Kalian tahu kenapa opini audit itu bunyinya ‘keyakinan memadai’, bukan ‘keyakinan mutlak’?”

“Karena auditor takut dituntut, Pak?” tebak Juned.

“Itu juga.” Pak Hendro tertawa. “Tapi intinya begini. Kita nggak akan pernah bisa memeriksa semuanya. Nggak akan pernah bisa seratus persen yakin. Yang bisa kita kumpulkan cuma bukti yang cukup. Bukan satu bukti besar yang ajaib, tapi banyak bukti kecil yang konsisten. Lalu, di titik tertentu, kita memutuskan: ini cukup. Kita percaya.”

“Jadi auditor itu pada akhirnya… percaya, Pak?” tanya Tiara.

“Auditor yang baik,” koreksi Pak Hendro, “tahu kapan buktinya sudah cukup untuk percaya.”

Aku mendengarkan sambil mencentang angka. Aku sudah mendengar kuliah itu puluhan kali. Biasanya aku tidak memikirkannya.

Hari itu, entah kenapa, aku melirik ke meja dekat jendela. Mika sedang mendengarkan juga. Kepalanya sedikit miring, dan pena merahku bergoyang di gelungan rambutnya.


Pukul empat sore, Pak Hendro keluar dari lift membawa dua kotak martabak manis dan satu martabak telur.

“Martabak! Dari istri saya! Hari ini anniversary pacaran kami yang kedua puluh tiga!”

“Pacaran, Pak? Bukan nikah?” tanya Tiara.

“Saya merayakan semuanya. Pacaran, lamaran, nikah, pertama kali dia masakin saya, pertama kali dia marahin saya. Semuanya ada tanggalnya.” Pak Hendro meletakkan kotak di meja tengah. “Ayo, ayo! Ambil!”

Satu lantai berkerumun.

Aku tidak bergerak. Aku belum makan siang karena terlalu sibuk memeriksa ulang semua kertas kerja piutang yang pernah kucentang, mencari selisih lain yang mungkin kulewatkan. Perutku kosong sejak jam tujuh pagi. Wangi mentega dan cokelat dari kotak martabak itu sampai ke mejaku seperti undangan pribadi.

Tapi Mika ada di dekat kotak martabak. Tertawa dengan Tiara. Dan aku tidak mau terlihat seperti pria yang meninggalkan pekerjaannya demi martabak di depan perempuan yang tadi pagi menemukan selisih di kertas kerjaku.

“Sa! Arsa! Sini, ambil!”

“Saya nggak lapar, Pak.”

Satu detik. Dua detik.

Hik.

Cukup keras untuk membuat seisi ruangan menoleh.

Juned, dengan mulut penuh martabak telur: “Pak Arsa masuk angin?”

“Nggak.”

Hik.

Aku langsung menutup mulut dan menatap layar komputer dengan konsentrasi orang yang sedang menjinakkan bom.

Seisi ruangan perlahan kembali ke martabak. Semua, kecuali satu orang.

Mika menatapku. Bukan sekilas. Lama. Kepalanya sedikit miring, matanya menyipit, seperti auditor yang baru melihat dua angka yang seharusnya sama tapi ternyata berbeda.

Lalu ia mengambil sepotong martabak manis, yang paling tebal, yang cokelatnya meleleh di pinggir, meletakkannya di atas selembar tisu, dan berjalan ke mejaku.

Ia meletakkannya di sebelah keyboard-ku.

“Buat yang nggak lapar,” katanya pelan, hanya untukku.

Ia tersenyum. Bukan senyum ramah biasa. Senyum seseorang yang baru menemukan sesuatu dan belum memutuskan akan diapakan.

Lalu ia kembali ke kerumunan.

Telingaku panas. Aku tahu warnanya tanpa perlu bercermin.


Aku tidak menyentuh martabak itu sampai semua orang pulang.

Pukul tujuh malam, lantai 15 sepi. Hanya ada dengung AC dan lampu di atas mejaku. Aku akhirnya mengambil martabak yang sudah dingin itu, dan saat mengangkat tisunya, aku melihat sesuatu di sudutnya.

Gambar kecil. Tinta merah.

Sebuah tick mark. Sudutnya sedikit miring, panjangnya kurang presisi, ketebalannya tidak konsisten. Jelas digambar oleh seseorang yang mencoba meniru tick mark-ku, dan gagal dengan sangat menggemaskan.

Di bawahnya, tulisan tangan kecil:

Cocok dengan bukti. — M

Aku duduk di kantor yang kosong, makan martabak dingin, dan menatap tisu itu lebih lama dari waktu yang kubutuhkan untuk me-review satu kertas kerja penuh.

Cocok dengan bukti.

Bukti apa? Bahwa aku lapar? Bahwa aku bohong?

Atau bahwa dia sudah mulai menghitung?

Aku melipat tisu itu dua kali, rapi, simetris, dan memasukkannya ke buku catatan kecil di laci, di halaman yang sama dengan Pena hilang: 1.

Lalu aku menulis satu baris lagi di bawahnya.

Risiko: tinggi. Pengendalian: tidak ada.