← Hik! Itu Bohong

Chapter Sixteen

Pass Artinya Iya

POV: Arsa

Aku menulisnya di selembar kertas kuning dari blok memo kantor, dengan pena hitam, pada tanggal 2 Januari pukul enam pagi, di meja makan rumah Rawamangun.

Mika. Aku mau jadi pacarmu.

Enam kata. Aku menulisnya tujuh kali sebelum tulisanku cukup rapi. Lalu aku melipatnya dua kali, simetris, dan menyelipkannya di buku hitam, di halaman setelah daftar Pertanyaan yang belum dijawab.

Rencananya sederhana. Aku tidak perlu membaca kertas itu. Aku hanya perlu mengucapkannya. Enam kata. Semuanya benar. Tidak ada risiko cegukan. Tidak ada yang perlu disembunyikan.

Resolusiku: lebih berani.

Eyang menatapku dari seberang meja, menyesap teh. “Le. Kamu nulis apa?”

“Pass.”

Eyang tersenyum ke cangkirnya. “Kakungmu dulu juga nulis di kertas. Tiga bulan. Nggak pernah dikasih.”

“Terus?”

“Terus Eyang yang tanya duluan.” Eyang meletakkan cangkirnya. “Jangan sampai keduluan, Le. Perempuan yang berani itu nggak suka nunggu.”

Temuan: risiko keduluan. Probabilitas: tinggi. Berdasarkan data historis keluarga.


Masalahnya, mengucapkan enam kata ternyata jauh lebih sulit dari menulisnya.

Tanggal 2, Mika cuti. Tanggal 3, ada rapat sepanjang hari dengan klien baru. Tanggal 4, aku menemukannya sendirian di pantry pukul sepuluh pagi, membuka mulut, dan Juned masuk mencari sendok. Tanggal 5, aku menunggunya di lobi pukul tujuh malam, dan ia keluar dari lift bersama Tiara yang tidak berhenti bicara soal drama Korea sampai taksi mereka datang.

Tanggal 6, aku sudah membuka buku hitam dan membaca kertas kuning itu sebelas kali.

Tanggal 8, Senin, lembur lagi. Pukul delapan malam lantai 15 kosong.

Aku berdiri di depan cermin toilet pria dan berlatih.

“Mika. Aku mau jadi pacarmu.”

Tidak ada cegukan. Tentu saja tidak ada. Itu kalimat paling benar yang pernah kuucapkan di depan cermin toilet.

Pintu salah satu bilik terbuka. Pak Mamat, satpam malam, keluar sambil merapikan seragamnya. Ia menatapku. Aku menatapnya melalui cermin.

“…Semangat, Pak,” kata Pak Mamat pelan, lalu mencuci tangan dan pergi tanpa menoleh.

Temuan: saksi tambahan. Pengendalian: gagal total.


Pantry pukul delapan lewat tiga puluh.

Mika duduk di kursi tinggi di depan meja bar, rambut digelung dengan pena merahku yang keenam, memegang cangkir teh tawar. Ia menoleh saat aku masuk dan tersenyum. Bukan senyum iseng. Senyum yang muncul pelan, seperti orang yang memang sedang menunggu.

Sejak tanggal 1, sejak sebelas menit di lobi, senyumnya berubah. Masih menggoda. Masih berani. Ia masih mencuri pena dan menyandarkan kepalanya di bahuku di lift. Tapi ada sesuatu yang baru di sudut-sudutnya. Sesuatu yang lebih hati-hati.

Aku membuat teh. Tanganku sedikit gemetar saat menuang air panas. Aku membuka toples OBAT JUJUR, mengambil satu permen jahe, dan memasukkannya ke mulut. Itu tidak masuk akal. Permen jahe tidak membuat siapa pun lebih berani. Tapi aku tetap memakannya, seperti orang yang memakai jimat sebelum ujian.

Mika memperhatikan. “Kamu cegukan?”

“Nggak.”

Tidak ada cegukan. Ia menyipitkan mata.

“Terus kenapa makan obat jujur?”

“Pass.”

Aku duduk di kursi di sebelahnya. Bukan di seberang. Di sebelah. Lutut kami bersentuhan, dan tidak ada yang menggeser.

Aku menarik napas.

Mika. Aku mau jadi pacarmu.

Enam kata. Aku sudah berlatih sebelas kali di kepala dan sekali di depan cermin toilet di depan saksi.

Aku membuka mulut.

“Satu pertanyaan hari ini,” kata Mika.

Aku menutup mulut.

Temuan: keduluan. Sesuai prediksi Eyang. Akurasi data historis keluarga: seratus persen.


Mika memutar kursinya menghadapku. Ia meletakkan cangkirnya. Tangannya terlipat di pangkuan, dan aku melihat jari-jarinya saling meremas, sesuatu yang belum pernah kulihat ia lakukan.

“Kita ini apa?” tanyanya.

Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya ada di saku kemejaku, di kertas kuning yang terlipat dua kali di dalam buku hitam. Enam kata. Aku hanya perlu mengucapkannya.

Aku menatapnya. Lampu kuning pantry jatuh di wajahnya. Matanya besar dan, untuk sekali ini, tidak sedang menahan tawa. Matanya sedang menunggu, dengan sesuatu yang mirip ketakutan di dasarnya.

Dan tenggorokanku terkunci.

Bukan cegukan. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua dari cegukan. Dua puluh dua tahun memilih diam. Dua puluh dua tahun tidak pernah mengatakan hal penting tanpa dipaksa. Dua puluh dua tahun belajar bahwa setiap kata yang keluar tidak bisa ditarik kembali, jadi lebih aman kalau tidak keluar sama sekali.

Kata-kata itu ada di sana. Di belakang lidahku. Rapi, benar, siap.

Mereka tidak mau keluar.

“…Pass,” kataku.

Suaraku nyaris tidak terdengar.

Mika menatapku. Satu detik. Dua detik. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, sesuatu yang cepat, seperti seseorang yang hampir jatuh lalu menemukan pegangan.

Lalu ia tersenyum. Pelan. Lebar. Lesung pipi kirinya muncul.

“Pass artinya iya,” katanya. “Ninis udah umumin ke satu RT.”

Aku tidak menjawab.

“Jadi,” lanjutnya, suaranya bergetar sedikit di bawah senyum, “berarti kita pacaran?”

Aku harus mengatakannya sekarang. Ini kesempatan terakhir. Ia sudah membukakan pintunya lebar-lebar. Aku hanya perlu berjalan masuk.

Iya. Aku mau jadi pacarmu. Aku sudah mau sejak hari kedua. Aku sudah menulisnya tujuh kali di kertas kuning.

“…Pass.”

Lagi.

Aku membenci diriku sendiri selama setengah detik.

Lalu, karena mulutku tidak mau bergerak, tanganku yang bergerak. Aku meraih tangannya yang terlipat di pangkuan, membuka jari-jarinya yang saling meremas, dan menggenggamnya. Erat. Lebih erat dari pegangan tangan mana pun sebelumnya.

Mika menatap tangan kami. Lalu menatapku.

Dan tertawa. Pendek, basah, lega.

“Oke,” katanya. “Oke. Kalau gitu begini.”

Ia menegakkan badan. Mengangkat dagu. Kembali menjadi Mika yang berani, Mika yang membuat slide perjanjian jam dua pagi, Mika yang tidak pernah menunggu siapa pun.

“Mulai hari ini, kita pacaran.” Ia menunjuk dadaku dengan telunjuk tangan yang bebas. “Kamu nggak bisa bilang nggak.”

Aku menatapnya.

Aku memang tidak bisa bilang nggak. Kami berdua tahu apa yang terjadi kalau aku mencoba.

“Iya,” kataku.

Satu kata. Akhirnya. Keluar dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksa, tanpa pass.

Tidak ada cegukan.


Mika tidak bergerak selama beberapa detik. Lalu ia melepaskan tanganku, turun dari kursinya, dan berdiri di depanku. Aku masih duduk di kursi tinggi. Untuk pertama kalinya, mata kami sejajar.

“Arsa.”

“Hm.”

“Kamu ingat DP-nya?”

Aku ingat. Aku ingat setiap milimeter pipi kiriku di bawah kembang api Cikarang.

“Ingat.”

“Belum lunas,” katanya pelan.

“Aku belum berani.”

“Aku tahu.” Ia tersenyum. “Makanya aku yang lunasin.”

Ia meletakkan dua tangannya di wajahku. Telapak tangannya hangat di rahangku, ibu jarinya di tulang pipiku, tepat di tempat ia menghapus tinta merah di hari pertamanya.

Lalu ia menciumku.


Aku auditor. Aku sudah memeriksa ribuan transaksi, ratusan laporan keuangan, puluhan perusahaan. Aku tahu cara mendeskripsikan sesuatu dengan presisi.

Aku tidak bisa mendeskripsikan ini.

Bibirnya lembut dan sedikit hangat dari teh. Ciuman itu singkat, mungkin tiga detik, mungkin empat. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Seperti seseorang yang sudah lama tahu persis apa yang ingin ia lakukan, dan akhirnya melakukannya.

Otakku berhenti bekerja. Benar-benar berhenti. Seperti sistem yang mati listrik di tengah proses penutupan buku.

Lalu, pelan-pelan, menyala lagi. Dan satu-satunya kalimat yang berhasil dirakit oleh otakku, dari seluruh kosakata yang pernah kupelajari, adalah:

Opini: wajar tanpa pengecualian.

Mika mundur sedikit. Tangannya masih di wajahku. Ia menatapku, pipinya merah, napasnya sedikit tidak teratur.

“Lunas,” bisiknya.

Aku tidak bisa bicara.

“Arsa?”

“…Hm.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak tahu.”

Tidak ada cegukan. Karena itu benar. Aku sama sekali tidak tahu.

Mika tertawa. Ia menyandarkan dahinya di dahiku dan tertawa pelan, dan napasnya hangat di wajahku, dan aku akhirnya bergerak. Tanganku melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat, dan aku memeluknya. Wajahnya di leherku. Tawanya di kulitku.


Seberkas cahaya menyorot ke dalam pantry.

Senter. Dari pintu yang setengah terbuka.

“Lembur, Pak?”

Pak Mamat berdiri di ambang pintu dengan senter di tangan dan wajah tanpa ekspresi seorang satpam yang sudah dua puluh tahun berpatroli malam dan sudah melihat segalanya. Senternya menyorot tepat ke arah kami: aku duduk di kursi tinggi, Mika berdiri di antara lututku, tanganku di pinggangnya, wajahnya di leherku.

Itu pertemuan kedua kami malam ini. Yang pertama di toilet pria.

“Iya,” kataku.

Tidak ada cegukan. Karena itu benar. Aku memang sedang lembur. Laporan klien distribusi masih terbuka di komputerku. Secara teknis, ini adalah istirahat di tengah lembur.

Pak Mamat mengangguk pelan. Senternya tetap menyorot.

Mika membenamkan wajahnya lebih dalam ke dadaku. Bahunya bergetar. Ia tertawa tanpa suara, begitu keras sampai aku bisa merasakannya di tulang rusukku.

“Jangan lupa matikan lampu pantry kalau sudah, Pak,” kata Pak Mamat.

“Baik, Pak.”

Senter berbalik. Langkah kakinya menjauh di koridor. Lalu, dari kejauhan, samar, terdengar suaranya bergumam pada dirinya sendiri:

“Semangat, katanya. Ternyata berhasil.”

Mika tertawa keras. Tidak lagi tanpa suara. Ia tertawa di dadaku sampai tersengal, dan aku memeluknya dan untuk pertama kalinya aku juga tertawa, bukan hembusan napas pendek seperti di parkiran, tapi tawa yang sesungguhnya, yang keluar dari dada dan membuat bahuku bergetar.


Malam itu aku mengantarnya pulang. Kami berpegangan tangan di lift. Di parkiran. Di mobil, di setiap lampu merah. Di lobi apartemennya, ia mencium pipiku, cepat, dan berlari ke lift sambil tertawa, dan kali ini ia melambai sebelum pintu tertutup.

Di rumah, aku duduk di tepi kasur dan membuka buku hitam.

Kertas kuning itu masih di sana. Terlipat dua kali. Rapi. Simetris. Tidak pernah dibuka.

Mika. Aku mau jadi pacarmu.

Aku menatapnya lama.

Aku punya pacar sekarang. Perempuan paling berani yang pernah kukenal. Ia bertanya, ia memutuskan, ia menciumku lebih dulu. Ia melakukan semuanya.

Dan aku, yang menulis enam kata itu tujuh kali, tidak mengucapkan satu pun.

Aku bilang pass. Dua kali. Lalu iya, setelah ia sudah memutuskan untukku.

Seharusnya aku yang bilang. Seharusnya aku yang bertanya. Itu resolusiku. Lebih berani. Delapan hari setelah tahun baru, dan aku sudah gagal di ujian paling penting.

Aku tidak menyesal ia yang bertanya. Aku menyesal aku tidak.

Aku melipat kertas kuning itu sekali lagi, memasukkannya kembali ke buku hitam, dan menulis satu baris di bawah daftar Pertanyaan yang belum dijawab.

Bukan untuk Mika kali ini. Untuk diriku sendiri.

Hal yang belum kuucapkan: 1.

Aku menutup buku itu.

Di ponselku, satu pesan masuk. Dari Mika.

Pacarku nggak bisa bohong. Aku pacar paling aman se-Jakarta. Selamat tidur, Pak Supervisor. 💛

Aku menatap pesan itu, dan tersenyum, dan merasakan sesuatu yang kecil dan dingin di dasar perutku yang tidak kumengerti.

Pacarku nggak bisa bohong.

Aku mematikan lampu dan memutuskan untuk tidak memikirkannya malam ini.