← Hik! Itu Bohong

Chapter Thirteen

Empat Puluh Menit di Bahu Kiri

POV: Mika

Pertengahan Desember, Wiratama & Partners berubah menjadi kapal yang sedang bersiap menghadapi badai.

Busy season belum dimulai, tapi semua orang sudah bisa mencium baunya. Klien mulai mengirim data akhir tahun. Pak Hendro mulai memakai kemeja yang sama dua hari berturut-turut. Juned mulai tidur di sofa ruang rapat dengan kacamata hitam supaya “nggak ketahuan merem”. Dan aku mulai pulang di atas jam sepuluh malam hampir setiap hari.

Aku tidak mengeluh. Lembur di Wiratama & Partners punya satu keuntungan yang tidak dimiliki lembur di kantor Surabaya.

Arsa juga lembur.

Kamis malam itu, kami menunggu data persediaan dari klien distribusi di Bekasi. Mereka berjanji mengirim pukul tujuh. Pukul delapan mereka bilang setengah jam lagi. Pukul sembilan mereka bilang servernya bermasalah. Pukul sepuluh mereka bilang staf IT-nya sedang dalam perjalanan.

“Pulang aja kalau capek,” kata Arsa, yang duduk di sofa ruang rapat kecil dengan laptop di pangkuan.

“Kamu pulang?”

“Nggak. Aku supervisornya.”

“Ya udah. Aku juga nggak.”

Aku duduk di sebelahnya di sofa. Bukan di kursi di seberang meja. Di sofa. Sofanya tidak terlalu panjang, jadi lutut kami hampir bersentuhan. Arsa melirik lututku, lalu kembali ke laptop, dan aku melihat telinganya berubah warna dalam cahaya lampu ruang rapat yang redup.

Sudah dua minggu sejak tangan di pipi di pantry. Sejak itu, kami berpegangan tangan tiga kali lagi. Sekali di lift. Sekali di tangga darurat, waktu lift rusak. Sekali di parkiran, cuma lima detik, sebelum Pak Hendro muncul dari mobil sebelah.

Kami tidak membicarakannya. Aku tidak bertanya kita ini apa. Ia tidak bertanya apa-apa juga, tapi aku tahu daftar di buku hitamnya terus bertambah. Aku pernah melihatnya menulis sesuatu setelah aku menjawab pertanyaannya dengan lelucon tentang rawon.

Pukul sepuluh lewat dua puluh, aku menguap.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh, mataku terasa berat.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh lima, aku menyandarkan kepala di bahunya.


Aku harus jujur di sini, karena tidak ada yang akan tahu kalau aku bohong, dan justru karena itu aku harus jujur.

Sepuluh menit pertama, aku tidak tidur.

Aku menyandarkan kepala di bahu kirinya dengan mata terpejam dan napas yang sengaja kubuat pelan dan teratur. Pura-pura. Aku ingin tahu apa yang akan ia lakukan.

Ia berhenti mengetik.

Selama satu menit penuh, tidak ada suara keyboard. Hanya dengung AC dan napasnya yang tiba-tiba menjadi sangat hati-hati, seperti orang yang takut napasnya sendiri akan membangunkan sesuatu.

Lalu, sangat pelan, ia menutup laptopnya dengan satu tangan. Meletakkannya di meja. Tanpa menggerakkan bahu kirinya satu milimeter pun.

Lalu ia diam.

Aku menunggu. Menunggu ia membangunkanku, atau menggeser bahunya, atau menelepon klien sekali lagi.

Ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk. Tegak. Diam. Seperti patung yang sengaja dibuat untuk disandari.

Lalu, di menit ketujuh, aku merasakan sesuatu. Sangat ringan. Sesuatu menyentuh rambutku, di atas telinga. Jari. Satu jari, menyelipkan sehelai rambut yang jatuh ke wajahku kembali ke belakang telingaku. Pelan sekali, seolah rambutku terbuat dari kaca.

Lalu jari itu pergi. Dan ia kembali diam.

Di menit kesepuluh, aku benar-benar tertidur. Bukan karena capek. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku merasa sangat, sangat aman.


Aku terbangun karena suara notifikasi email.

Data dari Bekasi akhirnya masuk. Pukul sebelas lewat lima belas. Aku membuka mata, dan hal pertama yang kulihat adalah kemeja biru muda dari jarak sangat dekat, dan hal kedua adalah bahwa aku meninggalkan sedikit noda bedak di kemeja itu.

Aku menegakkan badan dengan cepat. “Maaf! Aku ketiduran. Lama, ya?”

Arsa menatapku. Wajahnya datar. Rambutnya sedikit berantakan di satu sisi.

“Nggak.”

Hik.

Aku menatapnya. Ia menatap laptop yang tertutup di meja.

“Arsa. Berapa lama?”

“Pass.”

Pintu ruang rapat terbuka. Seorang gadis muda dengan hoodie kebesaran dan kunci mobil di tangan berdiri di ambang pintu. Ninis.

“Mas! Aku udah nunggu di bawah dari tadi! Mas bilang jam sepuluh!” Ia melihatku. Matanya membesar. “Lho, Mbak Mika!”

“Ninis? Kok di sini?”

“Mobil Mas Arsa di bengkel. Aku disuruh jemput pakai mobil Eyang.” Ninis menatap kakaknya, lalu menatapku, lalu menatap noda bedak di bahu kiri kemeja kakaknya, dengan kecepatan seorang detektif. “Oh. Oh.”

Arsa berdiri, mengambil tas, dan berjalan ke pintu tanpa berkata apa-apa. Ia mencoba memakai tasnya di bahu kiri. Tas itu jatuh. Ia mencoba lagi. Tasnya jatuh lagi. Lengan kirinya menggantung kaku di sisi tubuhnya seperti lengan boneka.

Ninis menutup mulutnya.


Mereka mengantarku pulang. Arsa menyetir mobil Eyang, sedan tua berwarna hijau tosca. Aku di kursi penumpang depan. Ninis di belakang, terlalu diam untuk ukuran Ninis.

Arsa menyetir dengan tangan kanan. Tangan kirinya diletakkan di pangkuan. Saat harus memindahkan gigi, ia melakukan sesuatu yang membuatku menoleh dua kali: ia memindahkan gigi dengan siku kirinya. Siku. Menekan tuas persneling dengan siku seperti orang yang tangannya sedang dipakai untuk hal lain.

Aku tidak berkata apa-apa. Ninis di belakang menahan napas begitu keras sampai aku bisa mendengarnya.

Malamnya, pukul dua belas lewat sepuluh, ponselku bergetar. Nomor yang tidak kukenal.

Mbak Mika, ini Ninis. Aku dapet nomor Mbak dari Eyang. Eyang punya nomor Mbak dari Mas Arsa. Mas Arsa nggak tahu Eyang ngambil dari HP-nya. Jangan bilang Mas ya.

Lalu, satu foto. Diambil dari pintu ruang rapat yang setengah terbuka. Aku, tertidur di bahu Arsa, mulut sedikit terbuka. Arsa, duduk tegak seperti tentara, menatap lurus ke dinding di depannya dengan wajah orang yang sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.

Lalu pesan berikutnya:

LAPORAN: Mbak tidur 40 menit. Aku dateng jam 10.35, nungguin di pintu, nggak berani masuk. Mas Arsa NGGAK GERAK 40 MENIT. Nggak main HP. Nggak ngapa-ngapain. Cuma duduk. Sekali dia benerin rambut Mbak terus langsung diem lagi kayak takut ketahuan.

Tangannya kesemutan sampe nyetir pake siku. Mbak lihat sendiri kan.

Aku udah 23 tahun jadi adiknya. Aku nggak pernah lihat Mas kayak gitu.

Mbak, tolong jangan sakitin Masku ya. Dia nggak bisa bohong, tapi dia juga nggak bisa ngomong. Itu kombinasi yang jelek banget.

Aku menatap pesan terakhir itu lama sekali.

Lalu aku menyimpan fotonya. Di folder tersendiri. Folder yang kubuat malam itu juga, tanpa nama, karena aku tidak tahu harus menamainya apa.


Besok paginya, aku datang ke kantor lebih awal dari Arsa. Itu belum pernah terjadi. Aku menunggunya di pantry dengan secangkir teh tawar yang sudah kubuatkan.

Ia masuk pukul tujuh lewat empat puluh lima, tepat waktu, dan berhenti saat melihatku.

“Pagi.”

“Pagi. Duduk.” Aku menunjuk kursi di sebelahku. “Tangan kiri.”

“Kenapa?”

“Masih kesemutan?”

Ia diam. “Pass.”

“Pass itu iya,” kataku, mengutip Ninis.

Ia menutup mata sebentar. Lalu duduk, dan meletakkan tangan kirinya di meja bar, telapak di atas.

Aku mengambil tangannya dengan dua tanganku dan mulai memijat. Pelan. Dari pergelangan tangan, ke telapak, ke jari-jari, satu per satu. Tangannya besar dan hangat dan ada kapalan kecil di jari tengah, bekas pena. Bekas tick mark yang tak terhitung jumlahnya.

Ia tidak bicara. Ia menatap tangannya di tanganku seperti menatap angka yang tidak pernah ia duga akan muncul di kertas kerja.

Aku memijat jari kelingkingnya. Jari yang dulu kukaitkan saat kontrak. Lalu jari manisnya. Lalu telapak tangannya lagi.

Lalu aku berhenti memijat.

Tapi aku tidak melepaskan.

Aku menautkan jari-jariku dengan jari-jarinya, dan menggenggam. Ia menatapku. Aku menatap balik dan tersenyum.

“Masih kesemutan?” tanyaku.

“…Dikit.”

Tidak ada cegukan. Mungkin memang masih sedikit. Atau mungkin ia sudah belajar memilih kata yang tepat.


Aku tidak melepaskan tangannya sampai kami harus keluar dari pantry.

Lalu aku menggenggamnya lagi di lift, saat kami turun ke lobi untuk mengambil dokumen dari kurir. Dan di lobi. Dan saat berjalan ke parkiran basement untuk mengambil berkas dari mobil Eyang. Aku tidak melepaskan, dan ia tidak meminta dilepaskan.

Di parkiran, ia berhenti di samping mobil hijau tosca itu. “Tanganku kesemutan lagi,” katanya.

Aku menatapnya. Wajahnya datar. Tapi sudut bibirnya, sangat sedikit, terangkat.

Tidak ada cegukan.

Mungkin memang kesemutan lagi. Aku sudah menggenggamnya hampir satu jam.

“Berarti,” kataku, “harus dipijat lagi.”

Ia tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menarik tangannya.


Saat itulah ponselku berdering. Video call. Mama.

Aku menjawabnya dengan tangan kanan, karena tangan kiriku sedang sibuk. Wajah Mama memenuhi layar, terlalu dekat seperti biasa, dengan latar belakang dapur Surabaya.

“Nduk! Mama mau tanya resep sambal goreng ati, Mama lupa—”

Mama berhenti. Matanya menyipit. Kameraku, ternyata, menangkap sebagian tangan kiriku. Dan tangan lain yang menggenggamnya. Tangan pria. Besar. Dengan lengan kemeja biru muda yang digulung.

“Lho,” kata Mama pelan. “Iku tangan sopo?”

Aku menutup kamera dengan jempol.

“Nduk! Nduk, jempolmu! Mama nggak bisa lihat! Iku tangan sopo, rek?! Mas Ganteng? Iku Mas Ganteng?!”

“Ma, sinyalnya jelek, nanti aku telepon lagi—”

“SINYALMU APIK! MAMA KRUNGU JELAS—”

Aku menutup telepon.

Arsa menatapku. “Mas Ganteng?”

“Pass,” kataku.

Ia diam sejenak. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tertawa. Pendek. Rendah. Hanya satu hembusan napas yang keluar dari hidung dan sedikit dari mulut, dan sudut matanya berkerut, dan wajahnya yang selalu datar itu tiba-tiba terlihat jauh lebih muda.

Aku menatapnya. Lupa bernapas.

Aku sudah mengumpulkan tiga puluh lebih cegukan di spreadsheet. Aku belum pernah mengumpulkan tawanya.

Aku ingin mulai mencatat.


Siang itu, jatah pertanyaan harian kami.

Aku bertanya: “Kamu sengaja nggak bangunin aku semalam?”

“Iya.”

Tidak ada cegukan. Tidak ada pass. Langsung. Begitu saja.

Lalu ia bertanya: “Kenapa kamu pura-pura tidur sepuluh menit pertama?”

Aku membeku.

Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Ia auditor. Ia pasti sudah menghitung napasku.

Aku membuka mulut. Aku bisa bilang karena aku pengen tahu kamu ngapain. Aku bisa bilang karena aku suka bahumu. Aku bisa bilang karena aku pengen deket sama kamu dan nggak tahu caranya bilang.

“Siapa yang pura-pura?” kataku, dan tersenyum. “Aku langsung tidur, kok. Kamu ngarang.”

Arsa menatapku. Lalu membuka laci, mengeluarkan buku hitam, dan menulis sesuatu.

Aku melihat angka di halaman itu, terbalik, dari seberang meja.

23.

Ia menutup bukunya. Tidak berkata apa-apa. Tidak terlihat marah. Hanya sedikit… sabar. Seperti auditor yang tahu klien belum siap menyerahkan dokumen, dan memutuskan untuk menunggu.

Aku kembali ke mejaku dengan tangan kiri yang masih hangat, dan dada yang terasa sedikit sesak.

Dua puluh tiga.

Aku sudah berbohong padanya dua puluh tiga kali. Kecil-kecil. Manis-manis. Tidak ada yang serius.

Tapi ia mencatat semuanya. Dan suatu hari, aku tahu, ia akan meminta aku melunasinya.