← Hik! Itu Bohong

Chapter Three

Kertas Kerja Cegukan

POV: Mika

Spreadsheet itu kuberi nama KKC – Kertas Kerja Cegukan.

Kolom A: tanggal. Kolom B: jam. Kolom C: kalimat terakhir sebelum cegukan, kata per kata. Kolom D: jumlah hik. Kolom E: apakah kalimat itu benar atau tidak, berdasarkan bukti pendukung. Kolom F: tick mark, kalau buktinya cukup.

Lalu, setelah berpikir sebentar, aku menambahkan kolom G.

Telinga merah (Y/N).

Oci membaca layar dari balik bahuku sambil memakai masker wajah berwarna hijau. “Kamu bikin spreadsheet buat cowok.”

“Aku bikin spreadsheet buat fenomena.”

“Fenomena yang tingginya seratus delapan puluh dan bahunya lebar?”

“Fenomena yang cegukan setiap kali ngomong hal yang nggak benar.”

Oci menyipitkan mata di balik maskernya. “Kamu yakin?”

“Belum.” Aku mengisi baris keempat: ‘Saya nggak lapar.’ — 1 hik. Bukti: belum makan siang (sumber: Juned), menatap martabak 4 kali dalam 2 menit (sumber: observasi langsung). Benar? TIDAK. ✓. Lalu baris kelima: ‘Nggak.’ (re: masuk angin) — 1 hik. Telinga merah: Y.

“Belum yakin,” ulangku. “Tapi data nggak bohong.”

“Beda sama cowok.”

“Persis. Makanya aku suka data.”


Masalah dengan hipotesis adalah ia harus diuji. Dan masalah dengan aku adalah aku tidak sabaran.

Rapat mingguan tim dimulai pukul tujuh pagi hari Kamis. Pukul tujuh. Pagi. Pak Hendro menyebutnya “rapat ayam berkokok” dan entah kenapa bangga dengan nama itu. Juned datang dengan mata setengah tertutup, Tiara membawa dua tumbler kopi, dan aku membawa pertanyaan.

Arsa datang lima belas menit lebih awal, tentu saja. Kemejanya biru muda hari ini, digulung dua lipatan sampai siku. Lengan bawahnya kelihatan. Aku mencatat itu dalam hati, bukan di spreadsheet, karena tidak relevan dengan hipotesis.

Sangat tidak relevan.

Di tengah pembahasan jadwal stock opname, aku mengangkat tangan.

“Pak Arsa, maaf, pertanyaan di luar agenda.” Aku tersenyum seramah mungkin. “Bapak suka rapat jam tujuh pagi?”

Seluruh meja menoleh. Arsa menatapku. Satu detik.

“Suka.”

Hik.

Pak Hendro langsung menepuk meja, terharu. “Nah! Ini semangat yang saya mau! Lihat, Ned! Lihat, Ti! Supervisor kalian suka rapat pagi sampai cegukan saking semangatnya!”

Juned menatap Arsa dengan ekspresi orang yang baru mendengar kucing bicara. Tiara mengangkat pena dan menulis sesuatu di buku catatannya.

Arsa menatap lurus ke whiteboard. Telinganya mulai memerah dari ujung atas.

Aku menunduk ke laptop dan mengetik di bawah meja.

Baris 6: ‘Suka.’ (re: rapat jam 7) — 1 hik. Telinga merah: Y. ✓.


Hipotesis butuh sampel yang cukup. Jadi aku menguji lagi.

Siang itu, saat ia lewat mejaku: “Pak, saya pakai parfum baru. Bapak nggak suka, kan?”

Arsa berhenti. Diam tiga detik. Lalu ia berdeham. “Saya sedang buru-buru.” Dan pergi.

Tidak ada cegukan. Karena ia tidak menjawab.

Menarik. Aku menulis catatan di kolom keterangan: Subjek menghindari pertanyaan. Tidak menyangkal. Cek apakah menghindar = konfirmasi.

Sore harinya, Juned mampir ke mejaku dengan ekspresi yang ia pikir tidak mencurigakan.

“Mbak Mika.”

“Hm?”

“Mbak kok rajin banget nanya-nanya ke Pak Arsa?” Ia merendahkan suara. “Mbak naksir?”

“Juned. Aku auditor. Aku nanya-nanya ke semua orang.”

“Mbak nggak nanya ke saya apa saya suka rapat jam tujuh.”

“Kamu suka rapat jam tujuh?”

“Benci, Mbak. Benci banget.”

“Nah. Udah kujawab sendiri, kan.” Aku tersenyum. “Data yang jelas nggak perlu ditanya.”

Juned pergi sambil menggaruk kepala. Di seberang ruangan, Tiara sedang mengetik di ponselnya sambil sesekali melirik ke arahku, lalu ke meja Arsa, lalu kembali ke arahku. Aku punya firasat Tiara sedang mengumpulkan datanya sendiri.

Firasatku terbukti sepuluh menit kemudian, di pantry. Tiara menyusulku dengan tumbler kucingnya dan wajah orang yang sudah menahan sesuatu sepanjang hari.

“Kak Mika. Boleh aku bilang sesuatu? Tapi Kakak jangan marah.”

“Bilang aja.”

Tiara menarik napas. “Aku udah dua tahun di tim ini. Selama dua tahun, Pak Arsa nggak pernah cegukan. Nggak pernah. Satu kali pun.” Ia mengangkat tiga jari. “Kakak datang tiga hari, dia udah cegukan… berapa kali?”

Aku tidak perlu membuka spreadsheet. “Tujuh.”

“TUJUH.” Tiara menutup mulutnya sendiri. “Kak. Itu bukan masuk angin. Itu… itu energi.”

“Energi?”

“Energi tokoh utama, Kak.” Matanya berbinar-binar seperti sedang menonton drama Korea episode terakhir. “Pokoknya kalau nanti ada apa-apa, aku mau jadi orang pertama yang tahu. Aku bisa jaga rahasia. Aku cuma nggak bisa jaga ekspresi.”

Aku tertawa dan mengusap kepalanya. Tiara pergi dengan langkah ringan, dan aku baru sadar ia tidak sekali pun bertanya apakah aku naksir Arsa.

Ia tidak perlu bertanya. Ternyata bukan cuma aku yang bisa membaca data.


Momen paling penting terjadi pukul enam sore, di lift.

Kami kebetulan turun bersama. Benar-benar kebetulan. Aku tidak menunggu di dekat lift selama tujuh menit pura-pura membaca pengumuman evakuasi kebakaran sampai ia keluar dari ruangannya. Sama sekali tidak.

Pintu tertutup. Hanya kami berdua. Angka di panel mulai turun: 15, 14, 13.

Ia berdiri tegak di sudut, tas kerja di tangan kiri, menatap pintu. Aku berdiri di tengah, sedikit lebih dekat dari yang seharusnya untuk lift yang muat sepuluh orang.

“Pak Arsa.”

“Ya.”

“Boleh saya cek sesuatu?”

Sebelum ia menjawab, aku meraih pergelangan tangan kanannya. Kulitnya hangat. Dua jariku menekan pelan di bagian dalam pergelangan, tempat denyut nadi bisa dirasakan.

Ia tidak menarik tangannya. Tapi seluruh tubuhnya menegang, seperti seseorang yang baru sadar sedang berdiri di atas papan yang mungkin tidak kuat.

Aku menghitung pelan, setengah berbisik. “Satu. Dua. Tiga.”

Lantai 11.

“Empat. Lima. Enam.”

Denyutnya cepat. Terlalu cepat untuk pria yang sedang berdiri diam di dalam lift.

“Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh.”

Lantai 8. Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Ia sudah menatapku, entah sejak hitungan keberapa.

“Nadi Bapak cepat,” kataku pelan. “Bapak takut lift, atau takut saya?”

Rahangnya bergerak. Ia menelan ludah. Dan aku bisa melihat ia sedang menimbang, seperti auditor yang memilih antara dua opini yang sama-sama tidak nyaman.

“…Lift.”

Satu detik. Dua detik.

Hik.

Aku tidak bisa menahan senyumku. Aku juga tidak melepaskan pergelangan tangannya.

Telinganya merah. Lehernya mulai ikut merah.

Lantai 5. Lantai 4. Lantai 3.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai 3, padahal tidak ada di antara kami yang menekan tombol lantai 3.

Di depan pintu berdiri Bu Lastri dari HR. Perempuan berusia akhir empat puluhan dengan kacamata berantai dan wajah yang, menurut paket orientasi Juned, “belum pernah tersenyum sejak era Windows XP”. Di tangannya ada sepotong bakwan yang tinggal setengah.

Bu Lastri menatap kami. Menatap tanganku di pergelangan tangan Arsa. Menatap telinga Arsa. Menatap tanganku lagi.

Ia tidak berkata apa-apa.

Ia masuk ke lift, berdiri di antara kami, menggigit bakwannya, dan menekan tombol lobi.

Aku melepaskan pergelangan tangan Arsa pelan-pelan, seolah gerakan cepat akan memicu sesuatu.

Lantai 2. Lantai 1. Lobi.

Pintu terbuka. Bu Lastri keluar lebih dulu, tanpa menoleh, tanpa suara, kecuali suara kunyahan bakwan.

Arsa keluar setelahnya dengan langkah yang sedikit terlalu cepat. Di depan pintu putar gedung, ia berhenti, setengah menoleh.

“Hati-hati di jalan, Mika.”

Lalu ia pergi, dan aku masih berdiri di lobi dengan dua jari yang masih bisa merasakan denyut nadi seseorang.


Aku hampir lupa bagian terbaik hari itu.

Pagi tadi, sebelum rapat ayam berkokok, aku meninggalkan kertas kerja persediaan di meja Arsa untuk di-review. Kertas kerja pertamaku di kantor ini. Aku sengaja mengerjakannya serapi mungkin, karena aku tahu siapa yang akan memeriksanya.

Saat aku kembali dari makan siang, kertas kerja itu sudah ada di mejaku lagi.

Ada satu kesalahan kecil yang kulewatkan. Penjumlahan subtotal di halaman empat, salah ketik satu digit. Arsa tidak menuliskan koreksi besar-besar dengan tinta merah seperti senior-seniorku di Surabaya, yang suka membuat kertas kerja junior kelihatan seperti korban pembunuhan.

Ia membetulkannya dengan pensil. Kecil. Rapi. Hampir tidak kelihatan, seolah ia tidak ingin siapa pun tahu aku pernah salah.

Dan di pojok kanan bawah halaman terakhir, dengan pena hitam karena pena merahnya masih tertancap di rambutku, ada satu tick mark yang presisi seperti cetakan mesin.

Di sebelahnya, satu kata.

Bagus.

Aku menatap kata itu lama sekali. Lebih lama dari waktu yang kubutuhkan untuk membaca semua angka di kertas kerja itu.

Bagus. Tidak ada tanda seru. Tidak ada emoji. Tidak ada basa-basi. Satu kata dari pria yang, sekarang aku hampir yakin, tidak bisa menulis kata yang tidak ia maksudkan.


Malamnya, aku membuka KKC dan menghitung.

Tujuh baris. Tujuh kali cegukan. Tujuh kali, semuanya terjadi setelah kalimat yang terbukti tidak benar. Dan setiap kali ia memilih kalimat yang benar, sekalipun menyesatkan, seperti tempat itu kosong, tidak ada cegukan. Setiap kali ia menghindar, tidak ada cegukan.

Aku mengetik di sel paling bawah, di bawah garis tebal, tempat biasanya auditor menulis kesimpulan.

Hipotesis: Subjek cegukan setiap kali berbohong.

Keyakinan: memadai.

Aku menatap tulisan itu, lalu menatap ponselku. Lalu menatap pena merah di atas meja rias, pena yang belum juga kukembalikan.

Kalau hipotesis ini benar, maka pria paling tertutup di Wiratama & Partners adalah satu-satunya pria di dunia yang tidak bisa membohongiku.

Dan itu, pikirku sambil tersenyum ke langit-langit kamar, adalah hal paling berbahaya yang pernah kuketahui tentang seseorang.

Berbahaya buat dia.

Besok, aku akan memberitahunya bahwa aku tahu.