Chapter Twenty Four
Saya Sudah Fit, Pak
POV: Arsa
Senin pertama bulan April, sembilan hari setelah aku tumbang di dekat meja Juned, aku kembali ke kantor.
Aku tiba pukul tujuh lewat empat puluh lima. Lima belas menit lebih awal. Seperti biasa.
Meja dekat jendela sudah ada sticky note kuning di monitornya. Bukan dariku. Tulisan tangan miring, tick mark miring.
Selamat datang kembali, Pak Supervisor. Jangan lembur. Jangan lupa minum. Jangan lupa aku. ✓
Aku menatap sticky note itu lebih lama dari yang wajar untuk tiga kalimat pendek. Lalu mencabutnya, melipatnya dua kali, dan memasukkannya ke buku hitam.
Pukul delapan, Pak Hendro keluar dari ruangannya dan memelukku di tengah koridor.
Pak Hendro tidak pernah memeluk siapa pun. Pak Hendro bahkan menjabat tangan klien dengan jarak satu lengan penuh.
“Sa! Ya Allah, Sa! Kamu kurusan!” Ia menepuk punggungku keras-keras. “Gimana? Sudah sehat betul?”
“Saya sudah fit, Pak.”
Pak Hendro mengangguk-angguk lega. Lalu kembali ke ruangannya.
Aku berdiri di koridor.
Aku menunggu.
Aku belum sepenuhnya fit. Aku tahu itu. Perutku masih sedikit perih kalau makan pedas. Aku masih cepat lelah. Dokter bilang butuh dua minggu lagi untuk benar-benar pulih. Saya sudah fit itu tidak sepenuhnya benar. Itu basa-basi. Kalimat sopan yang semua orang ucapkan.
Kalimat yang selama dua puluh dua tahun selalu membuatku cegukan.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tidak ada apa-apa.
Aku pergi ke toilet pria. Mengunci pintu bilik. Berdiri di depan cermin wastafel.
Wajah yang sama. Sedikit lebih kurus. Sedikit lebih pucat. Kemeja biru muda yang sama.
“Saya suka durian,” kataku ke cermin.
Aku benci durian. Seluruh kantor tahu aku benci durian. Enam puluh orang mendengar aku cegukan dua kali saat mengucapkan kalimat ini di Puncak.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Hening.
Aku menatap cermin.
“Saya fans berat Pak Hendro.”
Aku menghormati Pak Hendro. Aku menyukai Pak Hendro. Tapi fans berat adalah hiperbola yang tidak akurat.
Hening.
“Juned adalah orang yang bisa menjaga rahasia.”
Itu kebohongan paling besar yang pernah kuucapkan. Juned punya buku catatan bertuliskan PROYEK DETEKTOR.
Hening.
Aku mencengkeram tepi wastafel. Jantungku berdetak keras. Sangat keras. Seperti stock opname yang ngitung terus nggak berhenti-berhenti.
“Saya bisa joget,” kataku.
Pintu toilet terbuka.
Juned masuk, setengah mengantuk, menggaruk kepala, dan berhenti di tengah langkah. Ia menatapku: berdiri di depan cermin, mencengkeram wastafel, baru saja mengucapkan saya bisa joget dengan suara tegas dan wajah serius.
Kami saling menatap melalui cermin.
Satu detik. Dua detik.
“…Saya nggak lihat apa-apa, Pak,” kata Juned pelan.
Ia mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tanpa membalikkan badan. Pintu toilet tertutup dengan bunyi klik yang sangat pelan.
Dari koridor, samar, terdengar suaranya: “Kencingnya nanti aja.”
Aku berdiri sendirian di toilet.
Tidak ada cegukan. Bahkan setelah saya bisa joget.
Aku menghabiskan pagi itu dengan menguji.
Diam-diam. Hati-hati. Seperti auditor yang menguji pengendalian yang tiba-tiba tidak berfungsi.
Di pantry, saat Tiara bertanya apakah aku suka kopi barunya: “Suka.” Aku tidak suka kopi. Tidak ada cegukan.
Di lift, saat seorang staf tim pajak bertanya apakah aku sudah sembuh total: “Sudah total.” Tidak ada cegukan.
Di mejaku, saat aku membaca email dari klien yang bertanya apakah laporan kami bisa selesai dua hari lebih cepat, aku mengetik Bisa, lalu menghapusnya, lalu mengucapkannya pelan ke layar. “Bisa.”
Tidak bisa. Tidak ada cegukan.
Dua puluh dua tahun.
Sejak umur tujuh. Sejak Eyang bertanya apakah aku sudah gosok gigi. Setiap kebohongan, sekecil apa pun, setiap basa-basi, setiap pujian sopan, setiap aku baik-baik saja yang tidak benar. Selalu diikuti satu atau dua detik keheningan, lalu suara itu.
Dua puluh dua tahun aku membangun seluruh hidupku di sekitar suara itu. Cara bicaraku. Cara diamku. Kata pass. Kalimat-kalimat yang secara teknis benar. Semua itu adalah dinding yang kubangun di sekitar satu kenyataan sederhana: aku tidak bisa berbohong.
Dan sekarang aku bisa.
Begitu saja. Tanpa pemberitahuan. Tanpa prosedur. Seperti klien yang mengganti sistem akuntansi di tengah tahun buku tanpa memberi tahu auditornya.
Aku duduk di mejaku dan menatap layar komputer yang menampilkan angka-angka yang tidak kulihat.
Yang pertama kurasakan adalah sesuatu seperti kebebasan.
Aku bisa bilang nasi gorengnya enak tanpa cegukan. Aku bisa bilang rapatnya produktif setelah rapat yang tidak produktif. Aku bisa bilang saya baik-baik saja kepada Pak Hendro, kepada klien, kepada siapa pun, tanpa tubuhku mengkhianatiku di depan semua orang.
Aku bisa menjadi seperti orang lain.
Yang kedua kurasakan, beberapa detik kemudian, adalah sesuatu yang lain.
Sesuatu yang terasa seperti kehilangan.
Seperti kehilangan bagian tubuh yang selama ini kukira menyebalkan, lalu baru menyadari bahwa bagian itu yang membuatku berjalan tegak.
Mika datang ke mejaku pukul sebelas, membawa dua cangkir teh.
“Pak Supervisor sudah fit?” tanyanya dengan senyum. Ia meletakkan satu cangkir di depanku. Teh tawar. Seperti biasa.
Aku menatapnya.
Aku bisa bilang sudah. Tidak ada yang akan terjadi. Tidak ada cegukan. Ia akan percaya. Ia akan tersenyum dan kembali ke mejanya.
“Belum sepenuhnya,” kataku. “Perutku masih perih. Dokter bilang dua minggu lagi.”
Mika mengangguk dan mengusap bahuku. “Jangan maksa, ya.”
Ia kembali ke mejanya.
Aku menatap cangkir teh di depanku.
Aku bisa berbohong padanya. Untuk pertama kalinya. Dan aku memilih tidak.
Itu terasa berbeda dari biasanya. Biasanya, aku tidak berbohong karena aku tidak bisa. Hari ini, aku tidak berbohong karena aku memilih tidak.
Dan aku tidak tahu, sungguh-sungguh tidak tahu, apakah Mika akan bisa membedakannya.
Malam itu, aku mengajaknya makan di warung tenda pecel lele di dekat kantor. Tempat yang kami datangi setiap Jumat sejak Februari. Tenda biru dengan lampu bohlam kuning, bangku plastik panjang, meja kayu yang lengket, dan bau sambal terasi yang menempel di baju sampai besok pagi.
Mika duduk di seberangku. Ia memesan lele goreng, nasi, dan es teh manis. Aku memesan nasi dan ayam goreng yang tidak pedas, karena perutku.
Ia bercerita tentang hari ini. Tentang Juned yang tiba-tiba sangat diam sejak pagi dan menolak masuk toilet pria sendirian. Tentang Tiara yang menangis karena @ArMi.official mendapat komentar dari akun anak magang Big Four yang bilang kapal ini menyelamatkan iman saya pada cinta. Tentang Pak Hendro yang menelepon istrinya tiga kali dalam sehari untuk merayakan “hari pertama Arsa kembali”, yang ternyata juga merupakan ulang tahun pertama mereka mengadopsi kucing.
Aku mendengarkan. Aku menatapnya bercerita, rambutnya digelung dengan pena merahku yang kesebelas, matanya berbinar dalam cahaya bohlam kuning, sambal di sudut bibirnya yang tidak ia sadari.
Aku tidak memberitahunya soal sambal itu. Aku ingin melihatnya sedikit lebih lama. Seperti cabai di ujung hidungnya di dapur Rawamangun.
Lalu aku meletakkan sendokku.
“Mika.”
Ia berhenti di tengah kalimat. Sesuatu di suaraku membuatnya berhenti.
“Hm?”
Aku sudah memikirkan cara mengatakannya sepanjang hari. Sepanjang sore. Aku sudah memikirkan untuk menunggu. Untuk mencari waktu yang lebih tepat. Untuk memastikan dulu bahwa ini bukan efek sementara dari obat atau sisa demam.
Tapi aku tidak mau menunggu.
Aku tidak mau ia tahu dari orang lain. Dari Juned. Dari tes iseng di pantry. Dari satu kalimat yang seharusnya diikuti cegukan dan ternyata tidak.
Aku tidak mau ia tahu dari bukti.
Aku mau ia tahu dariku.
“Aku bisa bohong sekarang,” kataku.
Mika menatapku.
Lampu bohlam kuning berdengung di atas kami. Penjual lele membalik ikan di wajan. Di meja sebelah, dua orang pekerja kantor tertawa soal sesuatu.
“Apa?” kata Mika.
“Cegukannya hilang. Sejak pagi. Aku tes. Di toilet. Di pantry. Di lift. Sebelas kali.” Aku menatap tanganku sendiri di atas meja. “Nggak ada sama sekali.”
“Arsa—”
“Saya suka durian,” kataku. Ke arahnya. Pelan.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tidak ada apa-apa.
Mika menatapku. Wajahnya tidak bergerak selama beberapa detik. Lalu ia tertawa. Pendek. Sedikit terlalu cepat.
“Ya ampun,” katanya. “Beneran?”
“Beneran.”
“Dua puluh dua tahun, terus hilang gitu aja?”
“Hilang gitu aja.”
Ia tertawa lagi. Lalu mengulurkan tangan melewati meja yang lengket dan menggenggam tanganku. Ibu jarinya mengusap buku jari-jariku. Pelan. Bolak-balik. Seperti yang selalu ia lakukan.
“Ya udah,” katanya. Suaranya ringan. Senyumnya lebar. “Ya udah, nggak apa-apa. Itu kan bagus. Kamu nggak perlu repot lagi.”
“Iya.”
“Kamu bisa makan nasi goreng villa yang asin dan bilang enak.”
“Iya.”
“Kamu bisa bilang ke Pak Darto kerupuk balado keju itu enak, terus dia nggak curiga.”
“Iya.”
Ia tertawa lagi. Ibu jarinya terus mengusap buku jariku.
Lalu, sepersekian detik, ibu jari itu berhenti bergerak.
Hanya satu detik. Mungkin kurang. Seperti jarum jam yang tersendat sebelum berjalan lagi.
Lalu ia mengusap lagi. Bolak-balik. Seperti tidak terjadi apa-apa.
“Lagian,” katanya, tersenyum padaku dengan sambal masih di sudut bibirnya, “kamu kan memang nggak suka bohong.”
“Iya,” kataku.
Itu benar. Aku memang tidak suka bohong.
Tapi aku melihat ibu jarinya. Aku melihat satu detik itu. Satu detik di mana ia berhenti dan sesuatu melintas di wajahnya terlalu cepat untuk ditangkap oleh siapa pun yang tidak sedang memperhatikan.
Aku sedang memperhatikan. Aku selalu memperhatikan.
Aku mengantarnya pulang. Di lobi, ia memelukku seperti biasa. Mencium pipiku seperti biasa. Bilang selamat malam, Pak Supervisor seperti biasa.
Semuanya seperti biasa.
Di mobil, sebelum menyalakan mesin, aku membuka buku hitam. Halaman Hal yang belum kuucapkan.
1. Mika. Aku mau jadi pacarmu. (Kertas kuning, belum dibuka.)
2. Aku takut kamu lebih sayang cegukanku daripada aku.
Aku menatap baris kedua lama sekali.
Lalu aku menulis di bawahnya, dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.
Sekarang kita akan tahu.
Aku menutup buku itu dan menyetir pulang.
Di rumah, Eyang sudah tidur. Ninis masih terjaga di ruang tengah, mengedit video di laptop.
“Mas! Gimana hari pertama?”
“Baik.”
Aku menunggu. Kebiasaan dua puluh dua tahun. Satu detik, dua detik.
Tidak ada apa-apa.
Ninis menatapku dari balik layar laptopnya. Menyipitkan mata.
“Mas,” katanya pelan. “Mas kok… nggak cegukan?”
Aku berhenti di tangga.
Lalu aku naik ke kamarku tanpa menjawab, karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu apakah jawaban apa pun yang kuberikan akan benar atau tidak, dan tidak ada lagi yang bisa memberitahuku.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak reading
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus