← Hik! Itu Bohong

Chapter Four

Satu Pertanyaan Sehari

POV: Arsa

Pukul tujuh lewat empat puluh lima, aku masuk ke pantry untuk membuat teh tawar, dan Mika sudah duduk di sana.

Ia duduk di kursi tinggi di sebelah meja bar kecil, kaki disilangkan, laptop terbuka di depannya. Rambutnya digelung dengan pena merah. Penaku. Yang kemarin. Aku sudah membeli pena baru tadi pagi di minimarket bawah, dan pena baru itu sekarang ada di saku kemejaku, terasa seperti satu-satunya pengendalian internal yang tersisa.

“Pagi, Pak Arsa.”

“Pagi.”

“Duduk dulu, Pak. Teh-nya biar saya buatin.”

Aku tidak duduk. Duduk terdengar seperti menyerah. Tapi Mika sudah berdiri, mengambil cangkirku dari rak, mencelupkan kantong teh, menuang air panas, dan meletakkannya di depan kursi kosong di seberangnya, semua dalam satu gerakan yang terlalu lancar untuk orang yang baru empat hari di kantor ini.

Aku duduk.

Mika memutar laptopnya ke arahku.

Di layar ada spreadsheet. Judulnya ditulis tebal: KKC – Kertas Kerja Cegukan.

Aku membaca baris pertama. ‘Nggak.’ (re: ganggu) — 1 hik. Baris kedua. ‘Kopinya enak.’ — 1 hik. Bukti pendukung: kopi kantor rasa air rendaman kaus kaki (sumber: lidah auditor). Baris ketiga. Keempat. Kelima. Martabak. Rapat jam tujuh. Lift.

Kolom G: Telinga merah (Y/N). Semua Y.

Di bagian paling bawah, di bawah garis tebal:

Hipotesis: Subjek cegukan setiap kali berbohong.
Keyakinan: memadai.

Temuan: aku diaudit. Oleh anak buahku sendiri. Dan kertas kerjanya lebih rapi dari punyaku.

Aku mengangkat wajah. Mika menopang dagu dengan satu tangan, menatapku dengan mata yang menahan tawa.

“Bapak mau menyangkal?” tanyanya lembut.

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Menyangkal berarti bilang itu nggak benar. Dan kalau aku bilang itu, kami berdua tahu apa yang akan terjadi satu atau dua detik kemudian.

Aku memilih diam.

Mika tersenyum lebih lebar. “Diam itu juga data, Pak.”


“Saya nggak akan bilang siapa-siapa,” kata Mika. “Serius.”

“Kenapa?”

“Karena saya bukan orang jahat. Dan karena…” ia memiringkan kepala, “…kalau satu kantor tahu, saya kehilangan keunggulan kompetitif.”

“Keunggulan kompetitif.”

“Satu-satunya pria di Jakarta yang nggak bisa bohong sama saya. Itu aset, Pak. Saya nggak mau aset saya diaudit orang lain.”

Aku tidak tahu harus merespons kalimat itu dengan cara apa. Jadi aku menyesap teh.

“Tapi,” lanjutnya, dan menekan tombol di laptop. Layar berganti.

Sebuah slide presentasi. Latar putih, huruf biru tua, logo Wiratama & Partners di pojok kanan atas, entah dari mana ia mendapatkannya.

PERJANJIAN KERAHASIAAN & PERTANYAAN HARIAN
Antara: Mikaela Sarasvati (Pihak Pertama) dan Arsa Dirgantara (Pihak Kedua)

Aku menatap slide itu. Lalu menatap Mika.

“Kamu bikin ini semalam?”

“Jam satu sampai jam dua pagi. Saya pakai template training internal.”

Ia menekan tombol lagi.

Pasal 1: Pihak Pertama menjaga kerahasiaan kondisi medis Pihak Kedua dari seluruh karyawan Wiratama & Partners, klien, dan pihak ketiga lainnya.

Pasal 2: Sebagai imbalan, Pihak Kedua wajib menjawab satu (1) pertanyaan dari Pihak Pertama setiap hari kerja dengan jujur.

Pasal 3: Pihak Kedua tidak boleh kabur.

Aku membaca Pasal 3 dua kali.

“Pasal tiga terlalu luas,” kataku. “Definisi ‘kabur’ tidak jelas.”

“Kabur itu kayak kemarin waktu saya tanya soal parfum, Bapak bilang lagi buru-buru, padahal Bapak cuma jalan ke dispenser.”

Itu benar, dan karena itu benar, aku tidak menjawab.

Aku mengeluarkan pena merah baru dari saku kemejaku. “Boleh saya revisi?”

Mata Mika berbinar seperti aku baru saja mengajaknya berkencan. “Silakan, Pak.”

Ia mencetak slide itu di printer pantry, yang entah kenapa tidak makan kertas hari ini, dan menyerahkan kertasnya padaku. Aku mulai menulis.

Pasal 2: aku menambahkan atau menyatakan “Pass” apabila Pihak Kedua tidak bersedia menjawab.

Mika membaca dari seberang meja, terbalik. “Pass?”

“Kalau saya tidak mau menjawab, saya bilang pass. Itu bukan bohong. Itu menolak.”

“Kayak kartu di permainan.”

“Iya.”

Ia mengetuk-ngetuk dagunya. “Pass-nya dibatasi berapa kali sehari?”

“Tidak dibatasi.”

“Curang.”

“Kamu yang bikin perjanjian. Saya cuma me-review.”

Mika tertawa, dan aku harus menunduk lagi ke kertas supaya tidak melihat lesung pipinya terlalu lama.

Pasal 3: aku mencoret tidak boleh kabur dan menulis di atasnya tidak boleh menghindar secara fisik selama pertanyaan diajukan. Lalu aku memberi tick mark.

Lalu aku menulis Pasal 4.

Pasal 4: Pihak Pertama juga wajib menjawab satu (1) pertanyaan dari Pihak Kedua setiap hari kerja dengan jujur.

Aku memutar kertas ke arahnya.

Mika membaca. Satu detik. Dua detik.

“Oke,” katanya.

Terlalu cepat. Bahkan lebih cepat dari jawabanku untuk saya nggak lapar.

Aku mencatat itu di kepalaku. Seorang auditor yang baik tahu kapan klien menyetujui sesuatu terlalu cepat. Biasanya itu berarti mereka tidak berencana mematuhinya.


Pintu pantry terbuka.

Juned masuk dengan mata setengah tertutup dan gelas kopi kosong. Ia berhenti di tengah langkah. Ia menatapku. Menatap Mika. Menatap laptop di antara kami yang masih menampilkan slide. Di layar, besar dan jelas:

Pasal 3: Pihak Kedua Tidak Boleh Kabur.

Juned mengedip.

“Ini… apa?”

“Training internal,” jawab Mika tanpa ragu.

Tidak ada yang cegukan. Karena yang bicara Mika. Mika bisa bohong. Ia mengucapkannya dengan senyum yang begitu tulus sampai aku sendiri hampir percaya.

Juned menatap slide itu lagi. “Training apa?”

“Manajemen pemangku kepentingan.”

“Pihak Kedua itu siapa?”

“Klien.”

“Klien nggak boleh kabur?”

“Klien yang baik nggak kabur, Ned.”

Juned mengangguk pelan, seolah baru mendapat pencerahan. “Saya mau ikut.”

“Nanti saya kabari jadwalnya,” kata Mika.

Juned mengisi kopinya, masih mengangguk-angguk, lalu keluar. Di pintu ia menoleh sekali lagi ke arahku, dan aku melihat sesuatu di matanya yang tidak kusukai. Rasa ingin tahu. Juned dengan rasa ingin tahu adalah ancaman yang tidak tercantum di pasal mana pun.

Pintu tertutup.

Mika menutup mulutnya dengan dua tangan dan tertawa tanpa suara sampai bahunya bergetar.

“Kamu bohong ke Juned,” kataku.

“Saya kan bisa.” Ia mengusap sudut matanya. “Enak lho, Pak, bisa bohong. Bapak harus coba.”

“Saya sudah coba. Dua puluh dua tahun.”

Tawanya mereda. Ia menatapku sebentar, dengan cara yang berbeda dari biasanya, lebih pelan. Lalu senyumnya kembali.

“Oke. Pertanyaan pertama.”


Mika menegakkan badan. Ia menautkan jari di atas meja seperti pewawancara kerja.

“Pak Arsa. Bapak single?”

Aku menatapnya.

Itu pertanyaan pertamanya. Dari semua hal di dunia yang bisa ditanyakan ke pria yang tidak bisa berbohong, rahasia perusahaan, kesalahan audit, pendapatku soal Pak Hendro, ia memilih itu.

“Iya.”

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Tidak ada cegukan.

Mika mengangguk puas. “Bagus. Data valid.”

“Kenapa itu bagus?”

“Itu pertanyaan kedua. Jatah Bapak, bukan jatah saya.” Ia tersenyum. “Bapak mau pakai jatah Bapak buat nanya itu?”

Aku menutup mulut.

Mika mencondongkan badan sedikit ke depan. Suaranya turun setengah nada, cukup pelan sehingga dengung kulkas pantry hampir menenggelamkannya.

“Pak Arsa. Bapak pernah dicium?”

“Itu pertanyaan kedua.”

“Iya. Curang. Saya tahu.” Matanya tidak lepas dariku. “Jawab aja.”

Aku bisa menjawab. Jawabannya tidak rumit. Tapi jawaban apa pun akan diikuti pertanyaan berikutnya, dan pertanyaan berikutnya, dan Mika jelas tipe orang yang tidak berhenti di satu lapisan.

“Pass.”

Mika bersandar, puas seperti orang yang baru memenangkan sesuatu. “Itu jatah besok, tapi oke.”

“Pass itu bukan jawaban.”

“Pass itu data, Pak.” Ia mengetik sesuatu di laptopnya. Aku tidak perlu melihat untuk tahu ia sedang menambahkan kolom baru di spreadsheet itu.


Sebelum kami keluar dari pantry, Mika mengambil sesuatu dari tas kerjanya.

Sebuah toples kaca kecil, penuh permen jahe berbungkus kuning. Di tutupnya ada label kertas, ditulis tangan dengan spidol hitam besar-besar.

OBAT JUJUR

“Buat Bapak,” katanya, menyodorkannya. “Saya cari di internet, katanya jahe bagus buat cegukan.”

“Itu mitos.”

“Saya tahu. Tapi Bapak bakal sering cegukan mulai hari ini, jadi setidaknya mulutnya manis.”

Aku menerima toples itu. Jari-jari kami bersentuhan di sekeliling kaca yang dingin, dan untuk tiga detik aku lupa caranya bernapas, lagi, untuk ketiga kalinya minggu ini.

Lalu Mika mengulurkan tangan kanannya.

“Deal?”

Aku memindahkan toples ke tangan kiri dan menjabat tangannya.

Tangannya kecil dan hangat, dan genggamannya lebih kuat dari yang kuduga. Aku menunggu ia melepaskan. Ia tidak melepaskan. Ia hanya menatapku, terus menggenggam, seperti sedang menghitung sesuatu dalam hati.

“Kontraknya berlaku sampai salah satu dari kita minta berhenti,” katanya.

“Itu tidak ada di pasal mana pun.”

“Pasal lima. Baru saya tambahin.”

Lalu, masih tanpa melepas jabat tangan, ia mengangkat tangan kirinya dan mengacungkan kelingking.

Aku menatap kelingking itu. Lalu menatap wajahnya.

“Kamu umur berapa?”

“Dua puluh tujuh. Itu pertanyaan Bapak hari ini?”

“Bukan.”

“Ya udah.” Kelingkingnya masih teracung. “Ayo, Pak.”

Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Mungkin karena tidak ada cara menolak tanpa terlihat seperti orang yang takut pada kelingking. Mungkin karena aku tidak mau.

Aku mengaitkan kelingkingku ke kelingkingnya.

Mika tersenyum, sangat lebar, dan akhirnya melepaskan kedua tanganku.

“Sampai besok, Pihak Kedua.”

Ia keluar dari pantry dengan langkah ringan, membawa laptop, kertas perjanjian yang sudah kurevisi, dan pena merahku yang lama di rambutnya.

Aku berdiri sendirian di pantry, memegang toples OBAT JUJUR dan cangkir teh yang sudah dingin.

Catatan: aku baru saja menandatangani kontrak tanpa membaca syarat dan ketentuan. Untuk pertama kalinya dalam karier.

Aku membuka toples itu, mengambil satu permen jahe, dan memasukkannya ke mulut.

Manis. Sedikit pedas. Tidak berguna sama sekali untuk cegukan.

Aku menghabiskannya sampai tidak bersisa.