← Hik! Itu Bohong

Chapter Fourteen

Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru

POV: Arsa

Orang lain merayakan malam tahun baru di Ancol, di rooftop kafe, atau di rumah dengan jagung bakar.

Auditor merayakannya di gudang.

Stock opname akhir tahun PT Renyah Abadi dijadwalkan tanggal 31 Desember, mulai pukul delapan malam, setelah produksi berhenti dan sebelum gudang dibuka lagi tanggal 2 Januari. Itu tradisi sembilan tahun. Setiap tahun, Pak Hendro bilang “tahun depan kita minta tanggal 30 aja”. Setiap tahun, klien bilang “tanggal 31 itu cut-off, Pak”. Setiap tahun, kami menghitung kerupuk sambil mendengar kembang api di kejauhan.

Tahun ini, timnya Pak Hendro, aku, Mika, Juned, dan empat staf gudang di bawah komando Pak Darto.

“Selamat datang, tim audit!” Pak Darto menyambut kami di gerbang gudang dengan kaus polo bergaris dan topi kerucut tahun baru berwarna emas. Di tangannya ada nampan berisi kerupuk dalam enam warna. “Varian spesial tahun baru! Rasa terompet!”

“Rasa terompet itu rasa apa, Pak?” tanya Juned.

“Rahasia perusahaan.”

Juned mencoba satu. Mengunyah. Wajahnya berubah melalui empat ekspresi berbeda dalam lima detik.

“Enak, Mas?” tanya Pak Darto.

Juned menatapku dengan mata minta tolong. Aku menatap kartu stok di tanganku.

“…Sangat renyah, Pak,” kata Juned akhirnya.

Mika, di sebelahku, terbatuk keras sampai harus membalikkan badan.


Gudang barang jadi PT Renyah Abadi pada malam hari terlihat seperti katedral kerupuk. Rak-rak besi menjulang sampai langit-langit setinggi delapan meter. Ribuan kaleng kuning dan merah tersusun rapi dalam barisan panjang. Lampu-lampu neon berdengung di atas. Udara berbau minyak goreng, tepung tapioka, dan sedikit debu.

Kami membagi area. Pak Hendro dan Juned di lorong A sampai D. Aku dan Mika di lorong E sampai H. Staf gudang naik-turun tangga, menghitung kaleng di rak atas sambil meneriakkan angka.

“Lorong E, rak tiga, baris atas! Empat puluh delapan!”

“Empat puluh delapan,” ulang Mika, mencatat di lembar hitung.

“Cocok,” kataku, mencentang di kartu stok.

Kami bekerja dalam ritme yang tidak perlu dibicarakan. Ia membaca, aku mencocokkan. Ia menemukan kaleng yang labelnya salah, aku memeriksa dokumen penerimaannya. Kadang tangan kami bersentuhan saat sama-sama meraih lembar hitung. Tidak ada yang menarik tangan lagi. Sudah tidak ada yang perlu berpura-pura soal itu.

Pukul sepuluh, Pak Hendro berteriak dari lorong A.

“TICK AND TIE! Lorong A sampai D cocok semua! Seratus persen!”

Pukul sebelas, aku menjumlahkan lorong E sampai H.

Kurang tiga.

Aku menghitung ulang. Kurang tiga. Mika menghitung ulang. Kurang tiga. Tiga kaleng kerupuk udang ukuran sedang, kode produksi 1224, hilang dari rak G-4.

“Tiga kaleng,” kata Mika. “Nggak material.”

“Nggak material,” aku setuju. “Tapi kurang.”

Kami saling pandang. Kami berdua auditor. Kami berdua tidak bisa pulang dengan selisih tiga kaleng, sekalipun tidak material, sekalipun malam tahun baru, sekalipun kembang api pertama mulai terdengar dari arah Bekasi.


Pencarian tiga kaleng itu menjadi operasi gabungan.

Pak Hendro memimpin dengan senter dan semangat seorang komandan pasukan khusus. Juned memeriksa setiap sudut gudang dengan lampu ponsel. Staf gudang memeriksa area bongkar muat. Pak Darto memeriksa catatan pengiriman sambil sesekali menawarkan kerupuk rasa terompet kepada siapa pun yang lewat.

Mika dan aku memeriksa rak-rak di sekitar G-4. Kaleng-kaleng di rak itu tersusun sedikit miring, seperti ada yang pernah mengambilnya dengan terburu-buru.

“Jam berapa?” tanya Mika.

Aku melihat jam tangan. “Sebelas empat puluh lima.”

“Lima belas menit lagi tahun baru.”

“Iya.”

“Dan kita lagi nyari kerupuk.”

“Iya.”

Ia menatapku. Lalu tertawa. Tawa yang lelah, tapi tulus. “Ini malam tahun baru paling aneh dalam hidupku.”

“Kamu menyesal?”

Ia berhenti tertawa. Menatapku. Lampu neon di atas membuat matanya terlihat lebih gelap dan lebih dalam dari biasanya.

“Nggak,” katanya.

Aku tidak tahu apakah itu benar. Ia bisa bohong. Tapi ia mengatakannya tanpa senyum, tanpa nada menggoda, dan aku memutuskan untuk mencatatnya sebagai bukti.


Dari lorong sebelah, terdengar suara Pak Hendro. Ia berhenti mencari, berdiri di antara dua rak, dan menempelkan ponsel ke telinga.

“Halo, Ma? Iya, Papa masih di gudang. Iya, kerupuk lagi. Ma, Mama inget nggak, tiga puluh satu Desember dua puluh tiga tahun lalu, Papa telepon Mama dari wartel? Iya. Pakai koin. Koinnya habis pas Papa mau bilang sayang.” Suaranya melembut, sesuatu yang belum pernah kudengar di rapat mana pun. “Nah. Sekarang Papa nggak pakai koin. Papa bilang sekarang ya, Ma. Papa sayang Mama.”

Juned, yang sedang merangkak di bawah rak dengan lampu ponsel, berhenti merangkak.

Mika menoleh padaku. Matanya berkaca-kaca, separuh tawa, separuh sesuatu yang lain.

“Pak Hendro romantis banget,” bisiknya.

“Dia hafal semua tanggal,” kataku. “Semuanya.”

Mika menatap ke arah lorong Pak Hendro lama sekali. Lalu kembali ke rak G-4.

Aku memakai jatahku saat itu, karena aku tidak tahu kapan lagi punya kesempatan.

“Tiara bilang kamu nolak waktu Pak Hendro nawarin ganti jadwal. Kamu bisa libur malam ini. Kenapa ikut?”

Mika memeriksa label kaleng dengan sangat serius.

“Aku suka kerupuk,” katanya.

Aku tidak menulis apa pun. Buku hitamku tertinggal di mobil. Tapi aku mengingat angkanya. Dua puluh empat.

Pak Darto memberi kami izin naik ke atap gudang. “Dari atas kelihatan kembang api se-Cikarang, Pak! Bagus! Saya tiap tahun naik!”

Atap gudang adalah dak beton datar dengan pagar besi rendah, dan pemandangan kawasan industri yang luas dan gelap, dengan titik-titik lampu pabrik sampai ke cakrawala. Angin malam Desember bertiup dingin. Mika memeluk tubuhnya sendiri.

Aku melepas jaket dan memakaikannya di bahunya.

Ia menatapku. Tidak bilang terima kasih. Hanya menarik jaket itu lebih erat, dan menenggelamkan dagunya di kerahnya.

Di bawah, terdengar teriakan Pak Hendro dan suara langkah-langkah orang yang masih mencari tiga kaleng kerupuk.

Pukul sebelas lima puluh delapan, kembang api pertama meledak di langit Cikarang. Merah. Lalu emas. Lalu hijau. Dari segala arah, dari kompleks perumahan di kejauhan, dari pabrik-pabrik lain, langit tiba-tiba penuh cahaya.

Mika menatap langit. Wajahnya diterangi warna-warna yang berganti setiap detik. Merah di pipinya. Emas di matanya.

“Arsa,” katanya, tanpa menoleh.

“Hm.”

“Resolusi kamu tahun depan apa?”

Aku menatapnya. Bukan langit. Dia.

Aku punya banyak resolusi yang wajar. Lulus ujian CPA bagian terakhir. Memperbaiki atap rumah yang bocor. Mengajak Eyang ke Semarang menengok orang tuaku. Semua itu benar.

Tapi bukan itu yang ia tanyakan. Dan bukan itu yang ingin kujawab.

“Lebih berani,” kataku.

Mika menoleh.

Kembang api meledak di belakang kepalanya, emas dan putih, membuat rambutnya bersinar. Ia menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku tidak melihat senyum isengnya, tidak melihat perisainya. Aku melihat seseorang yang sedang menunggu.

Aku melangkah mendekat.

Ia tidak mundur.

Satu langkah lagi. Jarak kami tinggal sejengkal. Aku bisa merasakan napasnya, hangat di udara dingin. Bisa melihat bayangan kembang api di matanya. Bisa melihat bibirnya sedikit terbuka.

Aku menunduk.

Ia memejamkan mata.

Dari bawah tangga atap, sebuah suara menggelegar memecah langit Cikarang:

“KETEMU! TIGA KALENG! DIMAKAN SATPAM WAKTU RONDA! TICK AND TIE!”


Mika membuka mata.

Aku berhenti, setengah jalan, sejengkal dari wajahnya.

Di bawah, terdengar tawa Juned, suara Pak Darto yang mengomel “Pak Sugeng! Pak Sugeng, kok kerupuk stok dimakan?!”, dan suara pria yang membela diri “Lapar, Pak! Ronda dari jam enam!”

Mika menatapku. Lalu tertawa. Ia menutup wajahnya dengan dua tangan, bahunya bergetar, dan suara tawanya teredam oleh jaketku dan jari-jarinya.

Aku menegakkan badan. Menatap langit. Menghitung kembang api untuk menenangkan jantungku.

Temuan: upaya pertama mengambil inisiatif digagalkan oleh tiga kaleng kerupuk dan seorang satpam yang lapar. Pengendalian: buruk. Waktu: sangat buruk.

Pukul dua belas tepat.

Langit meledak. Ribuan kembang api sekaligus, dari segala arah. Suara terompet dari kampung-kampung di kejauhan. Teriakan selamat tahun baru dari staf gudang di bawah.

Dan di tengah semua itu, di bawah kembang api terakhir yang paling besar, yang berwarna emas dan jatuh pelan seperti hujan cahaya, Mika berjinjit.

Ia mencium pipiku.

Cepat. Ringan. Bibirnya hangat di kulitku yang dingin, satu detik, mungkin kurang. Lalu ia mundur.

Aku membeku. Tanganku masih di sisi tubuhku. Pipiku terbakar di tempat bibirnya baru saja ada.

Mika menatapku dengan jaketku di bahunya dan senyum yang perlahan kembali, tapi kali ini senyum itu berbeda. Lebih lembut. Sedikit gugup di sudut-sudutnya.

“Ini DP,” katanya.

“…DP?”

“Uang muka.” Ia mengangkat dagu, menantang, tapi pipinya merah dan aku tahu bukan karena dingin. “Pelunasannya,” ia menyentuh dadaku dengan satu jari, tepat di atas jantung, “kalau kamu udah berani.”

Lalu ia berbalik dan turun tangga atap, membawa jaketku, meninggalkanku sendirian di atas gudang kerupuk dengan kembang api yang masih meledak dan pipi yang tidak akan pernah sama lagi.


Di bawah, Pak Hendro sedang memeluk Pak Darto. Juned sedang merekam Pak Sugeng si satpam yang meminta maaf kepada tiga kaleng kosong. Staf gudang sedang meniup terompet.

Mika berdiri di samping rak G-4, menulis sesuatu di lembar hitung, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku menghampirinya.

“Lorong E sampai H,” katanya tanpa mengangkat wajah, “cocok semua.”

“Cocok.”

“Tick and tie.”

“Tick and tie.”

Ia menyerahkan lembar hitung padaku. Di pojok kanan bawah, di bawah tanda tangannya, ada tick mark merah kecil yang sedikit miring dan tidak presisi. Dan di sebelahnya, dalam tulisan tangan yang sangat kecil:

DP diterima. Sisa: belum lunas.

Aku menatap tulisan itu. Lalu menatapnya.

Ia sudah berjalan ke arah Pak Hendro, tertawa bersama Juned, memakai jaketku yang terlalu besar dengan lengan yang menutupi jari-jarinya.

Aku melipat lembar hitung itu dengan sangat rapi dan memasukkannya ke saku kemeja, di sebelah pena merah baruku.

Pukul dua belas lewat lima belas menit, tanggal 1 Januari.

Resolusi tahun baruku sudah dimulai. Dan aku sudah gagal sekali.

Aku tidak berencana gagal dua kali.