← Hik! Itu Bohong

Chapter Seventeen

Formulir Pengungkapan Hubungan

POV: Mika

Pagi pertamaku sebagai pacar Arsa Dirgantara dimulai dengan formulir HR.

Aku baru meletakkan tas di meja pukul delapan kurang lima ketika ponselku bergetar.

Arsa: Ke ruang HR jam 8.15. Bawa KTP.

Aku menatap pesan itu. Lalu mengetik.

Aku: Kita mau nikah?

Arsa: Formulir pengungkapan hubungan. Aku supervisormu. Konflik kepentingan. Harus dilaporkan dalam 3x24 jam.

Aku: Kamu pacaran 12 jam langsung lapor HR?

Arsa: Ketentuannya 3x24 jam. Aku melaporkannya di jam ke-12. Masih dalam batas waktu.

Aku menatap layar. Lalu tertawa sampai Tiara di meja sebelah menoleh dengan tatapan curiga.

Lalu aku berhenti tertawa. Karena aku baru menyadari sesuatu.

Dion tidak pernah mengakui kami pacaran ke teman-teman kantornya selama satu tahun pertama. Biar nggak ribet, katanya. Aku baru tahu kenapa di tahun ketiga.

Arsa melaporkan aku ke HR dua belas jam setelah ciuman pertama. Dengan formulir resmi. Dengan KTP.

Aku menatap pesan itu lagi, dan rasanya seperti seseorang meletakkan selimut hangat di bahuku.


Ruang HR Wiratama & Partners ada di lantai 3. Kecil, rapi, dengan satu meja besar, dua kursi tamu, satu rak berisi map-map berlabel, dan satu piring berisi gorengan: bakwan, tahu isi, pisang goreng. Masih hangat.

Bu Lastri duduk di balik meja dengan kacamata berantai dan ekspresi yang sama persis seperti saat ia masuk lift di depan kami dua bulan lalu: datar, tenang, tak tergoyahkan.

Arsa menyerahkan formulir yang sudah ia isi. Tentu saja sudah ia isi. Dengan pena hitam, huruf kapital, dan tidak ada satu pun coretan.

Aku membaca dari sampingnya.

FORMULIR PENGUNGKAPAN HUBUNGAN PRIBADI

Nama karyawan 1: ARSA DIRGANTARA — Audit Supervisor

Nama karyawan 2: MIKAELA SARASVATI — Senior Associate

Jenis hubungan: PACARAN

Tanggal dimulai: 8 JANUARI, PUKUL 20.47

Aku menoleh padanya. “Kamu nyatet jamnya?”

“Itu diminta di formulir.”

“Formulirnya cuma minta tanggal.”

“Jam itu informasi tambahan yang relevan.”

Bu Lastri tidak berkomentar. Ia hanya terus membaca.

Langkah mitigasi konflik kepentingan: KARYAWAN 1 TIDAK AKAN MELAKUKAN REVIEW ATAS PEKERJAAN KARYAWAN 2. REVIEW DIALIHKAN KEPADA SUPERVISOR TIM 2 (SDR. RATNA KUSUMA), DENGAN PERSETUJUAN AUDIT MANAGER (BPK. HENDRO WIBISONO). PERSETUJUAN TERLAMPIR.

Ada lampiran. Selembar email yang dicetak, dari Pak Hendro, dikirim pukul enam pagi tadi. Isinya hanya satu kalimat: Setuju. Akhirnya. — H.

Aku menatap lembar itu. Lalu menatap Arsa.

“Kamu minta Mbak Ratna review kerjaanku?”

“Aku nggak bisa objektif.”

“Kamu supervisor paling objektif se-Kuningan.”

“Nggak kalau soal kamu.”

Tidak ada cegukan.

Aku menunduk ke formulir supaya Bu Lastri tidak melihat wajahku. Telingaku panas. Aku bisa merasakannya. Aku akhirnya mengerti apa yang dirasakan Arsa setiap kali aku menggodanya.

Ini tidak adil. Ia tidak sedang menggoda. Ia hanya mengatakan hal yang benar. Dan entah kenapa itu jauh lebih berbahaya.


Bu Lastri selesai membaca. Ia menurunkan kacamatanya, menatap Arsa, lalu menatapku, lalu menatap Arsa lagi.

Hening selama lima detik.

Lalu ia mengambil stempel, menekannya ke bantalan tinta, dan menstempel formulir itu dengan bunyi dok yang tegas.

“Selamat,” katanya. “Rahasia aman.”

Lalu ia mengambil sepotong bakwan dari piring dan menggigitnya.

Itu saja. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada senyum. Tidak ada komentar.

Kami berdiri. Arsa mengucapkan terima kasih. Aku mengucapkan terima kasih. Bu Lastri mengangguk sambil mengunyah.

Di pintu, aku menoleh untuk terakhir kali.

Bu Lastri sudah mengambil ponselnya. Ia mengetik dengan satu tangan, bakwan di tangan lain. Layarnya menghadap ke arahku, sedikit, cukup untuk aku melihat nama kontak di atas layar.

Tiara (Audit Tim 1).

Dan pesan yang sedang ia ketik:

Saya ikut. Januari minggu ketiga. Diumumkan di Puncak. 200rb.

Bu Lastri menekan kirim, meletakkan ponsel, dan menggigit bakwannya lagi dengan wajah yang sama sekali tidak berubah.

Aku menutup pintu pelan-pelan.

“Arsa,” bisikku di koridor.

“Hm.”

“Bu Lastri ikut taruhan.”

Arsa berhenti berjalan. Ia menatapku. Lalu menatap pintu ruang HR.

“Dia baru stempel formulir kita,” katanya.

“Dia baru stempel formulir kita terus langsung pasang taruhan.”

Arsa diam lama. Lalu berkata, dengan nada sangat serius: “Itu konflik kepentingan.”

Aku tertawa sampai harus bersandar di dinding koridor lantai 3.


Kencan pertama kami hari Sabtu.

Arsa mengirimkan undangannya hari Kamis malam. Bukan pesan biasa. Sebuah file.

Itinerary_Sabtu_v3.xlsx

Versi tiga.

Aku membukanya di kasur, dan Oci yang sedang memakai masker di sebelahku langsung mencondongkan badan untuk melihat.

Spreadsheet. Tentu saja spreadsheet. Dengan kolom waktu, lokasi, aktivitas, estimasi biaya, dan catatan. Semuanya rapi, rata kiri, dengan garis batas tipis.

09.30 — Jemput di lobi apartemen.
10.15–12.00 — Pasar Baru. Jalan-jalan. (Catatan: lokasi toko kain Eyang dulu, Gang Kelinci no. 7. Sekarang toko sepatu.)
12.00–13.00 — Makan siang. Bakmi Gang Kelinci.
13.15–15.00 — Toko buku di Kwitang.
15.00–16.40 — Fleksibel. Kafe atau jalan kaki. Sesuai keinginan Mika.
16.40–16.55 — Buffer (jika Mika ingin pegangan tangan lebih lama).
17.00 — Antar pulang.

Oci membaca baris buffer itu tiga kali. Lalu melepas maskernya, menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Mik,” katanya. “Dia bikin buffer. Buat pegangan tangan.”

“Aku tahu.”

“Lima belas menit. Dia ngitung.”

“Aku tahu, Ci.”

“Itu cowok paling romantis yang pernah aku lihat, dan dia ngelakuinnya pake Excel.”

Aku memotret layar itu. Diam-diam. Lalu memotretnya lagi, takut yang pertama buram.

Foto itu masuk ke folder tanpa nama, di sebelah foto Ninis tentang empat puluh menit di bahu kiri.


Sabtu pagi, ia menjemputku tepat pukul sembilan tiga puluh. Bukan sembilan dua puluh sembilan. Bukan sembilan tiga puluh satu.

Ia memakai kemeja linen biru tua dan celana krem. Bukan kemeja kantor. Rambutnya sedikit kurang rapi dari biasanya, seperti ia sengaja tidak menyisirnya terlalu lama. Ia terlihat lebih muda. Lebih santai. Lebih tampan, dengan cara yang membuatku berhenti di pintu lobi untuk menatapnya dua detik lebih lama.

Ia juga menatapku. Aku memakai sundress hijau zaitun dan rambut digerai, tanpa pena di dalamnya.

“Kamu cantik,” katanya.

Langsung. Tanpa basa-basi. Tanpa senyum menggoda.

Aku menunggu. Satu detik. Dua detik.

Tidak ada cegukan.

“Itu gombal?” tanyaku.

“Aku nggak bisa gombal,” katanya. “Jadi itu fakta.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan wajah datar, telinga merah, dan aku memutuskan bahwa kalau aku tidak memegang tangannya sekarang, aku akan meleleh di lobi apartemen di depan satpam yang baru bangun.

Jadi aku memegang lengannya. Bukan tangannya. Lengannya. Aku menyelipkan tanganku di lekukan sikunya dan menempelkan diriku di sisinya, dan aku tidak melepaskannya selama sisa hari itu.


Di Pasar Baru, ia membawaku ke Gang Kelinci. Ke sebuah toko sepatu dengan papan nama yang sudah pudar.

“Di sini,” katanya. “Toko kain Eyang. Tahun enam puluh sembilan.”

Aku menatap toko itu. Lalu menatap jalan di depannya. Membayangkan seorang pegawai bank muda yang kaku, berjalan lewat setiap Sabtu selama tiga bulan, pura-pura melihat kain.

“Di sini Eyang tanya ‘Mas suka saya?’”

“Di sini Kakung bilang ‘tidak’.”

“Terus hik.”

“Terus hik.”

Aku mempererat peganganku di lengannya. “Kamu sengaja bawa aku ke sini.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ia menatap toko sepatu itu lama. “Karena aku mau kamu tahu di mana ceritanya dimulai.”

Aku tidak bertanya cerita siapa. Eyang dan Kakung, atau kami. Aku tidak yakin ia sendiri tahu bedanya.


Di Bakmi Gang Kelinci, kami menunggu pesanan dua puluh menit karena antreannya panjang. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya sambil menunggu. Ia tidak bergerak. Ia membaca menu di dinding dengan serius, seolah sedang mengaudit harga-harganya, sementara tangan kirinya diam-diam mengusap punggung tanganku di bawah meja.

Di toko buku di Kwitang, di antara rak-rak tinggi yang berbau kertas tua, aku menemukan sebuah novel romance terjemahan dengan sampul pink yang norak. Aku membukanya secara acak.

Aku berjinjit. Mendekat ke telinga Arsa, yang sedang serius membaca buku tentang sejarah akuntansi di Hindia Belanda. Bibirku hampir menyentuh daun telinganya.

Dan aku membacakan satu kalimat, pelan, setengah berbisik, dengan suara yang sengaja kubuat rendah:

“Ia ingin menciumnya sampai seluruh kota lupa caranya bernapas.”

Buku sejarah akuntansi itu jatuh dari tangannya.

Ke lantai. Dengan bunyi buk keras yang membuat penjaga toko menoleh dari ujung lorong.

Arsa membungkuk untuk memungutnya. Lambat. Telinganya merah menyala seperti lampu rem. Ia memungut buku itu, menegakkan badan, dan meletakkannya kembali di rak dengan sangat hati-hati, tanpa menatapku.

“Bukunya licin,” katanya.

Hik.

Aku tertawa sampai harus bersembunyi di balik rak buku resep. Penjaga toko menatap kami dengan tatapan orang yang sudah terlalu sering melihat pasangan baru di tokonya.


Pukul empat lewat lima puluh lima sore, kami berdiri di depan pagar apartemenku.

Buffer pegangan tangan sudah kami pakai. Seluruhnya. Lima belas menit berdiri di trotoar depan apartemen, berpegangan tangan, mengobrol tentang hal-hal kecil, sementara satpam pura-pura tidak melihat.

Pukul empat lima puluh lima. Waktunya habis. Tepat sesuai itinerary.

“Makasih,” kataku. “Buat hari ini.”

“Sama-sama.”

Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Ciuman di pipi? Pelukan? Aku sudah melakukan semuanya lebih dulu. Aku yang mencium pipinya di Cikarang. Aku yang memeluknya di lobi. Aku yang menciumnya di pantry.

Mungkin kali ini aku harus melakukannya lagi.

Aku sudah berjinjit sedikit, sudah mengangkat tangan untuk menarik kerah kemejanya, ketika ia bergerak lebih dulu.

Ia menunduk.

Dan mencium keningku.

Pelan. Hangat. Bibirnya di keningku, tepat di bawah garis rambut, dua detik, tiga detik. Seperti seseorang membubuhkan tanda tangan di dokumen paling penting yang pernah ia periksa.

Lalu ia mundur. Menatapku. Wajahnya datar, tapi matanya tidak.

“Sampai Senin,” katanya.

Ia berjalan ke mobilnya. Masuk. Menyalakan mesin. Pergi.

Aku berdiri di depan pagar.

Tanganku masih terangkat, setengah jalan ke arah kerah yang sudah tidak ada di sana. Aku menurunkannya pelan-pelan.

Lalu aku berbalik untuk masuk, dan berhenti.

Pagar apartemenku. Pagar besi biasa, dengan gerendel biasa, yang sudah kubuka ratusan kali dalam tiga bulan.

Aku tidak ingat cara membukanya.

Aku menarik gerendelnya ke kiri. Tidak bisa. Ke kanan. Tidak bisa. Aku mendorong pagar. Tidak bisa. Aku menariknya.

“Mbak,” kata satpam dari balik pos, pelan dan penuh pengertian. “Diangkat dulu, Mbak. Gerendelnya. Diangkat.”

Aku mengangkat gerendelnya. Pagar terbuka.

“Makasih, Pak.”

“Sama-sama, Mbak.” Satpam itu kembali ke koran paginya, lalu menambahkan tanpa mengangkat wajah: “Saya juga dulu lupa cara buka pintu waktu pertama kali dicium istri saya.”

Aku berjalan ke lift dengan wajah terbakar dan kening yang masih hangat.

Dia mengambil inisiatif. Untuk pertama kalinya. Ciuman di kening, setelah aku melakukan semua yang lain lebih dulu.

Kecil. Pelan. Tidak di bawah kembang api, tidak di pantry yang remang, tidak dengan kalimat apa pun.

Tapi ia yang memilih melakukannya. Bukan karena aku bertanya. Bukan karena aku memulai.

Di lift, aku menyentuh keningku dan tersenyum ke bayanganku sendiri di dinding yang mengilap.

Aku pacar paling aman se-Jakarta, pikirku. Pacarku nggak bisa bohong.

Dan untuk satu hari yang sempurna itu, aku tidak memikirkan apa artinya kalau suatu hari ia bisa.