← Hik! Itu Bohong

Chapter Twenty One

Mantan di Ruang Rapat Klien

POV: Mika

Nama klien baru itu PT Sinar Kemas. Perusahaan kemasan karton dan plastik, pabrik di Tangerang, kantor pusat di Sudirman. Audit tahun pertama untuk Wiratama & Partners, setelah auditor lama mereka diganti.

Aku sudah melihat nama perusahaan itu di jadwal sejak Desember. Sejak Arsa dan aku mengantar dokumen ke sana dan makan bakso di gerobak abang yang menambahkan dua butir bakso gratis karena kasihan.

Aku tidak pernah melihat nama Finance Manager-nya.

Sampai Senin pagi, saat Pak Hendro membagikan daftar kontak klien di rapat ayam berkokok, dan aku membaca baris ketiga.

Finance Manager: Dion Hartanto.

Aku berhenti membaca.

Di sebelahku, Arsa langsung menoleh. Ia tidak tahu apa yang kubaca. Tapi ia melihat tanganku berhenti bergerak di atas kertas.

“Kenapa?” bisiknya.

“Nggak apa-apa.”

Aku bisa bohong. Aku selalu bisa bohong.

Arsa menatapku satu detik lebih lama dari biasanya, lalu kembali ke kertasnya. Tapi di bawah meja, kakinya bergeser, sampai sepatunya menyentuh sepatuku. Diam. Tidak bertanya lagi. Hanya ada.


Ruang rapat PT Sinar Kemas ada di lantai 22, dengan dinding kaca yang menghadap Sudirman dan meja panjang dari kayu gelap yang terlalu mengilap.

Tim kami masuk: Pak Hendro, Arsa, aku, Juned, Tiara. Tim klien sudah menunggu: direktur keuangan, kepala akuntansi, dua staf.

Dan Dion.

Ia berdiri saat kami masuk. Tiga tahun tidak bertemu, dan ia masih persis sama. Rambut ditata rapi dengan pomade. Kemeja biru muda dari merek yang mahal. Jam tangan yang lebih mahal. Senyum yang sama persis. Senyum yang dulu membuatku percaya bahwa otw itu berarti sedang di jalan.

“Mika,” katanya. Hangat. Terkejut. Senang. Semuanya diatur dengan sempurna. “Ya ampun. Kamu di Wiratama sekarang?”

“Halo, Dion.”

Pak Hendro menoleh padaku dengan alis terangkat. “Kalian kenal?”

“Teman lama, Pak,” kata Dion lancar, sebelum aku sempat membuka mulut. “Dari Surabaya. Mika ini auditor paling teliti yang pernah saya kenal.”

Ia menjabat tanganku. Genggamannya hangat dan tepat. Tidak terlalu lama, tidak terlalu singkat. Tidak ada yang bisa mengkritik genggaman itu.

Aku menarik tanganku.

Di belakangku, aku bisa merasakan Juned dan Tiara saling pandang dengan kecepatan cahaya. Aku tidak pernah memberi tahu mereka nama mantanku. Tapi Tiara pernah melihat satu foto lama di Instagram-ku, sebelum aku menghapusnya, dan Tiara tidak pernah melupakan wajah.


Rapat dimulai. Kick-off audit tahun pertama. Pembahasan jadwal, permintaan dokumen, ruang lingkup.

Aku melakukan pekerjaanku. Aku tidak punya pilihan lain, dan aku tidak mau punya pilihan lain. Aku mempresentasikan rencana pengujian persediaan. Aku menjawab pertanyaan kepala akuntansi tentang metode sampling. Aku mengoreksi, dengan sopan, satu angka yang salah dikutip oleh direktur keuangan dari laporan auditor lama.

Suaraku tenang. Tanganku tidak gemetar. Aku tidak menatap Dion lebih lama dari yang diperlukan.

Dion, sebaliknya, menatapku sepanjang rapat.

“Luar biasa,” katanya setelah aku selesai presentasi. Ke seluruh ruangan, tapi matanya padaku. “Saya selalu bilang, Mika ini aset. Wiratama beruntung.”

Direktur keuangan mengangguk. Pak Hendro tersenyum bangga. Arsa, di seberang meja, mencentang sesuatu di catatannya dengan pena merah.

“Makin cantik juga,” tambah Dion, dengan tawa ringan, seolah itu lelucon yang tidak berbahaya. “Jakarta cocok buat kamu, Mik.”

Ruangan hening sesaat. Direktur keuangan berdeham. Pak Hendro menatap Dion dengan tatapan yang tidak bisa kubaca.

Lalu Juned menjatuhkan kopinya.

Ke meja. Ke kertas-kertasnya sendiri. Dengan bunyi gelas yang terguling dan kopi yang menyebar di atas kayu mengilap.

“Aduh! Maaf, maaf, saya ceroboh!” Juned berdiri, mengambil tisu, mengelap meja dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat besar, menghalangi pandangan Dion ke arahku dengan tubuhnya.

Semua orang sibuk membantu. Dion terpaksa mengalihkan pandangan.

Aku menatap Juned. Juned menatapku balik dengan mata yang berkata saya mengerti, Mbak.


Itu bukan satu-satunya.

Lima belas menit kemudian, saat Dion mulai bertanya apakah aku masih suka rawon di Jalan Kombes Pol, Tiara tiba-tiba mengangkat tangan.

“Maaf, Pak Hendro. Kak Mika ada rapat darurat. Dari kantor. Lewat telepon.”

Pak Hendro mengedip. “Rapat darurat apa?”

“Darurat… persediaan.”

Aku keluar ke koridor. Tiara menyusul. Kami berdiri di depan lift selama tiga menit, tidak melakukan apa-apa.

“Makasih,” bisikku.

“Itu dia ya, Kak?” Tiara berbisik balik. Matanya menyipit, wajah polos dan ceria itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih galak. “Yang di foto lama? Yang Kakak hapus?”

“Iya.”

“Aku nggak suka cara dia ngeliatin Kakak.”

“Aku juga nggak.”

Kami kembali ke dalam. Lima menit kemudian, saat Dion mengusulkan “makan siang bareng tim Wiratama, biar akrab”, Tiara mengangkat tangan lagi.

“Maaf, Pak. Kak Mika ada rapat darurat lagi.”

Pak Hendro menatap Tiara dengan alis sangat tinggi. “Darurat apa lagi?”

“Darurat… yang kedua.”

Lalu Juned menjatuhkan kopinya lagi. Gelas kedua. Yang ia ambil dari meja minuman di sudut ruangan, entah kapan.

Direktur keuangan menatap Juned dengan wajah prihatin. “Mas, kamu nggak apa-apa? Tangannya gemetar?”

“Kebanyakan kafein, Pak,” kata Juned, mengelap meja dengan sangat lambat.

Pada gelas ketiga, Pak Hendro akhirnya mengerti. Aku melihatnya di wajahnya: alis yang turun, mata yang berpindah dari Dion ke aku ke Arsa. Lalu ia menutup map di depannya dengan bunyi tegas.

“Baik, kita cukupkan rapat hari ini. Terima kasih atas waktunya.”


Selama dua jam rapat itu, Arsa hampir tidak bicara.

Ia menjawab pertanyaan teknis dari direktur keuangan dengan tiga kalimat yang sangat jelas. Ia mengoreksi satu asumsi kepala akuntansi dengan satu kalimat yang membuat kepala akuntansi itu mengangguk lama. Ia mencentang. Ia mencatat.

Ia tidak menatap Dion sama sekali.

Kecuali satu kali. Saat Dion bertanya kepadanya, dengan senyum ramah yang sempurna: “Mas Arsa ini supervisornya Mika, ya? Pasti bangga punya anak buah kayak dia.”

Arsa mengangkat wajah dari catatannya. Menatap Dion. Tenang.

“Saya bukan supervisornya untuk perikatan ini,” katanya. “Pekerjaan Mika di-review oleh supervisor lain.”

“Oh? Kenapa?”

“Konflik kepentingan.”

Dion berkedip. Senyumnya bertahan, tapi sepersekian detik terlambat.

Arsa kembali ke catatannya. Tidak menambahkan apa-apa. Tidak menjelaskan.

Di seberang meja, aku menunduk ke laptop supaya tidak ada yang melihatku tersenyum.

Ia tidak berbohong. Ia tidak pamer. Ia hanya mengatakan yang benar, dengan suara yang sama datarnya seperti saat ia membacakan saldo kas. Dan entah kenapa, satu kalimat itu terasa seperti seseorang berdiri di depanku dan membentangkan payung.


Kami turun ke lobi bersama. Tim Sinar Kemas mengantar sampai lift. Dion ikut. Tentu saja Dion ikut.

Di lobi lantai dasar, yang tinggi dan dingin dan berlantai marmer, Dion menyusul langkahku.

“Mik. Sebentar.”

Aku berhenti. Tim kami juga berhenti, beberapa langkah di depan. Juned dan Tiara berpura-pura membaca papan direktori gedung dengan sangat serius. Pak Hendro berpura-pura menelepon.

Arsa berdiri di sebelahku. Tidak berpura-pura apa-apa.

“Kamu kelihatan bahagia,” kata Dion. Suaranya lebih pelan sekarang, lebih personal, nada yang dulu ia pakai saat minta maaf karena terlambat dua jam. “Aku seneng lihatnya. Beneran.”

“Makasih.”

“Kita ngopi kapan-kapan? Buat catch up. Banyak yang mau aku jelasin. Soal dulu.”

Tiga tahun lalu, kalimat itu akan membuatku goyah. Banyak yang mau aku jelasin. Aku akan berpikir: mungkin ada alasan. Mungkin aku salah paham. Mungkin struk restoran itu ada penjelasannya.

Dion selalu punya penjelasan. Penjelasannya selalu terdengar sangat masuk akal.

Aku menatapnya. Senyumnya yang sempurna. Kalimatnya yang sempurna. Jam tangannya yang mahal.

Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.

Aku mengangkat tanganku dan menyelipkannya ke dalam saku jas Arsa.

Saku kanan. Tempat ia biasa menyimpan tangannya saat berdiri. Tangannya ada di sana. Hangat. Aku menemukan jari-jarinya dan menggenggamnya, di dalam saku, di tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun kecuali kami.

Arsa tidak bergerak. Tidak menoleh. Tapi jari-jarinya langsung membalas genggamanku. Erat.

“Aku udah punya teman ngopi, Dion,” kataku. Tenang. Tanpa senyum. Tanpa nada tinggi. “Tapi makasih udah nawarin.”

Dion menatapku. Lalu menatap tanganku, yang menghilang ke dalam saku jas pria di sebelahku. Lalu menatap Arsa.

Arsa menatapnya balik. Datar. Tenang. Tidak ada kemarahan, tidak ada kepuasan. Hanya wajah seseorang yang tidak perlu membuktikan apa-apa.

Senyum Dion goyah. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, senyum sempurna itu kehilangan satu detik kesempurnaannya.

“Oke,” katanya. “Oke. Semoga lancar audit-nya.”

“Pasti,” kataku.

Kami berjalan keluar. Tanganku masih di saku jas Arsa. Melewati pintu putar. Melewati satpam. Ke trotoar Sudirman yang panas dan ramai.

Di belakang kami, Juned berbisik keras ke Tiara: “Lihat nggak? Lihat nggak? Tangan di saku! TANGAN DI SAKU!”

“Aku lihat!” Tiara sudah mengetik di ponselnya. “Konten untuk @ArMi. ‘Hari ini, di sebuah lobi di Sudirman, ada tangan yang menghilang ke dalam saku. Dan ada mantan yang menghilang dari kehidupan.’”


Di dalam mobil, dalam perjalanan kembali ke Kuningan, aku diam.

Arsa menyetir. Ia juga diam. Tangan kirinya di tuas persneling. Aku meletakkan tanganku di atasnya, seperti dulu di tol saat macet, dan ia membalik telapak tangannya supaya bisa menggenggamku.

Aku menatap ke luar jendela. Gedung-gedung Sudirman berlalu. Dan aku memikirkan dua pria.

Dion, yang selalu punya kalimat sempurna. Yang bisa membuat aku otw terdengar seperti puisi. Yang bisa menjelaskan apa saja, kapan saja, dengan senyum yang tidak pernah goyah. Tiga tahun bersamanya, dan aku tidak pernah tahu mana yang benar dan mana yang bohong, karena semuanya terdengar sama indahnya.

Dan Arsa. Yang hampir tidak punya kalimat. Yang bilang pass lebih sering dari iya. Yang menjawab pujian Dion dengan konflik kepentingan dan tidak menambahkan apa pun.

Arsa tidak pernah bilang hal yang indah.

Tapi setiap kalimat yang pernah ia ucapkan padaku, setiap satu kata, adalah benar.

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Arsa.”

“Hm.”

“Kamu nggak nanya apa-apa.”

“Soal apa?”

“Soal Dion.”

Ia diam sebentar. Lampu merah. Ia menoleh padaku.

“Kamu mau cerita?”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.

“Nanti,” kataku.

Ia mengangguk. Tidak memaksa. Kembali menatap jalan.

Tapi di kaca spion, aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang tegang di rahangnya, yang tidak ada di sana sebelum Dion bilang makin cantik juga. Sesuatu yang ia tahan, dengan sangat rapi, dengan sangat sabar, seperti segala sesuatu yang ia tahan selama dua puluh dua tahun.

Aku tersenyum ke jendela.

Besok, pikirku, aku akan menanyakan satu hal padanya. Dan aku sudah tahu jawabannya akan diikuti suara apa.