← Hik! Itu Bohong

Chapter Thirty One

Percaya Itu Keputusan

POV: Mika

Ada sticky note kuning di monitorku.

Aku melihatnya dari pintu kaca lantai 15, pukul delapan kurang lima, sebelum aku sempat meletakkan tas. Sudut kanan atas. Tempat yang sama dengan semua sticky note bulan Februari yang masih kutempel berjajar di dinding kubikel. Makan. ✓ Makan. (Bukan kopi.) ✓ Makan. Nasi. Bukan biskuit. ✓

Sudah tiga minggu tidak ada sticky note baru.

Aku berjalan ke mejaku pelan-pelan. Seperti mendekati sesuatu yang bisa pecah. Meja Arsa di ujung masih kosong. Ia belum datang. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, Arsa datang lebih lambat dariku.

Aku mencabut sticky note itu dari monitor.

Tulisan tangannya. Pena merah. Huruf-huruf kecil yang rapi, rata, tanpa coretan. Ditulis sekali, aku tahu itu, karena Arsa tidak pernah menulis ulang sesuatu yang sudah benar.

Kebenaran #1.

Rendangmu keasinan. Dagingnya keras. Aku tetap menghabiskan dua piring karena kamu yang masak.

Dua-duanya benar.

Di sudut kanan bawah, tick mark merah. Presisi. Sudut yang sama, panjang yang sama, ketebalan yang sama.


Aku membaca sticky note itu lima kali.

Lalu aku tertawa.

Pelan. Di depan monitor yang belum menyala, di kantor yang masih setengah kosong. Tawa yang keluar begitu saja, dari tempat yang sudah tiga minggu terkunci.

Rendangmu keasinan.

Ia menulisnya. Dengan pena merah. Tanpa basa-basi. Tanpa ada usahanya. Tanpa secara teknis. Kebenaran yang paling jelek, yang paling tidak enak didengar, yang ia sembunyikan di meja makan di depan delapan nenek berkaus ungu.

Dan di bawahnya, kebenaran yang lain.

Aku tetap menghabiskan dua piring karena kamu yang masak.

Aku berhenti tertawa.

Karena mataku basah. Dan aku tidak tahu kapan tawaku berubah jadi sesuatu yang lain, tapi tiba-tiba aku tertawa dan menangis bersamaan, duduk di kursi kantorku pukul delapan pagi, memegang sticky note kuning dengan dua tangan.

Tiara masuk dari lift, melihatku, dan berhenti di tengah langkah.

“Kak? Kak Mika nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.” Aku mengusap mata dengan punggung tangan. Tertawa lagi. “Rendangku keasinan, Ti.”

Tiara menatapku dengan wajah orang yang tidak mengerti apa-apa tapi memutuskan untuk tetap mendukung. “…Oke, Kak. Semangat.”

Ia berjalan ke mejanya. Lalu berhenti. Lalu berbalik dan menatap sticky note di tanganku. Matanya membesar.

“Itu dari—”

“Iya.”

Tiara menutup mulutnya dengan dua tangan. Lalu berlari ke pantry, dan dari dalam pantry, aku mendengar suara teredam seperti seseorang berteriak ke dalam tumbler.


Arsa datang pukul delapan lewat sepuluh.

Ia melihatku dari pintu kaca. Ia melihat sticky note yang sudah tidak ada di monitorku. Ia melihat mataku yang mungkin masih sedikit merah.

Ia tidak menghampiriku. Ia hanya mengangguk sekali, kecil, dan berjalan ke mejanya.

Aku tidak menghampirinya juga.

Aku menempelkan sticky note itu di dinding kubikelku. Di sebelah Makan. ✓ dan Sudah. Bawel. ✓. Paling ujung.

Aku tidak memberinya tick mark.

Belum.


Pukul sepuluh, ponselku berdering. Nomor rumah. Rawamangun.

“Halo?”

“Nduk.”

Suara Eyang. Halus. Jelas. Setiap kata dipilih dari lemari yang rapi.

“Eyang?”

“Kamu ada waktu siang ini? Datang ke rumah. Eyang mau cerita.”

“Eyang, saya lagi di kantor—”

“Arsa sudah Eyang telepon. Dia bilang kamu boleh izin dua jam. Dia yang tanda tangan.” Jeda. “Dia nggak ikut. Eyang mau ngobrol berdua saja.”

Aku menatap ke meja ujung. Arsa sedang menatap layar komputernya dengan sangat serius. Telinganya merah.

“Iya, Eyang,” kataku. “Saya datang.”


Rumah Rawamangun pukul dua belas siang sunyi. Ninis sedang kuliah singkat untuk sertifikasi konten kreator, entah apa itu. Hanya ada Eyang, kursi goyang di teras belakang, pohon mangga yang daunnya bergoyang pelan, dan dua cangkir teh di meja kecil.

Eyang memakai kebaya biru muda hari ini. Rambutnya disanggul rapi seperti biasa. Ia menepuk bangku kayu di sebelahnya.

“Duduk, Nduk.”

Aku duduk. Eyang menyodorkan secangkir teh. Teh tawar. Tanpa gula.

Aku menatap cangkir itu. “Eyang tahu saya nggak pakai gula?”

“Ninis yang bilang.” Eyang tersenyum. “Ninis juga yang cerita semuanya. Soal rendang. Soal kamu nangis di mobil. Soal kamu nggak mau ke sini hari Minggu.”

Aku menunduk. “Ninis nggak salah, Eyang. Rendangnya memang keasinan.”

“Eyang tahu. Eyang yang makan potongan pertama.” Eyang menyesap tehnya. “Lima menit Eyang kunyah. Dagingnya kayak sandal jepit.”

Aku tertawa. Tidak bisa menahannya.

Eyang ikut tertawa. Lalu berhenti. Lalu menatap pohon mangga lama.

“Nduk,” katanya. “Eyang mau cerita lanjutan cerita Kakung.”


“Kamu masih ingat, kan? Toko kain. Pasar Baru. Kakung bilang ‘tidak’, terus hik.”

“Ingat, Eyang.”

“Nah. Setelah itu, Kakung jadi berani. Tiap Sabtu dia datang, bukan pura-pura lihat kain lagi, tapi langsung ngajak Eyang jalan. Ke bioskop Metropole. Ke es krim Ragusa. Ke Monas. Setahun lebih.” Eyang tersenyum ke arah kebun. “Kakung itu kaku. Kayak Arsa. Nggak bisa ngomong manis. Tapi Eyang nggak butuh omongan manis. Eyang punya cegukannya.”

Aku diam.

“Tiap Kakung bilang sayang, Eyang dengerin. Satu detik. Dua detik. Nggak ada hik. Berarti benar.” Eyang mengangguk pelan. “Tiap Kakung bilang cantik, sama. Tiap Kakung bilang setia, sama. Eyang nggak perlu mikir. Eyang nggak perlu percaya. Eyang cuma perlu dengerin.”

Aku menggenggam cangkir teh lebih erat.

“Lalu,” kata Eyang, “sebulan sebelum kami menikah, Kakung sakit.”

Aku menatapnya.

“Demam. Seminggu. Tipes.” Eyang menatapku dengan mata yang tahu persis apa yang sedang kupikirkan. “Persis kayak Arsa. Tahun tujuh puluh. Dan setelah sembuh…”

Eyang tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.

“Cegukannya hilang,” bisikku.

“Hilang,” kata Eyang. “Begitu saja. Kakung bilang ke Eyang di depan toko kain. Dik, aku bisa bohong sekarang.”


Pohon mangga bergoyang. Seekor burung hinggap di dahan, lalu terbang lagi.

“Eyang takut,” kata Eyang. Pelan. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, suaranya tidak sepenuhnya tegak. “Eyang takut setengah mati, Nduk. Sebulan lagi menikah. Undangan sudah dicetak. Dan tiba-tiba Eyang nggak tahu lagi apakah laki-laki yang mau Eyang nikahi itu jujur atau nggak.”

“Terus Eyang gimana?”

“Eyang nangis. Tiga hari. Eyang nggak mau ketemu Kakung. Eyang suruh adik Eyang bilang Eyang sakit.” Eyang tersenyum kecil. “Eyang bohong. Eyang kan bisa bohong.”

Aku tertawa pelan. Basah.

“Hari keempat, Ibu Eyang masuk kamar. Duduk di tepi kasur. Ibu Eyang bilang satu kalimat yang Eyang ingat sampai sekarang.” Eyang meletakkan cangkirnya. Menatapku langsung. “Nduk, kamu itu mau nikah sama laki-laki, atau sama cegukannya?”

Aku membeku.

“Eyang nggak bisa jawab,” kata Eyang. “Karena Eyang sadar, selama setahun lebih pacaran, Eyang nggak pernah benar-benar kenal Kakung. Eyang cuma kenal cegukannya. Eyang nggak pernah memutuskan untuk percaya sama dia. Eyang cuma… menunggu bukti.”

Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku. Tangannya kecil dan keriput dan hangat.

“Jadi hari itu Eyang memutuskan,” katanya. “Eyang datang ke toko kain. Kakung sudah berdiri di depan pintu, tiga hari nunggu, nggak pulang-pulang. Eyang bilang, Mas, aku percaya. Begitu saja. Tanpa bukti. Tanpa cegukan.”

“…Kakung bilang apa?”

“Kakung nggak bilang apa-apa. Kakung nangis.” Eyang tertawa kecil. “Laki-laki kaku itu, pegawai bank yang mukanya kayak difoto paspor, nangis di depan toko kain di Pasar Baru. Di depan tukang becak. Di depan penjual kerak telor.”

Eyang menatapku dengan mata yang basah tapi tersenyum.

“Percaya itu keputusan, Nduk,” katanya. “Bukan hasil pemeriksaan.”


Aku tidak bisa bicara selama beberapa menit.

Eyang tidak memaksaku bicara. Ia hanya menggenggam tanganku dan menyesap tehnya dan menatap pohon mangga, seperti seseorang yang sudah menunggu lima puluh tahun untuk menceritakan ini pada orang yang tepat.

Akhirnya, dengan suara yang masih bergetar, aku bertanya: “Eyang nggak pernah nyesel?”

“Lima puluh tahun,” kata Eyang. “Kakung bohong ke Eyang mungkin… tiga kali? Empat? Bilang masakan Eyang enak waktu keasinan. Bilang nggak capek waktu capek. Bilang nggak sakit waktu sakit.” Eyang tersenyum. “Semuanya bohong yang sama kayak Arsa bilang rendangmu enak. Bohong karena sayang.”

“Tapi kan tetap bohong, Eyang.”

“Iya. Tetap bohong.” Eyang mengangguk. “Dan Eyang tetap percaya. Karena Eyang sudah memutuskan. Dan setiap hari, lima puluh tahun, Kakung ngasih Eyang alasan untuk tetap memutuskan hal yang sama.”

Eyang menepuk tanganku.

“Itu yang namanya percaya, Nduk. Bukan nggak pernah dibohongi. Tapi memutuskan, setiap hari, bahwa orang ini layak dipercaya.”


Lalu, karena Eyang adalah Eyang, ia tiba-tiba tersenyum dengan cara yang sangat mencurigakan.

“Kamu mau tahu rahasia lain?”

“Apa, Eyang?”

“Yang nyium duluan itu Eyang.”

Aku menatapnya.

“Bioskop Metropole,” kata Eyang dengan bangga. “Tahun enam puluh sembilan. Filmnya Eyang lupa. Eyang nggak nonton filmnya. Kakung kelamaan, tiga bulan cuma pegangan tangan, Eyang nggak sabar. Jadi Eyang tarik dasinya, terus—”

“EYANG.”

Eyang tertawa sampai cangkir tehnya bergetar.

“Kamu pikir kamu yang paling berani, Nduk? Kamu pikir Eyang nggak tahu kamu yang nyium Arsa duluan di pantry?” Eyang mengusap matanya. “Ninis cerita. Arsa cerita ke Ninis, Ninis cerita ke Eyang. Pak satpam yang bawa senter juga cerita ke tetangga Ninis yang kerja di gedung itu.”

Aku menutup wajah dengan dua tangan. “Ya Allah.”

“Perempuan berani itu bagus, Nduk.” Eyang menurunkan tanganku dari wajahku. Menatapku. Serius lagi. “Eyang suka perempuan berani. Eyang suka kamu dari pertama lihat kamu di pantry kantor itu, waktu kamu rapiin kerah Arsa di depan Eyang tanpa malu.”

Ia menggenggam dua tanganku.

“Tapi beraninya jangan cuma buat godain. Juga buat bilang.”


Aku menatap Eyang.

Juga buat bilang.

Dan sesuatu di dalam kepalaku, sesuatu yang sudah tiga minggu berputar-putar tanpa arah, tiba-tiba berhenti. Seperti kaleng terakhir yang berhenti menggelinding di gudang Cikarang.

Aku berani. Aku selalu berani. Aku menghapus tinta dari rahang supervisorku di hari pertama. Aku membuat slide perjanjian jam dua pagi. Aku menyentuh lehernya di pantry. Aku menciumnya duluan. Aku bilang iya di depan enam puluh orang.

Tapi semua itu pertanyaan. Atau candaan. Atau sentuhan. Atau jawaban untuknya, bukan untukku.

Kamu suka aku, ya? Pertanyaan. Kamu nggak lagi lihatin bibirku, kan? Pertanyaan. Kita ini apa? Pertanyaan. Kamu sayang aku? Pertanyaan.

Enam bulan. Aku tidak pernah sekali pun bilang aku suka kamu. Tidak pernah bilang aku sayang kamu kecuali sebagai balasan, aku juga, setelah ia mengucapkannya lebih dulu karena kuminta.

Ia mencatat empat puluh tujuh pertanyaan yang tidak pernah kujawab.

Aku menuntut bukti darinya setiap hari. Satu pertanyaan sehari. Dengan cegukan sebagai penjamin.

Dan aku tidak pernah memberinya satu bukti pun.

Aku berani menggoda supaya aku tidak perlu bilang. Aku bertanya terus supaya aku tidak perlu menjawab. Aku menuntut ia tidak bisa berbohong, padahal aku sendiri yang berbohong setiap kali ia bertanya tentang diriku.

Aku menatap Eyang. Mataku basah lagi.

“Eyang,” bisikku. “Aku jahat, ya?”

“Nggak, Nduk.” Eyang mengusap pipiku dengan ibu jarinya. “Kamu cuma takut. Sama kayak Eyang dulu. Sama kayak Arsa sekarang.”

Ia memelukku.

Aku memeluknya balik. Erat. Lama. Menempelkan wajahku di bahunya yang kecil dan berbau minyak kayu putih dan bedak bayi. Aku tidak mendengarkan apa pun. Aku tidak menghitung apa pun.

Aku hanya dipeluk.


Sebelum aku pulang, di pintu depan, Eyang menahanku.

“Satu lagi, Nduk.”

“Iya, Eyang?”

“Rendangmu.” Eyang menatapku dengan wajah sangat serius, seperti akan menyampaikan wasiat. “Eyang mau kasih tahu satu-satunya rahasia rendang yang Eyang punya.”

Aku menunggu. Jantungku berdebar.

“Garamnya,” kata Eyang, “jangan pakai perasaan.”

Aku mengedip.

“Itu aja, Eyang?”

“Itu aja. Kamu itu masaknya pakai perasaan. Lagi sedih, garamnya banyak. Lagi gugup, garamnya banyak. Lagi pengen bikin orang senang, garamnya tambah banyak.” Eyang menepuk pipiku. “Pakai sendok takar. Kamu kan auditor.”

Aku tertawa sampai harus bersandar di kusen pintu.


Aku tidak kembali ke kantor siang itu. Aku pulang ke apartemen, duduk di kasur, dan menatap langit-langit sampai matahari terbenam.

Pukul sembilan malam, aku tidak tahan lagi.

Aku naik taksi ke Kuningan. Lantai 15 gelap kecuali satu lampu. Lampu di atas meja paling ujung.

Arsa ada di sana. Tertidur. Kepalanya di atas lengan yang terlipat di meja, di samping keyboard. Kacamata bacanya, yang hanya ia pakai di malam hari, miring di hidungnya. Di depannya, blok sticky note kuning dan pena merah. Sticky note paling atas sudah ditulisi setengah. Aku tidak membacanya.

Aku berdiri di samping mejanya lama.

Ia terlihat lelah. Lebih kurus dari sebelum tipes. Rambutnya berantakan. Ada bayangan gelap di bawah matanya yang terpejam.

Aku melepas kardiganku. Kardigan abu-abu, yang dulu kucuri dari mobilnya. Aku menyelimutkannya di bahunya, pelan, seperti Eyang menyelimutiku di lantai kamarnya saat ia demam.

Lalu aku menyentuh rambutnya.

Pelan. Jari-jariku menyisir helai-helai yang berantakan di atas dahinya. Sekali. Dua kali. Ia tidak bangun. Napasnya pelan dan teratur.

Aku menyentuh rambutnya lama. Lebih lama dari yang perlu. Seperti seseorang yang baru menyadari ia sudah tiga minggu tidak menyentuh sesuatu yang sangat ia rindukan.

Aku tidak mendengarkan detak jantungnya. Aku tidak memeriksa telinganya.

Aku hanya menyentuhnya.

Lalu aku menarik tanganku, berbalik, dan berjalan ke lift tanpa membangunkannya.

Besok, pikirku di lift yang turun dari lantai 15. Besok aku akan mulai menjawab.

Tapi pertama, aku harus menemukan buku hitam itu.