← Hik! Itu Bohong

Chapter Nineteen

Proyek Detektor

POV: Mika

Pagi kedua di Puncak, Arsa sudah bukan lagi supervisor paling misterius se-Wiratama.

Ia sudah jadi atraksi.

Saat sarapan, seorang associate dari tim pajak duduk di seberangnya, menatapnya dengan mata bersinar, dan bertanya, “Pak Arsa, nasi gorengnya enak?”

Arsa menatap piringnya. Nasi goreng villa yang terlalu asin dan terlalu berminyak.

“Pass.”

Tim pajak bertepuk tangan seperti baru menonton sulap.

Di antrean kopi, seseorang dari tim konsultan bertanya apakah potongan rambutnya bagus. Arsa menatap potongan rambut itu, yang jelas dipotong sendiri di depan cermin kamar mandi, dan bilang, “Rambutmu… rapi di sisi kanan.”

Tidak ada cegukan. Secara teknis benar. Sisi kiri bencana.

Saat makan siang, empat orang sudah mengantre di belakang kursinya untuk bertanya. Satu ingin tahu apakah ia lulus sertifikasi tahun ini. Satu ingin tahu apakah pacarnya sebenarnya selingkuh. Satu ingin tahu apakah sepatunya kelihatan murahan.

Arsa menjawab semuanya dengan pass, atau dengan kalimat yang benar dan sangat hati-hati. Wajahnya tetap datar. Tapi aku duduk di sebelahnya, dan aku bisa melihat rahangnya mengeras sedikit lebih kuat setiap kali seseorang baru datang.

Aku bisa melihat ia lelah.


Puncaknya terjadi malam itu, di ruang tengah villa.

Juned berdiri di depan perapian dengan buku catatan kecilnya, sekarang dengan sampul baru yang ditempeli selotip bertuliskan PROYEK DETEKTOR, dan mengetuk gelas dengan sendok.

“Bapak-bapak, ibu-ibu! Setelah dua bulan penelitian rahasia, saya, Junaedi Saputra, mempersembahkan: sesi tanya jawab resmi dengan Detektor Kebohongan Pertama Wiratama & Partners!”

Ia menunjuk Arsa, yang duduk di sofa di sebelahku dengan secangkir teh.

Dua puluh orang yang masih terjaga bersorak. Arsa menatap Juned seperti menatap laporan keuangan yang direkayasa.

“Aturannya,” kata Juned, “satu orang satu pertanyaan! Pak Arsa wajib jawab atau pass! Pass itu iya!”

“Pass itu tidak selalu iya,” kata Arsa.

“PASS ITU IYA!” teriak Tiara dari karpet.

Arsa menutup mata.

Pertanyaan pertama dari Juned sendiri. Ia membuka buku catatan, membaca dengan suara pembawa acara kuis.

“Pak Arsa. Bapak pernah ngupil di lift?”

Ruang tengah hening.

Arsa membuka mata. Menatap Juned. Lalu menatap tehnya.

“Pass.”

“PASS ITU IYA!” Tiara berdiri dan menunjuk Arsa seperti jaksa. Ruangan meledak tertawa.

Aku menutup wajah dengan bantal sofa supaya Arsa tidak melihatku ikut tertawa.


Pertanyaan-pertanyaannya makin absurd. Bapak pernah nangis nonton film kartun? Pass. Bapak pernah nyanyi di kamar mandi? Pass. Bapak pernah nge-stalk Instagram Mbak Mika?

Yang itu, Arsa tidak bilang pass. Ia hanya meletakkan cangkir tehnya di meja dan menatap lantai, dan telinganya berubah warna begitu cepat sampai seseorang di belakang menyalakan senter ponsel untuk memastikan.

Aku menyandarkan kepala di bahunya dan membisikkan, “Berapa kali?”

“Itu pertanyaan kamu hari ini?”

“Iya.”

“…Pass.”

Lalu Pak Hendro masuk.

Ia baru selesai menelepon istrinya di teras, dan ia masuk dengan mata berbinar seperti pria yang baru mendapat ide bisnis paling brilian dalam hidupnya.

“Sa! Arsa! Saya baru kepikiran!” Ia menarik kursi dan duduk di depan Arsa. “Klien Sinar Kemas. Minggu depan. Rapat dengan manajemen.”

“Iya, Pak.”

“Kamu ikut. Kamu duduk di sebelah saya. Setiap kali direktur keuangannya ngomong,” Pak Hendro mencondongkan badan, berbisik dramatis, “kamu ulangi kata-katanya. Kalau kamu cegukan, berarti dia bohong! Berarti fraud!”

Ruang tengah hening. Lalu beberapa orang bersorak.

“Pak,” kata Arsa pelan, “itu tidak bekerja begitu. Kalau saya mengutip kata-kata orang lain, saya tidak berbohong. Saya cuma mengulang.”

“Coba dulu!”

“Pak, secara medis—”

“Juned! Bohong ke Arsa! Sekarang!”

Juned berdiri. “Pak Arsa, saya nggak pernah tidur di sofa ruang rapat.”

Arsa menghela napas. “Juned bilang dia nggak pernah tidur di sofa ruang rapat.”

Tidak ada cegukan.

“Lihat?” kata Arsa.

Pak Hendro mengerutkan kening. Lalu wajahnya cerah lagi. “Oke, oke. Berarti kamu yang tanya langsung. ‘Apakah persediaan ini ada?’ Terus kamu bilang ‘ada’. Kalau cegukan—”

“Pak, saya cuma cegukan kalau saya yang bohong. Bukan kalau orang lain bohong. Saya bukan alat pendeteksi. Saya cuma tidak bisa—”

“Kita uji coba minggu depan!” Pak Hendro menepuk lutut Arsa. “Ini revolusi audit! Kita bisa bikin paper! Jurnal internasional!”

Dua puluh orang bersorak. Juned mencatat. Tiara memotret. Seseorang dari tim IT mulai mendiskusikan potensi paten.

Dan Arsa duduk di tengah semua itu dengan wajah datar, dengan cangkir teh yang sudah dingin, dengan dua puluh pasang mata yang menatapnya bukan sebagai orang, tapi sebagai alat. Sebagai mainan. Sebagai trik sulap yang bisa dipakai untuk hiburan, untuk pekerjaan, untuk paper.

Aku melihat bahunya turun satu sentimeter.

Hanya satu sentimeter. Tidak akan ada yang menyadarinya.

Aku menyadarinya.


Aku berdiri.

Aku tidak merencanakannya. Rasanya seperti tubuhku bergerak lebih dulu dari pikiranku, seperti saat ia menarikku ke dadanya di gudang kerupuk.

“Pak Hendro.”

Suaraku tidak keras. Tapi ruangan itu tiba-tiba sunyi, karena ada sesuatu di nada suaraku yang belum pernah mereka dengar dariku. Bukan suara menggoda. Bukan suara bercanda. Suara yang kupakai saat menyampaikan temuan audit kepada direktur keuangan yang tidak mau mendengarnya.

“Arsa bukan alat,” kataku.

Pak Hendro mengedip.

“Dia nggak bisa bohong. Itu bukan bakat. Itu bukan trik. Itu sesuatu yang dia jalani setiap hari selama dua puluh dua tahun. Setiap kali dia ngomong, dia harus mikir dulu. Setiap kali ada orang nanya, dia harus milih antara jujur atau diam.” Aku menatap sekeliling ruangan. Dua puluh wajah. “Seharian ini, kalian nanya dia hal-hal yang kalian sendiri nggak akan mau jawab. Soal ngupil. Soal nangis. Soal pacar orang yang selingkuh. Dia jawab semuanya, karena dia nggak punya pilihan lain. Kalian punya. Dia nggak.”

Hening.

“Jadi tolong,” kataku, lebih pelan, “berhenti.”

Tidak ada yang bicara. Juned menurunkan buku catatannya pelan-pelan. Tiara menurunkan ponselnya. Pak Hendro menatapku, lalu menatap Arsa, dan wajahnya berubah. Rasa malu muncul pelan-pelan, seperti air pasang.

“Sa,” kata Pak Hendro akhirnya. “Maaf. Saya kebawa suasana.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

Tidak ada cegukan. Arsa benar-benar memaafkannya. Tentu saja. Arsa tidak bisa pura-pura memaafkan.

Juned menutup buku catatannya dan memasukkannya ke saku. “Maaf, Pak. Proyek Detektor saya tutup.”

“Kamu boleh tetap nyatet,” kata Arsa. “Asal jangan dibacain.”

Juned mengangguk penuh rasa bersalah, dan pelan-pelan, ruangan kembali hidup. Seseorang memutar musik. Seseorang membuka keripik. Percakapan kembali normal.

Aku duduk lagi. Tanganku gemetar sedikit. Aku menyembunyikannya di bawah bantal sofa.

Arsa tidak bicara. Ia hanya menatapku. Lama. Dengan sesuatu di matanya yang tidak bisa kubaca.


Sepuluh menit kemudian, ia berdiri, menyentuh bahuku sekali, dan berjalan keluar ke taman.

Aku menunggu satu menit supaya tidak terlalu kelihatan. Lalu menyusulnya.

Taman villa gelap dan dingin. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak berwarna kuning redup. Di kejauhan, kebun teh terlihat seperti lautan hitam di bawah bintang-bintang. Udara berbau tanah basah dan daun pinus.

Arsa berdiri di dekat pagar bambu, menatap kebun teh, tangan di saku jaket.

Aku berdiri di sebelahnya. “Dingin.”

“Hm.”

“Kamu marah?”

“Nggak.”

Tidak ada cegukan.

Ia menoleh. Menatapku. Cahaya lampu taman jatuh di setengah wajahnya, dan setengah lagi dalam bayangan.

“Kamu bela aku,” katanya.

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. Diucapkan pelan, seperti seseorang yang masih mencoba memahami sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Iya,” kataku.

“Di depan dua puluh orang. Di depan Pak Hendro.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku membuka mulut untuk bercanda. Untuk bilang karena aku butuh detektor itu buat diriku sendiri atau karena aset itu milikku. Kalimat itu sudah siap di lidahku.

Aku tidak mengucapkannya.

“Karena bahumu turun,” kataku. “Satu senti. Aku lihat.”

Arsa menatapku.

Dan kemudian ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan.

Ia melangkah maju. Mengangkat satu tangan, menyentuh pipiku dengan telapak tangannya yang dingin karena udara malam. Ibu jarinya mengusap tulang pipiku sekali. Matanya turun ke bibirku, lalu kembali ke mataku, seperti meminta izin tanpa kata-kata.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak.

Lalu ia menunduk dan menciumku.


Bukan seperti di pantry. Di pantry, aku yang menciumnya. Aku yang memegang wajahnya. Aku yang memutuskan.

Ini berbeda.

Ia menciumku pelan, hati-hati, seperti seseorang yang sudah lama memikirkan bagaimana caranya dan akhirnya memutuskan untuk berhenti berpikir. Bibirnya dingin, lalu hangat. Tangannya di pipiku, lalu bergeser ke belakang leherku, jari-jarinya masuk ke rambutku.

Singkat. Mungkin lima detik.

Lalu ia mundur sedikit. Dahinya masih menempel di dahiku. Napasnya membentuk uap tipis di udara dingin di antara kami.

Aku menatapnya. Jantungku berlari.

“Kamu senang?” bisikku. Pertanyaan kedua hari ini. Aku tidak peduli.

“Iya.”

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Tidak ada cegukan.

Aku menatap matanya. Gelap. Hangat. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada kehati-hatian di sana. Hanya keinginan yang jujur, yang tidak disembunyikan, yang tidak perlu disembunyikan.

“Cium lagi,” kataku.

Ia diam satu detik.

“Itu bukan pertanyaan,” tambahku.


Ciuman kedua tidak singkat.

Ia menarikku lebih dekat. Satu tangannya di pinggangku, satu di belakang kepalaku. Aku mencengkeram jaketnya dengan dua tangan, menariknya turun ke arahku, dan berjinjit, dan dunia di sekitar kami menghilang.

Kebun teh. Bintang-bintang. Udara dingin. Musik samar dari dalam villa. Semuanya hilang.

Yang ada hanya ini. Bibirnya yang tidak lagi hati-hati. Tangannya di rambutku. Napasnya yang bercampur dengan napasku. Ciuman yang semakin dalam, semakin lama, seolah ia sedang melunasi sesuatu yang sudah terlalu lama tertunda. Seolah ia sedang menebus dua pass di pantry, dan sebelas kali berlatih di kepala, dan enam kata di kertas kuning yang tidak pernah diucapkan.

Aku tidak menghitung detik.

Aku lupa caranya menghitung.

Lalu, dari balkon lantai dua villa, terdengar sebuah tawa. Keras. Melengking. Diikuti suara sesuatu jatuh.

Kami berhenti. Terengah. Menatap ke atas.

Juned berdiri di balkon dengan ponsel di tangan. Ia sama sekali tidak melihat ke arah kami. Ia sedang menonton sesuatu di layarnya dan tertawa terbahak-bahak, membungkuk di pagar balkon. Di sebelahnya, sebungkus keripik jatuh dari tangannya dan isinya berhamburan ke bawah, ke semak-semak.

“Ya ampun, Tiara!” teriak Juned ke dalam villa, masih tertawa. “Video kucing yang kamu kirim ini lucu banget!”

Lalu ia masuk kembali ke dalam, tanpa sekali pun menoleh ke taman.

Aku menatap balkon yang kosong. Lalu menatap Arsa.

Arsa menatap balkon yang kosong. Lalu menatapku.

Kami berdua tertawa. Tertawa tanpa suara, dahi kami beradu, napas kami beruap di udara dingin, tangannya masih di pinggangku dan tanganku masih mencengkeram jaketnya.

“Video kucing,” bisikku.

“Video kucing,” ulangnya.

“Kita hampir ketahuan sama video kucing.”

“Kita nggak ketahuan.”

“Belum.”

Ia tersenyum. Senyum yang sungguhan, yang sampai ke matanya, yang belum pernah kulihat sejelas ini.

Lalu ia mencium keningku sekali lagi, pelan, dan menggenggam tanganku, dan kami berjalan kembali ke villa dengan tangan bertaut dan bibir yang masih terasa hangat.


Pukul satu pagi, aku berbaring di kasur kamar villa yang kubagi dengan Tiara. Tiara masih terjaga, mengetik di ponselnya dengan cahaya layar menerangi wajahnya.

“Kak,” bisiknya.

“Hm?”

“Aku mau bikin sesuatu. Boleh nggak?”

“Bikin apa?”

Tiara memutar ponselnya. Di layar ada halaman profil Instagram yang baru dibuat. Foto profilnya ilustrasi dua siluet berpegangan tangan dengan tanda centang merah di antara mereka. Nama akunnya:

@ArMi.official

Bio: Akun fan pertama dan satu-satunya untuk kapal paling jujur se-Kuningan. 🚢✓

Pengikut: 12.

“Tiara,” kataku pelan. “Itu siapa aja yang follow?”

“Aku, Juned, tiga anak magang, dua anak tim pajak, satu anak IT, dan…” Tiara menggulir, “…satu akun namanya eyang.uti.rawamangun.”

Aku menutup wajah dengan bantal.

“Kak? Boleh nggak?”

Aku memikirkan taman villa. Ciuman kedua yang tidak singkat. Kamu senang? Iya. Tanpa cegukan.

“Jangan upload foto,” kataku di balik bantal.

“Oke!”

“Jangan sebut nama asli.”

“Oke!”

“Jangan—”

“Kak, aku udah sayang kalian. Aku nggak bakal nyakitin kalian.” Tiara menutup ponselnya. Kamar menjadi gelap. “Aku cuma mau ada tempat buat nyimpen semua ini. Biar nanti kalau kalian udah tua, ada yang inget.”

Aku mengangkat wajah dari bantal dan menatap langit-langit kamar villa yang gelap.

Tiga belas.

Aku mengambil ponselku, membuka Instagram, dan menekan follow.