← Hik! Itu Bohong

Chapter Eighteen

Dua Kebenaran, Satu Bencana

POV: Arsa

Setiap tahun, minggu ketiga Januari, Wiratama & Partners mengadakan outing kick-off busy season di Puncak.

Pak Hendro menyebutnya “pembekalan mental”. Juned menyebutnya “liburan terakhir sebelum kita mati”. HR menyebutnya “kegiatan pengembangan tim”. Aku menyebutnya dua hari di villa dengan enam puluh orang, permainan yang tidak masuk akal, dan api unggun yang selalu terlalu dekat dengan tenda.

Tahun ini, aku punya alasan baru untuk takut.

“Jangan cegukan,” kata Mika di bus, pelan, menyandarkan kepalanya di bahuku. Kami duduk di kursi paling belakang. Ia memakai hoodie abu-abu yang terlalu besar dan topi rajut, dan pipinya sudah merah karena dingin padahal bus masih di tol Jagorawi.

“Aku nggak pernah sengaja cegukan.”

“Aku tahu. Makanya jangan.” Ia memejamkan mata. “Kalau satu kantor tahu, aku kehilangan keunggulan kompetitif.”

“Kamu sudah pacaran sama aku. Keunggulannya sudah terpakai.”

Ia membuka satu mata. Tersenyum. “Belum semuanya.”

Temuan: dua minggu pacaran. Satu kantor belum tahu, kecuali Pak Hendro (persetujuan formulir), Bu Lastri (stempel formulir), dan Pak Mamat (senter). Status kerahasiaan: rapuh.

Di kursi depan kami, Juned menoleh ke belakang, menatap kepala Mika di bahuku, menatapku, lalu menatap buku catatannya. Ia menulis sesuatu.

Di sebelahnya, Tiara memotret jendela bus. Atau setidaknya, kamera ponselnya menghadap jendela. Pantulan di kacanya menghadap kami.


Villa itu besar, dingin, dan berbau kayu pinus. Ada aula di lantai bawah, kamar-kamar di atas, dan halaman rumput luas yang berakhir di pagar bambu dengan pemandangan kebun teh.

Sore pertama diisi sesi materi dari partner tentang target tahun ini. Lalu makan malam. Lalu, pukul delapan, di aula yang lampunya sudah diredupkan, dengan enam puluh orang duduk melingkar di lantai beralas karpet, Pak Hendro berdiri di tengah dengan mikrofon.

“Saatnya permainan ice breaking!”

Enam puluh orang mengerang bersamaan.

“Permainannya,” Pak Hendro tersenyum lebar, “Dua Kebenaran, Satu Kebohongan!”

Aku berhenti bernapas.

Di sebelahku, Mika menegang. Tangannya, yang sejak tadi diam-diam menggenggam tanganku di balik hoodie-nya, mencengkeram lebih erat.

“Aturannya gampang,” lanjut Pak Hendro. “Setiap orang sebut tiga pernyataan tentang diri sendiri. Dua benar, satu bohong. Yang lain tebak mana yang bohong. Auditor harus jago mendeteksi kebohongan, kan? Ini latihan!”

Enam puluh orang tertawa.

Aku tidak tertawa. Aku menatap Pak Hendro dan menghitung jarak antara posisiku dan pintu keluar aula. Delapan meter. Melewati dua belas orang yang duduk bersila.

Mika berbisik tanpa menggerakkan bibir: “Bilang sakit perut.”

“Aku nggak sakit perut.”

“Bilang mau ke toilet.”

“Aku nggak mau ke toilet.”

“Arsa, kamu nggak bisa bohong buat kabur dari permainan bohong. Ini ironis banget.”


Permainan dimulai dari sisi kiri lingkaran. Juned menyebut tiga hal, dan semua orang langsung menebak kebohongannya karena tidak ada yang percaya Juned pernah lari maraton. Tiara bilang ia pernah bertemu aktor Korea di bandara, dan itu ternyata benar, dan setengah aula histeris. Pak Hendro bilang ia hafal lima puluh tiga tanggal penting dalam pernikahannya, dan itu juga benar.

Lalu giliran Mika.

Ia berdiri dengan senyum percaya diri. “Satu. Aku pernah gosongin rendang tiga kali. Dua. Aku punya spreadsheet rahasia. Tiga. Aku belum punya pacar.”

Aula menebak. Mayoritas memilih nomor dua. “Spreadsheet rahasia? Nggak mungkin! Itu bohong!”

Mika tersenyum lebar. “Salah. Nomor tiga yang bohong.”

Aula hening satu detik. Lalu meledak.

“KAK MIKA PUNYA PACAR?!” Tiara berdiri setengah. “SIAPA?!”

“Rahasia,” kata Mika, dan duduk kembali, dan meremas tanganku di balik hoodie dengan sangat keras.

Aku menatapnya. Ia baru saja berbohong dengan indah, dan mengatakan yang sebenarnya dengan indah juga, dan tidak ada satu orang pun yang bisa membedakannya.

Lalu aku menyadari: giliran berikutnya adalah aku.


“Pak Arsa!” Pak Hendro menunjukku dengan mikrofon. “Supervisor paling misterius se-Wiratama! Ayo, ayo!”

Enam puluh pasang mata menatapku.

Aku berdiri. Lututku terasa seperti terbuat dari kerupuk.

Aku sudah memikirkan strateginya selama dua belas giliran terakhir. Aku tidak bisa menghindari kebohongan, karena permainan ini mewajibkannya. Tapi aku bisa membuat kebohongan yang sangat kecil. Sangat tidak penting. Mungkin cegukannya akan pelan. Mungkin tidak ada yang mendengar.

“Satu,” kataku. “Saya bisa masak.”

Benar. Tidak ada cegukan.

“Dua. Saya tidak pernah terlambat masuk kantor.”

Benar. Tidak ada cegukan.

“Tiga.” Aku menarik napas. Kebohongan paling kecil yang bisa kupikirkan. “Saya suka durian.”

Satu detik.

Dua detik.

Hik.

Di aula yang hening dengan enam puluh orang, cegukan itu terdengar seperti ledakan petasan.


Hening.

Lalu seseorang di sisi kanan tertawa. “Pak Arsa cegukan!”

“Gugup, Pak?” tanya seseorang dari tim pajak.

Pak Hendro menatapku dengan alis berkerut. Lalu, perlahan, alisnya terangkat. Sangat tinggi. Ia menatapku, lalu menatap Mika, lalu menatapku lagi. Aku melihat roda-roda di kepalanya mulai berputar.

“Sa,” katanya ke mikrofon, dengan nada yang terlalu santai. “Ulangi deh. Yang nomor tiga.”

“Pak—”

“Ulangi. Biar yang lain dengar jelas.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik, dengan senyum seseorang yang baru menemukan bukti audit yang sudah ia cari selama dua bulan.

Aku tidak punya pilihan.

“Saya suka durian.”

Hik.

Aula meledak.

Bukan tawa biasa. Kekacauan. Enam puluh orang bicara bersamaan. Seseorang dari tim pajak berteriak dia cegukan tiap bohong! Seseorang dari tim konsultan berteriak itu mustahil! Seseorang dari tim IT sudah berdiri dan mengajukan teori ilmiah tentang saraf vagus.

Dan di tengah semua itu, Juned berdiri.

Ia mengangkat buku catatan kecilnya tinggi-tinggi, seperti pengacara yang baru menemukan bukti kunci di persidangan.

“SAYA SUDAH TAHU!” teriaknya. “Saya sudah nyatet dua bulan! Kopi kantor! Martabak! Rapat jam tujuh! Eyangnya bilang tiap malam! Semuanya tercatat!”

Aula semakin kacau.

Mika menutup wajahnya dengan dua tangan.


Lalu Juned melakukan sesuatu yang sangat Juned.

Ia berbalik ke arahku. Matanya berkilat. Senyumnya lebar. Dengan suara yang cukup keras untuk mengalahkan seluruh aula, ia bertanya:

“Pak Arsa! Bapak pacaran sama Mbak Mika?”

Aula langsung hening. Enam puluh orang. Hening total. Seperti seseorang mematikan semua suara di dunia.

Aku menatap Juned.

Aku tidak bisa bilang nggak. Kami semua tahu apa yang terjadi kalau aku bilang nggak. Enam puluh orang sekarang tahu.

Aku tidak bisa bilang iya. Tidak di depan enam puluh orang. Tidak tanpa bertanya pada Mika dulu. Itu bukan hanya rahasiaku.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.

“Pass.”

Hening.

Lalu, dari sisi kiri lingkaran, suara kecil Tiara, ragu-ragu, seperti seseorang yang baru menemukan jawaban soal ujian tapi takut salah:

“Pass itu… iya?”

Enam puluh pasang mata berpindah dari Tiara ke aku.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Telingaku sudah merah sampai ke ujung, dan leherku, dan aku bisa merasakan wajahku memanas di bawah lampu aula yang redup.

Lalu, dari belakangku, sebuah suara.

Tenang. Jelas. Tanpa ragu.

“Iya.”

Mika berdiri.

Ia membuka tudung hoodie-nya. Rambutnya jatuh di bahu. Pipinya merah, tapi dagunya terangkat, dan ia menatap seluruh aula dengan mata yang sama sekali tidak takut.

“Iya,” ulangnya. “Kami pacaran. Sudah lapor HR. Formulirnya lengkap. Ada stempelnya.”


Aula meledak untuk ketiga kalinya malam itu. Kali ini yang paling keras.

Tiara menjerit dan memeluk Juned. Juned melempar buku catatannya ke udara. Seseorang dari tim pajak bersiul panjang. Pak Hendro tertawa sampai mikrofonnya berdenging.

Dan di sudut aula, di kursi lipat di dekat pintu, Bu Lastri, yang sejak tadi duduk diam dengan secangkir teh dan sepiring pisang goreng, mengeluarkan ponselnya.

Ia mengetik sesuatu. Tanpa ekspresi.

Ponsel Tiara bergetar. Ponsel Juned bergetar. Ponsel Pak Hendro bergetar.

Tiara membaca layarnya dan berhenti menjerit. “Bu Lastri…?”

Bu Lastri mengangkat cangkir tehnya ke arah Tiara.

“Januari,” katanya. “Minggu ketiga. Diumumkan di Puncak.”

Juned menatap layar ponselnya. Lalu menatap Bu Lastri. “Bu… Bu Lastri menang?”

“Dua ratus ribu dikali enam peserta,” kata Bu Lastri. “Satu juta dua ratus ribu. Transfer ke rekening biasa.”

Ia menggigit pisang gorengnya. Wajahnya tidak berubah sama sekali.

Pak Hendro menatap ponselnya dengan ekspresi pria yang kalah perang. “Saya pasang Februari,” gumamnya. “Saya percaya proses.”


Malam itu ada api unggun di halaman rumput.

Enam puluh orang duduk melingkar di bangku-bangku kayu, membakar jagung dan marshmallow, menyanyikan lagu-lagu lama dengan gitar yang fals. Udara Puncak dingin menusuk. Bintang-bintang terlihat jelas di atas kebun teh.

Semua orang tahu sekarang. Aku bisa merasakannya dari cara mereka menatap. Bukan tatapan mengejek. Tatapan seperti orang yang menonton episode drama yang sudah lama mereka tunggu. Tiga orang dari tim pajak sudah meminta maaf karena pernah bilang aku robot. Seseorang dari tim IT memintaku mengulang saya suka durian untuk direkam sebagai data penelitian. Aku bilang pass.

Aku duduk di ujung bangku, sedikit menjauh dari api, menatap bara yang berkedip.

Lalu sesuatu yang hangat dan berat jatuh di punggungku.

Dua tangan melingkar di dadaku dari belakang. Lengan dalam jaket. Jaketku. Yang tadi kuberikan padanya di bus dan tidak pernah ia kembalikan. Lengan jaket yang kepanjangan menutupi jari-jarinya.

Mika memelukku dari belakang.

Di depan api unggun. Di depan enam puluh orang. Dagunya bersandar di bahuku, pipinya yang dingin menempel di pipiku.

Aula, atau halaman rumput, hening sebentar. Lalu seseorang bersiul. Lalu beberapa orang bertepuk tangan. Tiara mengeluarkan suara seperti teko yang mendidih. Pak Hendro memainkan intro lagu cinta dengan gitarnya, dan fals, dan tidak peduli.

Aku tidak bergerak. Aku tidak tahu harus bergerak bagaimana.

“Kamu dingin,” kata Mika di telingaku.

“Kamu yang pakai jaketku.”

“Makanya aku peluk. Biar kamu kebagian.”

Aku menatap api. Lalu, perlahan, aku mengangkat tangan dan meletakkannya di atas tangannya, yang melingkar di dadaku. Menggenggamnya. Lengan jaket yang kepanjangan itu terlipat di antara jari-jari kami.


Di bus tadi pagi, ia bilang jangan cegukan. Ia bilang kalau satu kantor tahu, ia kehilangan keunggulan kompetitif.

Satu kantor tahu sekarang.

Dan ia berdiri di aula itu dan bilang iya. Di depan enam puluh orang. Tanpa ragu. Tanpa candaan. Tanpa pertanyaan balik.

Aku menatap bara api dan memikirkan buku hitam di tasku. Dua puluh lima pertanyaan yang tidak pernah ia jawab. Setiap kali aku bertanya tentang dirinya, ia tersenyum dan menggoda dan mengalihkan.

Tapi malam ini, saat aku terjebak, saat aku tidak bisa bilang iya dan tidak bisa bilang tidak, ia berdiri dan menjawab untukku.

Ia tidak menjawab untuk dirinya sendiri. Ia menjawab untukku.

Aku tidak tahu apa artinya itu. Aku tidak tahu apakah itu berarti suatu hari ia akan menjawab dua puluh lima pertanyaan itu, atau apakah ia hanya bisa berani kalau itu untuk orang lain.

Tapi aku memegang tangannya di atas dadaku, dan merasakan napasnya di leherku, dan memutuskan bahwa untuk malam ini, di Puncak, di depan api unggun dan enam puluh orang dan gitar Pak Hendro yang fals, itu cukup.

“Arsa,” bisiknya.

“Hm.”

“Kamu beneran nggak suka durian?”

“Benci.”

Tidak ada cegukan.

Ia tertawa di bahuku, dan memelukku lebih erat, dan di seberang api unggun, Juned mengangkat jagung bakarnya seperti bersulang.