Chapter Twelve
Kakung Juga Begitu
POV: Arsa
Hari Minggu pukul sembilan pagi, aku sudah di pasar Rawamangun sejak subuh, dan Ninis sudah mengirim tujuh pesan.
Mas, Mbak Mika jadi dateng?
Mas jam berapa?
Mas, aku pake baju apa?
Mas jawab dong.
MAS.
Eyang bilang Mas belanja dari jam lima. JAM LIMA, MAS. Buat siapa??
Aku udah siapin kamera.
Aku membalas satu kali: Jangan rekam apa pun.
Ninis membalas dengan stiker kucing tertawa, yang dalam bahasa Ninis berarti aku akan merekam segalanya.
Temuan: belanja sayur selama empat jam untuk makan siang empat orang. Rasio: tidak wajar. Penjelasan: tidak tersedia untuk publik.
Mika datang pukul sebelas tepat.
Aku melihatnya dari jendela dapur. Ia turun dari taksi di depan pagar besi rumah kami yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat, memakai blus kuning lembut dan rok selutut, rambut digerai, membawa kotak kue di dua tangan. Ia menatap pohon mangga di halaman, lalu menatap rumah tua kami dengan jendela-jendela kayunya, dan tersenyum seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang ia suka.
Aku tidak pernah melihatnya memakai warna kuning. Di kantor ia selalu memakai krem, putih, abu-abu, warna-warna auditor. Kuning membuatnya terlihat seperti cahaya pagi yang salah masuk ke halaman rumah kami.
Aku lupa sedang memegang pisau di atas talenan.
“Mas,” kata Ninis di sebelahku, yang entah sejak kapan berdiri di sana dengan ponsel teracung, “itu bawangnya udah Mas iris jadi bubur.”
Aku menunduk. Bawang merah di talenan sudah tidak berbentuk bawang lagi.
“Rekam ini,” kata Ninis ke ponselnya dengan suara presenter. “Kakak saya, auditor paling teliti se-Kuningan, baru saja menghancurkan bawang merah karena melihat seorang perempuan pakai baju kuning.”
“Hapus.”
“Nggak.”
Eyang menyambut Mika di pintu seperti menyambut tamu kenegaraan. Mika mencium tangan Eyang, menyerahkan kotak kue, dan dalam waktu tiga menit sudah duduk di ruang tengah, mendengarkan Eyang bercerita tentang foto-foto lama di dinding sambil menggenggam tangan Eyang.
Lalu Mika masuk ke dapur.
“Aku bantu, ya.”
“Nggak usah.”
“Aku mau bantu.”
“Kamu tamu.”
“Aku tamu yang mau bantu.” Ia sudah menggulung lengan blusnya. “Kasih aku tugas. Apa aja.”
Aku menatapnya. Aku ingat rendang percobaan ketiga. Aku ingat kalimat arang yang punya mimpi, yang Mika ucapkan sendiri dan Juned ceritakan ke seluruh lantai.
Aku memberinya tugas paling aman yang terpikir: membuat sambal.
Lima belas menit kemudian, cobek batu Eyang berisi sesuatu yang sangat merah, sangat cair, dan sangat banyak.
“Ini sambal apa?” tanya Ninis, mengintip.
“Sambal bawang,” jawab Mika dengan bangga.
“Kok kayak saus sambal yang dikasih air?”
“Itu teknik.”
Aku mencicipinya dengan ujung sendok. Mataku langsung berair. Bukan karena pedas, meskipun itu juga, tapi karena ia memasukkan garam kira-kira tiga kali lipat dari takaran normal.
Mika menatapku penuh harap.
“Gimana?”
Aku menelan. Aku memilih kata dengan hati-hati.
“Sambal ini,” kataku, “sangat berani.”
Ninis tertawa sampai harus berpegangan pada kulkas. Mika menyipitkan mata ke arahku. “Secara teknis, itu benar, ya?”
“Itu benar.”
Ia mencubit lenganku, pelan. Lalu tertawa sendiri, dan pipinya merah, dan ada sedikit cabai di ujung hidungnya yang tidak ia sadari.
Aku tidak memberitahunya soal cabai itu. Aku ingin melihatnya sedikit lebih lama.
Masalahnya, menghancurkan sambal ternyata bukan bakat terbesar Mika.
Bakat terbesarnya adalah membuat Ninis membuka semua rahasiaku dalam waktu kurang dari satu jam.
“Mbak tahu nggak,” kata Ninis sambil memotong tempe, “Mas Arsa dulu waktu SMA dipanggil ‘Si Hik’?”
“Ninis.”
“Soalnya dia nggak bisa bohong, terus ada cewek nembak dia di kantin, terus dia bilang ‘aku udah punya pacar’ biar sopan—”
“Ninis.”
“—terus hik! Di depan satu kantin! Ceweknya langsung tahu!” Ninis tertawa. “Sejak itu satu sekolah manggil dia Si Hik.”
Mika menatapku. Matanya berkilat. “Si Hik.”
“Pass.”
“Kamu nggak bisa pass soal nama panggilan.”
“Itu tidak diatur di perjanjian.”
Ninis menghentikan pisaunya. “Perjanjian apa?”
Aku dan Mika saling pandang.
“Nggak ada,” kata Mika lancar.
Ninis menatap Mika. Lalu menatapku. Ninis sudah dua puluh tiga tahun hidup serumah denganku. Ninis tahu bahwa kalau aku diam di saat seperti ini, artinya ada sesuatu.
“Oke,” kata Ninis perlahan, dengan senyum yang sangat mirip senyum Eyang. “Nanti aku cari tahu.”
Makan siang di meja makan kayu jati yang sudah ada sejak sebelum aku lahir. Sayur asem, ayam goreng bacem, tempe goreng, ikan asin, sambal terasi buatanku, dan sambal “berani” buatan Mika di mangkuk terpisah yang tidak disentuh siapa pun kecuali Mika sendiri, yang memakannya dengan wajah gagah sambil diam-diam minum tiga gelas air.
Eyang makan pelan, sesekali menatap Mika, sesekali menatapku. Lalu, saat Mika memuji sayur asem untuk ketiga kalinya, Eyang meletakkan sendoknya.
“Arsa itu,” kata Eyang, “persis Kakungnya.”
Aku mengangkat wajah.
“Kakung?” tanya Mika.
“Suami Eyang. Sudah meninggal delapan tahun lalu.” Eyang tersenyum ke arah foto hitam putih di dinding ruang makan: seorang pria muda berkemeja putih, berdiri kaku di depan sebuah bioskop, wajahnya datar seperti sedang difoto untuk paspor.
Wajah yang sangat, sangat familier.
“Kakung juga nggak bisa bohong,” lanjut Eyang. “Sama persis. Kalau bohong, cegukan.”
Mika menoleh padaku dengan mata membesar.
Aku tahu cerita ini. Aku sudah mendengarnya ratusan kali. Aku tetap merasakan wajahku memanas.
“Dulu, tahun enam puluh sembilan,” kata Eyang, matanya berbinar, “Eyang masih gadis, kerja di toko kain di Pasar Baru. Kakung itu pegawai bank, tiap Sabtu lewat toko Eyang. Pura-pura lihat-lihat kain. Tiga bulan. Nggak beli apa-apa. Cuma lihat-lihat.”
Ninis menopang dagu. Ia sudah mendengar cerita ini sebanyak aku, tapi ia selalu menopang dagu di bagian ini.
“Suatu Sabtu, Eyang sudah nggak tahan. Eyang tanya langsung. ‘Mas, Mas ini suka saya, ya?’” Eyang menirukan suaranya sendiri waktu muda, tinggi dan berani. “Terus Kakung, pegawai bank yang kaku itu, langsung bilang…”
Eyang berhenti. Menatapku. Lalu menatap Mika.
“‘Tidak.’”
Lalu Eyang menirukan dengan sempurna, dengan suara berat seorang pria:
“Hik.”
Ninis tertawa. Mika menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berpindah dariku ke foto di dinding ke Eyang dan kembali padaku, dan aku bisa melihat ia sedang menyusun sesuatu di kepalanya, seperti auditor yang baru menyadari dua kertas kerja dari tahun yang berbeda punya pola yang sama.
“Eyang tertawa,” kata Eyang, “sampai nangis. Di depan toko. Di depan Kakung. Kakung mukanya merah kayak kain batik yang Eyang jual.”
“Terus, Eyang?” tanya Mika. Suaranya pelan. “Terus gimana?”
Eyang tersenyum. Ia mengambil sendoknya lagi.
“Lanjutannya nanti,” katanya.
“Eyang!” protes Mika.
“Nanti, Nduk. Ceritanya panjang. Ada bagian yang bagus, ada bagian yang Eyang nggak mau ceritakan di depan Ninis karena Ninis suka bikin konten.”
“Eyang, aku nggak bakal—”
“Kamu sedang merekam, Nis.”
Ninis menurunkan ponsel dari bawah meja dengan wajah tertangkap basah.
Aku ingin menghilang ke dalam sayur asem.
Bencana yang sebenarnya terjadi setelah makan.
Kami berempat duduk di teras belakang dengan teh dan kue yang dibawa Mika. Angin siang menggoyangkan daun mangga. Mika duduk di bangku kayu di sebelah Eyang, dan aku duduk di kursi rotan di seberang mereka, dan Ninis duduk di lantai teras dengan ponsel yang ia klaim sudah dimatikan.
Ninis menatapku. Lalu menatap Mika. Lalu menatapku lagi.
“Mas,” katanya dengan suara manis yang sangat berbahaya. “Mbak Mika cantik, kan?”
Teras hening.
Aku tidak bisa bilang nggak. Kami semua tahu apa yang terjadi kalau aku bilang nggak.
Aku bisa bilang iya. Itu benar. Itu sangat benar. Itu mungkin hal paling benar yang pernah kuketahui sejak aku melihatnya turun dari taksi dengan blus kuning tadi pagi.
Tapi mengatakannya di depan Eyang dan Ninis dan Mika sendiri, di teras belakang, pukul dua siang hari Minggu…
“Pass,” kataku.
Ninis langsung berdiri. Ia menunjuk wajahku dengan telunjuk dan berteriak sekencang-kencangnya, cukup kencang untuk didengar tetangga sebelah, tetangga sebelahnya lagi, dan mungkin pedagang bakso yang lewat di gang depan:
“PASS-NYA MAS ARSA ITU ARTINYA IYA, MBAK!”
Burung-burung terbang dari pohon mangga.
Eyang tertawa sampai cangkir tehnya bergetar.
Mika menatapku. Pipinya merah. Matanya berbinar, berair karena tawa. Lesung di pipi kirinya muncul begitu dalam sampai aku bisa melihatnya dari seberang teras.
“Secara teknis,” kataku, sangat tenang, ke cangkir tehku, “aku cuma bilang pass.”
“PASS ITU IYA!” teriak Ninis lagi. “Mas, dari SMP! Dari SMP aku tanya ‘Mas makan coklatku ya?’ Mas bilang pass! Mas tanya ‘kamu pakai helmku ya?’ aku bilang ‘pass’ Mas langsung marah karena Mas tahu itu iya!”
Aku tidak bisa membantah itu. Karena itu benar.
Mika tertawa. Ia membungkuk di bangku kayu, memeluk perutnya, rambutnya jatuh ke depan wajah, dan tawanya terdengar seperti sesuatu yang dibiarkan bebas setelah lama ditahan. Eyang menepuk-nepuk punggungnya sambil ikut tertawa.
Dan aku, di kursi rotan di seberang mereka, melihat Mika tertawa di teras belakang rumahku, dengan rambut berantakan dan cabai yang sudah hilang dari hidungnya dan pipi yang merah sampai ke telinga.
Ia cantik. Itu bukan pendapat. Itu temuan.
Dan semua orang di teras itu sekarang tahu aku sudah memverifikasinya.
Sore itu, Mika membantuku mencuci piring di dapur. Eyang tidur siang. Ninis di kamarnya, mengedit video, sesekali tertawa sendiri.
“Ajarin aku pakai ulekan,” kata Mika tiba-tiba. “Yang bener. Biar sambalku nggak kayak sup.”
Aku mengeringkan tangan. Mengambil cobek dan ulekan dari rak. Meletakkan dua siung bawang putih dan beberapa cabai di cobek.
Mika memegang ulekan. Gerakannya salah. Ia menumbuk, bukan mengulek. Bawang putihnya melompat keluar dari cobek dua kali.
“Bukan begitu.”
“Terus gimana?”
Aku berdiri di belakangnya. Aku tidak merencanakannya. Rasanya hanya seperti cara paling efisien untuk menunjukkan.
Aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang memegang ulekan.
Punggungnya hampir menyentuh dadaku. Rambutnya di bawah daguku. Wangi melati. Tangannya kecil di bawah tanganku, dan aku bisa merasakan ia berhenti bernapas, seperti aku berhenti bernapas di depan layar komputer berminggu-minggu yang lalu.
“Ditekan,” kataku pelan, menggerakkan tangan kami bersama, “lalu diputar. Bukan dipukul.”
Ulekan bergerak di cobek. Pelan. Melingkar. Bawang putih mulai hancur dengan benar.
Mika tidak menoleh.
“Kamu sengaja ya?” tanyanya, pelan sekali.
Aku menatap puncak kepalanya. Aku bisa bilang nggak. Kami berdua tahu apa yang akan terjadi.
“Pass.”
Ia tertawa kecil. Lalu, perlahan, ia bersandar ke belakang. Punggungnya menempel di dadaku. Ringan. Hangat. Seperti seseorang yang bersandar pada sesuatu yang ia percaya akan tetap berdiri.
“Lanjutin,” katanya. “Aku belum bisa.”
Aku tahu ia bohong. Ia sudah bisa sejak putaran ketiga. Tangannya sudah bergerak sendiri di bawah tanganku, tidak lagi menunggu arahanku.
Tapi ia bisa bohong. Ia selalu bisa bohong.
Dan untuk pertama kalinya, aku senang ia bisa.
Aku melanjutkan. Kami mengulek sambal yang tidak dibutuhkan siapa pun, di dapur rumah Rawamangun, pukul empat sore, sampai bawang putih dan cabai di cobek itu menjadi sambal paling halus yang pernah dibuat di rumah ini.
Dari balik pintu kamarnya, Ninis berbisik ke ponselnya cukup keras untuk kami dengar:
“Konten ini akan aku upload. Judul: ‘Kakakku Ngajarin Ngulek, Tapi Yang Diulek Hatinya.’”
Video itu mendapat empat puluh tujuh views.
Empat puluh enam di antaranya, aku curiga, dari Tiara.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu reading
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus