← Hik! Itu Bohong

Chapter Twenty Two

Nggak Cemburu. Hik.

POV: Arsa

Aku tidak tidur nyenyak malam setelah rapat Sinar Kemas.

Temuan: seorang pria bernama Dion Hartanto menyebut Mika “makin cantik” di depan sembilan orang di ruang rapat lantai 22. Respons subjek: mencentang kolom yang tidak perlu dicentang, sebanyak empat belas kali. Tekanan pada pena: berlebihan. Pena patah: satu.

Pena merah kesepuluh. Patah di tengah rapat. Aku menyembunyikannya di saku sebelum ada yang melihat.

Mika melihat. Tentu saja Mika melihat.


Besok sorenya, aku mengantarnya pulang. Seperti biasa sejak kami pacaran. Mobilku, jalan Rasuna Said, lalu belok ke Setiabudi.

Mika duduk di kursi penumpang dengan kaki dilipat di jok, sepatunya dilepas. Ia memakai kardigan abu-abu yang ia curi dari mobilku dua minggu lalu. Ia sedang membuka-buka Instagram @ArMi.official sambil sesekali tertawa sendiri.

“Tiara posting lagi,” katanya. “‘Hari ini dia bawa dua kotak bekal. Salah satunya bukan buat dia.’ Lima ratus likes.”

“Itu pelanggaran privasi.”

“Itu kasih sayang komunitas.” Ia menggulir. “Ada yang komen. ‘Kapal ini lebih jujur dari mantan saya.’ Ada yang bales: ‘Kapal ini lebih jujur dari laporan keuangan perusahaan saya.’”

Aku tidak menjawab. Lampu merah di perempatan Kuningan.

Ponsel Mika berdering. Video call. Layarnya menampilkan foto profil seorang ibu berkerudung batik dengan senyum lebar.

Mama.

Mika menatap layar. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi.

“Angkat,” kataku.

“Kamu yakin? Mama itu… banyak.”

“Angkat.”

Mika menekan tombol hijau. Wajah Mama Yuyun memenuhi layar, terlalu dekat, dengan latar belakang dapur yang penuh panci.

“Nduk! Mama mau tanya, kamu pulang Lebaran tanggal berapa? Soalnya Tante Wid mau—”

Mama Yuyun berhenti. Matanya bergerak ke sudut layar. Ke arahku. Mika memegang ponsel dengan sudut yang membuat setengah wajahku masuk ke frame.

Mama Yuyun mendekatkan wajahnya ke kamera. Lebih dekat lagi. Sampai yang terlihat hanya satu mata yang menyipit.

“Lho,” katanya pelan. “Iki sopo?”

Aku menoleh ke kamera. Menundukkan kepala sedikit.

“Selamat malam, Bu.”

Hening di Surabaya.

Lalu:

“GANTENG!”

Suara Mama Yuyun memenuhi mobil, cukup keras untuk membuat speaker ponsel bergetar.

“Nduk! Iki Mas Ganteng?! Sing tangane wingi?! Sing nang foto?! Ya Allah, aslinya luwih ganteng! Mas! Mas, umure piro? Asline ngendi? Iso masak? Mika ki ra iso masak, Mas, rendange koyo watu bara—”

Mika menekan tombol merah.

Mobil sunyi. Lampu hijau. Di belakang kami, seseorang membunyikan klakson.

Aku menginjak gas. Mika menatap ke depan, wajahnya merah sampai ke leher, ponsel tertelungkup di pangkuannya.

“Maaf,” katanya.

“Kenapa minta maaf?”

“Mama.”

“Mamamu bilang aku ganteng.”

“Mama bilang semua orang ganteng.”

“Mamamu bilang aku lebih ganteng aslinya.”

Mika menoleh. Menatapku. “Kamu… senang?”

“Iya.”

Tidak ada cegukan. Mika menatapku lama, lalu tertawa dan menutup wajahnya dengan lengan kardiganku.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Mama: Kenapa ditutup!!! Salam buat Mas Ganteng. Bilang Mama bisa ngajarin dia rendang biar nanti dia yang masak, kamu ga usah.


Di jalan Setiabudi, Mika mengubah posisi duduknya. Ia memutar badan menghadapku, bersandar di pintu, kakinya masih terlipat di jok. Senyumnya berubah. Aku mengenal senyum itu. Senyum yang muncul tepat sebelum ia memakai jatah pertanyaannya.

“Arsa.”

“Hm.”

“Satu pertanyaan hari ini.”

Aku menggenggam setir.

“Kemarin. Di Sinar Kemas. Waktu Dion bilang aku makin cantik.” Ia memiringkan kepala. “Kamu cemburu?”

Aku menatap jalan.

Aku bisa bilang pass. Itu pilihan paling aman. Itu yang selalu kulakukan.

Tapi ada sesuatu dalam diriku yang masih panas sejak kemarin. Sesuatu yang membuat pena merahku patah. Sesuatu yang menolak mengakui bahwa pria dengan pomade dan jam tangan mahal itu berhasil membuatku merasakan apa pun.

“Nggak,” kataku.

Satu detik.

Hik.

Dua detik.

Hik.

Dua kali. Beruntun. Keras.


Mika tidak tertawa langsung. Ia menatapku dengan mata membesar dan mulut sedikit terbuka, seperti seseorang yang baru menemukan harta karun di laci yang selama ini dikira kosong.

Lalu ia tertawa.

Tertawa sampai ia harus memeluk lututnya sendiri. Sampai kardiganku melorot dari satu bahunya. Sampai air mata keluar dan ia menghapusnya dengan punggung tangan.

“Dua kali,” katanya, terengah. “Dua kali, Arsa. Dobel. Kamu cemburu dobel.”

“Itu cegukan biasa.”

Hik.

Mika tertawa lebih keras. Ia memukul-mukul dasbor dengan telapak tangan.

“Ya Allah. Ya Allah. Cemburunya Pak Supervisor lucu banget.” Ia mengusap matanya, menatapku dengan senyum yang begitu lebar sampai aku hampir tidak bisa melihat matanya. “Lagi dong.”

“Nggak.”

Hik.

“Lagi.”

Aku mengatupkan rahang dan menatap jalan dengan konsentrasi orang yang sedang menyetir di tengah badai.

Mika berhenti tertawa. Pelan-pelan. Ia masih tersenyum, tapi senyumnya berubah, lebih lembut. Ia menunggu.

Dan aku tahu ia tidak akan berhenti menunggu sampai aku mengatakan sesuatu yang benar.

Aku menarik napas.

“Aku nggak suka,” kataku pelan, “dia lihat kamu begitu.”

Tidak ada cegukan.

Mika diam.

“Dia lihat kamu kayak kamu barang yang dulu pernah dia punya,” lanjutku. Kata-kata itu keluar sendiri, satu per satu, seperti air dari keran yang sudah terlalu lama ditutup. “Kayak dia bisa ambil lagi kapan aja dia mau. Kayak dia cuma perlu bilang kalimat yang tepat.”

Aku tidak menoleh. Aku tidak berani menoleh.

“Aku nggak punya kalimat yang tepat. Aku nggak pernah punya. Aku cuma punya yang benar.” Aku menggenggam setir lebih erat. “Dan yang benar adalah aku nggak suka.”

Hening di dalam mobil. Hanya suara mesin dan AC.

Lalu tangan Mika menyentuh tanganku di tuas persneling.

“Itu kalimat paling tepat,” katanya pelan, “yang pernah aku dengar.”


Kami tiba di parkiran basement apartemennya. Aku memarkir di sudut, di bawah lampu yang setengah mati. Mesin masih menyala. AC masih berembus.

Mika tidak turun.

Ia menatap tangannya sendiri di pangkuan, lama. Lalu ia bicara. Pelan. Tanpa menatapku.

“Dion pacarku tiga tahun.”

Aku diam. Aku tidak bertanya. Aku tidak mau membuatnya berhenti.

“Dia nggak pernah kasar. Nggak pernah teriak. Dia selalu manis. Selalu punya kalimat yang tepat.” Mika tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mana-mana. “Aku otw, padahal baru bangun. Nanti kutransfer balik, nggak pernah. Aku lembur, padahal makan malam sama orang lain.”

Ia menelan.

“Aku tahu dari struk restoran. Di saku jaketnya. Dua porsi. Restoran yang dia bilang terlalu mahal buat ngajak aku.” Ia menarik napas. “Tiga tahun, dan yang ngasih tahu aku kebenaran bukan dia. Tapi selembar kertas.”

Aku mematikan mesin. Mobil menjadi sangat sunyi.

“Sejak itu aku nggak percaya kata-kata,” kata Mika. “Siapa aja bisa ngomong apa aja. Kata-kata itu gratis. Cuma bukti yang nggak bisa bohong.”

Ia akhirnya menoleh padaku. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum.

“Makanya sama kamu aku tenang,” katanya. “Kamu nggak bisa bohong ke aku.”


Aku menatapnya.

Dan aku merasakan dua hal sekaligus.

Yang pertama adalah sesuatu yang hangat dan besar, yang memenuhi dadaku sampai hampir sakit. Ia baru saja menjawab. Untuk pertama kalinya dalam empat bulan, ia baru saja memberikan jawaban yang sesungguhnya tentang dirinya sendiri. Bukan lelucon. Bukan bakso. Bukan kamu yang capek. Tiga tahun. Struk restoran. Kata-kata yang gratis.

Yang kedua adalah sesuatu yang kecil dan dingin, yang muncul di dasar perutku, persis seperti malam ia mengirim pacarku nggak bisa bohong.

Kamu nggak bisa bohong ke aku.

Bukan aku percaya kamu. Bukan aku tahu kamu nggak akan bohong.

Kamu nggak bisa.

Malam itu aku sadar: ia tidak sedang percaya padaku. Ia percaya pada cegukanku.

Itu bukan salahnya. Aku mengerti kenapa. Tiga tahun dengan kalimat-kalimat yang terdengar benar tapi tidak. Tentu saja ia memilih sesuatu yang tidak bisa berpura-pura. Tentu saja ia merasa aman dengan pria yang tubuhnya sendiri adalah alat bukti.

Tapi kalau suatu hari cegukan itu tidak ada lagi…

Aku tidak menyelesaikan pikiran itu. Aku menyimpannya di tempat yang sama dengan kertas kuning di buku hitam. Sesuatu yang belum siap diucapkan.

Mika masih menatapku. Menunggu. Matanya basah dan bibirnya tersenyum dan rambutnya sedikit berantakan dari bersandar di pintu mobil.

Aku melepas sabuk pengamanku.


Aku tidak bertanya. Aku tidak meminta izin dengan kata-kata.

Aku mengulurkan tangan, menyentuh rahangnya, dan menariknya ke arahku melewati konsol tengah. Dan aku menciumnya.

Bukan seperti di taman villa. Di taman villa, aku menciumnya pelan, hati-hati, seperti seseorang yang baru belajar.

Ini bukan pelan.

Ini adalah semua yang kutahan sejak kemarin. Pena merah yang patah. Empat belas tick mark yang tidak perlu. Makin cantik juga. Dua kali hik. Tiga tahun yang ia ceritakan dengan suara bergetar. Dan sesuatu yang kecil dan dingin di dasar perutku yang ingin kupadamkan dengan sesuatu yang hangat.

Ia terkejut. Aku merasakannya, sepersekian detik, napasnya yang tertahan di bibirku. Lalu tangannya mencengkeram kerah kemejaku dan menarikku lebih dekat. Lebih dalam.

Konsol tengah menekan rusukku. Aku tidak peduli. Tanganku di rambutnya, di belakang lehernya. Tangannya di dadaku, lalu di wajahku, jari-jarinya di rahangku seolah ia sedang memastikan aku nyata.

Waktu berhenti dihitung.

Ketika akhirnya kami berpisah, napas kami sama-sama terengah. Dahiku di dahinya. Bibirnya merah. Matanya setengah terpejam.

Kaca mobil berembun. Semuanya. Depan, samping, belakang. Lampu parkiran yang setengah mati sekarang hanya terlihat sebagai noda kuning samar di balik kabut putih.

Mika membuka mata. Menatap kaca depan. Lalu menatapku.

“Arsa,” bisiknya. Suaranya serak.

“Hm.”

“Itu tadi… kamu yang mulai.”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah mulai yang… kayak gitu.”

“Aku tahu.”

Ia menatapku lama. Lalu tersenyum, pelan, dan menyentuh bibirku dengan ujung jarinya, seperti seseorang yang menyentuh sesuatu yang baru ia temukan.

“Ternyata,” katanya, “Pak Supervisor kalau cemburu bahaya juga.”

Aku tidak menjawab. Telingaku terbakar. Leherku terbakar.

Ia tertawa kecil dan menulis sesuatu di kaca jendela samping yang berembun dengan ujung jarinya. Sebuah tick mark. Miring. Tidak presisi. Seperti biasanya.


Aku mengantarnya sampai lobi.

Di depan lift, ia berbalik untuk mengucapkan selamat malam. Tapi sebelum ia sempat bicara, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.

Aku memeluknya dari belakang.

Tanganku melingkar di pinggangnya. Daguku di bahunya. Pipiku di pipinya, yang masih hangat. Ia membeku sesaat, lalu bersandar ke dadaku, dan meletakkan tangannya di atas tanganku.

Kami berdiri seperti itu di depan lift. Satpam apartemen, yang sudah mengenali mobilku, membalik koran paginya ke halaman olahraga dengan sangat sengaja.

“Mika.”

“Hm?”

Aku ingin mengatakannya. Sesuatu yang kecil dan dingin di dasar perutku. Kamu percaya aku, atau percaya cegukanku?

Tapi ia baru saja menceritakan tiga tahun yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia baru saja menjawab, untuk pertama kalinya. Ia baru saja menulis tick mark di kaca mobilku.

Aku tidak mau merusak malam ini dengan pertanyaan yang aku sendiri takut mendengar jawabannya.

“Selamat malam,” kataku.

Lalu aku mencium keningnya. Pelan. Di tempat yang sama seperti di depan pagar setelah kencan pertama kami.

Pintu lift terbuka. Ia masuk. Berbalik. Menatapku dengan senyum yang lebih lembut dari senyum mana pun yang pernah kulihat di wajahnya.

“Selamat malam, Pak Cemburu.”

Pintu tertutup.


Di mobil, kaca masih berembun. Tick mark-nya masih ada di jendela samping, mulai memudar.

Aku tidak langsung menyalakan mesin. Aku duduk di sana, di parkiran basement yang sepi, dan menatap tick mark yang miring itu sampai embunnya menguap dan tanda itu hilang.

Sama kamu aku tenang. Kamu nggak bisa bohong ke aku.

Aku membuka buku hitam dan menulis di halaman yang sama dengan Hal yang belum kuucapkan: 1.

Hal yang belum kuucapkan: 2. Aku takut kamu lebih sayang cegukanku daripada aku.

Aku menatap tulisan itu.

Lalu menutup buku itu, menyalakan mesin, dan menyetir pulang ke Rawamangun dengan bibir yang masih terasa hangat dan dada yang terasa terlalu penuh dan terlalu kosong sekaligus.

Di rumah, Eyang masih terjaga, duduk di kursi goyang di teras dengan secangkir teh.

“Le,” katanya saat aku membuka pagar. “Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Eyang.”

Aku menunggu cegukan.

Tidak ada cegukan.

Mungkin karena itu benar. Mungkin aku memang tidak apa-apa. Malam ini sempurna. Aku baru mencium pacarku sampai kaca mobil berembun. Ia baru menceritakan rahasianya. Ia memanggilku Pak Cemburu.

Eyang menatapku lama dari kursi goyangnya, dengan tatapan seseorang yang pernah melihat wajah yang sama, lima puluh tahun yang lalu, di wajah orang lain.

“Masuk, Le,” katanya akhirnya. “Udara malam nggak bagus. Nanti kamu masuk angin.”

Aku masuk.

Tiga minggu kemudian, aku masuk angin. Lalu demam. Lalu tipes.

Dan setelah itu, tidak ada yang sama lagi.