Chapter Thirty Five
Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
POV: Mika
Hari Kamis, satu kantor berbohong padaku.
Mereka berbohong dengan sangat, sangat buruk.
Pukul sembilan pagi, Juned lewat mejaku membawa satu tas belanja besar yang berbunyi gemerincing setiap kali ia melangkah. Ujung kabel lampu tumblr menjulur keluar dari tasnya.
“Itu apa, Ned?”
“Charger,” kata Juned. Lalu mempercepat langkahnya.
Pukul sebelas, Tiara datang ke mejaku dengan wajah yang terlalu ceria. “Kak! Kakak nanti malam ada acara?”
“Belum tahu. Kenapa?”
“Nggak apa-apa! Cuma nanya!” Tiara tertawa terlalu keras. “Kakak jangan pulang cepet, ya! Eh, maksudnya, terserah Kakak! Tapi jangan pulang cepet!”
Pukul satu, Pak Hendro mampir ke mejaku tanpa alasan, berdiri di sana selama tiga puluh detik, menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata “kamu anak baik, Mik” dan pergi.
Pukul tiga, Bu Lastri naik ke lantai 15. Ia lewat mejaku. Ia tidak berhenti. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia meletakkan sepotong bakwan di atas tisu di sebelah keyboard-ku.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Bu Lastri mengedipkan satu mata.
Aku menatap bakwan itu sangat lama.
Arsa tidak ada di mejanya sejak pukul empat.
Pukul lima, Oci mengirimiku pesan. Oci, yang kantornya di Senayan, yang tidak pernah mengirimiku pesan di jam kerja kecuali untuk hal darurat seperti diskon skincare.
Mik. Jangan pulang dulu. Jangan tanya kenapa. Pakai lipstik yang merah bata. Yang aku kasih ulang tahun kemarin. Ada di tas kamu, kantong depan, aku udah masukin tadi pagi.
Aku membuka kantong depan tasku. Lipstik merah bata. Aku tidak tahu kapan Oci memasukkannya. Aku tidak tahu bagaimana Oci bisa masuk ke tasku tadi pagi.
Pukul enam lewat empat puluh, ponselku bergetar lagi.
Ninis.
Mbak. Rooftop. Jam 7. Jangan bilang aku yang bilang. Eh, maksudnya, aku nggak bilang apa-apa. Mbak nggak dapet pesan ini. Hapus pesan ini.
Aku tidak menghapusnya.
Aku menatapnya. Lalu menatap meja Arsa yang kosong. Lalu menatap sticky note-sticky note di dinding kubikelku. Tujuh kebenaran dari Arsa, masing-masing sekarang dengan tick mark miringku. Dan satu yang paling baru, yang kutempel tadi pagi, yang kutulis tiga hari lalu dan kusalin lagi supaya aku bisa melihatnya.
Kebenaran #2 dari aku: apa pun jawabannya, jawabanku iya.
Aku mengambil lipstik merah bata dari kantong depan tasku.
Pintu ke rooftop ada di ujung tangga darurat, satu lantai di atas lantai 15. Pintu besi abu-abu dengan tulisan DILARANG MASUK — KHUSUS PETUGAS.
Pintu itu tidak terkunci.
Aku membukanya.
Udara malam Jakarta menyambutku. Hangat, sedikit lembap, berbau hujan yang belum turun. Langit sudah gelap, ungu tua di ujung barat. Gedung-gedung Kuningan menyala di sekeliling seperti hutan kaca dan cahaya.
Dan pagar rooftop dililiti lampu tumblr.
Lima puluh meter. Kuning hangat. Melingkari seluruh pagar, berkelip-kelip pelan. Di tengah rooftop, sebuah meja kecil dengan taplak putih. Di atasnya, dua cangkir teh. Dan satu toples kaca.
Toples OBAT JUJUR.
Arsa berdiri di samping meja.
Kemeja putih. Bukan biru muda seperti biasa. Putih, disetrika licin, lengan tidak digulung. Rambut disisir rapi. Wajahnya, aku sadar, sedikit berbeda dari biasanya. Lebih segar. Kantung matanya hilang. Oci.
Ia menatapku.
Aku menatapnya.
Lalu lampu tumblr padam.
Semua. Lima puluh meter. Sekaligus.
Rooftop gelap gulita, hanya diterangi cahaya gedung-gedung di sekeliling.
Dari balik tangki air di sudut rooftop, terdengar suara Juned, berbisik panik: “Sekringnya! Sekringnya turun! Colokannya kebanyakan!”
Suara Tiara: “Ned, kamu colok berapa?!”
“Tiga extension! Sama magic com!”
“KENAPA ADA MAGIC COM?!”
“Pak Hendro mau nasi anget buat syukuran!”
Lalu, dari balik tumpukan kursi plastik di sudut lain, sebuah suara: “Hatchiii!”
Pak Hendro. Bersin. Keras.
Hening.
“Hatchiii!”
Dua kali.
Aku menutup mulutku dengan tangan. Bahuku bergetar.
Lalu, dari arah pintu tangga darurat di belakangku, seberkas cahaya menyorot.
Senter.
“Ada orang di atas, Pak?” suara Pak Mamat, satpam malam, dengan nada seorang pria yang sudah dua puluh tahun berpatroli dan sudah melihat segalanya. “Rooftop ini dilarang—”
Senternya menyorot ke tengah rooftop. Tepat ke wajah Arsa.
Wajah Arsa yang datar. Wajah Arsa yang kaku. Wajah Arsa dengan telinga merah. Merah sampai ke leher. Merah sampai ke kerah kemeja putihnya. Merah yang belum pernah kulihat sejelas ini, karena belum pernah ada senter yang menyorotnya tepat di wajah di tengah kegelapan rooftop.
Pak Mamat menatap Arsa. Arsa menatap Pak Mamat.
Pertemuan ketiga mereka.
“…Oh,” kata Pak Mamat pelan. “Bapak yang di toilet.”
Senternya turun. Ia menatapku. Menatap toples di meja. Menatap tumpukan kursi tempat Pak Hendro bersembunyi, dari mana terdengar suara hidung yang ditahan.
“Silakan dilanjut, Pak,” kata Pak Mamat.
Lalu ia mematikan senternya, mundur ke tangga darurat, dan menutup pintu dengan sangat pelan.
Lampu tumblr menyala lagi. Lima puluh meter. Kuning hangat. Juned berhasil menaikkan sekring.
Dari balik tangki air, terdengar suara Juned berbisik “maaf, maaf, magic com-nya udah saya cabut”.
Arsa masih berdiri di samping meja. Telinganya masih merah. Ia tidak menoleh ke tangki air atau tumpukan kursi. Ia hanya menatapku.
Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Melewati lampu-lampu kuning di pagar. Sampai jarak kami tinggal satu langkah.
“Arsa,” kataku.
“Mika.”
“Ada yang bersembunyi di balik tangki air.”
“Aku tahu.”
“Pak Hendro bersin dua kali.”
“Aku tahu.”
“Pak Mamat lihat semuanya.”
“Pertemuan ketiga.”
Aku tertawa. Tidak bisa menahannya.
Ia tidak tertawa. Ia menarik napas. Panjang. Seperti seseorang yang sudah berlatih kalimat ini di depan cermin toilet sebelas kali dan akhirnya akan mengucapkannya tanpa latihan.
Lalu ia bicara.
“Satu pertanyaan hari ini,” katanya.
Aku berhenti tertawa.
“Dari aku.”
Enam bulan.
Enam bulan, kalimat itu milikku. Satu pertanyaan hari ini. Pasal 2. Senjataku. Jebakan manisku. Cara aku membuat pria paling kaku se-Kuningan tersipu, cegukan, bilang pass sampai satu kantor menyebutnya modem rusak.
Enam bulan, ia tidak pernah memakai kalimat itu. Ia punya jatah, Pasal 4, tapi ia tidak pernah bilang satu pertanyaan hari ini. Ia hanya bertanya, pelan, dan mencatat jawabanku yang bukan jawaban di buku hitamnya.
Sekarang ia mengucapkannya.
Kalimatku. Di mulutnya. Dengan suara yang bergetar sedikit di bawah permukaan yang datar.
Ia mengambil toples OBAT JUJUR dari meja. Membuka tutupnya.
Di dalamnya, permen jahe berbungkus kuning. Penuh sampai atas. Stok yang kuisi diam-diam hari Selasa.
Dan di tengah permen-permen itu, di antara bungkus-bungkus kuning, sesuatu berkilau di bawah cahaya lampu tumblr.
Sebuah cincin.
Emas. Sederhana. Satu batu kecil bening di tengahnya. Goresan halus di sisinya.
Aku mengenali cincin itu. Aku pernah melihatnya di foto pernikahan yang tergantung di ruang tengah Rawamangun. Di jari manis seorang gadis penjual kain yang menatap kamera dengan senyum berani, di sebelah pegawai bank berwajah datar yang difoto seperti untuk paspor.
Arsa mengambil cincin itu dari antara permen jahe. Memegangnya di antara dua jari.
Ia tidak berlutut. Arsa tidak akan berlutut. Itu terlalu dramatis, terlalu tidak efisien, terlalu tidak Arsa.
Ia hanya berdiri di depanku. Tegak. Dengan cincin Eyang di tangannya dan telinga merah sampai leher dan mata yang tidak lepas dari mataku.
“Kamu mau menikah sama aku?”
Aku tidak menunggu.
Tidak satu detik. Tidak dua detik. Tidak menghitung. Tidak mendengarkan. Tidak mencari apa pun di wajahnya, di telinganya, di jantungnya.
“Iya,” kataku.
Langsung. Tanpa bertanya balik. Tanpa kamu yakin? Tanpa kenapa aku? Tanpa candaan, tanpa godaan, tanpa perisai.
Iya.
Arsa menatapku. Wajahnya tidak bergerak selama satu detik. Lalu sesuatu runtuh di wajahnya. Pelan. Dari mata, ke pipi, ke bibir. Seperti air pasang yang akhirnya mencapai pantai.
Ia mengambil tangan kiriku. Tangannya gemetar. Tangan yang biasanya menggambar tick mark paling presisi se-Wiratama & Partners, gemetar seperti tangan anak SMP yang baru pertama kali memegang tangan seseorang.
Ia memasangkan cincin itu di jari manisku.
Pas. Sempurna. Seolah cincin itu memang menunggu lima puluh tahun untuk jari ini.
Aku menatap cincin itu. Lalu menatapnya.
Dan di sanalah, dengan cincin Eyang di jariku dan lampu tumblr berkelip di sekeliling kami dan kantor yang bersembunyi dengan sangat buruk di balik tangki air, aku melakukan sesuatu yang sangat Mika.
Aku tersenyum. Senyum iseng. Senyum yang sudah tiga minggu tidak kupakai.
“Arsa.”
“Hm.”
“Coba bilang kamu nggak cinta aku.”
Ia menatapku. Bingung. “Kenapa?”
“Iseng. Coba aja.”
Ia menghela napas. Pasrah. Seperti seseorang yang sudah enam bulan dikerjai oleh perempuan yang sama dan sudah menerima nasibnya.
“Aku nggak cinta kamu,” katanya.
Satu detik.
HIK!
Hening.
Hening total. Hening yang punya berat. Hening yang memenuhi rooftop sampai ke ujung-ujung pagar dan menekan suara kota di bawah kami sampai tidak terdengar.
Arsa membeku.
Aku membeku.
Matanya membesar. Tangannya terangkat ke tenggorokannya, seolah ingin memastikan suara itu benar-benar datang dari sana.
Dari balik tangki air, terdengar suara Juned berbisik: “Itu… itu tadi…”
Dari balik tumpukan kursi, suara Pak Hendro, tertahan: “Itu hik?”
Aku menatap Arsa.
Arsa menatapku.
Dua puluh dua tahun. Lalu satu bulan hilang. Lalu tujuh kebenaran tanpa ditanya. Lalu enam puluh satu jawaban. Lalu aku percaya di koridor ruang arsip.
Dan sekarang, di rooftop, dengan cincin Eyang di jariku, setelah aku memutuskan bahwa aku tidak butuh bukti lagi:
Hik.
Aku tertawa.
Atau mungkin menangis. Aku tidak tahu. Yang keluar dari mulutku adalah suara yang setengah tawa, setengah isak, dan air mata langsung mengalir dan aku tidak bisa menghentikannya.
Arsa juga tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa yang sesungguhnya keluar dari dadanya tanpa ditahan. Keras. Lepas. Matanya basah. Tangannya masih di tenggorokannya.
“Kembali,” katanya di sela tawa. “Kembali, Mika. Kenapa kembali?”
“Aku nggak tahu!” Aku tertawa dan menangis bersamaan, memegangi lengannya supaya tidak jatuh. “Aku udah nggak butuh! Aku udah bilang aku nggak butuh bukti! Kenapa sekarang?!”
Kami tertawa sampai harus berpegangan satu sama lain. Sampai kakiku lemas. Sampai Arsa harus memelukku supaya kami berdua tidak terjatuh ke lantai rooftop.
Dan dari balik tangki air, dari balik tumpukan kursi, dari balik pintu tangga darurat, mereka berhamburan keluar.
Juned dengan ujung kabel lampu tumblr di tangan. Tiara dengan dua ponsel, satu masih merekam siaran langsung untuk @ArMi.official yang sekarang ditonton sebelas ribu orang. Oci dengan tas kosmetik dan air mata yang merusak maskaranya sendiri. Ninis dengan papan klip yang ia lupa bawa tadi siang dan sekarang dipeluk erat di dadanya.
Pak Hendro dengan hidung merah karena bersin dan tiga lembar teks pidato yang diremas di tangannya.
Bu Lastri, entah sejak kapan, berdiri di dekat pintu dengan sepotong pisang goreng.
“KEMBALI!” teriak Juned. “CEGUKANNYA KEMBALI!”
“Aku rekam!” teriak Tiara. “Aku rekam semuanya! Sebelas ribu orang lihat!”
Ninis menabrak kami berdua dan memeluk kakaknya dan aku sekaligus, menangis keras di bahu Arsa. “Mas! Mas! Mbak bilang iya! Mbak bilang iya dan Mas cegukan!”
Pak Hendro berdiri di belakang mereka, menangis tanpa suara, menelepon seseorang. “Ma? Ma, mereka udah. Dia bilang iya. Terus cegukannya balik, Ma. Iya, balik. Papa juga nggak ngerti.”
Bu Lastri tidak menangis. Bu Lastri tidak tertawa. Bu Lastri hanya berdiri di dekat pintu, menggigit pisang gorengnya.
Lalu, pelan, sudut bibirnya terangkat.
Hanya sedikit. Hanya sepersekian detik. Lalu kembali datar.
Tapi aku melihatnya. Dan dari wajah Juned yang tiba-tiba membeku dengan mulut terbuka, ia juga melihatnya.
Semua orang memeluk semua orang. Tiara memeluk Oci. Juned memeluk Pak Hendro. Ninis tidak melepaskan pelukannya dari kami berdua.
Dan di tengah semua itu, Arsa menatapku.
Ia mengangkat dua tangannya ke wajahku. Menghapus air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Di tulang pipiku. Di tempat yang sama seperti hari pertama, saat aku menghapus tinta merah dari rahangnya.
Lalu ia menciumku.
Di depan semua orang. Di depan sebelas ribu penonton siaran langsung. Di bawah lampu tumblr yang berkelip.
Dalam. Lama. Seperti seseorang yang baru saja diberi jawaban yang sudah ia tunggu sejak tanggal 2 Januari, sejak kertas kuning yang ditulis tujuh kali. Seperti seseorang yang baru saja diberi kembali sesuatu yang ia kira hilang selamanya, tepat di saat ia sudah belajar hidup tanpanya.
Aku memeluk lehernya. Menciumnya balik. Dengan cincin Eyang di jariku dan lipstik merah bata yang pasti sudah berantakan dan air mata yang masih mengalir.
Di sekeliling kami, orang-orang bersorak. Juned bersiul. Ninis berteriak. Tiara menjerit ke ponselnya. Pak Hendro tertawa sambil menangis ke telepon.
Ketika akhirnya kami berpisah, napas kami terengah. Dahinya di dahiku.
Aku menatapnya. Senyum iseng itu kembali lagi di wajahku. Aku tidak bisa menahannya.
“Bilang lagi,” bisikku.
Ia tahu apa maksudku. Ia menghela napas. Pasrah.
“Aku nggak cinta kamu.”
Hik.
Aku menciumnya.
“Lagi.”
“Aku nggak cinta kamu.”
Hik.
Aku menciumnya lagi.
“Lagi.”
“Mika—”
“Lagi.”
“Aku nggak cinta kamu.”
Hik.
Ciuman. Tawa. Hik. Ciuman lagi.
Di belakang kami, Tiara berbisik ke ponselnya, suaranya bergetar: “Pemirsa @ArMi.official yang terhormat. Malam ini, di sebuah rooftop di Kuningan, kapal kita resmi berlabuh.”
Malam itu, setelah semua orang pulang, setelah Juned membereskan lampu tumblr dan Pak Hendro membagikan nasi dari magic com yang akhirnya dicolokkan lagi dan Bu Lastri mengunci pintu rooftop dengan kunci evakuasi daruratnya, aku duduk di mobil Arsa di parkiran basement.
Cincin Eyang di jariku. Toples OBAT JUJUR di pangkuanku.
“Arsa.”
“Hm.”
“Satu pertanyaan hari ini.”
Ia menoleh. Tersenyum. “Kamu sudah pakai jatahmu. Coba bilang kamu nggak cinta aku.”
“Itu bukan pertanyaan. Itu perintah.”
Ia menatapku. Lalu mengangguk pelan. “Tanya.”
Aku memutar cincin di jariku. Pelan.
“Kenapa kembali?”
Arsa diam lama. Menatap ke depan, ke dinding parkiran basement yang abu-abu.
“Aku nggak tahu,” katanya. “Kakung juga nggak pernah tahu.”
“Kakung?”
“Eyang belum cerita bagian tiga.” Ia menoleh padaku. Tersenyum kecil. “Eyang bilang, nanti. Di hari pernikahan.”
Aku menatapnya.
Lalu aku tertawa. Dan memeluk toples OBAT JUJUR di pangkuanku. Dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Aku nggak sabar,” kataku.
Tidak ada cegukan.
Karena itu aku. Aku bisa bohong. Aku selalu bisa bohong.
Tapi kali ini, aku tidak sedang berbohong.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku reading
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus