← Hik! Itu Bohong

Chapter Fifteen

Tadi Malam Kamu Mau Apa?

POV: Mika

Jakarta pukul empat pagi tanggal 1 Januari adalah kota yang sedang tidur setelah pesta.

Tol dari Cikarang kosong. Benar-benar kosong. Hanya ada beberapa mobil, sisa-sisa terompet kertas di bahu jalan, dan langit yang mulai berubah dari hitam ke biru tua di ufuk timur. Lampu-lampu jalan masih menyala, berbaris lurus ke arah kota seperti pita kuning yang tidak ada habisnya.

Pak Hendro membawa Juned pulang di mobilnya. Arsa membawaku.

Mobilnya sudah keluar dari bengkel. Sedan hitam yang selalu wangi pembersih dasbor dan teh. Aku duduk di kursi penumpang, masih memakai jaketnya. Ia tidak memintanya kembali. Aku tidak menawarkan.

Lengan jaket itu terlalu panjang. Aku menggulungnya dua kali, seperti cara ia menggulung lengan kemejanya. Wanginya sabun dan teh dan sedikit minyak goreng dari gudang. Aku menenggelamkan dagu di kerahnya dan berpura-pura itu karena dingin.

Kami tidak bicara selama dua puluh menit pertama.

Bukan diam yang canggung. Diam yang penuh. Seperti ruangan yang terisi sesuatu yang tidak terlihat. Di radio, penyiar dengan suara serak memutar lagu-lagu lama dan mengucapkan selamat tahun baru kepada para pendengar yang masih terjaga.

Aku melirik Arsa. Ia menyetir dengan dua tangan. Wajahnya datar. Tapi pipi kirinya, tempat aku menciumnya, entah kenapa terlihat sedikit lebih merah dari pipi kanannya.

Mungkin aku berhalusinasi. Mungkin itu bayangan lampu jalan.

Aku memutuskan itu bukti.


Di gerbang tol Cikunir, aku tidak tahan lagi.

“Arsa.”

“Hm.”

“Ini udah tanggal satu. Hari baru. Jatah pertanyaan baru.”

“Kamu belum tidur.”

“Hari baru itu dihitung dari jam dua belas, bukan dari bangun tidur. Itu standar akuntansi.”

“Itu bukan standar akuntansi.”

“Pasal delapan.”

Ia menghela napas. Panjang. Pasrah. “Tanya.”

Aku memutar badan di kursi, menghadapnya, menyandarkan kepala di sandaran jok. Lampu jalan lewat satu per satu, menerangi wajahnya, lalu gelap, lalu terang lagi.

“Tadi malam,” kataku pelan, “di atap. Sebelum Pak Hendro teriak.”

Ia menggenggam setir lebih erat. Aku melihat buku-buku jarinya memutih sedikit.

“Kamu mau cium aku?”

Hening.

Lampu jalan. Gelap. Lampu jalan.

Aku menghitung. Satu detik. Dua detik. Lima detik.

“Pass,” katanya.

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar begitu saja, dari perut, dari tempat yang sudah menahan sesuatu sejak pukul dua belas malam. Aku tertawa sampai membungkuk, sampai memeluk perutku sendiri, sampai air mata keluar dan aku harus mengusapnya dengan lengan jaketnya yang kepanjangan.

“Pass,” ulangku, terengah-engah. “Pass! Kamu bilang pass! Arsa, kamu tahu kan pass itu artinya apa? Ninis udah umumin ke satu RT!”

“Secara teknis—”

“Jangan.” Aku mengacungkan telunjuk ke wajahnya, masih tertawa. “Jangan secara teknis aku. Nggak hari ini.”

Ia menutup mulutnya.

Aku melihat telinganya. Merah. Lehernya. Merah. Pipinya, kedua pipinya, merah. Merah yang naik pelan-pelan seperti fajar yang sedang muncul di ufuk timur di depan kami.

Aku berhenti tertawa. Aku menatapnya. Lama.

Lalu, karena aku memang tidak pernah tahu kapan harus berhenti, aku bertanya lagi.

“Arsa.”

“Itu pertanyaan kedua.”

“Aku tahu.” Suaraku turun. Pelan. Setengah berbisik. “Kamu nggak lagi lihatin bibirku sekarang, kan?”

Ia sedang melirikku. Dari sudut matanya. Di lampu merah terakhir sebelum Semanggi, saat mobil berhenti dan ia punya alasan untuk tidak menatap jalan.

Ia langsung menatap lurus ke depan.

“…Pass.”

Lampu hijau. Ia menginjak gas sedikit terlalu keras. Aku tertawa lagi, tapi kali ini lebih pelan, dan aku tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sisa perjalanan.


Di lobi apartemen Setiabudi, pukul lima kurang sepuluh, langit sudah biru muda.

Arsa mematikan mesin. Ia keluar dari mobil, berjalan memutar, membukakan pintuku. Itu belum pernah ia lakukan. Ia tidak berkata apa-apa saat melakukannya, seolah membukakan pintu mobil untukku adalah hal paling wajar di dunia.

Kami berjalan ke pintu kaca lobi. Satpam apartemen tertidur di kursinya, topi menutupi wajah. Lobi kosong dan sunyi, lampunya redup, dan aroma pengharum ruangan bercampur dengan udara pagi yang dingin.

Aku berhenti di depan lift. Membalikkan badan. Menghadapnya.

Aku melepas jaketnya dari bahuku. Menyodorkannya.

Ia menerimanya. Tangannya menyentuh tanganku.

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan. Sesuatu yang tidak ada di spreadsheet, tidak ada di pasal mana pun, tidak ada di daftar strategi godaan yang selama ini kupakai.

Aku memeluknya.

Aku melingkarkan dua tanganku di pinggangnya, menempelkan wajahku di dadanya, dan memeluknya. Bukan pelukan cepat. Bukan pelukan iseng. Pelukan yang sudah lama ingin kulakukan, sejak gudang kerupuk di Cikarang, sejak ia menarikku ke dadanya saat kaleng-kaleng kosong berjatuhan.

Ia membeku. Jaket di tangannya jatuh ke lantai lobi.

Satu detik. Dua detik.

Lalu, perlahan, seperti orang yang belajar sesuatu untuk pertama kalinya, tangannya terangkat. Satu tangan di punggungku. Lalu yang satu lagi. Hati-hati. Seolah aku bisa pecah.

Lalu ia memelukku balik.

Erat. Hangat. Kepalanya menunduk, dan aku merasakan dagunya bersandar di puncak kepalaku. Napasnya di rambutku. Jantungnya di telingaku, berdetak cepat dan keras, seperti seseorang yang baru saja berlari dari Cikarang sampai Setiabudi.

Aku memejamkan mata.

Aku tidak menghitung detik. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung apa pun.

Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri di sana. Satpam masih tidur. Lift datang, terbuka, menunggu, lalu tertutup lagi. Di luar, burung-burung pertama tahun ini mulai berkicau.

Arsa tidak melepaskan.

Aku juga tidak.


Akhirnya, akulah yang mundur.

Bukan karena ingin. Karena aku tiba-tiba sadar wajahku terbakar. Bukan hangat. Terbakar. Dari pipi sampai telinga sampai leher, seperti Arsa saat aku menyentuh lehernya di pantry. Aku, yang menggoda satu lantai. Aku, yang mencuri lima pena dan menyuapi rendang gosong dan mencium pipinya di bawah kembang api.

Aku tidak bisa menatap wajahnya.

“Makasih,” kataku ke arah kancing kemejanya. “Udah nganterin.”

“Mika—”

“Selamat tahun baru!”

Aku menekan tombol lift. Pintu terbuka, karena lift masih di lantai dasar. Aku masuk. Menekan tombol lantai sembilan. Menekan tombol tutup pintu. Menekannya lagi. Menekannya tiga kali.

Sebelum pintu tertutup, aku melihatnya untuk terakhir kali: berdiri di tengah lobi kosong, jaketnya masih di lantai di dekat kakinya, menatapku dengan wajah yang tidak lagi datar. Wajah yang terkejut. Wajah yang bahagia dengan cara yang tidak ia tahu cara menyembunyikannya.

Pintu tertutup.

Aku bersandar ke dinding lift dan meluncur turun sampai duduk di lantai.

Aku menutup wajah dengan dua tangan.

“Ya ampun,” bisikku. “Ya ampun, ya ampun, ya ampun.”

Lantai dua. Lantai tiga. Lantai empat.

Aku kabur. Aku, yang selalu berani. Aku memeluknya dan kabur seperti anak SMA yang baru menaruh surat cinta di loker.


Pintu apartemen terbuka sebelum aku sempat mengambil kunci.

Oci berdiri di ambang pintu dengan piyama bergambar beruang, rambut dikuncir asal, dan ponsel teracung di depan wajahnya. Lampu merah kecil di ponselnya menyala.

Ia sedang merekam.

“Oci—”

“Selamat pagi, pemirsa,” kata Oci ke ponselnya dengan suara presenter berita. “Kita sedang menyaksikan seorang perempuan pulang jam lima pagi di hari pertama tahun baru dengan muka semerah tomat.”

“Kamu ngapain bangun?”

“Aku nunggu dari jam tiga. Aku lihat dari jendela.” Oci mengarahkan kamera ke wajahku dari dekat. “Aku lihat mobil hitam. Aku lihat cowok tinggi bukain pintu. Aku lihat kalian masuk lobi. Aku nggak lihat kalian keluar dari lobi selama… berapa ya…” Ia mengecek jam di ponsel. “Sebelas menit.”

“Sebelas menit?” Aku menatapnya. “Sebelas?”

“Sebelas menit, Mik. Itu bukan pelukan. Itu sewa tempat.”

Aku masuk, melewati Oci, dan langsung menjatuhkan diri ke sofa dengan wajah di bantal.

Oci mengikuti dengan kamera. “Konten,” bisiknya ke ponsel. “Ini konten.”

“Hapus.”

“Nggak.” Oci mematikan kamera, meletakkan ponsel di meja, dan duduk di lengan sofa. Ia menatapku lama, dengan wajah serius seorang dokter yang membaca hasil rontgen.

“Mik.”

“Apa.”

“Kamu kena,” katanya. “Stadium akhir. Udah nggak bisa dioperasi.”

Aku mengangkat wajah dari bantal. “Kamu bilang stadium empat waktu itu.”

“Itu dulu. Sekarang udah menyebar ke seluruh tubuh.” Oci menunjuk wajahku. “Lihat. Kamu senyum sambil marah. Itu gejala terminal.”

Aku menjatuhkan wajah ke bantal lagi.

Oci menepuk punggungku dua kali, lalu pergi ke dapur untuk membuat kopi. Aku mendengar ia bersenandung lagu cinta yang sangat norak.


Aku tidak tidur sampai pukul tujuh.

Aku berbaring di kasur dengan jendela terbuka, menatap langit pagi pertama tahun ini, dan memutar ulang semuanya. Atap gudang. Kembang api. Lebih berani. Pak Hendro dan tiga kaleng. DP. Pass. Pass. Sebelas menit.

Pukul enam lewat lima puluh, ponselku bergetar.

Satu pesan dari Arsa. Teks.

Jaketnya ketinggalan di lobi. Aku sudah ambil. Selamat tahun baru, Mika.

Lalu, satu menit kemudian, pesan kedua.

Aku mau.

Aku menatap dua kata itu.

Aku mau.

Mau apa? Mau cium aku di atap? Mau lihatin bibirku? Mau pelukan lagi?

Aku tidak bertanya. Aku sudah memakai dua jatah hari ini, dan untuk sekali ini, aku tidak butuh jawabannya diperjelas. Teks tidak memicu cegukan. Ia bisa saja tidak mengirim apa-apa. Pass sudah cukup menjawab.

Tapi ia mengirimnya. Dua kata. Di saluran di mana ia bisa berbohong, ia memilih tidak berbohong. Lagi.

Aku memeluk ponselku ke dada, menatap langit-langit, dan tersenyum sampai pipiku pegal.

Lalu, sebelum aku sempat berpikir terlalu banyak, aku mengetik balasan.

Aku tahu.

Kirim.

Aku menatap dua kata yang baru kukirim. Aku tahu. Bukan aku juga. Bukan aku mau juga. Hanya aku tahu, seperti auditor yang menerima bukti dan tidak memberikan apa pun sebagai gantinya.

Aku menatapnya lama.

Lalu meletakkan ponsel di meja samping kasur, menghadap ke bawah, dan memejamkan mata.

Aku tidak menyadari, sampai jauh kemudian, bahwa itu jawaban kedua puluh lima yang tidak benar-benar menjawab.