Chapter Eight
Pass, Pass, Pass
POV: Arsa
Aku tidak tidur.
Temuan: subjek mengungkapkan perasaan kepada anak buahnya sendiri di pantry kantor, pukul 21.24, melalui cegukan. Saksi: satu associate yang sedang mencari charger. Risiko reputasi: tak terhingga.
Aku berbaring di kamarku di Rawamangun, menatap langit-langit yang retak sedikit di pojok sejak gempa tahun lalu, dan mengulang adegan itu di kepalaku seperti rekaman CCTV yang terus diputar ulang oleh penyidik.
Kamu suka aku, ya?
Nggak.
Hik.
Dua puluh dua tahun aku menghindari kebohongan. Dua puluh dua tahun aku memilih diam, memilih pass, memilih kalimat yang secara teknis benar. Dan di saat yang paling penting, aku lupa semuanya dan bilang nggak seperti anak tujuh tahun yang belum gosok gigi.
Lalu jari-jarinya di leherku.
Aku meletakkan tangan di leher, di tempat yang sama. Masih terasa. Itu tidak masuk akal secara medis, tapi masih terasa.
Pukul tiga pagi, Ninis mengetuk pintu kamarku. “Mas. Mas kenapa jalan bolak-balik? Lantainya bunyi. Aku lagi edit video.”
“Nggak apa-apa.”
Hik.
Hening di balik pintu.
“…Mas,” kata Ninis pelan, dengan nada yang sangat berbahaya. “Mas habis ngapain?”
“Pass.”
Aku mendengar Ninis tertawa sampai terbatuk di lorong.
Rencanaku untuk hari itu sederhana: menghindar.
Bukan kabur. Pasal 3 melarang kabur. Menghindar. Aku akan bekerja seperti biasa, menjawab pertanyaan pekerjaan dengan efisien, dan memastikan tidak pernah berada di ruangan yang sama dengan Mika tanpa saksi.
Rencana itu bertahan sampai pukul delapan lewat tiga menit.
“Pagi, Pak Arsa.”
Mika berdiri di samping mejaku. Rambutnya digerai hari ini. Blus putih, rok abu-abu, dan senyum yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa semalam ia kabur dari pantry dengan langkah terlalu cepat. Senyum itu sudah kembali sempurna, seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya sedang menghitung.
“Pagi,” kataku, menatap layar.
“Saya mau pakai jatah saya.”
“Kamu pakai jatah kemarin.”
“Kemarin itu kemarin.” Ia menumpukan dua tangan di tepi mejaku, membungkuk sedikit. “Pertanyaan saya hari ini satu, tapi ada tiga bagian.”
“Itu tidak diatur di perjanjian.”
“Pasal tujuh.”
“Perjanjian kita cuma sampai pasal enam.”
“Barusan saya tambahin.” Ia tersenyum. “Bagian pertama. Sejak kapan?”
Aku menatap layar. Angka-angka di kertas kerja itu tiba-tiba tidak berarti apa-apa.
“Pass.”
“Bagian kedua. Kenapa?”
“Pass.”
Mika memiringkan kepala, dan rambutnya jatuh ke satu sisi, dan aku menyesal pernah memperhatikan bagaimana rambutnya jatuh.
“Bagian ketiga,” katanya, suaranya turun setengah nada, cukup pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengar. “Kamu pernah mimpiin aku?”
Aku menutup mata.
Aku pernah. Dua kali. Satu mimpi tentang gudang kerupuk, satu lagi tentang sayur asem, dan dua-duanya berakhir dengan cara yang tidak akan pernah kuceritakan kepada siapa pun, apalagi kepadanya, apalagi di kantor, apalagi pukul delapan pagi.
“…Pass.”
Kata itu keluar lebih keras dari yang kurencanakan. Tiga meja di sekitar kami menoleh.
Mika menegakkan badan dengan wajah orang yang baru memenangkan lotre tiga kali berturut-turut. “Terima kasih atas kerja samanya, Pak.”
Ia kembali ke mejanya.
Di meja seberang, Juned mencondongkan badan ke arah Tiara dan berbisik, tidak cukup pelan: “Pak Arsa kayak modem rusak. Dari tadi cuma bisa bilang pass.”
Tiara tidak menjawab. Tiara sedang mengetik di ponselnya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Pukul sepuluh, ponselku bergetar. Grup chat tim, Tim Hendro Tick & Tie, yang biasanya hanya berisi jadwal rapat dan stiker dari Pak Hendro.
Bukan. Ini grup lain. Juned baru menambahkanku tanpa sengaja, lalu langsung mengeluarkanku lagi dalam waktu dua detik. Tapi dua detik cukup untuk membaca nama grupnya.
TARUHAN ARMI 💸
Dan pesan terakhir, dari Juned: Saya pasang Desember. Lima puluh ribu.
Di bawahnya, dari Tiara: Januari! Seratus ribu!!
Di bawahnya lagi, dan ini yang membuatku menatap ponsel cukup lama sampai layarnya mati, dari nomor yang kukenal sebagai milik Pak Hendro:
Saya ikut. Februari. Saya tahu Arsa, dia lambat.
Pukul satu siang, Pak Hendro memanggil kami berdua ke ruangannya.
“Sinar Kemas minta dokumen tambahan untuk persiapan audit. Harus diantar langsung, mereka mau ada yang jelasin. Arsa, Mika, kalian berdua ya. Mobil Arsa.” Ia tersenyum sangat lebar. Terlalu lebar. Seperti orang yang sudah memasang taruhan untuk bulan Februari dan ingin mempercepatnya sedikit. “Hati-hati di jalan.”
Aku menatap Pak Hendro. Pak Hendro menatap jendela dan mulai bersiul.
Tol dalam kota pukul dua siang seharusnya tidak macet. Hari itu tol dalam kota memutuskan untuk melawan logika.
Kami berhenti total di dekat Cawang. Di depan, deretan lampu rem merah sampai ke cakrawala. Di radio, penyiar mengumumkan ada truk mogok dua kilometer di depan.
Mika menatap ke luar jendela. Ia diam sejak kami keluar dari parkiran. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada godaan. Hanya diam, dan suara AC, dan suara radio.
Aku memindahkan gigi ke netral. Tangan kiriku tetap di tuas persneling, karena aku tidak tahu harus meletakkannya di mana lagi.
Lalu, tanpa menoleh, Mika meletakkan tangannya di atas tanganku.
Aku berhenti bernapas. Lagi. Aku mulai curiga paru-paruku butuh audit tersendiri.
Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku. Pelan. Satu per satu. Sampai tangan kami bertaut di atas tuas persneling, telapak tangannya hangat di punggung tanganku.
“Biar kamu nggak kabur,” katanya pelan, masih menatap jendela.
“Kita lagi macet.”
“Justru itu. Kesempatan.”
Aku menatap tangan kami. Lalu menatap jalan. Lalu menatap tangan kami lagi.
Macet bergerak. Aku harus memindahkan gigi. Aku memindahkan gigi dengan tangan Mika masih bertaut di atas tanganku. Ia tidak melepaskan. Aku juga tidak memintanya.
Aku menyetir empat belas kilometer berikutnya dengan satu tangan di setir dan satu tangan di tuas persneling yang digenggam seseorang. Aku tidak ingat satu pun rambu. Aku tidak ingat pintu tol mana yang kami lewati. Aku hanya ingat ibu jarinya yang sesekali bergerak, mengusap pelan buku jariku, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.
Di lampu merah dekat Sinar Kemas, Mika akhirnya bicara.
“Pak Arsa.”
“Ya.”
“Santai aja.” Suaranya lembut. Tidak ada godaan di dalamnya. “Aku nggak akan maksa kamu ngomong apa-apa.”
Aku menoleh. Ia menatapku dengan senyum kecil yang tidak sampai ke matanya.
“Yang semalam,” lanjutnya, “anggap aja aku udah tahu. Kamu nggak perlu jelasin. Nggak perlu jawab bagian satu, dua, tiga. Nggak apa-apa.”
Seharusnya aku lega. Ini yang kuinginkan sejak pukul sembilan lewat dua puluh empat semalam. Tidak harus menjelaskan. Tidak harus menjawab. Tidak harus menanggung risiko mengucapkan sesuatu yang benar dan tidak bisa ditarik kembali.
Dan aku memang lega.
Tapi di bawah kelegaan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti selisih kecil di kertas kerja: tidak material, tapi mengganggu.
Ia bilang aku udah tahu. Ia bilang kamu nggak perlu jawab.
Tapi ia tidak bilang apa-apa tentang dirinya sendiri.
Lampu masih merah. Aku masih punya jatah pertanyaan hari ini. Pasal 4.
“Kalau kamu,” kataku pelan, “kamu sendiri gimana?”
Mika berkedip. Sekali. Lalu senyumnya kembali, lebar dan terang, seperti seseorang yang menyalakan semua lampu sekaligus supaya tidak ada yang bisa melihat ke dalam.
“Aku? Aku lapar. Abis ini kita makan bakso ya, Pak. Yang di depan Sinar Kemas katanya enak.”
Lampu hijau.
Aku memindahkan gigi. Tangannya masih di atas tanganku.
Ia menjawab dengan bakso. Seperti ia menjawab kenapa pindah ke Jakarta dengan nyari atasan yang nggak bisa bohong. Seperti ia menjawab semua hal penting dengan senyum dan lelucon dan tangan yang menggenggam erat.
Tangannya menjawab. Mulutnya tidak.
Bakso di depan Sinar Kemas memang enak. Gerobaknya kecil, bangkunya plastik biru, dan abangnya berumur enam puluhan dengan handuk kecil di bahu. Ia meletakkan dua mangkuk di depan kami, menatap Mika, menatapku, lalu tersenyum penuh pengertian.
“Mas-nya pacarnya, ya? Cocok.”
“Bukan, Pak.”
Hik.
Abang bakso mengangkat alis. Mika berhenti meniup kuahnya. Lalu ia menunduk dalam-dalam ke mangkuk, bahunya bergetar, dan aku mendengar suara tawa yang ditahan begitu keras sampai keluar lewat hidung.
Secara teknis, itu bukan kebohongan. Kami memang bukan pacar. Tapi rupanya tubuhku tidak setuju dengan definisi itu, atau tidak setuju dengan kata bukan, dan aku tidak punya waktu untuk menganalisis yang mana.
Abang bakso menepuk bahuku. “Sabar, Mas. Saya dulu juga begitu.” Ia menambahkan dua butir bakso ke mangkukku, gratis, lalu pergi sambil bersiul.
Mika mengangkat wajahnya. Matanya basah oleh tawa. “Bahkan abang bakso, Pak.”
“Pass.”
Ia tertawa lagi sampai harus memegang lenganku supaya tidak jatuh dari bangku plastik.
Malamnya, di kamarku, aku membuka buku catatan kecil bersampul hitam.
Halaman pertama berisi Pena hilang: 1, lalu 2, lalu 3, lalu tisu martabak yang terlipat simetris. Halaman kedua berisi daftar yang kumulai minggu lalu, setelah ia menjawab pertanyaanku dengan nyari atasan yang nggak bisa bohong.
Judulnya, ditulis rapi dengan pena hitam:
Pertanyaan yang belum dijawab.
- Kenapa pindah ke Jakarta?
- Kenapa nggak pernah pakai gula kalau malam? (Dijawab: “Biar bisa tidur.” Tidak jujur. Ia minum kopi jam sepuluh malam di pantry dua hari lalu.)
- Kenapa selalu tanya, nggak pernah jawab?
Aku menulis baris keempat.
- Kamu sendiri gimana? — Dijawab: bakso.
Aku menatap daftar itu.
Empat pertanyaan. Empat jawaban yang bukan jawaban.
Aku bisa menjawab semua pertanyaannya hari ini dengan pass, dan ia tetap tahu jawabannya, karena pass-ku sama transparannya dengan cegukanku.
Tapi ia bisa menjawab semua pertanyaanku dengan senyum, dengan bakso, dengan jari-jari yang bertaut di tuas persneling, dan aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
Ia punya detektor kebohongan.
Aku hanya punya buku catatan.
Aku menutup buku itu, meletakkannya di meja samping kasur, dan menatap langit-langit retak sampai pukul dua.
Tangan kiriku masih ingat di mana tangannya tadi. Tangan itu tidak bisa berbohong juga.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass reading
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus