Chapter Thirty Two
Kebenaran Nomor Tujuh
POV: Arsa
Aku terbangun di mejaku pukul sebelas malam dengan kardigan abu-abu di bahuku.
Aku kenal kardigan itu. Aku membelinya dua tahun lalu di Pasar Baru. Aku meninggalkannya di mobil dua bulan lalu. Mika mencurinya seminggu kemudian dan tidak pernah mengembalikannya.
Wanginya melati dan sedikit kopi.
Aku menatap lantai 15 yang gelap. Kosong. Lift diam di lantai dasar.
Ia datang. Ia datang ke kantor pukul sembilan malam, melihatku tertidur, menyelimutiku dengan kardigan yang ia curi, dan pergi tanpa membangunkanku.
Aku menyentuh rambutku. Entah kenapa, aku punya perasaan seseorang baru saja menyentuhnya.
Aku melipat kardigan itu dengan sangat rapi dan memasukkannya ke tas. Lalu aku menyelesaikan sticky note yang setengah kutulis sebelum tertidur.
Kebenaran #2. Hari Selasa. Sticky note kuning di monitornya, pukul tujuh lewat lima puluh.
Aku suka kamu sejak hari kedua. Bukan hari pertama. Hari kedua. Waktu kamu datang ke mejaku dan bilang “ada yang kabur, Pak, satu juta dua ratus lima puluh ribu”, dengan muka kayak baru menang undian. Tiga senior lolos. Termasuk aku. Kamu nggak pamer. Kamu senang. Aku jatuh cinta sama orang yang senang nemu selisih. ✓
Aku melihatnya membaca dari mejaku. Ia membacanya dua kali. Lalu menutup mulutnya dengan tangan.
Lalu ia menempelkan sticky note itu di dinding kubikelnya. Di sebelah Kebenaran #1.
Tanpa tick mark.
Kebenaran #3. Hari Rabu. Kali ini bukan hanya sticky note.
Aku menempelkan sticky note di monitornya, seperti biasa. Tapi di bawahnya, terlipat dua kali, rapi, simetris, kertas kuning dari blok memo kantor. Kertas yang sudah empat bulan tersimpan di buku hitamku.
Sticky note-nya bertuliskan:
Aku nggak pernah bilang duluan karena aku takut. Bukan takut kamu nolak. Takut kalau aku bilang, kamu cuma akan nanya balik. Atau ketawa. Atau bilang “pass artinya iya” dan nggak pernah kasih aku jawaban.
Jadi aku nunggu kamu yang bilang. Dan kamu bilang. Dan aku bilang pass. Dua kali.
Kertas di bawah ini aku tulis tanggal 2 Januari. Tujuh kali. Aku nggak pernah ngucapinnya. ✓
Aku melihatnya membuka kertas kuning itu.
Mika. Aku mau jadi pacarmu.
Ia menatapnya sangat lama. Lalu meletakkan kepalanya di atas meja, di atas lengannya yang terlipat, kertas kuning itu di genggamannya.
Bahunya bergetar.
Juned, di meja sebelah, menoleh ke arahku dengan mata membesar. Aku menggeleng pelan. Juned mengangguk, lalu memasang headset dan berpura-pura sangat sibuk.
Kebenaran #4. Hari Kamis. Bukan sticky note.
Aku menemukannya di pantry pukul empat sore. Ia sedang membuat teh. Sendirian.
Ia menoleh saat aku masuk. Menatapku. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, matanya tidak mencari. Ia hanya menatap. Menunggu.
Aku berdiri di depannya. Jaraknya satu langkah.
“Kebenaran nomor empat,” kataku.
Ia meletakkan cangkir tehnya.
“Malam tahun baru,” kataku. “Di atap gudang. Waktu kamu tanya resolusiku dan aku bilang lebih berani. Aku memang mau cium kamu. Aku udah nunduk. Kalau Pak Hendro nggak teriak soal satpam, aku udah cium kamu.”
Mika menatapku. Pipinya mulai memerah.
“Kamu tanya di mobil subuh-subuh,” lanjutku. “Aku bilang pass. Seharusnya aku bilang iya. Aku mau. Aku mau sejak sebelum kembang api. Aku mau sejak gudang di Cikarang, waktu kaleng kosong jatuh dan aku nggak mau lepasin kamu.”
Aku mengulurkan tangan dan mengambil tangannya. Ia membiarkanku.
Lalu aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan. Sesuatu yang kulihat Kakung lakukan pada Eyang di foto pernikahan mereka yang tergantung di ruang tengah.
Aku mengangkat tangannya dan mencium buku-buku jarinya.
Pelan. Satu kali.
Mika berhenti bernapas. Aku merasakannya di jari-jarinya, yang tiba-tiba diam di tanganku.
Aku menurunkan tangannya. Melepaskannya.
“Itu bukan pertanyaan,” kataku. “Itu bukan jawaban. Itu cuma… yang benar. Yang seharusnya kubilang dari dulu.”
Aku keluar dari pantry.
Di belakangku, aku mendengar suara cangkir yang diletakkan terlalu keras, dan suara seseorang yang menarik napas panjang dan bergetar.
Satu kantor tahu dalam satu jam.
Bukan karena aku memberi tahu. Karena Tiara, yang sudah hiatus dari @ArMi.official selama enam hari, melihat Kebenaran #1 sampai #3 tertempel berjajar di dinding kubikel Mika, dan menangis di depan dispenser, dan Juned bertanya kenapa, dan Tiara menunjuk dinding kubikel itu, dan Juned membaca, dan Juned juga menangis.
Lalu Juned melakukan sesuatu yang sangat Juned.
Ia datang ke mejaku hari Jumat pagi dengan buku catatan PROYEK DETEKTOR yang sudah ditempeli selotip baru. Tulisan di selotip itu: PROYEK KEBENARAN.
“Pak,” bisiknya penuh semangat. “Saya mau bantu.”
“Bantu apa?”
“Kebenaran nomor lima. Saya udah tulis drafnya.” Ia membuka buku catatannya. Membaca dengan suara dramatis: “‘Mika, kamu adalah bintang yang bersinar di langit malam akuntansiku. Tanpamu, neracaku tidak pernah seimbang.’”
Aku menatapnya.
“Itu tidak benar,” kataku.
“Itu puitis, Pak!”
“Neracaku selalu seimbang. Itu tugasku.”
Juned membalik halaman. “Oke, oke. Draf dua. ‘Kamu adalah aset tak berwujud paling berharga dalam laporan posisi keuanganku.’”
“Aset tak berwujud harus diamortisasi. Itu artinya nilainya berkurang tiap tahun.”
Juned menatap buku catatannya. Lalu menatapku. “…Oke, itu jelek.”
Draf tiga sampai draf sembilan bernasib sama. Semuanya terlalu puitis. Semuanya tidak benar. Juned akhirnya menutup bukunya dengan helaan napas panjang.
“Pak Arsa susah banget dibantu,” keluhnya.
“Aku cuma bisa nulis yang benar.”
“Tapi yang benar itu nggak puitis, Pak!”
“Itu bukan masalahku.”
Juned kembali ke mejanya. Lalu menoleh. “Pak. Nomor lima apa?”
“Besok kamu baca.”
Juned mengangguk. Lalu berbisik ke Tiara, cukup keras untuk satu lantai dengar: “Besok, Ti. Episode baru.”
Dan memang, seperti episode baru.
Hari Senin, pukul tujuh lewat empat puluh, sebelum Mika datang, Juned dan Tiara sudah berdiri di dekat meja dekat jendela. Lalu Pak Hendro bergabung, dengan secangkir kopi, berpura-pura melihat pemandangan Kuningan. Lalu tiga anak tim pajak dari lantai 14 yang entah bagaimana tahu.
Mereka semua menunggu. Seperti penonton yang menunggu episode baru drama favorit mereka diunggah.
Aku menempelkan sticky note saat mereka semua menatap. Aku tidak peduli lagi.
Kebenaran #5.
Aku kangen cegukanku.
Bukan karena aku mau nggak bisa bohong lagi. Aku suka bisa bilang “rapatnya bagus” ke Pak Hendro tanpa malu.
Aku kangen karena dulu kamu percaya sama aku tanpa aku harus berusaha. Dan aku baru sadar, selama ini aku nggak pernah berusaha. Cegukanku yang berusaha. Aku cuma diam.
Sekarang aku berusaha. Ini usahaku. ✓
Tiara menangis. Juned menangis. Salah satu anak tim pajak menangis.
Pak Hendro membaca sticky note itu tanpa ekspresi. Lalu ia berjalan ke ruangannya dengan sangat cepat, menutup pintu, dan dari balik dinding kaca yang tirainya tidak sepenuhnya tertutup, aku melihatnya duduk di kursinya, mengusap mata dengan tisu, lalu mengambil ponsel dan menelepon.
Aku tahu siapa yang ia telepon.
Pukul sepuluh, @ArMi.official kembali dari hiatus.
Satu postingan. Foto blur dinding kubikel dengan lima sticky note kuning berjajar. Tidak ada tulisan yang bisa dibaca. Hanya kotak-kotak kuning dan tick mark merah kecil di sudutnya.
Caption: Badai belum reda. Tapi seseorang mulai membangun mercusuar. Satu kebenaran setiap hari. 🚢✓
Lima ribu pengikut.
Mika menempelkan Kebenaran #5 di dinding kubikelnya. Di sebelah #4, yang ia tulis sendiri di sticky note kosong setelah pantry hari Kamis, karena #4 tidak pernah ada dalam bentuk kertas. Ia menulisnya dengan tulisan tangannya yang miring: #4: Atap gudang. Dia memang mau. (Dikasih tahu langsung. Dicium di tangan.)
Lima sticky note. Berjajar. Tanpa satu pun tick mark darinya.
Ia tidak menghampiriku. Ia tidak membalas. Ia masih makan siang bersamaku, masih bilang selamat pagi, masih mengucapkan hati-hati di jalan.
Tapi hari Senin sore, di lift, saat kami turun bersama dari lantai 15, ia melakukan sesuatu.
Ia mengangkat tangan dan merapikan kerah kemejaku. Melipatnya keluar dengan dua jari. Menarik ujungnya supaya rapi. Mengusapnya sekali supaya rata.
Tidak bicara. Tidak menatapku. Hanya merapikan kerah, lalu menurunkan tangannya, lalu menatap pintu lift lagi.
Seperti di pantry dulu, di depan Eyang. Lho. Sudah sampai tahap kerah.
Aku tidak bergerak. Aku tidak bicara.
Tapi di buku hitam malam itu, aku menulis:
Bukti kecil #2: dia merapikan kerahku. Tanpa kata. Tanpa godaan. Tanpa ditanya.
Kebenaran #6. Hari Selasa. Voice note.
Aku merekamnya pukul enam pagi di kamarku. Lewat voice note, karena voice note dulu memicu cegukan. Karena dulu, voice note adalah tempat ia menjebakku: jawab pakai voice note ya, kamu lagi mikirin aku?
Sekarang tidak ada yang memicu apa pun. Tapi aku tetap memilih voice note. Karena aku ingin ia mendengar suaraku. Bukan membaca tulisanku.
Empat puluh detik.
“Mika. Kebenaran nomor enam.”
“Sekarang aku bisa bohong. Ke siapa aja. Ke Pak Hendro. Ke klien. Ke Juned. Aku udah coba. Nggak ada yang terjadi.”
“Tapi aku nggak mau bohong sama kamu.”
“Bukan karena nggak bisa. Aku bisa. Aku udah bohong sekali, soal rendang. Dan aku nyesel. Bukan karena ketahuan. Karena aku sadar, satu-satunya orang di dunia yang aku nggak mau bohongin, ternyata kamu.”
“Dulu aku jujur karena terpaksa. Sekarang aku jujur karena mau. Aku nggak tahu apakah kamu bisa bedain. Aku cuma… mau kamu tahu bedanya ada.”
Aku mengirimnya pukul enam lewat lima.
Pukul enam lewat tujuh, centang biru.
Pukul enam lewat sembilan, centang biru lagi. Dia memutarnya lagi.
Pukul enam lewat empat belas, aku melihat di bawah voice note itu: diputar 11 kali.
Aku tidak tahu ada fitur yang menunjukkan berapa kali voice note diputar. Mungkin tidak ada. Mungkin aku hanya membayangkan. Tapi aku ingat malam ia memutar nggak, hik sebelas kali sampai Oci terbangun.
Ia tidak membalas. Tapi di kantor, saat aku lewat mejanya, sticky note Kebenaran #6 sudah tertempel di dinding kubikelnya. Ia menuliskannya sendiri, kata per kata, dari voice note itu, dengan tulisan tangannya yang miring.
#6: Bukan karena nggak bisa. Karena nggak mau.
Pada hari Rabu, Juned bertanya padaku di pantry.
“Pak. Nomor tujuh apa?”
“Kamu akan tahu.”
“Pak, satu kantor nggak bisa tidur. Anak magang Big Four bikin grup diskusi di Discord buat nebak nomor tujuh.”
“Itu bukan urusanku.”
Juned menatapku lama. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, sangat serius, tanpa nada bercanda sama sekali:
“Pak. Bapak udah berubah, ya.”
Aku memikirkannya.
“Iya,” kataku.
“Bapak dulu cuma bisa bilang pass.”
“Iya.”
“Sekarang Bapak nulis surat cinta di sticky note tiap hari di depan satu kantor.”
“Itu bukan surat cinta. Itu kebenaran.”
Juned tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa ada tanda-tanda Proyek Detektor atau Proyek Kebenaran atau proyek apa pun.
“Itu sama aja, Pak,” katanya.
Kebenaran #7. Hari Kamis.
Tidak di sticky note. Tidak di voice note.
Pantry. Pukul empat sore. Hari Kamis, seminggu setelah aku mencium buku jarinya di tempat yang sama.
Ia sedang membuat teh. Aku masuk. Ia menoleh.
Tidak ada pertanyaan. Ia tidak bilang satu pertanyaan hari ini. Ia sudah lama tidak bilang itu.
Aku tidak menunggu ia bertanya.
“Mika.”
Ia meletakkan cangkir.
“Aku sayang kamu,” kataku.
Ia menatapku.
“Nggak ada yang nanya,” lanjutku. “Kamu nggak minta. Kamu nggak bilang aku butuh dengar katanya. Aku nggak lagi jawab apa-apa.”
Aku menatapnya langsung. Tidak ke cangkir teh. Tidak ke lantai. Ke matanya.
“Aku cuma mau bilang.”
Hening.
Mika tidak bergerak. Matanya membesar. Bibirnya sedikit terbuka. Tangannya di tepi meja bar, mencengkeram.
Aku tidak menunggu jawaban. Aku tidak menunggu ia bilang aku juga. Aku sudah memutuskan, sejak sticky note pertama, bahwa aku tidak akan menunggu apa pun.
“Bukan secara teknis,” kataku. “Benar.”
Lalu aku berbalik dan keluar dari pantry.
Di koridor, Juned dan Tiara dan Pak Hendro dan tiga anak tim pajak berdiri sangat dekat dengan pintu pantry, berpura-pura sedang membaca pengumuman di papan buletin. Pengumuman tentang lomba tujuhbelasan. Yang masih tiga bulan lagi.
Mereka menatapku.
Aku menatap mereka.
“Kalian dengar?” tanyaku.
Juned membuka mulut. Ia jelas ingin bilang nggak. Lalu ia berhenti, menatapku, dan entah kenapa memutuskan untuk jujur.
“Dengar, Pak.”
“Semuanya,” tambah Tiara, matanya basah.
Pak Hendro tidak bicara. Ia hanya menepuk bahuku dua kali, keras, dan berjalan kembali ke ruangannya dengan langkah cepat, mengeluarkan ponsel dari saku.
Malam itu, sticky note-sticky note di dinding kubikel Mika berjumlah tujuh. Ia menulis yang terakhir sendiri, dengan tulisan tangan miringnya, setelah aku pergi dari pantry.
Aku melihatnya keesokan paginya.
#7: Aku sayang kamu. Nggak ada yang nanya. Dia cuma mau bilang.
Tujuh sticky note. Berjajar. Kuning. Empat dengan tulisanku dan tick mark merah presisi di sudut kanan bawah. Tiga dengan tulisan tangannya sendiri, miring, yang ia salin dari kata-kataku.
Dan di ketujuhnya, belum ada satu pun tick mark miring miliknya.
Belum.
Aku menatap dinding kubikel itu lama sekali. Lalu berjalan ke mejaku, membuka buku hitam, dan menutup halaman Hal yang belum kuucapkan.
Tidak ada lagi yang tersisa di sana.
Sekarang giliran dia.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak keberatan menunggu. Karena aku sudah memberikan semua yang kupunya. Tanpa ditanya. Tanpa cegukan. Tanpa pass.
Sisanya, aku percaya.
- 1 Pria yang Cegukan di Saat Aneh
- 2 Saya Nggak Lapar
- 3 Kertas Kerja Cegukan
- 4 Satu Pertanyaan Sehari
- 5 Rendang Percobaan Ketiga
- 6 Secara Teknis, Itu Benar
- 7 Nggak. Hik.
- 8 Pass, Pass, Pass
- 9 Diagnosis Versi Oci
- 10 Kamu Nggak Pernah Jawab
- 11 Eyang Bawa Rantang
- 12 Kakung Juga Begitu
- 13 Empat Puluh Menit di Bahu Kiri
- 14 Menghitung Kerupuk di Malam Tahun Baru
- 15 Tadi Malam Kamu Mau Apa?
- 16 Pass Artinya Iya
- 17 Formulir Pengungkapan Hubungan
- 18 Dua Kebenaran, Satu Bencana
- 19 Proyek Detektor
- 20 Lembur Paling Manis Se-Kuningan
- 21 Mantan di Ruang Rapat Klien
- 22 Nggak Cemburu. Hik.
- 23 Gantian Aku yang Jaga
- 24 Saya Sudah Fit, Pak
- 25 Detektor Baru
- 26 Kursus Mikro-Ekspresi Juned
- 27 Pass Tidak Lagi Berarti Apa-Apa
- 28 Enak
- 29 Keasinan
- 30 Keyakinan Memadai
- 31 Percaya Itu Keputusan
- 32 Kebenaran Nomor Tujuh reading
- 33 Semua Jawaban yang Kutahan
- 34 Izin dari Surabaya
- 35 Satu Pertanyaan Hari Ini, Dari Aku
- 36 Cuma Satu Orang
- 37 Epilog: Rendang Percobaan Keseratus