← Hik! Itu Bohong

Chapter Eleven

Eyang Bawa Rantang

POV: Mika

Desember datang bersama hujan, lembur, dan seorang nenek berkebaya ungu yang muncul di lobi lantai 15 pukul sebelas siang membawa rantang empat susun.

Aku yang pertama melihatnya, karena mejaku menghadap pintu kaca. Seorang perempuan mungil berusia tujuh puluhan, rambut putih disanggul rapi, kebaya ungu dengan bros bunga, sandal kulit, dan tas jinjing batik. Ia berdiri di depan resepsionis dengan postur tegak seorang jenderal.

“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya mau ketemu cucu saya. Arsa Dirgantara. Dia lupa bawa bekal.” Suaranya halus tapi jelas, setiap kata seperti dipilih dari lemari yang rapi. “Lagi. Ketiga kalinya bulan ini. Padahal sudah Eyang siapkan di meja.”

Seluruh lantai 15 berhenti bekerja.

Juned menurunkan ponselnya pelan-pelan. Tiara berdiri dari kursinya. Bahkan Pak Hendro keluar dari ruangannya dengan kacamata di ujung hidung.

Di meja paling ujung, Arsa mengangkat wajah dari kertas kerjanya, melihat siapa yang berdiri di lobi, dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya selama sebulan mengenalnya.

Ketakutan murni.


“Eyang,” kata Arsa, berjalan cepat ke lobi. “Eyang kok ke sini?”

“Kamu lupa bekal, Le.”

“Arsa bisa beli makan di bawah.”

“Makanan di bawah itu minyaknya minyak jelantah.” Eyang menyerahkan rantang padanya tanpa basa-basi, lalu melewatinya begitu saja dan masuk ke ruang kerja seolah sudah sering datang ke sini. “Mana pantry-nya? Eyang mau panaskan sayurnya. Sayur lodeh kalau dingin rasanya kayak air comberan.”

“Eyang, ini kantor—”

Eyang sudah menemukan pantry. Tanpa bertanya. Seperti punya radar.

Satu lantai mengikuti dengan jarak aman, seperti penonton yang mengikuti pemain sirkus.

Lima menit kemudian, pantry lantai 15 resmi berada di bawah kekuasaan Eyang Uti. Microwave dipakai. Piring-piring kantor dikeluarkan dari rak dan dilap ulang dengan tisu karena “piring kantor itu nggak pernah bersih, Eyang tahu.” Rantang dibuka satu per satu: sayur lodeh, ayam goreng bacem, tempe mendoan, dan sambal terasi dalam toples kecil.

Wanginya menyebar sampai ke ruang rapat.

“Ayo, ayo, makan. Semua makan. Eyang masak banyak.” Eyang menunjuk Juned. “Kamu. Kurus. Makan.”

Juned langsung duduk dan makan.

“Kamu.” Eyang menunjuk Tiara. “Cantik. Tapi pucat. Makan.”

Tiara duduk dan makan.

“Dan Bapak ini,” Eyang menatap Pak Hendro dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu tersenyum, senyum yang tiba-tiba membuat wajahnya terlihat dua puluh tahun lebih muda, “pasti atasannya Arsa. Kelihatan dari cara berdirinya. Berwibawa.”

Pak Hendro, Audit Manager dengan dua puluh tahun pengalaman, yang pernah menghadapi direktur keuangan perusahaan Tbk tanpa berkedip, tersipu.

“Ah, Ibu bisa aja.”

“Eyang nggak bisa bohong, Pak.” Eyang mengedip. “Itu turunan.”

Arsa, yang berdiri di pojok pantry dengan rantang kosong di tangan, menutup matanya.

Aku menahan tawa sampai perutku sakit. Aku sudah menggoda satu lantai selama sebulan. Dan dalam lima menit, seorang nenek berkebaya ungu sudah mengalahkan rekorku tanpa berkeringat.


Lalu Eyang melihatku.

Aku berdiri di ambang pintu pantry, tidak ikut duduk, karena aku tidak tahu apakah aku diundang. Eyang menatapku lama. Bukan seperti Pak Darto, yang lupa kalimatnya. Bukan seperti satpam. Eyang menatapku seperti auditor senior menatap kertas kerja junior: teliti, tidak terburu-buru, mencari sesuatu yang spesifik.

“Kamu,” katanya. “Siapa namamu, Nduk?”

“Mika, Eyang. Mikaela.”

“Mika.” Eyang mengulang namaku pelan. Lalu ia tersenyum, senyum yang berbeda dari senyumnya untuk Pak Hendro. Senyum orang yang baru menemukan apa yang ia cari. “Oh. Jadi kamu.”

“…Saya kenapa, Eyang?”

“Sini, duduk. Sebelah Eyang.”

Aku duduk. Eyang menyendokkan nasi dan sayur lodeh ke piringku, banyak sekali, lalu menatapku sambil menopang dagu.

“Kamu dari Surabaya?”

“Iya, Eyang.”

“Bisa masak?”

“Lagi belajar rendang, Eyang. Percobaan ketiga gosong.”

“Bagus. Yang gosong itu yang mau belajar. Yang nggak pernah gosong itu yang nggak pernah nyoba.” Eyang mengangguk puas. “Umurmu?”

“Dua puluh tujuh.”

“Sudah ada calon?”

“Eyang,” kata Arsa dari pojok, suaranya tegang.

“Eyang lagi ngobrol, Le. Kamu diam.” Eyang tidak menoleh. “Sudah ada calon, Nduk?”

Aku melirik ke pojok. Arsa menatap rantang di tangannya seolah rantang itu bisa membukakan pintu darurat.

“Belum, Eyang,” kataku.

“Hm.” Eyang tersenyum ke piringku. “Belum, ya.”


Saat itulah Eyang menjatuhkan bom.

Ia menyendok sambal terasi, meletakkannya di piring Pak Hendro, dan berkata dengan nada santai seperti membicarakan cuaca:

“Arsa ini, lho, Pak, sebulan ini aneh. Tiap malam cegukan.”

Pantry hening.

Arsa membuka mata.

“Eyang—”

“Adiknya, Ninis, suka iseng. Tiap malam di meja makan, Ninis tanya, ‘Mas nggak mikirin Mbak Mika, kan?’” Eyang menirukan suara Ninis dengan nada tinggi yang sangat akurat. “Terus Arsa bilang, ‘Nggak.’ Terus…”

Eyang berhenti, lalu menirukan dengan sempurna:

“Hik.”

Hening total.

Juned berhenti mengunyah. Mendoan menggantung di antara mulutnya dan piring. Tiara menutup mulut dengan dua tangan. Pak Hendro menatap Arsa, lalu menatapku, lalu menatap Arsa lagi, dengan ekspresi orang yang baru menyadari taruhannya untuk bulan Februari benar-benar terlalu lambat.

“Tiap malam,” ulang Eyang, puas. “Sebulan. Eyang sampai beliin permen jahe.”

“Permen jahe,” bisik Juned. Matanya bergerak ke arah toples OBAT JUJUR di meja bar. Lalu ke arahku. Lalu kembali ke toples.

Aku melihat tangannya merogoh saku, mengeluarkan buku catatan kecil itu, dan mulai menulis dengan sangat cepat.

Arsa berdiri di pojok. Wajahnya datar. Telinganya merah sampai ke leher. Ia menatap Eyang dengan tatapan seseorang yang sedang memikirkan prosedur hukum untuk mengajukan banding atas kelahirannya sendiri.

“Eyang,” katanya akhirnya, dengan suara sangat tenang. “Itu cegukan biasa.”

“Hik,” kata tubuhnya.

Tiara mengeluarkan suara kecil seperti balon bocor.

Ponselku bergetar di saku. Notifikasi dari grup yang seharusnya tidak kuketahui keberadaannya, tapi Tiara sudah menambahkanku “tanpa sengaja” kemarin sore dan belum mengeluarkanku.

TARUHAN ARMI 💸

Tiara: EYANGNYA DATENG. EYANGNYA BILANG TIAP MALAM. TIAP MALAM, GUYS.

Juned: Saya ganti taruhan. Bukan Desember. Minggu depan.

Pak Hendro: Saya tahu saya kalah. Tapi saya tetap Februari. Prinsip.

Aku mematikan layar sebelum ada yang melihat wajahku.


Saat semua orang akhirnya kembali ke meja masing-masing, dan Juned menulis di buku catatannya sambil sesekali melirik ke pantry, dan Tiara mengetik di ponselnya dengan dua jempol secepat kilat, Eyang memanggil Arsa ke pantry untuk membantu membereskan rantang.

Aku tetap di sana, membantu mencuci piring.

Arsa berdiri di sebelahku di depan wastafel. Kerah kemejanya terlipat ke dalam di satu sisi, mungkin sejak tadi pagi, dan ia tidak menyadarinya.

Aku tidak berpikir. Aku memang jarang berpikir di saat-saat seperti ini.

Aku mengeringkan tangan, berbalik menghadapnya, dan merapikan kerahnya. Melipatnya keluar dengan dua jari, menarik ujungnya supaya rapi, mengusapnya sekali supaya rata. Jari-jariku menyentuh lehernya sepersekian detik. Lehernya masih hangat sejak tadi.

Arsa membeku.

Di belakang kami, Eyang berhenti memasukkan tutup rantang.

“Lho,” kata Eyang pelan, dengan nada orang yang menemukan sesuatu yang sudah lama ia tebak. “Sudah sampai tahap kerah.”

Arsa menutup mata lagi.

Aku menurunkan tanganku dan merasakan wajahku memanas, padahal aku yang merapikan kerah, aku yang berani, aku yang seharusnya tidak malu.

Eyang tidak menambahkan apa-apa. Ia hanya tersenyum, menyelesaikan menutup rantang, lalu mendekatiku. Ia mengambil tanganku yang masih sedikit basah, menggenggamnya dengan dua tangannya yang kecil dan keriput dan hangat.

“Nduk,” katanya pelan, hanya untukku. “Datang ke rumah hari Minggu. Rawamangun. Arsa masak.”

“Eyang—” kata Arsa.

“Arsa masak,” ulang Eyang, tanpa melepaskan tanganku dan tanpa menoleh ke cucunya. “Dia jago masak. Dia nggak pernah bilang ke siapa-siapa karena dia malu. Tapi dia jago.”

Aku menatap Eyang. Lalu menatap Arsa, yang berdiri di belakang Eyang dengan wajah orang yang sudah menyerah pada takdir.

“Saya datang, Eyang,” kataku.

Eyang menepuk tanganku dua kali. Lalu menoleh ke Arsa.

“Le. Antar Mika ke lift. Eyang mau ngobrol sama atasanmu dulu.”

“Mika mejanya di sini, Eyang. Dia nggak mau ke lift.”

“Antar,” kata Eyang, dengan nada yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di dunia ini, termasuk negara.


Jadi Arsa mengantarku ke lift, padahal aku tidak perlu ke mana-mana.

Kami masuk ke lift kosong. Pintu tertutup. Aku menekan tombol lobi. Lalu, karena aku memang tidak punya alasan untuk ke lobi, aku menekan tombol lantai 15 lagi supaya kami bisa kembali naik setelah turun.

Arsa melihat itu. Ia tidak berkata apa-apa.

Lift mulai turun. 14. 13. 12.

Aku menyandarkan kepalaku di lengan atasnya.

Ia menegang sesaat. Lalu, perlahan, bahunya rileks. Ia tidak bergerak menjauh. Ia malah berdiri lebih tegak, seperti sengaja memberikan sandaran yang lebih nyaman.

Lengannya hangat di bawah kemeja. Wangi sabun dan teh dan sedikit sayur lodeh dari pantry.

Aku memejamkan mata.

Lima belas lantai turun. Pintu terbuka di lobi. Tidak ada yang masuk. Pintu tertutup lagi. Lima belas lantai naik.

Aku tidak mengangkat kepalaku sepanjang perjalanan.

Di lantai 15, pintu terbuka. Aku menegakkan badan, merapikan rambutku, dan melangkah keluar lebih dulu.

“Eyangmu luar biasa,” kataku tanpa menoleh.

“Eyangku berbahaya,” katanya di belakangku.

Tidak ada cegukan. Itu benar dua-duanya.

Dan hari Minggu nanti, aku akan masuk ke rumah perempuan paling berbahaya yang pernah kutemui, dan makan masakan pria yang tidak bisa berbohong.

Aku sudah tidak sabar.