Chapter Nine
Cerita Lama
POV: Amanda Rigby
Aku menceritakan soal Adrian malam berikutnya.
Bukan karena Fandy bertanya.
Justru karena dia tidak bertanya apa-apa.
Kami sedang makan di apartemennya ketika aku meletakkan sendok.
“Kemarin aku ketemu Adrian.”
Fandy yang sedang mengambil air berhenti sepersekian detik.
“Adrian?”
“Iya.”
Dia duduk kembali. “Yang dulu?”
“Memangnya ada Adrian yang lain?”
“Nggak tahu.”
Aku tertawa kecil, tetapi jantungku anehnya lebih cepat.
“Dia pulang.”
“Dari Singapura?”
“Permanen.”
Fandy mengangguk.
Itu saja.
Aku menunggu sesuatu yang lain.
“Terus?” akhirnya dia bertanya.
“Terus apa?”
“Ketemunya gimana?”
“Di event. Ternyata firm dia salah satu partner.”
“Oh.”
“Kami ngobrol.”
“Hm.”
“Tukar nomor.”
Fandy mengambil satu suap nasi.
Aku menatapnya.
“Apa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa.”
“Kok lihatnya begitu?”
“Kamu nggak mau tanya apa?”
“Tanya apa?”
Aku hampir kesal karena harus menyusun pertanyaan untuk rasa cemburu yang bahkan bukan milikku.
“Entahlah. Gimana rasanya aku ketemu mantan?”
Fandy berpikir sebentar.
“Gimana rasanya?”
Aku memukul lengannya.
Dia tertawa.
“Serius.”
“Aku serius.”
“Kamu nggak cemburu?”
Fandy menatapku.
“Harus?”
Pertanyaan itu membuatku diam.
“Nggak harus.”
“Ya sudah.”
Aku memainkan sendok.
Fandy kemudian bertanya, “Senang ketemu dia lagi?”
Aku bisa saja menjawab biasa.
Bisa saja mengurangi satu tingkat kebenaran supaya semuanya terasa lebih nyaman.
Tapi Fandy menatapku seperti biasa.
Jadi aku menjawab jujur.
“Iya.”
Dia mengangguk. “Bagus.”
“Bagus?”
“Kalian dulu berakhir nggak jelek, kan?”
“Nggak.”
“Berarti bagus bisa ketemu lagi tanpa masalah.”
Aku menatapnya cukup lama.
“Fan.”
“Hm?”
“Kamu terlalu santai.”
“Mau aku marah?”
“Nggak.”
“Mau aku larang ketemu?”
“Nggak.”
“Terus?”
Aku tidak punya jawaban.
Fandy mengambil udang dari piringku.
“Eh.”
“Pajak.”
“Itu punyaku.”
“Sekarang punya aku.”
Aku langsung merebut satu potong ayamnya.
Percakapan tentang Adrian berhenti begitu saja.
Setelah makan, kami duduk di sofa. Fandy membuka laptop. Aku menonton video pendek sambil menyandarkan kaki di pahanya.
Ponselku bergetar.
Adrian.
Aku melihat notifikasi.
Fandy juga pasti melihat nama itu karena ponsel berada di antara kami.
Tidak ada reaksi.
Aku membuka pesan.
Adrian: Jumat makan siang? Ada tempat dekat kantor lama kita yang ternyata masih buka.
Aku membaca dua kali.
Fandy masih mengetik.
“Dia ngajak makan,” kataku.
Fandy berhenti mengetik. “Siapa?”
“Adrian.”
“Oh.”
“Jumat.”
“Kamu bisa?”
“Kayaknya.”
Fandy mengangguk lalu kembali bekerja.
Aku tidak membalas Adrian dulu.
“Kamu beneran nggak masalah?”
Fandy menutup laptop.
“Manda.”
Nada suaranya membuatku duduk lebih tegak.
“Aku tahu kalian punya sejarah.”
Aku diam.
“Tapi aku juga tahu kamu sekarang sama aku.”
Sederhana.
Tidak ada ancaman. Tidak ada syarat.
“Kalau kamu mau ketemu teman lama, ketemu.”
“Mantan.”
“Iya. Mantan.”
“Beda.”
“Beda kalau kamu bikin beda.”
Aku menatapnya.
Fandy mengusap kakiku sekali.
“Aku percaya kamu.”
Kalimat itu seharusnya membuat semuanya ringan.
Justru dadaku terasa berat.
Aku mengambil ponsel dan membalas Adrian.
Boleh. Jam dua belas?
Pesan terkirim.
Aku menunjukkan layar ke Fandy tanpa diminta.
Dia cuma melihat sekilas.
“Kenapa ditunjukin?”
“Biar tahu.”
“Aku nggak minta.”
“Aku tahu.”
Fandy menatapku, lalu tersenyum kecil.
“Ya sudah.”
Malam itu ketika pulang, aku memikirkan kalimatnya.
Aku percaya kamu.
Fandy tidak pernah meminta password, lokasi, atau laporan tentang siapa yang kutemui. Kalau aku pulang larut, dia bertanya sudah sampai, bukan bersama siapa.
Kepercayaan itu selama ini terasa seperti udara.
Ada, tetapi jarang kusadari.
Sekarang, karena Adrian kembali, aku tiba-tiba bisa merasakan beratnya.
Di lift menuju apartemenku, Adrian mengirim alamat restoran.
Aku membukanya.
Tempat itu dekat kawasan kampus lama kami.
Aku tersenyum kecil karena mengenal jalan di foto.
Lalu aku teringat Fandy.
Bukan rasa bersalah.
Belum.
Aku sudah cerita. Dia tahu. Dia bilang tidak masalah.
Semua bersih.
Semua jujur.
Seharusnya aku lega.
Tapi ada bagian kecil dalam diriku yang bertanya kenapa aku tadi berharap Fandy sedikit cemburu.
Pertanyaan itu mengganggu.
Aku mencoba menjawab sendiri.
Mungkin karena cemburu terasa seperti bukti.
Lalu aku langsung merasa bodoh.
Fandy tidak perlu membuktikan apa pun.
Tiga tahun empat bulan sudah cukup.
Keesokan harinya, Keisha bertanya apakah aku sudah cerita.
“Sudah.”
“Reaksi?”
“Dia bilang ketemu aja.”
Keisha mengangkat alis.
“Fandy banget.”
“Maksudnya?”
“Dia percaya sama lo.”
Aku mengaduk kopi.
“Iya.”
Keisha memandangku.
“Jangan bikin muka begitu.”
“Muka apa?”
“Muka orang yang dikasih kebebasan terus bingung kenapa nggak dilarang.”
Aku tertawa terpaksa.
“Aku nggak begitu.”
“Bagus.”
Jumat siang sudah masuk kalenderku.
Bukan kencan.
Bukan rahasia.
Cuma makan siang dengan seseorang dari masa lalu.
Aku mengatakan itu berkali-kali sampai kalimatnya terdengar benar-benar biasa.
Dan mungkin memang biasa.
Masalahnya, hal yang menghancurkan sesuatu tidak selalu dimulai dari kebohongan besar.
Kadang dimulai ketika seseorang memberimu kepercayaan penuh, lalu kamu mulai lupa bahwa kepercayaan juga punya berat.
Jumat pagi Fandy mengirim pesan lebih dulu.
Jangan lupa makan siang.
Aku menatap layar dan hampir tertawa karena ironi kecilnya.
Aku: Ingat.
Fandy: Bagus.
Tidak ada, “Sama Adrian?” Tidak ada pemeriksaan.
Aku meletakkan ponsel dengan perasaan yang sulit dinamai.
Menjelang siang, aku sempat mempertimbangkan membatalkan. Bukan karena takut melakukan sesuatu yang salah. Justru karena semuanya terasa terlalu disorot oleh pikiranku sendiri.
Lalu aku memarahi diri sendiri.
Kalau bertemu Adrian memang tidak berarti apa-apa, kenapa harus dibatalkan?
Keisha lewat di belakang kursiku.
“Berangkat?”
“Sebentar lagi.”
“Santai.”
“Aku santai.”
“Lo sudah rapihin rambut tiga kali.”
Tanganku langsung turun.
“Karena meeting pagi.”
Keisha tidak menjawab.
Aku mengambil tas.
Di lift aku memeriksa penampilan sekali lagi dan merasa kesal pada diriku sendiri karena menyadarinya.
Aku tidak berdandan untuk Adrian.
Aku memang berpakaian seperti ini dari pagi.
Tetap saja aku mulai mengaudit setiap gerakan sendiri seolah ada hakim di dalam kepala.
Ketika keluar gedung, aku menelepon Fandy.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Aku lagi mau meeting.”
“Oh. Ya sudah.”
“Manda.”
“Hm?”
“Ada apa?”
Aku tersenyum mendengar nada itu.
“Cuma mau dengar suara kamu.”
Fandy diam sebentar.
“Sudah?”
“Sudah.”
“Bayar.”
Aku tertawa.
“Nanti malam ketemu?”
“Bisa.”
“Oke. Kerja sana.”
“Iya.”
Panggilan berakhir.
Aneh sekali. Satu menit mendengar suaranya cukup untuk mengembalikan sesuatu ke tempatnya.
Aku berjalan menuju restoran dengan langkah lebih ringan.
Fandy adalah sekarang.
Aku tidak perlu mengulang kalimat itu sebagai peringatan.
Itu fakta.
Dan ketika aku melihat Adrian sudah menunggu di depan restoran, aku sungguh percaya fakta itu tidak sedang terancam.
Aku belum tahu ancaman tidak selalu datang karena seseorang ingin merebut tempat orang lain.
Kadang ia datang karena kita sendiri mulai membuka sebuah pintu hanya untuk melihat apa yang masih ada di belakangnya.
Adrian berdiri ketika aku mendekat.
“Kamu nggak berubah soal tepat waktu.”
“Aku telat dua menit.”
“Dulu lima belas.”
“Fitnah.”
Dia tertawa dan membuka pintu restoran.
Aku masuk.
Tempat itu memang masih terasa seperti kawasan lama kami, meski banyak toko sudah berganti. Untuk beberapa detik aku merasa seperti sedang berjalan di atas dua waktu sekaligus.
“Kamu masih sering ke daerah sini?” tanyaku.
“Baru pertama sejak pulang.”
“Kenapa pilih sini?”
Adrian mengangkat bahu. “Penasaran.”
Aku tahu maksudnya bukan hanya restoran.
Aku duduk dan membuka menu.
Ponselku menyala.
Fandy mengirim satu foto meja meeting dengan kopi hitam di samping laptop.
Selamat makan.
Aku tersenyum.
Adrian melihat, tetapi tidak bertanya.
Aku membalas foto makanan yang belum datang dengan gambar meja kosong.
Belum makan.
Fandy: Makanya pesan.
Aku mengunci layar.
“Pacar?” tanya Adrian akhirnya.
Aku mengangkat kepala.
Ini pertama kalinya kata itu masuk di antara kami.
“Iya.”
Adrian mengangguk kecil.
“Sudah lama?”
“Tiga tahun lebih.”
“Serius, berarti.”
Aku tersenyum.
“Serius.”
Mengatakannya di depan Adrian terasa penting.
Bukan deklarasi untuknya.
Untuk diriku sendiri.
Aku tidak sedang kembali ke masa lalu.
Aku cuma duduk makan siang dengannya.
Dan orang yang kucintai tahu aku berada di sini.
Ketika makanan datang, percakapan bergerak ke pekerjaan.
Untuk beberapa saat semuanya benar-benar normal.
Aku mulai berpikir Keisha terlalu khawatir dan aku terlalu banyak menganalisis.
Mungkin reuni dengan mantan memang bisa sesederhana ini.
Aku belum tahu percakapan yang paling berbahaya bukan percakapan pertama.
Yang pertama hanya membuat percakapan kedua terasa lebih mudah.
- 1 Seperti Biasa
- 2 Ukuran
- 3 Tempatku
- 4 Keluarga
- 5 Aku Mundur
- 6 Tiga Tahun Empat Bulan
- 7 Cincin
- 8 Adrian
- 9 Cerita Lama reading
- 10 Kebetulan Kedua
- 11 Dua Bulan
- 12 Seandainya
- 13 Hapus
- 14 Berubah
- 15 Jawaban
- 16 Kalau Sekarang
- 17 Dibatalkan
- 18 Aku Cinta Kamu
- 19 Aku Mundur
- 20 Tidak Ada
- 21 Jawaban yang Kucari
- 22 Sekarang Aku Tahu
- 23 Terlambat
- 24 Cincin Apa?
- 25 Empat Belas Bulan
- 26 Teman Lama
- 27 Tidak
- 28 Bukan Hukuman
- 29 Tidak Seperti Dulu
- 30 Orang yang Tidak Kuketahui
- 31 Tidak Ada Utang
- 32 Kopi
- 33 Tertawa Lagi
- 34 Tangan
- 35 Kesalahan Kedua
- 36 Aku Tahu
- 37 Yang Lama
- 38 Jangan Kejar Aku
- 39 Pilihanku
- 40 Bukan yang Dulu