← Back Off

Chapter Thirty Four

Tangan

POV: Amanda Rigby

Kami pulang hampir bersamaan setelah workshop. Mobilku sedang servis, jadi aku berjalan menuju titik jemput di seberang gedung. Fandy berjalan di sampingku.

Lampu penyeberangan hijau. Motor masih menyelip dari kanan.

Refleks lama mengambil alih.

Tanganku bergerak menuju tangan Fandy.

Jari kami hampir bersentuhan.

Aku berhenti dan menarik kembali.

“Sorry.”

Fandy melihat tanganku. “Kenapa minta maaf?”

“Refleks.”

Kami mulai menyeberang.

Dua langkah. Tiga.

Lalu tanganku terasa hangat.

Fandy menggenggamnya.

Aku hampir berhenti di tengah jalan.

“Jalan,” katanya.

Aku berjalan.

Pegangannya tidak erat. Praktis. Hanya untuk menyeberang.

Begitu sampai trotoar, Fandy melepaskan.

Aku tidak mengejar tangannya.

“Fan.”

“Hm?”

“Makasih.”

“Buat?”

Aku hampir menjawab semuanya. Sebaliknya aku menunjuk jalan. “Nggak bikin aku ditabrak.”

Fandy tersenyum. “Sama-sama.”

Di mobil aku menatap tanganku sendiri.

Konyol. Fandy pernah menggenggam tangan ini ribuan kali. Dulu sentuhan itu begitu biasa sampai tidak pernah kuhitung.

Sekarang lima detik hampir membuatku menangis.

Ini bukan confession. Bahkan mungkin bukan romantic gesture. Fandy hanya memastikan aku menyeberang.

Tapi kali ini dia yang memulai.

Aku tidak akan menuntut langkah berikutnya.

Keesokan pagi Fandy masuk ruang meeting. Mata kami bertemu dan sama-sama terlalu cepat berpaling.

Setelah meeting dia menunggu orang lain keluar.

“Manda.”

“Hm?”

“Kemarin…”

Jantungku naik.

Fandy berhenti. “Nggak.”

Aku bisa mendorong.

Aku tidak.

“Oke.”

Di luar ruangan aku baru tersenyum.

Dulu aku akan mengejar jawaban. Sekarang aku bisa membiarkan satu pertanyaan belum selesai.

Tidak semua ketidakpastian harus segera dipaksa menjadi kepastian.

Beberapa hal boleh tumbuh dengan waktunya sendiri.

Termasuk tangan Fandy yang akhirnya memilih mencari tanganku lebih dulu.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.

Aku memikirkan perbedaan antara menunggu dan pasif. Dulu aku takut kalau tidak segera memastikan sesuatu, aku akan kehilangan kesempatan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang belum jelas tanpa langsung mengubahnya menjadi keputusan. Fandy boleh bingung. Aku boleh bahagia karena satu sentuhan tanpa meminta dia menjelaskan masa depan kami. Lima detik tetap lima detik. Itu sudah cukup.